Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
51


__ADS_3

Kejadian 500 tahun lalu.


Para pahlawan sedang bersantai dan menikmati hari dimana kedamaian sudah didapatkan, raja iblis sudah dikalahkan.


“Akhirnya sebentar lagi kita bisa pulang.” (Sumire)


“Benar. Aku sangat menantikan hari ini, setelah beberapa tahun disini akhirnya aku bisa kembali ke duniaku.” (Jiho)


“Akira, Arima dan Shiori dimana mereka? Bukankah mereka barusan disini?” (Meiko)


“Benar, ini adalah hari kemenangan kita, mereka berdua malah pergi sangat tidak asik berpesta tanpa mereka berdua.” (Ajiko)


“Kalian sangat ribut tadi, makanya mereka pergi.” (Akira)


“Sudahlah, kita nikmati saja malam yang tenang dan damai ini. Setelah ini aku tak memiliki alasan untuk mengangkat senjataku lagi, semuanya sudah kembali damai. Semuanya!! Ayo bersenang-senang sepuasnya malam ini!!!” (Jiho)


“Yaa!! Tentu saja!!”


“Kalian sangat ribut, aku akan pergi mencari Arima dan juga Shiori.”


“Ya, bawa mereka kemari. Kita nikmati pestanya bersama-sama agar lebih asik.”


“Iya iya.” Akira pegi dan yang lain menikmati pesta kecil yang mereka adakan sendiri diistana langit yang mereka buat besama.


Cukup lama setelah itu.


Akira yang sedang berjalan-jalan melihat sesuatu yang aneh diluar, dan oleh karena itu dia memutuskan untuk melihatnya.


Dia melihat 2 orang yang sedang berlatih pedang. “Shiori, Arima, kalian ternyata disini. Apa yang kalian lakukan?”


“Seperti yang kau lihat, latihan pedang.” (Arima)


“Itu benar, setelah kita berhasil pulang kedunia kita nanti kita harus membasmi para monster sama seperti apa yang orang tua kita lakukan dulu.” Mereka berdua berbicara tapi disisi lain latihan berpedang tetap mereka lanjutkan.


“Dalam hal seperti ini kalian berdua memang yang terbaik.” Saat Akira berkata seperti itu, mereka berdua menghentikan latihannya.


“Jika bukan karena pedang ini, mungkin aku tidak akan bisa bertahan sejauh ini.” (Arima)


“Pedang ini selalu membantu disaat ada kesulitan.” (Shiori)


“Y-ya, pedang itu memiliki kekuatan yang hebat. Jadi, wajar saja’kan.” (Akira)


“Aku ingin tau, sebenarnya seberapa kuat orang yang memberikan pedang ini.” (Arima)


“Maksudmu ayahmu? Paman Hiroaki, aku pernah mendengar tentangnya dari ibu. Tapi, saat bencana besar sudah selesai paman Hiroaki menghilang dan lenyap.”


“Aku sudah berdoa pada dewa setiap hari agar aku bisa bertemu dengannya setidaknya 1 kali saja, aku ingin melihat seperti apa wajahnya. Ibu bilang kalau wajahnya mirip dengan Arima-nii, tapi aku pikir ayah mungkin lebih keren dan tampan darinya sampai membuat ibu tertarik dengannya.” (Shiori)


“Hey, jangan membandingkanku dengan orang yang tak pernah ada. Selain itu, aku merasa kalau orang itu ada didunia ini.”


“Ibu selalu bilang kalau ayah akan kembali, tapi sampai sekarang aku bahkan tak pernah melihatnya. Satu-satunya hal yang ditinggalkannya adalah kedua pedang yang kami gunakan ini. Shirame, dan juga Ryuga.”


“Ya, keadaan kalian tidak berbeda jauh denganku. Ayahku juga menghilang setelah beberapa tahun lalu, tapi aku yakin dia akan kembali.”


“Kalian semua, ada informasi penting!!” (Jiho)


Mendengar teriakan Jiho dari dalam, Arima, Shiori, dan juga Akira bergegas masuk ke dalam.


Di dalam.


“Ada masalah apa?” (Akira)


“Alat yang aku tinggalkan diistana bereaksi, kemungkinan ada panggilan dari raja.”


“Lagi? Bukankah mengalahkan raja iblis sudah cukup, aku sudah lelah dengan semua ini.” (Meiko)


“Ya, mungkin saja raja ingin memberikan kita sebuah penghargaan karena sudah mengalahkan raja iblis.” (Ajiko)


“Andai saja aku bisa berfikiran positif sepertimu, pasti semua ini akan jadi lebih mudah.” (Meiko)


“Bagaimana? Apa kita akan pergi?” (Jiho)


“Itu semua tergantung keputusan ketua kita, benar’kan Akira.” (Arima)


“Haaaa, menyerahkannya padaku.” (Akira)


“Kau’kan adalah ketuanya, kau yang harus memimpin.” (Shiori)


“Baik baik, aku mengerti. Sekarang kita datang saja dulu, jika memang ada sesuatu yang penting yang ingin raja bicarakan kita bisa mendengarkan.”


“Kalau begitu, ayo berangkat.” (Jiho)


Beberapa menit setelah itu.


Mereka menggunakan gerbang dimensi lalu berteleport menuju ke istana kerajaan manusia pertama.


“Raja, ada perlu apa anda memanggil kami kemari?” (Akira)


“Aku baru saja mendapat kabar kalau ras elf memulai penyerangan.” (Raja)


“Huh? Ras elf, itu tidak mungkin.” Para pahlawan yang lain terlihat kebingungan karena perkataan yang diucapkan oleh raja barusan. “Lagipula mereka membantu kita para pahlawan dalam mengalahkan raja iblis, merema memiliki peran besar dalam pertempuran panjang ini.”


“Jangan naif, kalian itu masihlah anak-anak. Ini masalah politik, karena mereka membantu mengalahkan raja iblis apa kita akan membiarkan mereka semena-mena, mereka sudah melukai para penduduk dan pasukan kita.”


“Tidak mungkin.” (Sumire)


“Raja, anda mungkin salah paham. Selain itu, ras elf bukan hanya ada sat…”


“Mereka tetap ras elf, dan mereka sudah mengancam keselamatan rakyat dan ras kita. Aku turunkan perintah untuk membasmi mereka.”


“M-membasmi, raja itu sangat berlebihan.”


“Perintahku adalah mutlak, lakukan itu atau jika tidak aku tidak akan mengembalikan kalian kedunia kalian.”


“Cih, menyebalkan.” (Ajiko)


“Kami akan pergi.” (Jiho)


Menggunakan sihir yang sama, mereka kembali ke istana langit.


“Sialan raja itu!!” (Jiho)


“Aku pikir mereka akan memberikan penghargaan, ternyata mereka merencanakan hal buruk seperti itu dan lagi mereka mengancam tidak akan membiarkan kita kembali ke dunia asal kita. Itu sangat menyebalkan.” (Meiko)


“Akira, apa kita akan menuruti perintahnya.” (Arima)


“Mana mungkin kita menuruti perintah kejam seperti itu!!” (Shiori)


“Sebenarnya aku curiga apakah raja itu bisa mengembalikan kita kedunia kita kembali.” (Jiho)


“Kau berfikir kalau raja itu sebenarnya hanya membual tentang mengirim kita pulang, seperti itu?” (Sumeri)


“Kalian bisa lihat, sebelumnya mereka bilang kalau saat kita berhasil mengalahkan mereka akan mengirim kita kembali ke dunia kita, tapi kenyataannya mereka malah memberikan kita tugas lagi, bahkan kali ini sangat tugas yang mereka berikan sangat mengesalkan. Kerja keras kita bahkan tidak pernah dianggap oleh mereka, aku lebih suka kerajaan Drawf yang menghargai dan mengganggap kita sebagai seorang pahlawan yang sebenarnya.”


“Yang kau katakan memang benar, aku juga setuju denganmu.” (Ajiko)


“Jadi Akira, apa pilihanmu? Sejujurnya aku juga sudah bosan diperbudak oleh raja itu, lebih baik aku mencari cara sendiri untuk kembali keduniaku.” (Jiho)


“Jika itu adalah pilihan kalian, maka aku akan menyetujuinya. Tapi, jika kita tidak membantu pasukan raja, kemungkinan raja akan mengerahkan semua pasukannya untuk membasmi para elf. Aku ingin kalian semua melindungi para elf dari serangan ini, setidaknya lindungi apapun siapapun yang kalian bisa.” (Akira)


“Aku suka dengan pemikiranmu itu, tapi sebelum itu aku baru saja menyadari sesuatu.” (Meiko)


“Huh? Meiko, apa itu?” (Akira)


“Bukankah aneh jika raja sampai meminta kita untuk membasmi bangsa elf, selain itu manusia memiliki sihir, bukankah itu akan menjadi lebih mudah dalam melakukannya sendiri, tapi kenapa raja ingin kita membantu?”


“Kau ingin bilang kalau raja sebenarnya sudah memulai penyerangan, seperti itu?” (Jiho)


“Iya, selain itu bukankah rumah langit ini terbang mengililingi dunia, aku baru saja merasakan sebuah sihir besar dari bawah. Kemungkinan kita saat ini berada digaris pertahanan terakhir bangsa elf.”


“Garis pertahan terakhir bangsa elf, itu bukankah berarti hutan kehidupan.” (Sumeri)


“Iya, Jiho, bukankah kau juga menyadarinya.”


“Ya, aku pikir itu hanyalah reaksi sihir saja yang terbentuk secara alami. Tapi jika kau yang mengatakan hal seperti itu, itu berarti memang benar. Invasi raja sudah dimulai sejak lama.”


“Kalau begitu, ayo cepat. Jika sampai hutan itu hancur, maka sumber kehidupan didunia ini akan musnah.” (Shiori)


“Kita harus memikirkan rancananya dulu, lawan kita adalah manusia kemungkinan rekan kita yang ikut melawan raja iblis akan menjadi musuh kita juga. Tapi, aku ingin tanya 1 hal lagi pada kalian. Apa kalian siap dengan konsekuensinya? Saat kita melakukan ini mungkin kita tidak akan dianggap sebagai pahlawan, tapi penghianat.”


“Aku tidak masalah, selain itu aku sudah tidak sudi lagi diperbudak raja itu.” (Jiho)


“Aku juga, selama ini kita sudah berjuang mempertaruhkan nyawa tapi kita sama sekali belum mendapatkan apapun darinya.” (Sumire)


“Aku juga tidak masalah, selain itu aku memiliki teman dari bangsa elf, jika harus melawannya aku tak ingin menuruti perintah raja.” (Meiko)


“Aku juga ikut, semua yang kita lakukan tidak dihargai di mata mereka. Aku sangat menyesal membantu mereka, seharusnya aku membiarkan manusia itu musnah saja.” (Ajiko)


“Y-ya… Lalu, Arima dan Shiori? Bagaimana dengan kalian?” (Akira)


“Jika semuanya ikut, aku juga ikut. Benar’kan Shiori.” (Arima)


“Iya, aku juga ikut apapun yang Arima-nii lakukan. Selain itu, kita sudah lama bersama jadi semua yang kita lakukan sekarang harus dilakukan bersama.” (Shiori)


“Baiklah, semua sudah setuju. Kalau begitu, kita bergerak sekarang.” (Akira)


Mereka semua langsung bergegas melompat dari istana langit dan langsung menuju ke medan perang.


Cukup lama setelah itu.


“Hey, kita turun terlalu jauh dari seharusnya.” (Jiho)


“Ya, mau bagaimana lagi. Kecepatan gerak istana langit kadang berubah ubah sesuai dengan kecepatan angin, bukankah kau yang menginginkannya seperti itu dulu. Selain itu, mekanismenya kau yang buat.” (Meiko) Karena kecepatan angin yang tak menentu, mereka turun terlalu jauh dari tempat yang seharusnya.


“Iya iya.”


“Sudah, semuanya ayo berangkat.” (Akira)


Setelah itu.


Memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di medan perang.


“Yang benar saja.” Mereka terlambat, disini ada banyak sekali mayat elf dan juga manusia yang bertebaran. Perang sudah selesai.


“Akira, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” (Arima)


“Aku pikir perang ini belum selesai, aku rasa kalau kedua belah pihak mundur karena ada sesuatu hal.”


“Sesuatu hal?”


“Jiho, Meiko, bukankah kalian merasakannya.”


“Jika kau berkata seperti itu, berarti bekas energi sihir yang aku rasakan ini memang penyebab mundurnya kedua belah pihak.” (Jiho)


“Bagaimana, apa kau bisa mengukur kekuatannya?”


“Sejujurnya sangat sulit, bahkan tidak mungkin bisa aku lakukan hanya dengan memberiksa bekas sihir yang ada disini.”


“Begitu, ya. Kalau begitu, kita akan berjaga disini sampai serangan selanjutnya muncul dan setelah itu jika itu terjadi segera hadang mereka.” (Akira)


“Baik.”


Mereka memutuskan untuk membuat kemah sementara di dekat hutan kehidupan.


Dan beberapa hari berlalu.


Sore hari.


“Kapan mereka akan menyerang? Kita sudah menunggu selama beberapa hari disini.” (Ajiko)


“Memulihkan pasukan membutuhkan banyak waktu, selain itu kita juga tidak membantu mereka jadi itu membuat persiapannya menjadi terhambat.”


“Horeee, akhirnya tertangkap juga!!” (???)


“Semuanya siaga.” (Akira) Mendengar suara seseorang mereka semua menjadi siaga.


“Huh? Apa yang kalian lakukan disini? Tempat ini berbahaya lo.” (???) Mereka bertemu dengan seseorang yang aneh, dia menangkap seekor kelinci menggunakan sebuah perangkap. “Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk anak mudah seperti kalian berkemah, sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini.”


“Jika kau berkata seperti itu, bukankah itu berarti kau juga termasuk.” (Sumire)


“Asal kalian tau, meskipun penampilanku tidak jauh dari kalian tapi aku ini sudah dihidup setidaknya lebih lama dari kalian. Sudahlah, oh ya. Ambil ini.” Dia memberikan sebuah kantung pada mereka.


“Apa ini?”


“Tenang, itu hanya daging kelinci yang aku dapatkan. Kalian bisa bakar itu, rasanya lumayan enak lo.”


“Meiko, jangan dimambil.” (Jiho) Saat Meiko ingin mengambilnya, Jiho menahannya. “Kita tidak bisa menerima sesuatu yang mencurigakan yang diberikan oleh orang asing.”


“Hmmm, jika aku berada diposisi kalian mungkin aku juga akan berfikir seperti itu. Tapi tenang saja,aku bukan orang yang sejahat itu sampai ingin meracuni kalian. Lagipula mencari daging kelinci itu susah, sayang sekali jika harus diberi racun. Tapi, jika kalian tidak mau aku akan memakannya sendiri.”


“T-tunggu.” (Shiori) Shiori langsung mengambilnya. “T-terimakasih banyak.”

__ADS_1


“Shiori, apa yang kau lakukan?!” (Jiho)


“Dia sudah bilang kalau tidak akan memberikan racun pada daging ini.”


“Kau mempercayai ucapannya, siapa tau dia berbohong.”


“Aku mempercayainya.”


“Kau mempercayai ucapan orang yang bahkan belum pernah sekalipun bertemu denganmu.”


“B-bukan begitu, hanya saja entah kenapa aku bisa mempercayainya kalau dia tidak bohong.”


“Dia lebih jujur daripada yang kalian kira. Namamu Shiori’kan.” (???)


“Y-ya.”


“Jika kau mau, aku bisa mencarikan lagi untukmu.”


“Benarkah?”


“Tentu saja.”


“Hey…” (Jiho)


“Biarkan saja dia, kau’kan sudah tau kalau dia memang orang yang seperti itu.” (Ajiko)


“Arima, apa kau yakin membiarkan adikmu itu?” (Jiho)


“Jika aku bisa menghentikannya, sudah aku hentikan. Tapi ini masalah kesukaanya terhadap sesuatu, seperti daging. Meskipun aku sekalipun tidak bisa melakukan apa-apa jika sudah berurusan dengan daging.”


“Kalau begitu, jika ada perlu panggil saja aku.” (???)


“K-kalau boleh tau, namamu?” (Shiori)


Dia tersenyum kecil. “Hiroaki.” Mendengar hal itu, Akira dan Arima begitu pula Shiori menjadi terkejut. “Kalau begitu, aku akan pergi dulu.” Dia pergi.


“Hiroaki, bukankan itu nama paman?” (Akira)


“Kalian mengenalnya?” (Meiko)


“Hanya namanya saja, itu adalah nama ayah dari Shiori dan Arima.”


“Tapi, dia terlalu muda bukankah usianya hampir sama dengan kita, bagaimana mungkin dia adalah ayah kalian.” (Ajiko)


“Ya, mungkin saja hanya namanya yang sama.”


“Iya, mungkin saja kalian benar. Mungkin hanya namanya saja yang sama, dia pasti orang yang berbeda.” (Shiori)


Cukup lama setelah itu.


“Hmmm, ini enak sekali.” (Sumire) Mereka memakan daging yang didapatkan dari Hiroaki.


“Dia sudah memberikan bumbu sebelumnya, jadi kita hanya tinggal memanggangnya saja.” (Meiko)


“Shiori, kenapa kau tidak makan? Bukankah kau menyukai daging.” (Arima) Arima mendekati Shiori yang berada agak menjauh dari yang lain.


“Aku memang menyukainya, janya saja. Tadi dia…”


“Kau juga memikirkannya, ya.”


“Arime-nii juga?”


“Tentu saja, setelah mengatakan hal seperti itu tentu saja itu membuatku terus kepikiran.”


“Kalian berdua, kenapa menjauh dari yang lain.” (Akira) Akira menghampiri mereka berdua.


“Akira, Arima-nii, bagaimana jika orang yang tadi itu benar-benar ayah? Meskipun muda, tapi dia bilang kalau usianya berbeda jauh dari kita.” (Shiori)


“Ya, aku juga belum pernah melihat paman Hiroaki sebelumnya. Tapi, aku memiliki 1 petunjuk apakah dia benar paman Hiroaki yang asli atau bukan.”


“Apa itu?”


Esoknya.


Siang hari hutan kehidupan.


“Akira, apa yang sebenarnya kau rencanakan? Apa kau benar-benar serius ingin menyerangnya? Dia sudah bersikap baik pada kita kemarin.” (Sumire)


“Ada sesuatu yang ingin aku pastikan, oleh karena itu aku butuh bantuan kalian semua.” (Akira) Saat ini, mereka semua berencana untuk menyerang Hiroaki yang sedang tidur siang.


“Jika itu yang kau inginkan, baiklah.”


“Bagus, semuanya. Serang!!” Mereka serentak menyerangnya. “Dia hilang?”


“Hoaaaam, biarkan aku istirahat sebentar. Jika ingin bermain-main tunggu sampai aku selesai istirahat 2 atau 3 jam saja sudah cukup.”


“Serang!!”


Mereka menggunakan seluruh kekuatan dan kemampuan mereka untuk mengalahkannya.


Cukup lama setelah itu.


“Kalian sudah selesai?” (Hiroaki) Akira dan yang lainnya kehabisan tenaga, dan sementara itu Hiroaki sama sekali tidak berkeringat sedikitpun. “Aku hanya menghindari serangan kalian, lo. Kenapa kalian sendiri yang kelelahan?”


“D-dia sangat kuat.” (Jiho)


“Oh ya, aku tak melihat 2 teman kalian itu. Kalau tidak salah Shiori dan Arima, dimana mereka?”


“Hehe, kau terjebak. Sekarang.” (Akira)


Serangan dadakan langsung ditujukan pada Hiroaki yang tengah lengah, serangan yang sangat kuat dari Shiori dan juga Arima.


Ledakan besar terjadi.


“Apakah berhasil?” (Akira) Jiho dan Meiko membuat pelindung yang membuat mereka terlindung dari dampak yang diakibatkan dari serangan Shiori dan juga Arima.


“Wah, serangan yang cukup kuat. Sudah kuduga, kalian berdua memang luar biasa.” (Hiroaki)


“D-dia masih bertahan. Bahkan tidak tergores sedikitpun.” (Jiho) Hiroaki masih berdiri tegak, tapi…


“Haaaa, padahal aku hanya berencana untuk melihatnya saja. Tapi tak kusangka akan berakhir seperti ini.” (Hiroaki)


“Pedeng itu, pedang yang sama seperti milik Arima dan Shiori.” (Meiko) Mereka semua terkejut melihatnya, dia memiliki pedang yang sama seperti mereka. Hiroaki menggunakannya untuk menangkis serangan Arima dan Shiori.


“Kalian berdua ternyata sudah menjadi orang yang hebat. Lebih hebat dari apa yang dia katakan.” Hanya dengan melihat hal itu, Arima dan juga Shiori menyadari siapa yang sebenarnya saat ini berada didepan mereka.


Menyadari hal itu, Shiori meneteskan air matanya. Sementara itu Arima mendekat ke arahnya. “Y-yo… Ughhhh..” Dia memukul tepat kearah perut Hiroaki.


“Haaaa, aku tak bisa memberikan banyak jawaban tapi yang pasti. Jika aku tau ibumu akan melakukan hal seperti ini, mungkin aku akan ikut membawanya juga. Meskipun aku tau resiko apa yang akan aku dapatkan, jika saja dia bicara lebih cepat.”


“Kau tak menyesali perbuatanmu ini!! Ibu berusaha keras membesarkan kami, dan bahkan dia menceritakan betapa hebatnya dirimu pada kami meskipun hanya sebentar bersamanya. Dia selalu sedih ketika menceritakan tentang kepergianmu, dia sangat menderita.”


“Ini memang terdengar kejam tapi, aku hanya melakukan tugas. Jika ada sesuatu diluar kendali, aku tidak bisa melakukan apapun. Jika saja kalian tau, kehadiran kalian sudah merubah banyak sekali hal yang seharusnya tidak ada. Meskipun begitu aku tak akan menyalahkan kalian atau ibu kalian, karena ini murni adalah karena kelalaianku.”


“Ayah!!” (Shiori) Shiori yang menangis senang langsung berlari dan memeluk Hiroaki. “Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, aku sangat senang. Akhirnya doaku selama ini dapat terkabul.”


“Dia benar-benar ayah mereka?” (Jiho)


“Jika dilihat dari senjata yang mereka gunakan, itu sama. Kemungkinan besar iya.” (Ajiko)


“Ahhh, maaf sebelumnya karena belum memperkenalkan diri dengan benar. Namaku, Akarui Hiroaki, meskipun terlihat muda usiaku ini lebih tua dari kalian.”


“Anda abadi?”


“Tidak, jika ada yang membunuhku aku akan tetap bisa mati.”


“B-begitu.”


“Paman, kenapa paman bisa ada disini? Apa paman tinggal disini?” (Akira)


“Ahhh, kau anak Kotaro, ya. Wah, kau mirip dengannya saat masih muda dulu. Melihatmu membuatku ingat seberapa besar perjuangannya dulu. Ahhh, lupakan itu. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku tidak tinggal didunia ini, aku berada didunia ini sekarang karena mendapatkan tugas.”


“Tugas? Dari siapa?”


“Salah satu dewa. Dia juga orang yang menugaskanku untuk pergi ke dunia tempatmu tinggal. Ahhh, tempat ini kurang bagus untuk berbicara santai. Bagaimana kalau kita pergi cari tempat yang lebih nyaman lagi.”


“Kalau begitu...” (Shiori)


Mereka pergi ke istana langit.


Ruang untuk bersantai.


“Wah, sebuah kastil terbang. Mengingatkanku dengan istana langit milik seseorang.” (Hiroaki)


“Siapa?” (Jiho)


“Seorang dewa, ya meskipun begitu ini terlihat kecil dibandingkan dengan buatannya. Tapi ini sudah bagus.”


“Membandingkan ini dengan buatan seorang dewa, itu tidak masuk akal.” (Meiko)


“Paman, jika boleh tau tugas apa yang dewa itu berikan padamu?” (Akira)


“Aku ditugaskan untuk melindungi bangsa elf, selain itu aku juga harus mengurus keganjilan yang akan segera muncul.”


“Keganjilan?” (Jiho)


“Ahhh, sebelumnya aku sudah pernah mengatasi hal semacam ini. Bisa dibilang, keganjilan itu seperti musuh bagi para dewa, dia membuat kerusakan dan hancur suatu dunia yang dijaga oleh seorang dewa atau bisa diartikan kalau mereka adalah ketidakseimbangan.”


“Aku tidak begitu mengerti.”


“Jadi begini contoh simpelnya. Dunia yang dijaga oleh para dewa itu bagaikan sebuah kayu yang ditaruh secara seimbang, tapi karena ada sesuatu hal membuat kayu yang seharusnya seimbang itu malah tidak seimbang dan berakhir jatuh. Seperti itu.”


“Begitu.”


“Apa ayah akan kembali setelah tugas itu selesai? Apa ayah akan menemui ibu?” (Shiori)


“Ahhh, soal itu. Aku sudah bertemu dengannya sebelum kemari.”


“Sudah? Kau sudah menemui ibu?” (Arima)


“Iya, perbedaan waktunya ternyata tidak begitu jauh. Meskipun sudah sangat lama, tapi nyatanya saat kembali kesana 18 tahun sudah terlewat. Kemungkinan aliran waktu didunia ini lebih lambat dari dunia tempat kalian berasal, jadi meskipun berada didunia ini selama 100 tahun sekalipun tidak akan merubah apapun saat kalian kembali.”


“Seperti itu, ya.”


“Oh ya, alasan kalian dipanggil kedunia ini apa? Dan kenapa kalian bisa berada dihutan bangsa elf?” (Hiroaki)


Mereka kemudian menjelaskannya, alasan kenapa mereka dipanggil kedunia ini.


Cukup lama setelah itu.


“Hmmm, jadi setelah mengalahkan raja iblis, raja menjanjikan akan memulangkan kalian kedunia kalian, tapi setelah melakukan 1 pekerjaan yaitu memusnahkan bangsa elf, seperti itu.”


“Iya.”


“Aku pikir siapa yang akan mereka panggil, ternyata kalian.”


“Eh, ayah sudah tau?”


“Tidak, hanya saat ini aku yang melindungi desa, kemungkinan sampai keadaan ini mereda dan ketidakseimbangan itu muncul, setelah semuanya selesai aku baru akan kembali.”


“Jadi itu alasan mereka sampai meminta bantuan kita.” (Sumire)


“Jika lawannya ayah, hal itu wajar saja. Kita ber-7 saja tidak mampu mengalahkannya, apalagi pasukan itu.” (Shiori)


“Tapi, kenapa kalian menengtangnya?” (Hiroaki)


“Kami melakukannya karena memiliki alasan tersendiri.” (Akira)


“Begitu, aku mengerti. Selain itu, aku ragu kalau raja itu akan mengirim kalian kembali.”


“Anda juga berfikiran seperti itu?” (Jiho)


“Tentu saja, aku sudah pernah dipanggil kedunia lain sebagai seorang pahlawan bersama orang-orang acak lain. Saat aku meminta untuk dikembalikan, mereka bilang kalau aku harus membasmi dan membunuh raja iblis dan pasukannya, setelah itu aku baru bisa dipulangkan.”


“Lalu, apa yang ayah lakukan?”


“Aku diusir, dank arena hal itu aku pergi ke istana raja iblis dan minta izin untuk tinggal disana untuk sementara waktu.”


“T-tinggal bersama raja iblis.” Mereka terkejut dan seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Hiroaki.


“Ya, setelah aku tinggal beberapa lama ternyata raja iblis didunia itu tidak sejahat yang aku pikirkan. Aku malah berfikir kalau dia hanyalah seorang gadis biasa.”


“Gadis? Raja iblisnya seorang gadis?” (Jiho)


“Iya.”


“Ayah selalu menggoda wanita, bahkan sampai raja iblis.” (Shiori)


“Itu bagian dari penyelidikan, aku hanya melakukannya saja. Jika aku langsung membunuh mereka tanpa tau alasan dan juga sifat asli mereka, mungkin aku akan diingat sebagai seorang pembunuh yang tak memiliki hati dan aku mungkin juga akan dihantui oleh rasa bersalah. Sebenarnya kehidupan manusia dan para iblis tidak jauh berbeda, tapi karena suatu alasan seorang raja harus mengambil keputusan demi kepentingan rakyatnya. Lingkungan yang buruk untuk ras iblis, itulah yang membuat mereka selalu memulai perang. Sebagian besar tanah milik ras iblis tidak bisa digunakan karena tingkat kesuburannya sangat minim, dan sangat mustahil untuk menanam sesuatu ditanah itu.”


“Anda sampai tau sejauh itu.” (Jiho)

__ADS_1


“Aku pernah mendatanginya sebelum dia dibunuh, bukankah kalian yang membunuhnya.”


“I-iya.”


“Haaaa, padahal dia orang yang cukup baik dan ramah. Tapi, karena itu sudah menjadi tugas kalian mau bagaimana lagi.”


“Baik dan ramah? Seorang raja iblis?” (Ajiko)


“Sudah aku bilang, ras iblis itu sama seperti kita para manusia. Mereka juga ada yang memiliki keluarga, mereka juga bermain, menangis, bahagia, duka, itu adalah ras iblis yang ada didunia ini. Aku jadi ingat waktu pertama kali datang kesana.”


“Ayah, bisa ceritakan.” (Shiori)


“Baiklah. Saat pertama kali datang ke kerajaan iblis, aku langsung menuju ke istana, para iblis yang melihatku ketakutan bahkan para prajuritnyamu takut. Lalu, karena hal itu aku bisa menemui raja iblis dengan mudah.”


“Ya, aku bisa membayangkan hal itu.”


“Aku hanya ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada ras mereka, dan aku malah mendengarkan curhatan seorang raja iblis.”


“Raja iblis curhat.”


“Tapi ya, aku bisa mengerti alasan dan tujuannya melakukan penyerangan. Jika kalian sadar, sebenarnya ada tempat yang tidak di serang oleh raja iblis, seperti lembah kematian, danau ular, hutan peri dan masih banyak lagi. Selain itu, mereka menyerang hanya untuk memperluas kekuasaan demi untuk memenuhi kehidupan ras mereka.”


“Raja iblis, aku tak menyangka dia memiliki tujuan seperti itu.” (Meiko)


“Ya, jika kalian mencoba untuk membicarakannya dengan baik pasti semuanya akan selesai dengan damai. Ambisi raja iblis berbeda dengan raja yang menguasai kerajaan manusia, ambisi raja itu hanyalah demi kekuasaan dan juga wilayah. Penyerangan yang dilakukan saat ini sebenarnya tujuan utamanya adalah memperluas wilayah tanpa ada tujuannya.”


“Kenapa anda bisa seyakin itu?” (Jiho)


“Kau tau, manusia selalu diliputi oleh rasa haus akan kekuasaan, tamak akan harta, dan keinginan untuk terus memperkaya diri, mereka sampai rela mengorbankan apapun demi mendapatkan semua itu. Apa manfaatnya untuk rakyat? Tidak ada, itu hanyalah demi kepuasan pribadi. Serangan ke bangsa elf saat ini mungkin hanya demi memuaskan hasrat duniawi mereka saja, aku sudah melihatnya sendiri. Beberapa waktu lalu, aku masih belum menyadarinya tapi sekarang untung saja aku masih sempat.”


“Sempat?”


“Kalian tau, invasi raja ke bangsa elf sudah dimulai sejak kalian menyerang istana raja iblis.”


“Bukankah itu, sudah cukup lama.” (Ajiko)


“Iya. Haaaa, mereka menangkap para elf wanita dan anak-anak untuk diperjual belikan sebagai budak. Mereka juga membunuh elf yang melawan dengan kejam. Jika seperti itu kejadiannya, meskipun kalian menyemalatkan sisa bangsa elf, aku yakin kemarahan mereka terhadap manusia tidak akan terlupakan dalam jangka waktu dekat. Selain itu, ada beberapa ras lagi yang di invasi oleh manusia, jika seperti ini kejadiannya dimasa depan aku yakin manusia akan sangat kesulitan.Terutama saat raja iblis bangkit lagi.”


“Dia akan bangkit lagi?”


“Ahhh, iya. Saat aku bilang padanya apa yang terjadi jika dia dibunuh, dia bilang kalau dia akan bangkit lagi tapi entah kapan. Tapi, saat itu terjadi aku ingin kalian diam dan biarkan manusia yang mengurus masalah ini sendiri. Mereka harus menerima pahitnya kenyataan yang sudah diambil oleh pendahulu mereka, keputusan yang sangat berat.”


“Begitu, ya.”


“Ahhh, benar juga. Karena kalian sudah membantah ataupun berkhianat pada raja, kemungkinan kalian akan dicap sebagai penghianat. Apa kalian tidak masalah dengan hal itu?”


“Tidak, lagipula sedari awal kami tidak pernah dihargai ataupun dihormati di kerajaan manusia. Aku bahkan lebih suka kerajaan Drawf yang sangat menyambut kami dengan sangat baik.” (Ajiko)


“Begitu, bahkan orang yang membantu mereka tidak dihargai. Seharusnya manusia seperti itu musnah saja, benar’kan.”


“Ayah, kata-katamu itu sangat menyeramkan. Meskipun begitu, ada juga yang menghargai kami, tidak semua orang seperti itu kok.” (Shiori)


“Iya iya, aku mengerti. Sepertinya kalian harus mulai mencari cara untuk kembali pulang sendiri, lagipula jika ada orang yang dipanggil ke dunia lain sebagai seorang pahlawan, sangat kecil kemungkinan mereka akan dikembalikan. Itu sesuai dengan pengalamanku, tapi jika raja itu adalah orang yang baik dia pasti akan melakukannya. Tapi, sepertinya saat ini raja yang kalian hadapi bukan orang baik, jadi pikirkan cara untuk kembali sendiri.”


“Lalu, bagaimana caranya ayah jika ingin pergi dari dunia ini?”


“Dewa yang mengirim ayah akan menjemput saat tugas ayah sudah selesai.”


“Jadi saat tugas ayah selesai ayah akan langsung pergi, ya.”


“Hey, jangan sedih seperti itu. Karena siklus waktu didunia ini sedikit lebih lama, sepertinya bersantai sebentar didunia ini tidak ada salahnya.”


“Maaf menggantu waktu, tapi saat ini para pasukan raja sudah bergerak.” (Arima)


“Hmmm, mereka sudah maju, ya. Aku ingin bertanya 1 hal pada kalian semua, apa kalian pernah membunuh manusia sebelumnya?”


“Jika ditanya seperti itu…”


“Jadi belum, ya. Sifat labil dan juga ragu-ragu kalian itu akan membawa bencana, tapi tenang saja. Selama aku ada disini, tak akan aku biarkan tangan kalian bersimbah darah. Lagipula, mana ada orang tua yang ingin melihat anaknya menjadi seorang pembunuh.”


“Ayah…”


Mereka kembali ke medan perang yang ada didekat hutan kehidupan menggunakan sihir teleportasi.


“Hmmm, banyak juga.” Ada banyak sekali peleton pasukan raja yang sudah siap menyerang. “Aku tau kalian semua tidak salah, tapi maaf. Aku memiliki tugasku sendiri.” Hiroaki mengangkat pedang birunya kelangit. “Menarilah, multi dragon strom.”


Langit menjadi gelap dan petir mulai menyambar.


“Kekuatan yang sangat besar.” (Jiho)


“Ya, ini lebih lemah dari sebelumnya. Aku menggunakan 50% dari total kekuatanku, jika dulu mungkin aku bisa memanggil lebih banyak dari ini hanya dengan 30% saja. Ternyata umur memang mempengaruhi segalanya.”


“H-hebat, kekuatan dahsyat seperti ini hanya setengah dari kekuatan aslinya.” (Sumire)


“Ini akan sedikit berguncang, jadi siapkan diri dan juga sihir pelindung kalian.” Mereka menggunakan sihir pelindung untuk melindungi mereka. “Itu kurang kuat.” Hiroaki menambahkan pelindung sihir mereka untuk membuatnya lebih kuat lagi. “Segini saja sudah cukup.”


“T-tebal sekali.”


“Baiklah.”


“Ayah, bagaimana denganmu? Kau tidak masuk?”


“Tenang, ini adalah tekhnikku, aku bisa mengatasinya sendiri. Baiklah, naga manisku.” Hiroaki mengarahkan pedang birunya tepat kearah para pasukan kerajaan. “Aku tau kalau kalian tidak salah, tapi 1 kesalahan fatal kalian adalah, menjadikan aku musuh.” Sebuah naga listrik besar terbentuk, dan setelah itu naga itu langsung menghantam pasukan raja yang berkumpul dan bersiap untuk menyerang.


Ledakannya luar biasa kuat, efek ledakannya membuat gelombang listrik bertebaran dan yang paling penting. “Sudah selesai.” Seluruh pasukan musnah dan tak menyisakan apapun. “Aku tau kalian semua pasti ketakutan setelah melihat ini, oleh karena itu aku tak ingin kalian juga mengalami hal yang sama sepertiku. Tanganku ini sudah banyak sekali membunuh, aku sudah tak bisa menghitung berapa banyak orang yang aku bunuh menggunakan kekuatanku. Arima, Shiori, aku harap kalian tidak mewarisi sifatku yang satu ini.” Hiroaki tersenyum seakan sesuatu yang ia lakukan adalah hal biasa baginya. Sedangkan setelah melihat ini, yang lain merasa takut.


“Kau membunuh mereka semua.” (Meiko)


“Dalam sebuah pertarungan, kau harus membuat sebuah pilihan. Membunuh atau dibunuh, 2 pilihan itu adalah pilihan yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Dengan begini, seharusnya bangsa elf bisa aman. Sisanya hanyalah menguru ras lainnya, inginnya sih begitu. Tapi…” Sesuatu perlahan mulai muncul diatas langit.


“A-apa itu?!” (Akira)


“Semuanya, aku mohon jangan keluar dari sana. Dia bukan musuh yang bisa kalian tangani.” Perlahan sosoknya mulai terbentuk, sesuatu yang sangat besar dengan membawa sebuah sabit raksasa. “Ketidakseimbangan kali ini sepertinya sedikit berbeda dari yang sebelumnya.” Mahluk itu menggunakan jubah hitam dengan bentuk manusia tetapi wajahnya tidak dapat terlihat.


“Ayah!!”


“Tenang saja, ayahmu ini kuat lebih kuat daripada apa yang dapat kalian bayangkan. Shirame, Ryuga, waktunya beraksi.” Pedang hitam muncul ditangan kirinya. Dia langsung melompat dengan sangat cepat, lalu menghantamkan kedua pedangnya langsung ketubuh monster raksasa itu.


“Monster itu tak terkena efek apapun.” (Arima)


“Ini cukup gawat, jika saja kekuatanku masih seperti dulu. Mungkin aku bisa menyelesaikan ini dalam beberapa kali tebasan saja.” (Hiroaki) Serangan pertama gaga, Hiroaki melanjutkan dengan serangan beruntun. Setiap tebasan yang mengenai monster itu memicu sebuah gelombang angin yang sangat kuat membuat pohon yang ada disekitarnya terhempas.


Mereka hanya bisa melihat, serangan demi serangan kuat yang dilancarkan oleh Hiroaki demi mengalahkan monster, dan sesekali sebuah sihir bola api raksasa dilepaskan oleh monster tapi itu ditahan oleh Hiroaki seorang diri, sampai akhinya.


Pagi hari.


Matahari mulai terbit, dan setelah berjam-jam pertempuran selesai. Monster itu lenyap dengan serangan terakhir yang sangat kuat yang dikeluarkan oleh Hiroaki.


“Sudah selesai?” Hutan sekitar hancur, dan menjadi sebuah dataran tanah tampa adanya tumbuhan.


Hiroaki yang menyelesaikan pertarungan, kembali ke tempat yang lain. “Haaaaa, aku sangat lelah. Serangan penghabisan itu menghabiskan banyak sekali manaku, aku harus minta jatah libur yang lebih besar lagi darinya. Baiklah.” Dia melepaskan sihir pelindung yang dia pasang.


“Itu bukan sekedar sihir pelindung’kan.” (Jiho)


“Kau menyadarinya, itu adalah sihir khusus yang biasa digunakan untuk menyembuhkan luka seseorang yang berada didalamnya, sihir itu juga menghalau efek jahat yang ada diluar untuk masuk kedalam.”


“Ayah, mahluk itu.”


“Itu adalah mahluk yang aku bicarakan kemarin. Haaaa, searusnya dalam keadaan sempurnaku aku bisa mengalahkannya dalam beberapa kali serang saja, tak kusangka sekarang aku butuh waktu sampai selama ini. Ternyata aku sudah selemah ini.”


“K-kekuatan seperti itu lemah.” (Sumeri)


“Haaaa, tugasku sudah selesai. Para elf bisa kembali damai, meskipun begitu dendam mereka akan tetap ada. Para manusia akan mundur karena sudah kehilangan banyak pasukan, invasi manusia akan berhenti karena jumlah pasukan yang sudah merosot sangat banyak dan 1 hal yang penting.” Sebuah lingkaran sihir raksasa muncul dilangit.


“L-lingkaran sihir apa ini, besar sekali.” (Jiho & Meiko)


“Penghapusan sihir, manusia didunia ini sangat berbahaya jika memiliki sihir. Aku akan menggunakan sisa manaku yang masih tersisa untuk menghapus sihir untuk para manusia.”


“Jika ayah melakukan itu, bagaimana nanti jika ada yang menyerang mereka?”


“Kau masih peduli dengan mereka. Tenanglah, aku tidak akan sekejam itu. Sihir masih bisa dimiliki oleh orang yang pantas untuk memilikinya saja, dan sihir juga bisa diturunkan. Dengan begitu, bagaimana?”


“Itu berarti tidak semua orang bisa menggunakan sihir, ya.”


“Tentu saja, dia yang memiliki sihir akan memiliki kekuatan untuk melindungi yang lain yang lebih lemah darinya. Jika mereka menggunakan kekuatan yang tersisa itu untuk sebuah kejahatan, aku yakin mereka akan langsung mendapatkan balasannya. Untuk kalian, kekuatan yang kalian dapatkan bukan berasal dari dunia ini itu artinya kalian masih bisa menggunakan kekuatan kalian.”


“Ayah.”


“Haaaa, baiklah. Ini demi menghindari perang yang akan terjadi, setidaknya untuk menghindari perang antar ras selama beberapa ratus tahun kedepan.” Lingkaran sihir yang ada dilangit perlahan mulai lenyap. “Efek sihirnya sudah aktif, kemungkinan saat ini sedang terjadi kegaduhan besar kerajaan. Haaaa, dewa Sha…”


“Ayah sudah mau pulang?”


“Kau mau aku berada disini lebih lama?”


“Jika ayah tidak keberatan, aku ingin membicarakan banyak hal denganmu.”


“Kau mirip seperti ibumu saja, sangat egois. Jika itu maumu, baiklah. Tapi hanya beberapa minggu saja, ya.”


“Terimakasih.”


“Oh ya, Akira, Jiho, Meiko, dan juga Arima, kalian bisa mulai untuk membuat sihir yang bisa membawa kalian kembali.”


“Eh, b-baik.” (Akira)


“Terimakasih.”


“Oh ya, Akira, Jiho, Meiko, dan juga Arima, kalian bisa mulai untuk membuat sihir yang bisa membawa kalian kembali.”


“Eh, b-baik.” (Akira)


Setelah itu, mereka berusaha untuk membuat sihir yang bisa membawa mereka kembali.


------


“Seperti itulah ceritanya.” (kakek)


“Bukankah itu kebanyakan menceritakan tentang orang yang bernama Hiroaki itu.”


“Iya, orang itu sangat luar biasa. Tapi dari cerita itu, kau sudah paham bukan alasan kenapa mereka (bangsa elf) membenci ras manusia.”


“Iya. Jika kejadiannya yang sebenarnya seperti itu, siapapun pasti juga akan membencinya segengah mati. Oh ya, tadi kakek bilang kalau kakek, Jiho, Meiko, dan juga Arima yang bertugas untuk membuat sihir agar bisa kembali, tapi kenapa hanya kakek saja yang tinggal disini?”


“Setelah bertahun-tahun mencoba, kami menyadari sesuatu.”


“Apa itu?”


“Untuk berpindah dunia, membutuhkan bantuan seorang dewa. Itu adalah hal yang tidak kami sadari sedari awal, oleh karena itu mereka yang lain memilih untuk tidur.”


“Lalu, kenapa kakek tidak melakukannya juga bukankah itu adalah sesuatu yang mustahil?”


“Iya, tapi rasa penasaranku mengalahkan hal itu. Lalu, seiring berjalannya waktu dan usia hasrat itu mulai hilang dan lenyap dimakan waktu, saat ini aku hanya ingin sebuah kedamaian saja sebelum aku mati.”


“Begitu.”


“Itu hanyalah segelintir cerita tentang kehidupanku sebagai seorang yang pernah disebut sebagai pahlawan, penghianat.”


“Tentang ras iblis, aku tak tau kalau mereka memiliki tujuan seperti itu.”


“Itu adalah tujuan mereka yang dikatakan oleh paman dulu. Apa yang dikatakan oleh paman dulu memang benar, berbicara akan lebih mudah.”


“Dia memiliki kekuatan yang besar, jadi wajar saja dia bisa melakukan hal itu.”


“Ya, aku tak akan menyangkal ucapanmu, tapi dia memberitahu kita 1 hal yang penting bahwa manusia dan juga iblis itu sama saja, tidak ada yang berbeda.”


“Aku juga mengerti tentang hal itu.”


“Itu bagus. Haaaaa, sudah sangat lama sekali aku tak berceritapanjang lebar seperti ini. Sepertinya aku sudah siap mati sekarang.”


“Kakek, seperti biasa candaanmu tidak lucu.”


“Tidak, kali ini aku tidak bercanda. Semua yang ingin aku lakukan sudah selesai aku lakukan.”


“Kakek!!” Aku panik, tubuhnya perlahan mulai lenyap.


“Sedari awal aku sudah menggunakan sihir ini untuk diriku sendiri, saat semuanya sudah terpenuhi sihir ini akan lepas dan aku akan kembali ke tempat yang lain.”


“Kakek, jangan dulu pergi!!”


“Aku sudah menceritakan semua yang kau ingin tahu, kebenaran tentang kejadian 500 tahun yang lalu, kenapa ras manusia dibenci terutama oleh bangsa Elf. Aku sudah menceritakan semua yang kau perlukan padamu. Jika kau masih bingung, kau bisa membaca banyak buku dipepustakaan itu.”


“Tapi…”


“Kau ini sangat egois, tapi… Saat aku memengang senjataku, aku selalu mendengar seseorang yang bebisik padaku, aku pikir dia adalah dewa kematian yang pernah diungkit oleh ayahku, saat menemui kematian. Dia selalu bilang, semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Untuk terakhir kalinya, Ari, biarkan aku mendengar itu darimu.”


“Kakek…” Ini adalah keinginan terakhirnya, mau tak mau aku harus mengabulkannya.


“Aku mohon, lakukan dengan senyuman diwajahmu.”


Aku tersenyum. “Kakek… Koujo Akira, semoga kau bahagia dengan pilihanmu.”


Kakek tersenyum. “Kau juga, semoga kau bahagia dengan pilihanmu.” Setelah mengatakan itu, kakek lenyap.

__ADS_1


Aku merasakan sesuatu sangat sangat sesak di hatiku, kepergiannya seolah memberikan dampak yang sangat besar bagiku. Orang pertama yang aku kagumi, lenyap tepat dihadapanku.


__ADS_2