
“Huh?” Aku perlahan mulai membuka mataku. “Hoaamm… Sudah sampai, ya.” Aku melihat kedepan dan disana ada cukup banyak prajurit yang sedang berjaga. “Baiklah, majulah dengan perlahan.”
Beberapa saat kemudian.
“Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang kemari.” (Prajurit)
“Kami hanyalah pedangang keliling. Kami ingin pergi ke kerajaan lain untuk menjual beberapa anggur berkualitas.” (Grild)
“Anggur berkualitas.” Mereka berjalan memeriksa semua rombongan kereta kuda yang kami bawa.
Beberapa menit kemudian.
“Bagaimana? Apa ada yang mencurigakan?” (Prajurit)
“Tidak, semuanya berisi tong anggur.”
“Begitu. Kalian boleh lewat.”
“Terimakasih.” Tepat saat kami ingin pergi.
“Tunggu, apa kalian membawa anggur?” (Prajurit) Prajurit yang lain datang.
“Ya. Memangnya ada apa?”
“Raja menyuruh kalian untuk menghadap kearahnya.”
“Eh? T-tunggu sebentar.” Grild menghampiriku yang ada didalam kereta kuda. “Wakil komandan, bagaimana ini?”
“Ini kesempatan, terima saja tawarannya.”
“Baik.” Grild pergi.
“Kau yakin, bisa saja ini jebakan?”
“Sebelum perang besar, seorang pemimpin akan membuat seluruh pasukannya dalam keadaan tenang agar mental mereka tidak tertekan saat pertempuran terjadi. Pemimpin seperti itu adalah ciri pemimpin yang sangat disukai oleh anak buahnya.”
“Jadi ini tujuanmu untuk mengalihkan perhatian.”
“Ya, bagaimana? Bukankah ini ide yang cukup bagus.”
“Kau tidak lupa’kan, berapa banyak biaya yang dihabiskan hanya untuk ini.”
“Tenang, dia akan membayarnya. 2 kali lipat.”
“Jiwa pedagangmu bangkit.”
“Hahahahaha, lihat saja. Semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana.”
“Aku tak tau, tapi bagaimana jika rencana ini gagal?”
“Aku sudah bilang tenang, kau pikir alasanku membawa banyak sekali tong anggur untuk apa? Aku sudah memikirkan setiap detailnya. Dan jika eksekusinya berhasil, maka kemenangan sudah ada ditangan bahkan sebelum pertempuran ini dimulai.”
“Iya iya, terserah kau saja.”
Kami berangkat menuju ke tempat raja berada.
Setelah beberapa menit.
“Yang mulia, kami sudah membawa mereka.”
Kami sampai ditempat raja berada.
Ini adalah saatnya Grild memainkan perannya sebagai seorang ketua pedangang.
“Kau yakin semuanya akan berjalan lancar?” (Lucy)
“Iya, kita hanya perlu menunggu hasilnya saja.” Kami berdua ada dikereta dan tidak ikut masuk kedalam, karena semua urusan seperti ini akan diselesaikan oleh Grild yang mendapatkan tugas ini.
“Aku harap semuanya berjalan dengan baik.”
Cukup lama menunggu Grild keluar dari tenda yang ditempati oleh raja.
“Grild, bagaimana?”
“Raja berniat untuk membeli semua anggur yang kita bawa, tentu saja dengan harga diatas rata-rata.”
Aku sedikit tersenyum mendengar hal itu. “Baiklah, untuk bagian ini semuanya sudah berjalan sesuai dengan rencana. Sisanya adalah tinggal menunggu waktu untuk eksekusi.”
__ADS_1
Malam hari.
“Ini sangat enak.”
“Woy, aku tambah!”
Seluruh prajurit berpesta malam, menikmati anggur yang mereka dapatkan. “Wakil komandan, saya sudah mendapatkan bayarannya.”
“Bagus.” Sebenarnya bukan ini yang aku incar, tapi ini juga termasuk bagian dari sebuah bisnis tak ada alasan untuk menolaknya. “Grild, bagaiamana dengan keadaan yang lain?”
“Beberapa saat lalu saya sudah mendapatkan informasi dari yang lain. Semuanya sudah berada di posisi, mereka semua sudah siap untuk menyerang kapanpun perintah datang.”
“Baiklah, sekarang waktunya untuk menunggu pasukan assassin bergerak.”
Beberapa jam berlalu, kami sudah pergi dari kamp musuh dan tugas assassin juga sudah selesai dilaksanakan dengan baik. Sebagian besar para prajurit saat ini sudah tidak dapat bertarung lagi karena terlalu mabuk. “Sekarang waktunya, Grild berikan aba-aba pada yang lain untuk mulai menyerang.”
“Baik.” Grild memberikan aba-aba, dan perlahan para semua pasukan khusus mulai menyerang kamp.
“Sepertinya ini adalah kemenangan yang cukup mudah, dan lagi…” Lucy menatap ke kantong yang berisi emas yang ada disini.
“Bisnis adalah bisnis, perang adalah perang. Tidak ada yang salah dari kedua hal itu, semuanya memiliki peraturan tersendiri.”
Lucy tersenyum. “Ya, setidaknya semua berjalan sesuai dengan apa yang kau harapkan. Lalu, apa yang akan kau lakukan raja? Menjadikannya seorang tahanan?”
“Mana mungkin aku melakukan hal sekejam itu, kita akan mebiarkannya kembali ke kerajaannya. Menangkapnya sama saja akan membuat perang ini menjadi lebih besar, kita tau siapa saja kerajaan yang akan membantu mereka. Pilihan yang tepat untuk saat ini adalah membebaskannya.”
“Tapi bisa saja nanti dia berulah lagi.”
“Saat hal itu tiba, kita bisa membantai seluruh pasukannya tanpa ampun.”
“Aku tak menyangka kalimat seperti itu akan diucapkan olehmu.”
“Jangan menggangu singa yang sedang tertidur, jika mereka mengusiknya maka bersiaplah menerima akibatnya. Mungkin ungkapan seperti itu yang cocok.”
“Jangan menggangu singa yang sedang tertidur, ya. Akan aku ingat hal itu.”
Cukup lama setelah itu, tepat tengah malam kami sampai di markas khusus.
“Haaaa, akhirnya sampai juga.” (Lucy)
“Hari ini cukup melelahkan, sepertinya aku akan tidur nyenyak malam ini.”
“Ya, begitulah. Para pasukan yang berada disini semuanya bisa dikatakan pasukan elit, jadi kecil kemungkinan mereka akan kalah. Selain itu, dengan kondisi musuh yang seperti itu semuanya sudah dalam kendali. Aku juga memberi perintah mundur jika terjadi hal yang diluar dugaan, jadi semuanya baik-baik saja.”
“Kau benar-benar menyiapkannya dengan matang.”
“Hahaha, aku anggap itu sebagai pujian. Hoaaam, aku sudah mengantuk. Lucy, aku duluan, selamat malam.”
“Ya, selamat malam.”
Kami berpisah dan aku langsung menuju ke kamar untuk istirahat.
Dikamar.
“Kenapa bisa jadi seperti ini.” Aku ingin tidur, tapi sepertinya saat ini masih belum bisa. “Kenapa kau tidur disini lagi, Iona.” Iona tidur dikamarku, dan ia tertidur begitu pulas. “Haaaa, sudahlah.” Aku berjalan ke meja kerjaku. “Dia mengerjakan semua ini.” Dokumen yang belum sempat aku kerjakan, Iona mengerjakannya. “Seharusnya kau tak perlu repot-repot melakukan hal ini.”
“Ari…”
“Huh?” Aku melihat ke arahnya, aku pikir dia bangun tapi hanya mengigau saja.
“Aku mencintaimu…”
Iona mengigau dan mengatakan hal itu. Aku perlahan mulai mendekaat kearahnya. “Aku juga.”
Cup.
Aku mencium keningnya. “Iona, selamat malam dan mimpi indah.” Aku keluar dari kamar dan pergi menuju ke ruang kerja.
Di ruang kerja.
“Lucy, kau ada disini?” Aku melihat Lucy sedang duduk dan mengerjakan sesuatu.
“Pekerjaanku masih belum selesai, ada beberapa dokumen yang harus segera aku bereskan sebelum aku bisa tidur dengan nyenyak.”
“Kau terlihat kerepotan.”
“Ya begitulah, oh ya 3 hari lagi ada ujian. Apa kau sudah belajar?”
__ADS_1
“Ujian? Ahh, benar juga.” Aku lupa jika aku juga memiliki status sebagai seorang pelajar, meskipun begitu karena cukup banyak alasan aku jadi jarang ikut kelas. “Sudah berapa lama aku tidak masuk ke akademi.”
“Sangat lama, jika dihitung mungkin sekitar 2 bulan.”
“Sudah selama itu, ya.”
“Oh ya, kau bilang ingin istirahat kenapa kau kemari?”
“Ya, ada sesuatu yang membuatku tidak bisa melakukan itu.”
“Putri tidur dikamarmu?”
“Ya, seperti itulah.”
“Kau harus terbiasa dengan hal itu, mungkin dia akan melakukan hal itu seterusnya. Dia ingin lebih dekat denganmu, bisa dikatakan seperti itu.”
“Dia itu seorang putri, jika dia terus melakukan hal seperti itu dia hanya akan membuat dirinya berada dalam masalah. Lagipula tempat ini bukan tempat yang cocok untuk seorang putri tidur.”
“Hahaha, ngomong-ngomong. Kau tidak melakukan sesuatu padanya?”
“Apa yang ingin kau katakan.”
“Ya, seorang gadis sedang tidur ditempatmu. Apa itu tidak cukup untukmu melakukan sesuatu padanya. Lagipula, jika seorang gadis berani tidur ditempat tidur seorang laki-laki berarti dia sudah siap dengan segala resikonya.”
“Pemikiranmu itu terlalu liar, tapi aku tak akan menyalahkan pemikiranmu itu.”
“Jadi, apa yang sudah kau lakukan pada tuan putri?”
Aku hanya diam dan tak menjawab.
“Heee, mencurigakan. Kau pasti sudah melakukan hal yang mesum dengannya.”
“Oke, stop. Imajinasimu sudah sangat liar, aku tidak melakukan apapun apalagi hal yang seperti itu.”
“Hooo, meragukan.”
“Kau tidak mempercayaiku?”
“Dengan sikapmu yang seperti itu, pemikiran negativeku tidak mungkin reda. Selain itu kau sangat pandai menyembunyikan ekspresi aslimu jadi aku tak bisa menebak apa yang sedang kau sembunyikan, itu jelas membuatku sangat penasaran. Jadi… Apa yang sudah kau lakukan pada putri yang sedang tertidur pula situ?”
“Berhenti bertanya dan selesaikan pekerjaanmu itu, jangan mengurusi masalah pribadi orang lain yang tak ingin dicampuri.”
“Baik baik, aku mengerti. Tapi, kau melakukan sesuatu’kan pada putri Iona.”
“Kenapa kau sangat sepenasaran itu dengan masalah pribadiku? Memangnya apa ada yang menarik denganku sampai kau sepenasaran itu?”
“Tidak ada hal spesial, sebagai seorang teman aku hanya ingin tau bagaimana perkembangan antara kalian berdua. Meskipun sedikit setidaknya ada perkembangan diantara kalian, hanya itu yang ingin aku tau.”
“Teman, ya. Lucy, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Silahkan, tanyakan saja. Selama aku bisa menjawab aku akan menjawabnya.”
“Apa kau pernah menyukai Iona?”
“Eh, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Dari sikapmu itu, kau pernah menyukainya, ya. Jadi, apa yang membuatmu tidak menyukainya.”
“Aku bahkan belum menjawabnya. Haaaa, sudahlah. Aku memang pernah menyukainya, tapi itu dulu tepat seperti yang kau bilang. Tapi saat ini aku sudah menyerah, aku lebih suka melihatnya berkembang. Lagipula alasanku menyukainya dulu adalah hal aneh.”
“Hal aneh?”
“Ya, karena dia cerdas, bisa bersikap tenang. Tapi setelah mengetahui kenyataanya sepertinya aku merasa ditipu.”
“Prfff…”
“Hey…”
“M-maaf, hanya saja aku tak bisa menahannya.”
“Ya, aku juga tak menyangka ternyata selama ini yang aku anggap cerdas dan bisa bersikap tenang adalah orang yang berbeda. Meskipun begitu, aku melihat sebuah potensi pada dirinya oleh karena itu aku putuskan untuk tetap membantunya sampai saat ini.”
“Memiliki potensi, ya.”
“Apa kau juga berfikiran seperti itu?”
“Setidaknya kau dan aku bisa berfikiran hal yang sama. Hoaaam, aku mengantuk. Aku akan tidur.”
__ADS_1
“Ya, selamat malam.”
“Ya, selamat malam juga.” Aku merebahkan tubuhku dikursi panjang dan perlahan menutup mataku. ‘Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang.’ Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untukku, dan hanya dengan istirahat seperti ini sudah sangat membuatku senang. ‘Aku harap tidak ada hal aneh yang terjadi besok, aku harap besok akan jadi hari yang damai dan tenang.’