
Istana langit, ruang istirahat.
Siang hari.
“Ari, kau memikirkan apa?”
“Hmmm, Iona, apa kau bisa membayangkan berapa banyak korban yang akan jatuh saat pertempuran melawan Leiava?”
“Sejujurnya aku tak tau, bukankah informasinya masih kurang. Jika begitu kondisi dan keadaan medan perangnya tidak akan bisa diprediksi olehmu, benar’kan.”
“Iya. Tapi, aku tak menyangka kalau kau menyadarinya.”
“Dalam semua hal, informasi adalah hal yang terpenting selain pengetahuan. Semakin langkah informasi itu maka harganya akan semakin mahal.”
“Ya itu memang benar, dan karena saat ini aku sedang mengalami keadaan yang namanya kekurangan informasi aku jadi sedikit kebingungan dengan arah berjalannya pertempuran nantinya.”
“Ari, aku pikir kau sebaiknya beristirahat sebentar.”
“Beristirahat, aku sudah beristirahat. Aku juga sudah liburan.”
“Bukan, meskipun kau liburan isi kepalamu selalu saja memikirkan tentang hal itu. Meskipun tubuhmu liburan tapi pikiranmu tidak, jika seperti itu terus kau akan sakit.”
“Aku sudah melakukannya.”
“Kau tidak pernah melakukannya, pertama kali aku lihat kau sama sekali tidak memikirkan pekerjaan ataupun tugasmu hanyalah saat bulan madu kita dulu. Kau sama sekali tidak terlihat memikirkan hal itu dan itu membuatmu terlihat sangat senang. Kemarin kau bilang liburan, tapi hasilnya kau malah pergi ke tempat raja naga untuk berbincang masalah ini, dan tadi saat kita kembali aku yakin kau juga membicarakan tentang masalah ini juga. Aku sama sekali tidak pernah melihatmu liburan, liburanmu sama sekali tidak ada. Meskipun libur, kau tetap melakukan pekerjaanmu disaat itu, dan itu bukan libur namanya.”
“Eh, iya kah?”
“Iya benar. Palingan saat kau bersama denganku saja, itu adalah waktu yang singkat untuk liburan. Sejak kau masuk ke markas waktu liburanmu bisa dihitung dengan jari.”
“Hmmm, begitu.”
“Untuk beberapa hari ini, selama istana langit belum bergerak aku ingin kau melupakan tentang semuanya. Kau harus beristirahat agar mental dan juga fisikmu terjaga.”
“Haaa, iya iya. Aku mengerti.”
“Kalau begitu, bagaimana jika dimulai dengan ini.” Iona menidurkanku dipahanya. “Jangan bergerak.”
“A-apa itu?!”
“Sudah aku bilang jangan bergerak.”
Sesuatu menyentuh telingaku. “T-tapi…”
“Aku sedang mencoba membersihkan telingamu, kak Risa juga pernah melakukan ini padaku dan rasanya sangat nyaman jadi aku pikir kau juga akan menyukainya. Oleh karena itu, dia dan jangan bergerak.”
“G-geli.” Sesuatu mendarat ditelingaku dan itu membuatku geli.
“Hmmm, biasanya tidak seperti itu responnya. Apa aku salah melakukannya?”
“Tidak ada yang salah, hanya saja aku belum terbiasa dengan ini karena belum pernah ada yang melakukan ini padaku sebelumnya dan lagi telingaku ini sedikit sensitive.”
“Heee, begitu.”
“Gwaaahahahahaha… J-jangan mempermainkanku, itu geli tau.”
“Ini menyenangkan. Aku tak pernah melihat sisimu yang ini, ini sangat menyenangkan.”
“J-jangan mempermainkanku. Jika tidak ingin melakukannya aku akan ke perpustakaan saja.”
“Eh, jangan. Baik aku akan melakukannya dengan benar sekarang.”
“Haaaa, ya sudah.”
Setelah itu.
“Bagaimana? Apa enak?”
“Ya, setidaknya tidak seburuk yang tadi.”
“Ari, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”
“Apa?”
“Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini, pemintaan dari teman-temanku untuk tidak membicarakannya denganmu dalam waktu dekat ini.”
__ADS_1
“Huh? Apa itu? Apa sesuatu yang penting?”
“Ari, sebenarnya…”
“Haaaa, akhirnya selesai juga.” (Lucy)
“Lucy, kau sudah kembali.” Lucy dan juga Ria kembali.
“Ya. Hooo, sepertinya yang kalian lakukan itu nyaman. Ria, bisa lakukan juga padaku?”
“Tapi aku tidak punya…”
“Ini, aku membawanya lebih tadi.”
“Kau pulang hanya untuk mengambil itu?”
“Iya.”
“Haaaaa, aku pikir kau mengambil sesuatu yang penting atau apa, ternyata hanya itu.”
“Terimakasih.” Ria mengambilnya, dan setelah itu mereka berdua melakukan hal yang sama seperti yang aku dan Iona lakukan.
“Haaaaa, rasanya sangat nyaman.”
“Benarkah? Terimakasih.”
“Lucy, bagaimana?”
“Hanya tersisa beberapa kerajaan saja, mungkin aku bisa menyelesaikannya besok atau lusa.”
“Beberapa kerajaan saja, ya. Ternyata cukup… Ghawhahahahah… I-iona!!” Dia melakukannya lagi, sesuatu yang membuatku merasa geli.
“Sudah aku bilang jangan membahas tentang pekerjaan untuk saat ini.”
“Haaaa, baik.”
“Wakil komandan, anda kenapa?”
“Dia sensitive di bagian telinganya, jika salah melakukannya maka dia akan merasa geli.” (Lucy)
“Ya, setelah melihat barusan aku baru menyadarinya juga.”
“Begitu.”
“Kau memang selalu peka terhadap hal-hal kecil seperti ini.”
“Tidak ada yang bisa aku banggakan dari hal itu. Ahhh, disana, ya disana. Haaa, enak sekali.”
Dan beberapa hari berlalu.
Malam ini adalah malam terakhir festival, dan besok pengisian tenaga dari istana langit akan selesai.
Di kamar.
Aku sedang bersiap-siap untuk datang ke festival di hari terakhir. “Ari, ayo cepat aku dengar malam ini akan ada pertunjukan yang sangat hebat sebagai penanda berakhirnya festival, kita tidak boleh sampai terlambat.”
“Iya, dimana yang lain?”
“Mereka sudah menunggu kita, ayo jangan membuang-buang waktu.”
“Baik.”
Beberapa menit setelah itu.
Kami dan yang lainnya berpisah. “Wah, toko yang buka semakin banyak dari yang kemarin.”
“Karena ini adalah penghujung acara mereka ingin melakukan sebaik mungkin untuk mengakhiri acara ini, aku jadi tak sabar menantikannya.”
“Menantikannya? Apa?”
“Jika ini memang festival yang dibuat oleh para pahlawan, seharusnya diakhir acara ada itu.”
“Itu?”
“Tempat ini kurang bagus, belilah beberapa makanan dan ayo kembali ke istana langit.”
__ADS_1
“Eh, baik.”
Setelah itu.
Dihalaman.
“Ari, kenapa kita kembali?”
“Acara utamanya akan lebih bagus jika dilihat dari tempat yang tinggi.”
“Memang acara utamanya seperti apa?”
“Tunggu saja.”
Cukup lama setelah itu.
“Ari, apa itu?” Sebuah cahaya kecil perlahan terbang dilangit malam yang gelap.
“Sudah dimulai, ya.”
“Apa?” Cahaya itu meledak dan menghasilkan sebuah cahaya lain yang begitu besar dan indah dengan penuh warna. “Apa itu, indah sekali.”
“Akhir musim panas, ya.” Ini mengingatkanku dengan masa lalu, aku selalu menikmati festival seperti ini, tapi sekarang aku bersyukur masih bisa menikmatinya. “Itu adalah kembang api, sesuatu yang ada diduniaku.”
“Itu, sangat indah.”
Setelah kembang api pertama diluncurkan, dan setelahnya yang lain juga ikut dilepaskan.
“Karena tidak ada bahan yang bisa digunakan untuk membuat itu didunia ini, jadi kemungkinan besar itu adalah sebuah sihir khusus.”
“Meskipun begitu, itu sangat indah. Itu terlihat seakan langit malam yang gelap terlihat lebih terang dengan adanya kembang api itu.”
“Begitu, ya.”
“Aku harap kita bisa menikmati moment seperti ini lagi tahun depan.”
“Ya.”
Di tengah kebisingan kembang api yang meledak itu, Iona membisikkan sesuatu padaku. “Begitu, ya.”
“Kau tak terlihat terkejut.”
“Aku terkejut, tapi aku juga sangat senang dan saking senangnya aku bisa saja meneteskan air mataku. Tapi, aku tak ingin melakukannya karena itu hanya akan membuatku menjadi lemah. Itulah yang aku pikirkan.”
“Begitu.”
“Tapi, mungkin suatu hari akan ada waktunya aku menunjukkan sisi paling lemahku padamu.”
“Sisi terlemahmu?”
“Iona, apa yang kau lihat dariku?”
“Cerdas, kuat, jenius, bisa diandalkan, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.”
“Kau pernah melihat kelemahanku?”
“Tidak, tapi dulu kau pernah menangis.”
“Itu karena salahmu, kau membiarkanku melihat sebuah mimpi buruk itu.”
“Hehe, maaf. Tapi aku tak menyangka kau memiliki kelemahan juga.”
“Kelemahan terbesarku adalah dirimu, dan kekuatan terbesarku juga adalah dirimu.”
“Huh? Aku adalah kelemahan dan kekuatanmu?”
“Ya, sejujurnya yang membuatku sampai melakukan hal sejauh ini adalah dirimu kau memberiku kekuatan untuk melakukannya. Mungkin saja jika aku tidak pernah menemuimu sebelumnya, aku lebih memilih untuk tidak tinggal didunia ini, selain itu saat aku bersamamu aku melihat betapa lemahnya diriku. Selalu dimanja, bersantai, dan tidak terlalu fokus. Itulah yang membuat kelemahanku muncul saat bersamamu.”
“Begitu, itu berarti aku adalah orang yang paling berharga untukmu’kan.”
Aku menanggapinya dengan senyuman.
“Hehe, terimakasih.”
Malam terakhir kami yang menyenangkan, diakhiri oleh indahnya kembang api yang menghiasi gelapnya langit malam.
__ADS_1