
“Apa yang sebenarnya ada didalam rune legendaris itu?”
“Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Raja sangat ingin mengambil kembali rune itu, bisa dibilang kalau tujuan sebenarnya penyerangan ini bukan untuk mengambil wilayah tapi untuk mengambil rune itu. Raja sampai rela untuk menurunkan para muridnya untuk mengambil rune itu, oleh karena itu aku sangat penasaran apa yang sebenarnya ada didalam rune itu. Jika ada sebuah sihir yang luar biasa kuat dalam rune itu, wajar raja ingin mengambilnya. Tapi, aku pikir ada hal lain yang lebih berharga dari itu. Oleh karena itu aku ingin tau.”
“Siapa kau sebenarnya, sudah tau hal yang sangat rahasia sebanyak itu. Orang yang tau rahasia itu biasanya akan dihukum mati ditempat.”
“D-dihukum mati ditempat.” Mendengar hal itu aku menjadi sedikit ketakutan. “S-sepertinya aku mendengar sesuatu yang tak harus didengar.”
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Ari menggenggam erat tanganku, dan itu membuatku tenang. “Jadi, bisa jelaskan padaku?”
“Karena keadaaanya sudah lumayan gawat, dan kerajaan penjaga ditimur juga sudah mulai berguguran, sepertinya tidak ada pilihan lain.”
Aku melihat sesuatu yang mengejutkan ditunjukkan oleh kepala sekolah. “Telinganya, runcing.” Sesuatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
“Ras Elf, ya. Sudah aku duga.” (Ari)
“Ras Elf?”
“Iya, salah satu ras yang memiliki umur panjang bisa dikatakan hampir abadi.”
“Itu hebat.”
“Hahaha, terimakasih. Hanya ada 4 orang yang tau tentang identitasku ini, raja, kakek itu dan kalian berdua. Aku berharap kalian bisa merahasiakannya.”
“B-baik.” Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa yang pernah aku lihat, aku tak menyangka ada ras lain yang bisa aku lihat.
“Rune kuno itu berisi jiwa para pahlawan yang sedang beristirahat, kalau tidak salah kejadiannya 500 tahun yang lalu. Saat raja iblis berhasil dikalahkan para pahlawan beristirahat dalam sebuah rune khusus yang disebut rune kebangkitan.”
“Rune kebangkitan? Maksudnya rune legendaris?”
“Iya. Karena para pahlawan yang tertidur, perlahan sihir yang dikerluakan oleh ‘pemberian’ para pahlawan mulai menghilang dari dunia ini. Tapi, ada beberapa orang yang berhasil mempertahankan ‘pemberian’ itu. Kau pasti sudah pernah mendengar ceritanya, tentang para penyihir yang diburu dan dibunuh karena dianggap dapat membahayakan banyak orang.”
“Iya. Aku mengetahuinya.”
“Mereka adalah orang yang berhasil mempertahankan ‘pemberian’ itu. Sedari awal para pahlawan itu hanya dianggap sebagai pembantu saja, jasa mereka tidak dikenal dan bahkan dilupakan. Jika melakukan ritual untuk membangunkan pahlawan, aku pikir hal itu suda tidak berguna lagi.”
“Untuk apa menyelamatkan sesuatu yang bahkan tidak pernah menghargai mereka.”
“Iya, kemungkinan melakukan hal itu hanya akan sia-sia saja. Para pahlawan tidak akan terbangun.”
“Jadi, jika seperti itu bukankah dunia ini akan dikuasai oleh raja iblis.”
“Kau memang benar, tapi semua keputusan ada pada tangan para pahlawan. Mereka sudah dihianati, mereka berjuang dan rela sampai berkorban nyawa hanya demi orang yang tak menghargai mereka. Jika aku menjadi salah satu dari mereka, mungkin aku akan langsung berhenti dan membiarkan dunia ini hancur.”
“Tapi, kenapa mereka menyelamatkan dunia ini dari serangan raja iblis?”
“Kau tau, mereka memiliki orang-orang yang sangat berharga dan mereka sanyangi oleh karena itu mereka tetap berjuang meskipun tidak mendapatkan pujian ataupun penghargaan, yang mereka inginkan hanyalah kehidupan yang aman untuk orang-orang yang mereka sayangi saja. Oleh karena itu mereka melakukan hal itu.”
“Lalu, bagaimana jika…”
“Iona, hal itu sudah tidak mungkin. Alasan para pahlawan itu bertarung sudah tidak ada, tidak ada sesuatu yang ingin mereka lindungi sebagai alasan untuk bertarung. Aku yakin mereka juga sudah muak melindungi dunia ini.”
“T-tidak mungkin.”
“Tepat seperti yang kekasihmu katakan, kau sebagai pasangannya seharusnya mengerti seberapa pentingnya dia bagimu. Apa yang akan terjadi jika saja pasanganmu yang ada disampingmu itu lenyap ataupun mati.”
Itu mengingatkanku akan kejadian yang sangat menyeramkan itu, ketika aku melihat Ari mati. “T-tidak!! Aku akan melakukan apapun, untuk kembali menghidupkannya meskipun harus mengorbakan nyawa. Jika tidak bisa, lebih baik aku mati jika harus ditinggalkan olehnya.”
“Terimakasih, aku sangat senang mendengarnya. Tapi, aku tak mau kau melakukan itu, jadi aku tidak akan mati.” (Ari)
“Ehem… Keadaan para pahlawan bisa dikatakan seperti itu, mereka sudah kehilangan alasan mereka untuk mengangkat senjata mereka. Mau tak mau, keadaan kali ini harus bisa diselesaikan sendiri. Badai sudah semakin dekat, bencana besar akan segera tiba, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai bencana besar itu datang.”
Dari pembicaraan ini, aku mengetahui kalau ini bukanlah hal yang bisa ditangani oleh hanya 1 kerajaan saja, tapi seluruh kerajaan. “Kepala akademi, aku ingin meminta izin untuk meninggalkan akademi ini untuk sementara waktu.”
“Apa alasanmu?”
“Aku ingin melakukan sesuatu, setidaknya jika semua kerajaan yang ada bersatu mungkin itu bisa memberikan perlawanan pada pasukan raja iblis.”
“Itu ide yang bagus, tapi apa kau bisa melakukannya?”
“Tidak apa, disini ada Ari yang akan membantuku jika aku dalam kesulitan.”
“Begitu, kalau begitu aku juga ingin kau mengajak beberapa murid untuk melakukan hal itu bersamamu.”
“Murid lain?”
“Iya. Naila, Paul dan juga Marie, aku yakin kau sudah mengenal mereka semua.”
“Iya, aku sudah mengenal mereka. Mereka semua adalah temanku. Ari, ada apa?”
“Ah, tidak ada apa-apa.” Mendengar hal itu, Ari terlihat sedikit terkejut, mungkin dia terkejut karena aku memiliki cukup banyak teman dikerajaan ini.
“Aku akan menyampaikan hal itu pada mereka nanti, tapi apa kau tau tujuan pertamamu kemana?”
“Kerajaan Ruens.”
“Kerajaan dengan para prajuritnya yang terkenal itu, ya. Kalau begitu, aku memberimu misi khusus.”
“Misi khusus?”
“Iya, biasanya misi khusus diberikan pada seorang petualang kelas tinggi ataupun orang lain yang memiliki kemampuan yang hebat. Tapi, saat ini aku mengakui kemampuanmu. Jadi, misinya adalah buatlah aliansi yang berisi para kerajaan sebanyak mungkin dan lindungi benua ini.”
“Baik.” Aku tak tau apa maksudnya, tapi entah kenapa aku senang mendengarnya.
“Selamat Iona atas misi pertamamu, jika kau butuh bantuan katakan saja padaku. Aku akan membantu.” (Ari)
“Lalu untukmu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Untuk saat ini aku akan diam dulu, mencari informasi lebih banyak lagi. Jika sudah terkumpul, aku akan memberitahukannya pada raja tentang betapa sia-sianya dia jika mengambil alih tanah itu.”
“Sepertinya kau sudah memikirkan hal itu dengan baik.”
“Memikirkan rencana dan sebuah strategi dengan matang sebelum digunakan adalah caraku untuk memenangkan sebuah pertempuran. Dalam hal ini juga, aku harus menyiapkan cukup banyak senjata agar aku bisa membungkam mulut raja itu.”
“Hahahaha, kau sangat menarik. Aku tak menyangka akan melihat orang yang menarik sepertimu disaat genting seperti ini. Putri, seharunya kau lebih bersyukur karena sudah memiliki kekasih sepertinya.”
“Eh, i-iya.”
“Sepertinya pembicaraan kita berakhir sampai disini. Aku tak menyangka kalau aku akan berbicara sebanyak ini, mungkin sudah banyak hal yang berubah sejak aku mulai menutup diriku dari dunia luar. Aku tak sabar menantikan cahaya baru yang akan menggantikan badai yang akan datang.”
“Sepertinya itu akan sulit.”
__ADS_1
“Hahaha, aku mengharapkan sesuatu yang menarik darimu.”
“Ahhh, Iona, bisa kau keluar dulu. Ada sesuatu yang ingin aku bahas sedikit dengannya.”
“B-baik.” Aku keluar dari ruangan mengikuti ucapannya.
\=\=\=
“Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi?”
“Ini tentang para pahlawan, ini hanya perkiraanku saja. Tapi, apa salah satu dari mereka ada yang kau sukai?”
“Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu?”
“Hanya perasaanku saja, selain itu saat kau membicarakan para pahlawan kau terlihat seakan tau apa yang terjadi pada mereka.”
“Hanya karena hal itu kau mencurigaiku hal itu?”
“Apa salah?” Saat aku berkata seperti itu, dia tersenyum.
“Tidak, kau tidak salah. Tapi juga tidak benar. Aku tak bisa menjelaskannya karena itu adalah masalah pribadiku.”
“Begitu, kalau begitu aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Kalau begitu, aku akan pergi.”
“Kau sangat mirip dengannya.”
“Huh?” Langkah kakiku terhenti.
“Salah satu pahlawan, kau mirip dengannya. Tapi sepertinya kau memiliki hal yang tak dimiliki olehnya, terutama kau tidak memiliki kelemahan.”
“Kau terlalu berlebihan, aku ini memiliki banyak sekali kekurangan.”
“Setidaknya dimataku kau tidak memiliki kelemahan, hanya saja yang menjadi kelemahanmu adalah kekasihmu.”
“Jika kau berkata seperti itu, aku tidak bisa membantahnya. Dia adalah sumber dari kekuatan dan juga kelemahanku, bisa dibilang seperti itu.”
“Ucapanmupun juga sama seperti yang dia ucapkan.”
“Dia? Salah satu pahlawan?”
“Iya, melihatmu seperti melihatnya dimasa muda. Sangat bersemangat dan juga terlalu ceroboh.”
“Sepertinya kau pernah direpotkan olehnya.”
“Ya, seperti itulah. Dia memang sangat merepotkan.”
“Begitu.” Aku tak ingin mendengar cerita kisahnya lebih jauh lagi, itu hanya akan membuat kenangannya muncul dan aku ingin menghindarinya. “Kalau begitu, aku pamit.”
“Ya, hati-hati dijalan.”
Diluar ruang kepala akademi.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Tidak ada, bukan hal yang penting. Oh ya, kau sudah mendapatkan izin untuk tidak ikut akademi apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku akan memulai membuat rencananya terlebih dahulu, setidaknya rencana sederhana. Setelah itu aku ingin meminta pendapatmu, jika sudah sesuai aku baru bisa melakukan negosiasi. Bagaimana?”
“Terimakasih, aku akan berjuang.”
Dia tersenyum, betapa imut dan cantiknya dia saat tersenyum, melihatnya saja sudah membuatku merasa sangat tenang.
Kiss.
Tanpa pikir panjang aku menciumnya.
“A-A-Ari, a-apa yang kau lakukan!!”
“Ahhh, maaf. Kau terlalu imut, aku tak bisa menahannya.”
“B-bagaimana jika ada yang melihat?” Aku hanya tersenyum menanggapi itu. “Bukannya menunjukkan rasa bersalah kau malah tersenyum. Dasar.”
“Haaaa, aku ingin pergi menemui Lucy. Aku akan datang kesini lagi besok, sampai jumpa.”
“Ya.”
Di taman.
“Haaaaa, dimana dia berada sekarang.” Aku sudah cukup lama mencarinya, tapi aku tidak menemukannya. “Dia bilang ingin menemui seseorang, tapi siapa?” Aku lupa menanyakan hal itu padanya, dan itu adalah sebuah kebodohan.
“Ahhh, anakmuda. Kau datang lagi.” Kakek menghampiriku.
“Kakek, bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kau lihat, aku masih bisa berjalan.”
“Eh, i-iya.” Jawaban yang tak terduga.
“Diliha dari sikapmu, apa kau mencari seseorang?”
“Iya, aku lupa menanyakan kemana dia pergi jadinya aku kehilangan jejaknya.”
“Hmmm, sepertinya aku tau dia dimana.”
“Benarkah?”
“Iya. Ikuti aku.” Aku mengikuti sang kakek.
Cukup lama setelah itu, kami sampai di sebuah gubuk kumuh.
“Disini? Tempat apa ini?”
“Ahhh, ini rumahku.”
“Rumah kakek? Rumah yang tak layak.” Terlihat sangat menyedihkan, atau bisa dibilang tidak layak untuk ditinggali.
“Saat melihat tampilan luarnya banyak orang yang bilang seperti itu juga, sudah ayo masuk.”
Didalam.
Semuanya berantakan dan tidak terawat dengan baik. “Kek, apa kau baik-baik saja tinggal dirumah seperti ini?”
“Sudah, jangan banyak bicara cepat ikut denganku kalau tidak akan aku tinggal.”
__ADS_1
“Huh? B-baik.” Aku tak tau kemana kakek akan membawaku, tapi dengan melihat isi rumah ini saja sudah membuatku merasa tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian.
“Pintu belakang?” Kami sampai dibagian belakang dari rumah ini.
“Ayo.” Kakek itu mengeluarkan sebuah kunci lalu membuka pintu bekalang itu dan aku melihat sesuatu yang luar biasa dibaliknya. “Ini rumahku.”
Sebuah rumah yang sangat besar dan mewah dan juga sangat luas dengan halaman yang indah penuh dengan bunga. “H-hebat.”
“Haaaa, aku juga sudah mau kembali ke tanah dan aku tak memiliki anak ataupun cucu. Jika kau mau, aku ingin kau mewarisi tempat ini.”
“Eh? T-tunggu, bukankah sebaiknya kakek memberikan ini pada orang yang kakek kenal saja, seperti kerabat atau sepupu.”
“Tidak ada, semuanya sudah meninggal hanya tinggal aku sendiri disini.”
“Begitu, maaf.”
“Tidak masalah, lagipula tak lama lagi aku mungkin saja, tidak, aku pasti akan menyusul mereka. Oleh karena itu, aku ingin kau yang mewarisinya.”
Aku tak tau kenapa kakek tiba-tiba mengatakan itu, tapi yang membuatku penasaran. “Kenapa harus aku?”
“Entahlah, mungkin karena kau mirip dengan salah satu temanku saat masih muda dulu.”
“Teman?”
“Selain itu, aku cukup yakin kau tidak akan menjadi seorang yang serakah dan tamak akan harta.”
“Aku tak bisa menjamin hal itu.”
“Yang lebih penting, bukan’kan kau membutuhkan pengetahuan? Di rumah ini memiliki semua pengetahuan yang kau butuhkan, jikapun tidak ada mungkin hanya beberapa saja.”
“Benar’kah?!”
“Iya. Kalau tidak salah orang yang kau cari ada didalam.”
“Kakek mengenalnya? Pangeran Lucy?”
“Dia anak yang sangat haus akan pengetahuan, saat aku membawanya kemari untuk pertama kali hal berharga yang dia tanyakan adalah buku.”
“Tapi, jika begitu bukankah lebih baik menyerahkan semua ini padanya saja, bukan padaku.”
“Terima saja pemberian kakek tua yang sudah siap untuk kembali ketanah ini, pikiranku sudah terlalu tua untuk memikirkan hal yang sulit. Untuk selanjutnya, aku serahkan tempat ini padamu.”
“Haaa, baiklah. Aku terima pemberianmu ini. Terimakasih banyak.” Kakek sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa menolaknya.
“Ini kuncinya, tapi karena kau bisa menggunakan teleportasi sepertinya kau tidak butuh.”
“Eh, t-tunggu jangan dibuang!! Berikan padaku!!”
“Ini. Kau bisa menggunakan teleportasi, kenapa masih ingin kunci ini?”
“Y-ya, karena ini adalah rumah dan rumah butuh kunci.”
“Begitu. Kau bisa kesini menggunakan kunci itu, kau bisa menggunakan pintu apapun. Jika dibuka dengan kunci itu, maka itu akan membuka jalan kemari.”
“Jadi sejenis alat teleportasi, ya.”
“Sudah sana masuk, orang yang kau cari ada didalam. Kakek yang tua ini ingin bersantai dulu sebelum mati.”
“Iya, dan jangan mati dulu.”
“Iya iya.”
Aku langsung masuk kedalam rumah, dan bergegas mencari Lucy.
Cukup lama setelah itu.
“Hmmm, ternyata rumah ini lebih besar dari apa yang aku pikirkan.” Ada 4 lantai, lantai 1 untuk ruang tamu, lantai 2 untuk tempat bersantai, lantai 3 untuk istirahat dan lantai terakhir adalah ruang perpustakaan. Semua lantainya sangat luas, aku sampai salah mengira kalau ini adalah sebuah istana besar bukan sebuah rumah.
Ruang perpustakaan.
Aku sudah memeriksa hampir keseluruh tempat, dan hanya tersisa tempat ini saja.
“Yo Ari, apa yang kau lakukan disini.” (Lucy)
“Haaa, ternyata kau ada disini.”
“Aku sedang membaca beberapa buku, karena kau datang kemari berarti kau sudah kenal dengan kakek itu, ya.”
“Iya, aku sudah bertemu dengannya beberapa kali. Dia kakek yang baik, dia juga seolah mengetahui segalanya. Aku menghormatinya.”
“Eh? Kau tidak tau?”
“Tidak tau? Apa yang aku tidak tau?”
“Kakek itu….”
Lucy menjelaskan.
“A-apa!!!!!” Aku mendengar penjelasan dari Lucy dan aku sangat terkejut. “Kakek itu, salah satu pahlawan yang tersisa?!!”
“Iya, selama ini dia sudah mencari pewaris yang tepat untuk mewarisi tempat yang sangat berharga ini. Aku rasa sampai sekarang dia masih mencarinya, aku tak tau kapan dia akan menemukannya tapi jika sampai itu terjadi mungkin aku tidak akan bisa datang kemari lagi. Oleh karena itu aku ingin datang kemari lagi sebelum dia menemukan orang yang cocok untuk menjadi pewaris istana langit ini.”
“Y-yang benar saja.” Kakek itu adalah seorang pahlawan, dan dia memberikanku kunci serta rumah ini padaku. “Eh? Istana langit?”
“Kau tidak menyadarinya? Apa kau terlalu fokus dengan rumah ini sampai tidak menyadari kalau istana ini terbang dilangit?”
Saat Lucy berkata seperti itu aku langsung melihat keluar jendela. “H-hebat.” Dari sini aku bisa melihatnya, hutan, kerajaan, dan juga desa kecil. Aku melihat semua itu dari ini.
“Kerajaan ini dipasangi sihir khusus, jadi keberadaanya tersembunyi, dan yang lebih penting kerajaan ini terbang keseuluruh penjuru dunia.”
“I-itu hebat. Lalu, saat ini kita berada dimana?”
“Dari penjelasan kakek pahlawan, saat ini kita sedang berada di kerajaan yang ada di utara. Ini masih cukup jauh dari perbatasan milik kerajaan ras halfhuman.”
“Ras Halfhuman?”
“Kau pasti sudah melihatnya, kan. Ras elf yang ada di akademi sihir.”
“Eh, y-ya.”
“Aku baru saja membaca dan juga aku diberitahu oleh kakek pahlawan. Ada lebih dari 1 ras yang ada didunia ini, tapi saat ini yang mendominasi adalah ras manusia. Sejak kemenangan pahlawan pada perang zaman dulu, kerajaan manusia berkembang sangat pesat. Ras elf, HalfHuman, Drawf, fairy, semuanya dulu adalah ras yang besar. Tapi manusia melakukan penjajahan besar untuk memperluas area kekuasaan mereka, kau mungkin sedikit bingung tapi semuanya sudah diceritakan oleh kakek pahlawan dan juga semua kejadian dirangkum dibuku ini.” Lucy mendekat dan memberikan sebuah buku tipis padaku. “Buku ini menceritakan semuanya, alasan sebenarnya kenapa sihir bisa lenyap dari dunia ini. Bukan, tapi dari umat manusia.”
__ADS_1