
1 minggu setelah itu.
Siang hari, di markas khusus.
Ruang komandan.
“Haaaa, ini melelahkan.” (Lucy)
“Kau bahkan tidak menyentuh pekerjaanmu sama sekali.”
“Tubuh dan pikiranku saat ini sedang lelah.”
“Lalu bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?”
“Ternyata lebih sulit dari apa yang aku kira, tidak ada yang cocok.”
“Begitukah?”
“Ari, bagaimana dengan ini? Apa sudah benar?”
“Hmmm. Sudah, semuanya sudah benar. Oh ya, dibagian bisa kau tambahkan sedikit.”
“Baik.”
“Enak, ya kalian berdua.”
“Makanya, cepat cari pasangan agar kau tidak iri.”
“Aku ini juga sedang berusaha tau. Sepertinya aku butuh liburan.”
“Silahkan, lakukan sesukamu. Waktumu tersisa 3 minggu lagi, aku menantikannya. Siapa yang akan kau pilih.”
“Iya iya. Aku mengerti.”
2 minggu berlalu.
“Pangeran Lucy, ada sesuatu yang…” (Ria)
“Ahh, Lucy sedang kembali ke kerajaanya. Dia sedang berlibur.”
“B-begitu.”
“Apa ada sesuatu, aku bisa membantu.”
“T-tidak, terimakasih.”
“Begitu, jika ada sesuatu yang tak kau pahami tanyakan saja padaku.”
“Baik.”
“Ria, ada apa? Apa ada masalah?”
“T-tidak, aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Permisi.”
“Eh? Y-ya.” Ria pergi. “Ari, ini dokumen yang kau minta.”
“Terimakasih.”
“Oh ya, ada apa dengan Ria?”
“Dia sedang mencari Lucy.”
“Pangeran Lucy? Bukankah jika ada yang dia tidak tau dia bisa bertanya padamu.”
“Dia ingin bertemu dengannya, bukan untuk bertanya.”
“Bertemu?”
“Ya, sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengannya wajar saja jika dia gelisah. Haaaa, sepertinya aku sudah menemukannya.”
“Ria?”
“Ya, sisanya hanya menunggu dia saja.”
Beberapa hari setelah itu.
“Wakil komandan Ari, apa pangeran Lucy sudah kembali?” (Ria)
“Huh? Apa ada yang ingin kau tanyakan? Sepertinya dia baru akan kembali setelah beberapa hari lagi.”
“B-begitu.”
“Iona, bisa tolong kerjakan dokumen itu.”
“Baik.”
“K-kalau boleh tau, apa yang pangeran Lucy lakukan? Kenapa dia harus pulang?”
“Kalau tidak salah dengar, katanya dia ingin menghadiri upacara pertunangan.”
“Upacara pertunangan? Pertunangan siapa?”
“Siapa lagi, tentu saja pertunangannya. Ya, itu wajar saja sih. Lagipula dia’kan seorang pangeran dan selain itu dia juga berbakat tidak heran jika ada yang menginginkannya.”
“B-begitu, ya.” Ria menjadi agak murung.
“Haaaa, dia orang yang baik, semoga saja dia mendapatkan pasangan yang baik juga. Jika dia menikah dengan keluarga bangsawan atau seorang putri, aku yakin kehidupannya akan bahagia, bukankah kau juga berfikiran seperti itu.”
“Y-ya… Maaf, aku harus pergi masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.”
“Ya.” Ria pergi.
“Ari!!” Iona menatap tajam kearahku. “Kenapa kau berbohong seperti itu?!”
“Aku hanya ingin melihat reaksinya saja, tidak lebih.”
“Tapi karena ulahmu dia jadi sedih seperti itu, kau harus bertanggung jawab karena sudah membuat seorang gadis sedih.”
“Aku tak tau cara untuk membuat seorang gadis tenang, selain itu aku hanya sebagai orang asing dimatanya. Apapun yang aku katakan tidak akan membuatnya tenang.”
“Moooo, sudahlah. Aku akan pergi menghiburnya, kau kerjakan pekerjaanku dulu.” Iona pergi.
“Haaaa, sedari awal itu juga adalah pekerjaanku. Tapi, aku tak menyangka akan mendapatkan tanggapan seperti itu darinya.” Aku pikir aku akan mendapatkan tanggapan yang sedikit berbeda, seperti berpura-pura menerimanya atau hal lain yang mirip seperti itu. Tapi nyatanya tidak. “Sepertinya ini akan sedikit menarik. Sebuah kisah cinta asli antara gadis biasa dengan seorang pangeran, aku pensaran dengan kelanjutan cerita cinta mereka.”
\=\=\=
Aku bergegas mencari Ria dan setelah beberapa lama mencari aku menemukannya.
Di gudang.
“Ria, apa yang terjadi padamu?”
“Hiks. P-putri, m-maaf.”
“Kenapa kau meminta maaf? Sudah, berhentilah menangis.” Aku mencoba untuk menenangkannya.
Beberapa saat kemudian Ria sudah mulai tenang.
“Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa Ari mengatakan sesuatu yang membuatmu sampai menangis seperti itu, jika memang benar aku akan memarahinya.”
“T-tidak perlu, dia tidak salah.”
“Lalu, kenapa?”
“Putri, apa aneh jika seorang gadis dari keluarga biasa menyukai seorang pangeran?”
“Jika dilihat secara sudut pandang orang lain mungkin akan terlihat aneh.”
“Begitu, ya.” Mendengar hal itu Ria menjadi murung lagi.
“T-tapi tenang saja. Jika mereka saling menyukai, kenapa tidak? Lagipula hal seperti itu wajar-wajar saja, kau bisa lihat. Meskipun masih tidak memiliki hubungan apapun, aku dan Ari bisa kau jadikan contoh.”
“Putri dan wakil komandan Ari.”
“Iya, Ari itu bukan berasal dari keluarga yang memiliki. Ya, aku juga tak peduli dengan hal itu, tapi yang aku tau adalah aku menyukainya. Itu saja sudah cukup. Oleh karena itu, jangan patah semangat dan berjuanglah. Meskipun kau gagal, setidaknya kau sudah berusaha.”
“Terimakasih, aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Ya, aku akan mendukungmu.”
\=\=\=
“Hmmm, seharusnya seperti ini. Lalu untuk ini, pemasukannya terlalu sedikit. Sepertinya ada masalah, sudahlah mungkin hanya masalah kecil.”
“Aku kembali.” (Iona) Iona sudah kembali.
“Bagaimana?”
__ADS_1
“Jangan tanya bagaimana, aku sudah bersusah payah membuatnya tenang. Jangan lakukan hal seperti itu lagi, ingat.”
“Iya iya, aku paham.”
“Permisi wakil komandan, saya ingin mengantarkan barang milik anda.” (Grild)
“Sudah selesai?” Grild memberikanku senapan sihir. “Wah, terlihat seperti baru.”
“Mereka mengganti beberapa komponen karena komponennya sudah rusak karena terbakar, dan lagi mereka merasa heran kenapa benda yang terbuat dari besi bisa seringan itu.”
“Ya, anggap saja rahasia perusahaan. Oh ya, bagaimana dengan pesananku yang itu? Apa sudah selesai juga?”
“Sepertinya masih belum, saat saya memeriksa kesana pembuatannya masih dalam tahap pengembangan jadi mungkin akan memerlukan waktu sedikit lebih lama.”
“Begitu, ya sudahlah. Lagipula sepertinya tidak akan terjadi hal gawat dalam jangka waktu dekat ini.”
“Kalau begitu, saya izin untuk undur diri.”
“Oh ya, bagaimana dengan tambang? Apa monsternya sudah dibersihkan?”
“Sebagian besar sudah, tapi masih ada beberapa bagian yang belum terjamah. Jadi mungkin akan memakan waktu cukup lama untuk membuat tambang bisa digunakan lagi.”
“Begitu, jika ada sesuatu atau apapun yang dibutuhkan katakan padaku.”
“Baik, kalau begitu saya izin untuk pamit.” Grild pergi.
“Ini terlihat lebih mengkilap dari sebelumnya, pandai besi dikerajaan ini memang paling top.”
“Ari, apa yang ingin kau lakukan? Apa akan ada sesuatu yang terjadi lagi?”
“Tidak ada, aku hanya meminta untuk memperbaiki ini saja. Tidak ada hal lain.”
“Benarkah?”
“Iya.” Untuk saat ini tidak akan ada hal yang terjadi, aku sangat yakin dengan hal itu. Pertempuran sebelumnya bisa menjadi pertanda kalau jika ada yang menyerang kerajaan ini, maka bisa dipastikan mereka akan kalah.
Sebuah rumor akan berkembang dengan sangat cepat, dan jika ada rumor tentang pasukan yang berjumlah kurang dari 5000 orang berhasil memenangkan pertempuran besar, pasti rumor yang menarik itu akan sangat cepat tersebar keseluruh penjuru dunia. Meskipun demikian, kerajaan yang merasa dirinya sangat kuat pasti akan datang kesini, tapi tidak dalam waktu dekat ini.
1 minggu berlalu.
Sore hari.
“Ahhhh, aku ingin liburan.”
“Saat ini sudah musim dingin, salju sudah turun. Mau liburan kemana dicuaca yang dingin seperti ini?” (Iona)
“Haaa, benar juga.” Saat ini sudah musim dingin, dan waktu yang aku berikan pada Lucy hanya tersis beberapa hari lagi saja. Tapi sampai saat ini dia belum juga kembali. “Apa dia menetap dikerajaannya?”
“Yoo, aku kembali.” (Lucy) Lucy datang dengan pakaian musim dinginnya. “Cuacanya benar-benar tak menentu, ya. Untung saja aku kembali lebih cepat.”
“Lalu, bagaimana? Apa kau sudah dapat?”
“Sebenarnya begini, ada cukup banyak tapi entah kenapa aku merasa tidak ada yang cocok denganku.”
“Jadi itu yang membuatmu kembali kesini terlambat.”
“Ya, seperti itulah. Kebanyakan dari mereka hanya menunjukkan keanggunannya didepanku saja.”
“Bukankah itu wajar, mereka juga melakukan itu agar dapat menarik perhatianmu. Kau itu aset yang sangat bergarga bagi kerajaanmu, kau tau.”
“Haaaa, sudahlah. Aku saat ini sedang kedinginan.”
“Permisi.” (Ria)
“Ria, kenapa kau masih ada disini? Bukankah biasanya jam kerjamu sudah selesai sejak tadi.”
“P-pangeran Lucy, anda sudah kembali.”
“Ya, aku baru saja kembali. Pekerjaanmu masih belum selesai?”
“I-iya.”
“Ari, kenapa kau memberikan banyak sekali pekerjaan padanya.”
“Hey, jangan menyalahkanku. Aku sudah memberikan mereka masing-masing tugas yang sesuai dan bisa mereka kerjakan.”
“Haaaa, sudahlah.”
“Anu, aku membawakan teh hangat.”
“Wah, terimakasih. Tapi cuma 3.”
“A-aku akan segera membuatnya lagi.”
“Tidak perlu repot-repot, aku akan mengambil bagian milik Ari.”
“Hey, mana bisa begitu.”
“Sudahlah, jika kau ingin kau bisa meminta bagian putri.”
“Kau itu mulai seenaknya sendiri, ya.”
“Ari, mau kemana kau?” (Iona)
“Keluar sebentar.”
“Diluar dingin, kau tidak menggunakan baju yang tebal.”
“Tidak masalah, aku baik-baik saja.”
“Jangan seperti itu.” Iona mendekat dan melilitkan mantel yang ia gunakan keleherku. “Setidaknya gunakan ini jika ingin keluar.”
“Baik, terimakasih. Lucy, kau mau ikut?”
“Kemana?”
“Baiklah, aku tak akan mengajakmu.”
“Ehhh, baik aku akan ikut.”
Beberapa menit setelah itu,di luar markas.
“Bagaimana dengan liburanmu?”
“Aku tak menganggapnya sebagai liburan, itu bahkan tidak bisa aku katakan sebagai liburan.”
“Huh? Apa yang terjadi?”
“Saat aku bilang ingin mencari seorang kekasih, seluruh kerajaan heboh dan karena itu para bangsawa serta para putri dari kerajaan lain ikut ambil bagian dalam hal itu.”
“Sepertinya kau dalam kesulitan juga.”
“Apa kau menemukannya?”
“Hal itu lebih sulit dari apa yang aku bayangkan, meskipun dapat tapi aku tak yakin bisa mencintainya atau tidak, lalu disaat yang sama aku terus berfikir. Apa mereka menyukaiku, atau hanya ingin menggunakanku sebagai perantara politik kerajaan. Itu yang terus aku pikirkan, alhasil dari sekian banyak tidak ada satupun yang bisa aku pilih.”
“Kau bisa ragu juga ternyata.”
“Tentu saja.” Lucy perlahan meminum teh yang dia bawa. “Haaaa, ini sangat nikmat.”
“Kau terlalu santai menanggapi hal ini.”
“Mencari pasangan itu mudah, tapi menemukan yang cocok itu lebih sulit daripada yang diperkirakan. Sepertinya aku gagal dalam tantanganmu, meskipun cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu tapi persyaratan darimu tidak terpenuhi. Kau bilang saling mencintai, itu berarti baik aku dan orang yang akan menjadi pasanganku harus saling menyukai satu sama lain, benar’kan.”
“Ya, itu benar. Tapi itu bukan hal yang bagus untuk sebutan cinta pada pandangan pertama. Itu hanyalah ilusi, kau harus menemukannya sendiri. Hal yang kau lakukan selama ini akan membawamu pada sesuatu yang sangat berharga bagimu.”
“Sangat berharga bagiku?”
“Cepat atau lambat kau akan menyadarinya, aku akan menunggu.”
“Aku tak yakin bisa menemukan hal rumit seperti itu dengan cepat.”
“Selain itu, kau terlalu jauh mencari. Bukankah didekatmu ada.”
“Mereka ber-4? Kau bercanda, tidak ada hubungan apapun diantara mereka.”
“Heee, seperti itu. Kenapa kau bisa seyakin itu?”
“Masalah keududukan dan juga kasta, meskipun aku menyukai salah satu dari mereka hal itulah yang akan jadi pembatas. Selama ini aku hanya bersikap baik saja pada mereka, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada mereka.”
Suasana menjadi hening sesaat setelah Lucy berkata seperti itu. “Begitu. Kau tidak bisa berbohong dihadapanku, seharusnya kau tau hal itu.”
“Apa yang membuatmu yakin kalau aku tak berbohong?”
“Entahlah, aku tak ingin menyebutkannya. Tapi aku tau kalau kau berbohong.”
“Kau itu, yang penting aku sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun pada mereka. Seharusnya kau mengerti hal itu.”
__ADS_1
“Haaaa, kau masih tak mau mengakuinya, ya. Terserahlah, aku tetap akan menunggu.”
“Ari, pangeran Lucy, apa kalian melihat Ria?”
“Ria? Bukankah dia bersamamu?”
“Dia barusan bilang ingin kedapur, tapi saat aku periksa dia tidak ada disana.”
“Apa kau sudah mencarinya ketempat dimana dia biasanya berada?”
“Iya, tapi aku tak menemukannya.”
“Ari, apa kau sepemikiran denganku?” (Lucy)
“Kemungkinan dia mendengar apa yang kita bicarakan barusan.”
“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” (Iona)
“I-itu, tentang masalah kecil. Putri tidak perlu tau.”
“Dia bilang kalau dia sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun pada satupun dari mereka ber-4. Seperti itu.”
“K-kenapa kalian membicarakan hal seperti itu!! Waktu itu Ari, sekarang pangeran Lucy, kenapa kalian suka sekali mempermainkan hati seorang gadis.”
“Wah wah, Lucy kenapa kau berbicara hal kejam seperti itu.”
“Kenapa aku, kau yang memancingku terlebih dahulu.”
“Sudah, berhenti berbicara. Sekarang bantu aku mencari Ria.”
“B-baik.”
Kami meminta bantuan seluruh prajurit untuk mencari Ria, karena hari semakin gelap ini akan membuat pencarian menjadi semakin sulit.
Kami ber-3 sudah cukup lama mencari Ria, tapi masih belum menemukannya. “Iona, sebaiknya kau kembali ke istana. Suhu udara semakin dingin.”
“Tapi Ria…”
“Tenang, kami akan segera menemukannya. Selain itu khawatirkan dirimu sendiri, kau sudah cukup lama terkena suhu yang dingin ini. Jika sampai terjadi sesuatu padamu, aku akan menghentikan pencarian.”
“B-baik, tapi kalian harus menemukan Ria.”
“Iya, tenang saja.” Iona pulang.
“Haaaaa, jika mencari seperti ini pasti akan sulit. Lucy, bagaimana jika kita berpencar. Bagian hutan masih belum diperiksa, kau periksa bagian itu, aku akan pergi ke bagian lain.”
“Hey, hutan dimalam hari itu sangat menyeramkan, kau tau.”
“Iya aku tau, tapi tenang saja, hutan bagian ini sudah aman jadi kau tak perlu khawatir.”
“Haaaa, baiklah.”
“Kalau sudah ketemu, segera berikan tanda.”
“Iya.”
“Kalau begitu, semoga berhasil.”
\=\=\=\=
Seperti yang dikatakan Ari, aku pergi menuju ke hutan untuk mencari Ria.
“Ria!! Dimana kau!! Jika kau mendengarku, jawab aku!!” Suhu udara semakin malam semakin dingin, aku khawatir jika sampai terjadi sesuatu padanya.
Beberapa menit setelah itu.
“Ria!!! Dimana kau, jika kau mendengarku jawab aku!!” Aku sudah berjalan cukup jauh, tapi sama sekali tidak menemukannya. Hari sudah gelap, dan aku saat ini kesulitan untuk mencarinya.
Tak selang beberapa lama.
“Ria?” Aku melihatnya, tapi… “Ria, kau tidak apa-apa?!” Dia tak sadarkan diri, kemungkinan besar karena cuaca yang semakin dingin. “Aku harus segera membawanya kembali, jika tidak bisa gawat.”
Beberapa menit setelah itu.
“Ria, kau sudah bangun?” Saat ini aku sedang menggendong Ria dan mencoba untuk membawanya kembali kemarkas.
“P-pangeran.”
“Haaaa, apa yang sebenarnya kau pikirkan. Pergi kehutan sendirian dicuaca yang buruk seperti ini.”
“M-maaf. Mantel ini.”
“Tubuhmu kedinginan, aku menggunakan matel milikku untuk membuatmu sedikit hangat.”
“Tapi, bagaimana denganmu?”
“Jangan khawatirkan aku, hawa dingin seperti ini tidak akan membuatku.Accooh… Haaaa, sepertinya aku pilek.”
“Maaf, karena menolongku, pangeran sampai…”
“Haaaa, apa yang kau katakan. Membantumu adalah sebagian tugasku.”
“Begitu.”
“Apa tubuhmu baik-baik saja?”
“Iya, aku tidak apa-apa, hanya sedikit kedinginan saja.”
“Syukurlah. Bertahanlah, sebentar lagi kita akan segera sampai di markas.”
“Pangeran.”
“Ada apa?”
“Apa aneh jika ada seorang dari kalangan bawah menyukai orang yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya?”
“Selama saling menyukai, aku rasa tidak masalah. Lagipula aku sudah melihatnya sendiri.”
“Melihatnya, maksud anda putri Iona dan juga wakil komandan Ari.”
“Iya, dari kalangan bawah ataupun tidak, jika mereka sudah saling menyukai maka sebuah benang akan terbentuk diantara mereka benang yang akan akan terputus meskipun sejauh apa mereka berpisah. Mungkin seperti itu.”
“Begitu.”
“Selain itu, menurutku aneh jika seorang pangeran harus menikahi orang yang memiliki derajat yang sama dengannya. Meskipun memiliki derajat yang sama, tapi pernikahan yang terjadi bukan berdasarkan rasa suka melainkan ada permainan politik dibelakang itu. Jika seperti itu, yang ada hanyalah sebuah penyesalan. Aku lebih suka kebebasan dalam memilih, aku memilih apapun yang bisa membuatku tertarik dan aku menyukainya.”
“P-pangeran…”
“Ya?”
“Aku, aku, aku menyukaimu.” Mendengar hal itu entah kenapa aku tersenyum. “Aku tau aku dari orang yang tak terpandang, tapi…”
“Apa yang membuatmu menyukaiku?”
“Membuatku menyukaimu?”
“Iya, aku ini terlalu sibuk sendiri. Jarang memperhatikan orang lain, dan yang paling penting aku ini hanyalah seseorang yang tak memiliki kelebihan apapun, aku ini berbeda jika dibandingkan dengannya. Bahkan bisa dibilang bahwa dia lebih baik dariku.”
“T-tidak, anda juga memiliki hal lain. Aku menyukai dirimu yang selalu memperhatikan semua orang, aku juga menyukai dirimu yang selalu peduli pada orang lain, aku juga menyukai hal yang kau sukai, aku menyukai semuanya darimu. Saat aku berada didekatmu, jantungku terasa berdegub kencang. Hanya dengan melihatmu, entah kenapa aku merasa tenang.”
“J-jika kau berkata seperti itu, itu membuatku malu.”
“M-maaf, tapi itulah yang aku rasakan. Maaf.”
“Kau terlalu sering berkata maaf.”
“M-maaf.”
“Haaaa.” Aku berhenti dan menurunkannya. “Bisa tutup matamu sebentar.”
“P-pangeran, kenapa?”
“Sudahlah, ikuti saja.”
“B-baik.”
Aku mengambil sesuatu dikantongku, memegang tangan kanannya dan memasukkan sebuah cincin dijari manisnya. “Haaaa, kau bisa buka matamu.”
“I-ini…”
“Aku tak menemukan orang yang cocok untuk memakainya, tapi sepertinya saat ini aku sudah menemukannya.”
“P-pangeran… Terimakasih.”
“H-hey, jangan menangis.”
“M-maaf, aku terlalu bahagia.”
__ADS_1
“Begitu.” Aku kembali mengendongnya. “Baiklah, waktunya untuk kembali ke markas.”