
2 hari lagi sebelum ujian tes masuk akademi sihir dimulai.
“Iona, apa ada yang ingin kau lakukan?” Kami saat ini berada ditaman kerajaan.
“Ari, apa kita bisa bertemu lagi?”
“Tentu saja, meskipun waktunya sedikit lama. Tapi kita pasti bisa bertemu lagi.”
“Begitu.”
Ia terlihat begitu murung. “Tenang saja.” Aku mengelus kepalanya. “Aku akan datang kemari sekali-kali untuk melihat keadaanmu, kau tak perlu khawatir.”
“Benar’kah?”
“Iya.”
“Janji? Kau akan datang kemari untuk melihatku?”
“Iya, aku janji. Oleh karena itu, saat aku datang kemari aku ingin melihat perubahanmu. Seberapa besar perkembanganmu selama aku tidak berada didekatmu, aku ingin melihatnya. Maka dari itu, kau harus berhasil masuk ke akademi sihir ini, bukankah kau memiliki impian yang ingin kau capai.”
“Benar, aku memiliki impian.”
“Aku akan menantikannya.”
Hari ini kemurungan Iona bisa dihilangkan, tapi masalahnya.
1 hari sebelum ujian dimulai.
Malam hari.
Ujian tes masuk akademi akan dimulai besok.
“Haaa, akhirnya tiba juga. Besok adalah waktunya, baiklah waktunya tidur.”
“Ari…”
“Ya, ada apa?”
“Aku pikir, aku tidak jadi ingin belajar disini?”
“Eh? Kenapa? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan itu?”
“I-itu…”
“Bukankah itu berarti latihan yang kau lakukan selama ini tidak berarti jika kau tidak masuk akademi sihir ini?”
“Tapi…”
“Haaa, kau memiliki impian, kan. Apa kau akan membuangnya semudah itu?”
“B-begitu, maaf.” Ia terlihat sangat sedih, mungkin karena kita akan berpisah.
“Tenangkan dirimu, aku’kan sudah bilang aku akan datang kemari untuk menjenggukmu sesekali.”
“Aku, tak mau berpisah denganmu.”
“Kau itu sangat egois, hanya karena itu kau sampai rela dan ingin membuang impianmu.”
“Aku akan lebih sedih jika harus jauh darimu, aku tak mau hal itu.” Dia menangis. “Aku mohon… Aku tak mau berpisah darimu. Aku mohon..”
Ketergantungannya padaku membuatnya jadi seperti ini. ‘Sepertinya ini sepenuhnya salahku.’ Aku mengantarnya karena ingin membuat dia merasa tenang, jika saja kejadiaannya akan menjadi seperti ini seharusnya aku diam saja di markas. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan sekarang untuk membuatnya tenang.
“Aku mohon…” Dia menggenggam erat tanganku.
Sejujurnya aku tak ingin melihatnya seperti ini, tapi sepertinya tidak ada cara lain. “Iona.” Kami berhadap-hadapan. ‘Maafkan aku, tapi aku tak bisa membiarkannya seperti ini. Aku sudah siap dengan konsekuensinya.’ Aku menciumnya, tepat dibibirnya.
Setelah beberapa saat aku melepaskannya. “Kau sudah tenang?”
“C-ciuman dibibir.” Sepertinya dia sudah mulai tenang. Itulah yang aku pikirkan. “Ari.” Dia berbalik dan menciumku. “Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu.”
Kepalaku terasa kosong dan entah kenapa aku tidak bisa berfikir dengan jernih. ‘Sudahlah, aku sudah tidak peduli lagi.’ Jika harus lenyap, setidaknya aku bisa melihatnya untuk terakhir kalinya. “Aku mencintaimu, Iona.”
Malam hari yang dingin berubah menjadi malam yang panas, aku dan Iona melakukannya sesuatu yang pernah aku bayangkan. Aku sudah siap dengan resikonya, meskipun begitu.
Esoknya, didepan akademi sihir.
Siang hari.
‘Aku masih ada didunia ini.’ Perjanjian dengan dewi adalah mutlak, seharusnya aku lenyap saat mengatakannya. Tapi nyatanya aku masih berada didunia ini.
“Ari, aku berangkat.”
“Ya, berjuanglah aku akan menunggu hasilnya.” Kami berpisah. Keadaanku berubah, aku jadi tak ingin lepas darinya. “Haaaa, apa yang sebenarnya aku pikirkan tadi malam. Sialan.” Mengingat kejadian yang terjadi tadi malam membuatku merasa malu, dan lagi. “Haaaa, sial. Aku sudah lulus.”
__ADS_1
Tes ujian, arena pertarungan.
Ujian yang dilakukan oleh Iona akan selesai nanti sore, jadi aku putuskan untuk melihat tes masuk pertempuran sihir di koloseum yang ada dikerajaan ini. “Hooo, siswa tahun ini sepertinya cukup berbakat.” (???)
Aku menjadi penonton untuk melihat pertandingan siswa yang lain dan mengukur kekuatan sihir yang bisa aku gunakan serta jenis sihir yang bisa aku kendalikan. Tapi… “Ahhhh, sial.” Aku terus mengingat kejadian kemarin malam. Aku tak bisa mengalihkan perhatianku pada hal lain. “Haaaa, aku harap Iona baik-baik saja.”
Sore hari.
“Haaaaa, membosankan.” Aku sudah cukup lama menunggu dan para siswa bertarung dengan sengit meskipun begitu tidak ada yang membuatku tertarik. Selain itu… “Dia lama sekali.” Aku sudah bilang padanya kalau aku akan menunggu disini, jika dia selesai seharusnya dia sudah kesini dari tadi. “Sepertinya aku harus mencarinya.”
“Hooo, lihat petarung selanjutnya adalah pangeran.” (???)
“Wah, aku tak sabar untuk melihat kehebatannya, aku dengar diantara siswa yang baru masuk dia adalah yang terkuat.” (???)
“Aku jadi penasaran siapa yang akan menjadi lawannya.”
Pembicaraan para orang dewasa dari kerajaan, mereka hanya menilai kemampuan seseorang dari cara mereka menggunakan kemampuannya. “Menyebalkan.”
“Seorang gadis? Kenapa seorang gadis yang menjadi lawan pangeran?”
“Itu tidak adil, mana mungkin pangeran melawan seorang gadis.”
“Gadis?” Saat mendengar itu aku langsung melihatnya. “Aku mohon jangan sampai…” Dan yang ada didalam arena adalah Iona. “A-apa-apaan ini.”
“Baik, siap. Mulai.” Lonceng pertarungan dimulai.
“Sial, aku harus menghentikannya.” Saat aku ingin masuk, sebuah pelindung sihir menghalangi. “Sialan!! Aku harus melakukan sesuatu.” Iona tidak bagus dalam hal sihir penyerangan, dia memang memiliki mana yang sangat banyak tapi dia masih belum bisa mengendalikan sihirnya.
“Aku harus cepat.” Aku mencoba untuk menghancurkan penghalang sihir, tapi ini lebih sulit daripada yang aku bayangkan.
“Hooo, lihat pangeran mulai menyerangnya.”
“S-sial!!!”
“Gadis itu terkena serangannya.”
Aku melihatnya, Iona terkapar. “Sialan.” Ini membuatku sangat marah, marah besar. “Tidak akan aku maafkan.” Aku menggunakan 4 atribut sihir sekaligus untuk mengacaukan aliran pelindung ini, dan itu berhasil. Setelah itu aku langsung menghampirinya.
“Hoy, kenapa kau masuk ke arena. Orang luar dilarang berada diarena.” (???)
“BERISIK!!! Hahahaha, waktunya pembalasan. Kau akan menerimanya.” Pangeran itu, aku membakarnya dengan sihir api. “Lihatlah seberapa tidak berdayanya dirimu.” Dia mengegeliat layaknya seeokor cacing tanah. Setelah itu aku menambahkan sihir petir dan itu membuat sebuah ledakandan itu membuatnya terlempar cukup jauh. “Hey hey, aku yakin kau tidak akan mati hanya dengan hal seperti ini.” Aku menyiramnya dengan sihir air. “Kau tau akibatnya jika sampai melukainya. Aku akan memberikan siksaan yang sangat kejam, sampai kau tidak akan berani untuk melakukan hal seperti itu lagi. Selanjutnya, apa.”
“Kau, hentikan!!” Seseorang datang dan mencoba untuk menghalangiku.
“Aku adalah petugas ujian latihan tempur.”
“Jadi kau, ya. Kenapa kau memaksa orang yang memiliki fisik yang lemah untuk ikut dalam permainan konyol seperti ini.”
“Memiliki fisik yang lemah? Aku membacanya dari pendaftarannya dia baik-baik saja.”
Dilihat dari ekspresinya dia sepertinya tidak tau hal itu. Iona tidak mungkin lupa untuk menulis hal itu, selain itu dia juga tidak ingin membuatku khawatir. “Apa ini ulah raja?”
“Ujian ini memang dilaksanakan atas kehendaknya, tapi sepertinya beliau tidak tau dengan hal ini. Selain itu, apa yang sudah kau lakukan. Apa kau tau dia itu adalah seorang pangeran, kau sampai melakukan hal kejam seperti itu padanya.”
Dia mencoba untuk membohongiku. “Dia juga menyerang seorang putri, dan lagi putri itu jauh lebih lemah darinya.”
“Putri?”
Dia benar-benar tidak tau, itu berarti ini semua adalah ulahnya. Aku menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka Iona dan juga menyembuhkan luka pangeran itu. “Cih, ini menyebalkan. Cepat bawa mereka berdua keruang perawatan.” Aku menghilang, menggunakan sihir teleportasi, dan tujuanku.
Istana.
“S-siapa kau!! Bagaimana kau bisa ada disini!!” (prajurit) Saat ini aku sudah berada didepan raja.
“Aku sudah membiarkanmu selama beberapa hari terakhir ini dengan membiarkan para pasukan khususmu melakukan pengintaian padaku, tapi sepertinya kau memang memancing habis kesabaranku. Tapi, karena ulah cara kotormu kau sudah membuat orang yang sangat berharga bagiku terluka. Apa kau pikir aku akan tinggal diam setelah melihat hal itu.” Aku menjeltikkan jariku.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan. Sedari awal orang yang mencurigakan adalah dirimu, aku tak berniat untuk melukai tuan putri itu tapi sepertinya aku salah target. Aku tidak menduga kau hanya datang untuk mengantarnya, ini benar-benar… Apa yang akan kau lakukan? Menghancurkan kerajaan ini?”
Beberapa saat setelah itu. “Y-yang mulia, gawat!!” Seorang prajurit datang.
“A-ada lingkaran sihir raksasa dilangit yang memenuhi kerajaan ini.”
“Kau serius ingin menghancurkan kerajaan ini?!”
“Kau tau, aku ini adalah orang yang rela melakukan apapun demi melihat orang yang berharga bagiku bahagia. Tapi, jika ada orang yang berani melukainya, bahkan jika itu adalah seorang raja sekalipun akan aku musnahkan.”
“K-kau gila!!”
Dia mulai terintimidasi, aku menghentikan sihir besar yang aku buat. “Haaaaa, ini hanyalah peringatan, jika kau melakukan hal buruk padanya aku tak yakin kerajaan ini akan ada lagi.”
Di ruang perawatan.
“Ahhh, nak kau sudah datang.”
__ADS_1
“Kakek, apa yang kau lakukan disni?” Kakek yang sering aku temui ada disini.
“Aku hanya memeriksa keadaan gadismu, sepertinya dia baik-baik saja. Dia hanya pingsan, dan untuk pangeran dia juga tidak apa-apa.”
“Aku tak peduli dengan pangeran itu.”
“Sepertinya hubungan kalian jauh lebih dekat dari sebelumnya, dan lagi sihir besar itu, apa kau yang melepaskannya? Apa yang sudah terjadi?” Aku menjelaskannya semua pada kakek. “Hmmm, raja memang salah dalam hal ini karena kewaspadaanya membuat dia dan juga para rakyatnya dalam bahaya. Tapi, aku juga tak membenarkan apa yang kau lakukan itu. Jika kau ingin membalasnya, seharusnya kau hanya harus membunuh rajanya dengan begitu semua akan selesai. Jika kau melakukan hal itu, orang-orang yang tak berdosa dan juga orang yang tak tau apa-apa akan terlibat dalam masalah ini. Seharusnya kau mengerti hal itu.”
“Ya, aku mengerti. Tapi, apa aku boleh membunuh raja?”
“Jika itu bisa meredam kemarahanmu, kenapa tidak. Selain itu yang salah adalah raja, kekuatan besar yang kau miliki membuat semua orang tidak akan berani menentangmu. Tapi, itu juga bisa menjadi hal buruk.”
“Begitu.”
“Ahhh, gadismu sudah bangun. Aku akan pergi dulu, jangan lupakan apa yang aku katakan barusan.”
“Baik.” Kakek itu pergi dan aku langsung menghampiri Iona. “Iona, kau tidak apa-apa? Apa ada tubuhmu yang sakit?”
“A-aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing saja. Lalu, apa yang sudah terjadi bagaimana aku bisa ada disini?” Aku menjelaskannya, tentu saja ada hal yang aku sembunyikan. “Begitu, aku pingsan, ya.”
“Iona, jika kau tidak ingin belajar dikerajaan ini kau kita bisa pulang, aku tak akan melarangmu.”
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”
“Tapi, jika kau masih mau untuk belajar disini aku juga tidak akan menghentikanmu.” Aku sangat mengkhawatirkannya, apalagi setelahkejadian ini. Aku tak tau apa yang akan dilakukan oleh raja sialan itu pada Iona.
“Aku sudah memutuskannya, aku ingin belajar disini. Selain itu, aku tak ingin usahamu dalam melatihku selama beberapa bulan tidak membuahkan hasil.”
“Begitu. Jika kau sudah memutuskan, mau bagaimana lagi.” Aku tak bisa menghentikannya.
Malam hari, dipenginapan.
Rencana hari ini aku ingin kembali, tapi karena sudah terlalu sore aku putuskan untuk pulang besok.
“Kau diterima?”
“Iya, aku sudah memindahkan barang-barangku yang ada disini keasrama.”
“Begitu.”
“Ari, besok kau akan pulang’kan.”
“Iya. Mungkin pagi.”
“Begitu.”
Iona sudah siap, tapi entah kenapa aku masih belum siap untuk membiarkannya pergi. “Ari, kau khawatir denganku, ya?”
“Iya, tak ada seorangpun yang kau kenal disini dan tak ada orang yang akan melindungimu disini, jika terjadi sesuatu padamu saat aku tidak ada didekatmu, aku sangat mengkhawatirkan hal itu.”
Kiss.
Dia menciumku. “Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Disini aku pasti bisa mendapatkan banyak teman yang mau menolongku saat kau tidak ada, kau tak perlu khawatir.”
“Iona.”
“Ari…”
Ya, malam ini berakhir dengan adegan panas.
Pagi harinya.
Akademi sihir.
“Aku akan pulang, jaga dirimu, ya.”
“Ya, tenang saja. Kau juga, jaga dirimu baik-baik.”
Hari ini hari perpisahan, aku harus segera kembali ke kerajaan Thorwn. “Selamat tinggal.”
“Ya, selamat tinggal.” Aku berpisah dengan Iona setelah mengantarnya ke akademi sihir.
Aku perlahan mulai menjauh, dan entah kenapa ini terasa sangat berat untukku. “Haaaa, sepertinya aku harus membiasakan hal ini.” Aku keluar dari kerajaan ini.
Di hutan.
“Wakil komandan.”
“Ahhh, maaf. Aku tidak memberitahu kalian tentang aku yang akan pulang terlambat. Maaf.”
“Bukan itu, tapi lingkaran sihir yang kemarin kami lihat itu.”
“Bukan apa-apa, itu hanyalah sebuah hiasan saja. Tidak perlu kalian pikirkan. Haaaa, waktunya kembali. Aku yakin disana ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Liburan 8 hari bersama dengan Iona, berakhir disini.
__ADS_1