
Beberapa hari setelah itu.
“Ehh? Liburan?” (Iona)
“Ya, setidaknya untuk para ketua regu dan juga bawahannya.”
“Liburan, ya. Itu bukan ide yang buruk, lalu kemana tujuannya?” (Lucy)
“Aku sudah menyiapkannya, untuk 20 orang.”
“Eh, hanya 20 orang?”
“Iya. 4 untuk paran ketua regu dan 10 orang sisanya adalah pasukan yang berada dibawah pelatihan mereka. Lalu untuk teman Iona 4 orang, dan 2 orang lain untuk kalian berdua.”
“Eh Ari, kau tidak ikut?” (Iona)
“Masih ada hal yang ingin aku lakukan, jika sempat aku akan mampir.”
“Sesuatu yang ingin kau lakukan, terakhir kali kau berkata seperti itu kau ditemukan tergeletak dengan luka disekujur tubuhmu.” (Lucy)
“I-itu, jangan pergi!!” (Iona)
“Ehh, I-Iona… Tenanglah.” Iona memegangi tanganku.
“Jangan pergi, jika kau terluka seperti itu lagi… Aku, aku…”
“Hey, sudah aku bilang tenang. Aku belum selesai bicara. Aku hanya ingin pergi ke gunung Juinds.”
“Gunung Juinds, dimana itu?”
“Gunung Juinds, sepertinya aku pernah mendengarnya… Ahh, itu ada di barat daya, tempatnya cukup jauh kalau tidak salah agak jauh dari kerajaan Guilty, setelah berjalan beberapa hari kearah barat dari kerajaan itu baru akan sampai.” (Lucy)
“I-itu sangat jauh, kalau begitu aku ikut.” (Iona)
“Haa, perjalanan itu jika menggunakan kereta kuda. Aku akan bersama dengan Dravin, itu akan sangat memangkas waktu.”
“Aku ingin ikut.”
“Hey, kau memaksa.”
“Aku mohon, bawa aku.”
“Haa, Lucy tolong beritahu dia kalau…”
“Sepertinya itu bukan ide yang buruk, kalau begitu aku juga akan ikut.” (Lucy)
“Ini bukan seperti apa yang aku bayangkan, kenapa kau malah ikut-ikutan?”
“Aku penasaran dengan gunung itu, aku dengar itu adalah tempat dimana kau bisa melihat sesuatu yang tidak bisa ditemukan ditempat lain. Oleh karena itu aku juga penasaran dan ingin ikut.”
“Haa, terserah kalian saja.” Aku tak bisa atau mungkin tak akan bisa menghalau mereka berdua yang akan terus mendesakku untuk mengajak mereka. “Jika seperti itu, persiapkan diri kalian. Pakaian dingin dan juga beberapa…”
“Huh? Untuk apa?” (Iona)
“Tempat itu terkenal dengan hawanya yang sangat dingin, jadi tidak ada salahnya menyiapkan hal itu.” (Lucy)
“Ya, terimakasih karena sudah menjelaskannya.”
“Begitu, aku akan membeli mantel hangat kalau begitu.” (Iona)
“Apa kau tidak punya?”
“Tidak, lagipula udara disini tidak sedingin itu sampai harus menggunakan mantel hangat.”
“Ya sudah, terserah kau saja.”
“Lalu, kapan kita akan berangkat?”
“Hmm, untuk waktu liburan para ketua regu. Mungkin 2 hari lagi, itu tepat saat hari libur diakademi.”
“Hari peringatan, ya.” (Lucy)
“Ya.”
“Kenapa kau memilih hari seperti itu?”
“Karena hari libur.”
“Pasti ada alasan lain, kau tidak mungkin mengambil keputusan hanya karena alasan seperti itu.”
“Haa, kadang-kadang aku sedikit kesal dengan pertanyaan yang kau ucapakan. Ya, memang ada alasannya tapi aku tak bisa mengatakannya.”
“Begitu. Ya sudah, aku tidak akan bertanya lagi.”
__ADS_1
Dan waktupun berlalu, 2 hari kemudian.
Markas khusus.
“Bagaimana? Apa mereka semua sudah berangkat?”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, mereka semua sudah pergi. Ngomong-ngomong, kemana tujuan mereka liburan?” (Iona)
“Aku belum mengatakannya, ya?”
“Belum.”
“Hmmm, mereka akan pergi ke kerajaan Huarda.”
“Huarda, maksudmu kerajaan yang dijuluki sebagai surganya air panas itu?” (Lucy)
“Ya, ada apa? Apa kau mengurungkan niatmu untuk ikut dan ingin pergi kesana juga?”
“Ya, meskipun tawarannya menarik aku bisa pergi ketempat itu kapan saja. Tapi jika ketempat seperti gunung Juinds, mungkin itu akan sangat sulit karena tidak ada banyak waktu untuk melakukan perjalanan sejauh itu.”
“Ya, sudah. Ayo, kita juga harus segera berangkat.”
“Yoo!!”
Cukup lama setelah itu, di Dalam perjalanan menuju ke gunung Juinds.
“Apa tempatnya masih jauh?” (Iona)
“Iona, ini belum sampai 1 jam sejak kita berangkat kenapa kau sudah bertanya tentang hal seperti itu.”
“T-tidak, aku hanya penasaran sejauh apa tempat yang ingin kita kunjungi itu.”
“Kita akan sampai 23 hari jika menggunakan kereta kuda, lebih dari 40 hari jika berjalan kaki.” (Lucy)
“Sejauh itu?!”
“Ya, tapi dengan bantuan Dravin ini tidak akan memakan waktu lama. Mungkin 8-10 jam perjalanan saja.”
“Itu lama.”
“Tenang saja, kita akan juga akan beristirahat. Lagipula melakukan perjalanan jauh tanpa beristirahat itu akan berbahaya.”
“Kita akan berkemah?”
“Sepertinya itu bagus, lagipula aku belum pernah melakukannya.”
“Kita akan melakukannya nanti dilain waktu.”
“Ehhh, kenapa seperti itu.”
“Perjalanan ini singkat, tidak perlu melakukan kemah. Kita hanya akan istirahat selama 1 jam atau lebih setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.”
“Haaaaa, baiklah. Tapi kau harus janji, ya. Nanti akan mengajakku berkemah.”
“Baik baik.”
Setelah cukup lama.
Siang hari.
Kami berhenti untuk beristirahat sebentar.
“Tempat yang nyaman.” (Lucy)
“Kau benar, ini juga dekat dengan sungai jadi untuk air tidak ada yang perlu dicemaskan.”
“Ari, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Mungkin ini sedikit ikut campur dalam masalahmu, tapi jika aku tidak menanyakannya maka aku mungkin akan mati penasaran.”
“Haha, kau bisa saja. Tanyakan saja.”
“Ini tentang putri Iona. Dia sedang bermain air disana, mungkin dia tidak akan mendengar apa yang kita bicarakan disini.”
“Iona, ya.” Aku tau pertanyaan seperti ini cepat atau lambat akan datang, tapi aku agak sedikit kecewa karena Lucy yang menanyakannya terlebih dahulu. Meskipun aku tau hal seperti itu akan terjadi.
“Kenapa kau tidak pernah membalas perasaannya selama ini? Dia selalu menunjukkan sesuatu yang seolah mengatakan kalau dia menyukaimu, tapi kau menghiraukannya. Apa kau punya alasan?”
“Lucy, jika aku bilang kalau aku dikutuk apa kau akan percaya?”
“Kau dikutuk? Oleh siapa?!”
Entah kenapa ucapanku yang awalnya hanya untuk bercanda ditanggapi serius olehnya. “Hey, jangan dianggap serius aku hanya bercanda.”
“Lalu, apa alasanmu?”
__ADS_1
“Hmm, bagaimana bilangnya, ya. Aku masih menunggu waktu yang tepat.”
“Kau akan terlambat jika terus menunggu waktu yang tepat itu datang.”
“Ya, aku tau itu.”
“Kau memiliki alasan lain selain itu, apa aku benar.”
“Kenapa kau bisa seyakin itu, hanya itu alasanku.”
“Ada sesuatu yang membuatmu tidak bisa melakukan hal itu, jika kau bicara tentang waktu yang tepat, kau selalu memiliki banyak waktu dan bahkan kau bisa membuatnya, sebuah scenario yang pas bisa kau buat dengan mudah. Jika seperti itu maka waktu yang kau bicarakan tadi akan segera terjadi.”
“Itu tidak semudah yang kau pikirkan. Meskipun begitu, aku tak akan menyangkal kalau aku memiliki alasan lain.”
“Bisa beritahu alasanmu padaku?”
“Sepertinya saat ini masih belum bisa.”
“Apa ini ada hubungannya dengan tujuanmu ingin pergi ke gunung Juinds?”
“Mungkin, tapi aku tak bisa memastikannya.”
“Kau ingin mencari sesuatu disana?”
“Ya, setidaknya aku berharap menemukan sesuatu disana.”
“Begitu.”
“Ari!! Lihat, aku menangkap ikan!!” (Iona) Ia berteriak padaku sembari memperlihatkan seekor ikan yang cukup besar yang ia tangkap.
“Wah, kau hebat.”
“Ari, cepat buat api kita akan membakarnya, aku tak sabar ingin mencoba ikan bakar ini.”
“Ya.”
Cukup lama setelah itu.
“Ikan bakarnya sudah siap, tak ada bumbu tambahan.” Aku sudah selesai membakar ikannya, tapi karena sedari awal aku tidak memiliki persiapan untuk hal seperti ini, aku hanya menggunakan alat seadanya saja dan juga tanpa bumbu.
“Tidak masalah, aku yakin ini pasti akan tetap enak.”
“Begitu.”
“Ari, taruh disini.” Iona sudah menyiapkan wadah dari dedaunan yang ditumpuk.
“Baik.”
“Wah, ini terlihat sangat enak. Ari, kau mau pergi kemana?”
“Mencari sesuatu.”
“Kau tidak ingin makan?”
“Kalian berdua saja yang makan, aku masih ingin melihat-lihat sekitar.”
“Tapi…”
“Ikan itu tidak akan cukup jika untuk ber-3, jangan pikirkan aku kau bisa makan bagianku jika ingin. Aku akan pergi, jika kalian ingin istirahat lakukan itu didekat Dravin.”
“Baik.”
Aku pergi menyurusi tempat ini, itu karena aku merasakan sesuatu yang aneh.
Cukup lama setelah berjalan agak jauh.
“Eh? Apa ini?” Aku merasa menabrak sesuatu. “Tembok?” Sesuatu seperti tembok yang tak terlihat. “Dinding sihir.” Hanya hal itu yang bisa aku pikirkan saat ini, hanya kemungkinan itu yang dapat menjawab apa yang terjadi saat ini. “Sepertinya hanya mencakup tempat tertentu, mungkin untuk melindungi dari serangan hewan berbahaya.”
Aku mengabaikannya dan kembali berjalan ke arah lain.
Setelah itu.
“Huh?” Aku kembali lagi ketempat semula, dimana aku menabrak tembok sihir. “Apa ini ilusi sihir? Atau mungkin sesuatu yang berhubungan dengan sihir? Haa, ini merepotkan.” Sesuatu hal yang mencakup tentang sihir, aku tak begitu memahaminya.
Aku kembali berjalan, dan aku masih saja kembali ketempat ini. “Haa, jika aku kembali kemungkinan aku juga akan kembali ketempat ini lagi. Hmm, apa yang harus aku lakukan agar bisa lepas dari masalah ini.”
Aku sedikit berfikir, sampai memakan waktu beberapa menit.
“Haa, percuma. Hal seperti ini diluar akal sehat, bahkan melakukan perhitungan ataupun rumus apapun tidak akan dapat membuatku lepas dari hal yang berada diluar akal sehat ini.” Tak menemukan cara, aku putuskan untuk berbaring dan saat itulah aku mendapatkan sesuatu yang mengejutkan.
“Aku tak bisa merasakan rumputnya.” Tekstur dan juga bau, lalu rasa saat bersentuhan dengan kulit aku tak dapat merasakannya. “Sial, aku tertipu.” Aku mencoba untuk melakukan sesuatu.
“Sudah kuduga.” Aku baru saja menampar pipiku tapi aku tak merasakan sakit. “Haa, ternyata ini hanya mimpi. Pantas saja.” Aku menghela nafas panjang setelah mengetahui kebenarannya, meskipun begitu ada sesuatu yang membuatku sedikit aneh. “Apa yang membuatku tak sadarkan diri?” Aku mencoba untuk mengingatnya tetapi aku tak bisa ingat apapun. “Sudahlah, aku penasaran apa yang akan terjadi jika aku tertidur didalam mimpiku. Daripada memikirkannya, sebaiknya dicoba saja.” Aku perlahan mulai menutup mataku. “Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk saat aku bangun nanti.”
__ADS_1