
Dipagi hari yang sama di akademi.
“Haaa, sudah sangat lama aku tak merasakan suasana seperti ini.” Suasana bersekolah, karena terlalu sibuk dengan urusan ini dan itu aku sampai melupakan suasana seperti ini. “Sepertinya aku jadi pusat perhatian.” Semua siswa dikelas sesekali memperhatikanku.
“Kau baru masuk lagi setelah sekian lama, umumnya jika ada siswa semalas dirimu dia akan langsung dikeluarkan.” (Lucy)
“Heee, aku tak tau kalau ada peraturan seperti itu. Lalu, kenapa aku tak dikeluarkan? Tunggu, jangan-jangan Iona…”
“Iya, putri yang meminta untuk tidak mengeluarkanmu. Aku tak tau alasan apa yang dia berikan, tapi nyatanya para Round tidak megeluarkanmu saat ini.”
“Hmmm, jadi begitu.”
“Tapi, apa kau bisa mengikuti pelajarannya? Mungkin banyak sekali materi yang sudah kau lewatkan, aku tak yakin kau bisa mengikutinya.”
“Kau meremehkanku, asalkan bukan sesuatu yang mengenai sihir aku bisa.”
“Ya, aku juga tak meragukan kepintaranmu.”
“Heee, kau mengakui kalau aku lebih cerdas darimu.”
“Aku tak akan menyangkalnya, selain itu aku sudah banyak melihatnya sendiri.”
“Begitu.” Beberapa saat setelah itu pembelajaran dimulai.
Ditengah jam pembelajaran.
“Permisi.” (???) Seseorang datang kekelas.
“Ya, ada keperluan apa?” (Iona)
“Siswa dengan nama Ari, diharap segera datang ke ruang kepala akademi.”
“Ini masih ditengah pelajaran.”
“Ini adalah perintah langsung dari kelapa akademi.”
“Baik.”
“Terimakasih atas pengertiannya.” Orang itu pergi, sesaat setelah itu Iona yang sedang mengajar melihat kearahku.
“Haaaa, mau bagaimana lagi.” Aku berdiri dan pergi. “Lucy, ayo.”
“Ehh, kenapa aku juga harus ikut.”
“Sama seperti yang kau lakukan padaku tadi, hanya sebagai pencegahan.”
“Baiklah.” Dengan begitu, aku dan Lucy pergi ke ruangan kepala akademi.
Tak memakan waktu lama kami sampai diruangan kepala akademi.
“Aku akan menunggu diluar.” (Lucy)
“Kau yakin tidak ingin masuk, bisa saja kau melewatkan pembicaraan yang menarik lo.”
“Pembicaraan yang menarik?”
“Ya, seorang siswa yang jarang masuk lalu dipanggil oleh orang penting disekolah. Hal apalagi yang ingin dibahas jika bukan hal yang penting.”
“Aku tak akan tertipu oleh ucapan seperti itu, sudahlah aku akan menunggu disini.”
“Begitu. Ya sudah.” Rencanaku untuk memancingnya ikut ternyata gagal. Karena itu aku masuk kedalam seorang diri.
Didalam.
Aku merasakan atmosfer yang aneh saat aku masuk kedalam, suasananya terasa begitu berbeda dari keadaan diluar, tekanannya sangat berbeda.
“Kau sudah datang.” (Kelapa akademi)
“Ada keperluan apa anda memanggil saya?”
“Aku hanya sedikit tertarik denganmu, putri mencegah pengeluaranmu dari akademi ini. Itu berarti kau bukanlah orang sembarangan.”
“Mungkin hanya kebetulan karena saya juga dekat dengan tuan putri.”
“Meskipun begitu, dia sampai mencegahmu sekuat tenaga. Aku pikir kau memiliki sesuatu hal lain yang membuat putri sampai melakukan hal seperti itu.”
“Anda terlalu berlebihan, saya hanyalah seorang biasa. Tak ada hal lain yang menarik tentang saya.”
“Aku juga sudah menyelidikimu lebih jauh, tapi tak ada hal yang bisa aku dapatkan.”
Mendengar hal itu entah kenapa aku merasa sedikit kesal. “Kepala akademi, tidak baik orang sepertimu mencampuri urusan siswannya. Apalagi sampai menyelidiki salah satu siswanya, itu sudah diluar wewenangmu. Ada hal yang tidak boleh dicampuri oleh orang luar, apalagi sampai diselidiki seperti itu.”
“Ari, siapa kau sebenarnya? Kedekatanmu pada tuan putri bukan hanya sebatas itu, dan lagi kau juga dekat dengan pangeran Lucy. Jadi wajar saja jika ada seseorang yang penasaran denganmu, selain itu statusmu saat ini masih belum jelas.”
“Statusku?”
“Kau bukan berasal dari kerajaan ini,dan juga kau bukan berasal dari kerajaan tetangga. Dengan bukti itu, kau sudah tidak bisa mengelak.”
Aku tak tau apa yang diinginkan orang ini, tapi 1 hal yang pasti. ‘Orang ini sangat menjengkelkan.’ Hanya itu yang aku pikirkan saat ini, selain mencampuri kehidupan pribadiku dia juga terlalu mencampuri urusan pribadiku terlalu dalam dan aku membenci orang seperti itu.
“Jadi, dari kerajaan mana kau berasal dan apa tujuanmu yang sebenarnya?”
Aku terlambat menyadarinya, bukan terlambat tapi responku terhadap hal sekitar sudah dibatasi. “Jadi, atmosfer aneh yang aku rasakan saat masuk keruangan ini berguna untuk menyembunyikan keberadaan mereka, ya.” Para pembunuh bayaran ada disini, dan mereka bersembunyi.
“Aku terkejut kau bisa menyadarinya.”
“Pertanyaanmu barusan bukan ditujukan pada seorang siswa, tapi pertanyaan itu ditujukan untuk seorang mata-mata yang sedang menyamar. Jadi wajar saja aku bisa menyadarinya.” Meskipun tidak bisa melihat mereka, tapi aku merasakannya. ‘Sekitar 5 orang, ya.’ Ada 5 orang yang siap membunuhku kapanpun diruangan ini.
“Jadi, kau sudah tau bagaimana keadaanmu disini saat ini. Apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Kau…” Dia membuatku kesal, tapi saat ini aku tak boleh bergerak gegabah karena jika sampai aku melakukan itu aku tak tau apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. ”Sepertinya aku membenci orang sepertimu.”
“Kalau begitu mohon maaf atas kelancangannya.”
“Cih, merepotkan.” Mau bagaimanapun saat ini aku harus tetap tenang. ‘Aku harus mencari cara untuk bisa keluar dari sini.’ Itulah hal pertama yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Meskipun begitu tak ada yang bisa aku lakukan disini, yang bisa aku harapkan hanyalah bantuan dari luar. ‘”Aku sangat tak menyukai hal ini.” Situasi dimana aku ditekan dan aku berada dalam bahaya tanpa bisa melakukan apapun, aku sangat membencinya.
“Permisi.” (???)
“Ya, silahkan masuk.”
Orang yang memecah keteganganku. “Tuan putri memanggil Ari untuk segera menemuinya, beliau bilang ada yang ingin dia bicarakan sebagai Roundnya.” (Lucy)
“Begitu. Jika memang demikian kalian boleh pergi.”
“Terimakasih atas pengertiannya.” Setelah itu aku langsung pergi darisana.
Beberapa menit setelah itu.
Diluar akademi.
“Kau mau pulang?” (Lucy)
“Ya, jika berlama-lama disini aku khawatir dengan keadaanku.”
“Sepertinya kau ada masalah, apa yang sampai membuatmu mengatakan hal seperti itu?”
“Hal seperti itu?”
“Aku sangat tidak menyukai hal ini.”
“Kau mendengarnya, ya.”
“Aku hanya mendengar itu, pembicaraan yang lain aku sama sekali tidak mendengarnya. Tapi, saat itu entah kenapa aku merasa kau sedang dalam masalah.”
“Begitu, sebelumnya aku ucapkan terimakasih karena sudah membantuku.”
“Ini pertama kalinya kau mengucapkan terimakasih padaku. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi didalam tadi?”
“Apa kau pernah ditekan, dan jika melakukan sedikit kesalahan nyawamu jadi taruhannya?”
“Itu sangat mengerikan, tapi aku bersyukur tak pernah merasakannya.”
__ADS_1
“Begitu.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku akan mencoba untuk menenangkan diri.”
Tak berapa lama setelah itu, aku melihat seseorang yang tak asing dari kejauhan yang tengah berlari kearah kami.
“Dirk, ada apa?” Itu adalah Dirk, dia menyusul ke akademi.
“Wakil komandan, ada masalah serius.”
“Huh? Masalah serius?”
“Benar.”
Perasaanku tidak enak tentang masalah kali ini. “Ayo kembali kemarkas, dan jelaskan apa yang terjadi diperjalanan.”
“Baik.”
Cukup lama setelah itu, diruang rapat.
“Para ketua regu, cepat serahkan surat ini pada kerajaan aliansi. Lalu untuk pasukan khusus, suruh mereka untuk bersiap-siap untuk keadaan terburuk.”
“Baik.” Para ketua regu pergi.
Aku sudah mendengar penjelasan dari Dirk, saat ini kondisi kerajaan ini sudah sangat kritis. “Kau meminta bantuan dari kerajaan lain?”
“Kondisi saat ini hanya cara itu yang bisa dilakukan, rencana penyerangan yang dilakukan beberapa hari yang lalu tidak akan berguna lagi jika digunakan kembali.”
“Meminta bantuan kerajaan lain, ya. Berarti kondisinya sudah sangat parah sampai kau tidak mampu mengatasinya sendiri.”
“Kali ini yang menyerang bukan hanya 1 kerajaan, tapi 3 kerajaan sekaligus. Lagipula perjanjian yang dibuat waktu itu masih ada, dan selain itu bukankah kerajaan ini sudah masuk kedalam aliansi kerajaan. Meminta bantuan para rekan aliansi tidak akan jadi masalah.”
“3 kerajaan, ya. Sepertinya ada saja orang yang iri dengan perkembangan kerajaan ini.”
“Setiap ada suatu perkembangan, pasti ada orang yang iri dengan hal itu. Itu adalah hal yang manusiawi, semua orang pasti pernah merasakan hal itu. Tapi penyerangan kali ini sedikit berbeda.”
“Penyerangan kali ini didasari oleh rasa ingin balas dendam, seperti itu?”
“Aku tak akan membantahnya, tapi itu adalah kenyataannya.”
“Padahal kita sudah berbaik hati tidak menjadikannya tawanan, tapi sepertinya benar apa yang dikatakan para mentri itu. Seharusnya kita tangkap saja raja mereka.”
“Jika seperti itu, sama saja kerajaan ini ingin memulai perang. Melepaskan raja bodoh itu adalah pilihan terbaik, jadi didalam situasi seperti ini yang akan menjadi target adalah kerajaan ini. Bisa dibilang kalau kerajaan ini sedang terancam. Jika kau memang cerdas kau pasti paham dengan apa yang aku maksud ini.”
“Tunggu sebentar, biarkan aku berfikir sebentar.” Lucy berfikir, dan setelah beberapa saat. “Jadi begitu, ya.”
“Sepertinya kau sudah tau.”
“Iya. Jika tebakanku benar, kerajaan lain mau tak mau harus membantu kerajaan ini, posisi kerajaan ini seakan sedang terancam karena diserang oleh 3 kerajaan sekaligus. Tapi, bagaimana jika tidak ada kerajaan yang mau membantu?”
“Jika seperti itu, apa gunanya kau datang kerapat waktu itu. Semuanya kerajaan yang berkumpul disana adalah bagaikan sebuah keluarga, saling mendukung dan membantu jika ada kerajaan yang sedang dalam kesulitan. Bukankah kau sudah menandatangani surat kontrak perjanjian antar kerajaan itu di rapat?”
“Hmmm, jadi seperti itu, ya.”
“Sisanya adalah menunggu, kerajaan siapa yang akan membantu kita disaat seperti ini.”
“Tapi yang menyerang kita saat ini, kalau tidak salah kerajaan Bagdist, Kobnus, dan juga Reawers.”
“Apa cuma perasaanku atau memang nama kerajaan didunia ini kebanyakan aneh-aneh semua.”
“Mungkin hanya perasaanmu. Kerajaan itu adalah kerajaan yang unggul dalam seni berpedang, dan juga salah satu dari kerajaan yang memiliki ahli strategi yang cukup hebat. Jadi cukup sulit untuk mengalahkan mereka.”
“Hmmm, apa aku harus menggunakan senjata andalan, ya.”
“Senjata andalan, kau masih memiliki hal seperti itu?”
“Mana ada, yang aku maksud itu Dravin.”
“Ahhh, si naga.”
“Berapa persen yang bisa kau prediksi.”
“Kurang dari 5%, tapi jika ada beberapa situasi yang bisa terpenuhi maka jumlah itu bisa naik cukup tinggi.”
“Begitu. Aku mengerti.”
Setelah itu, aku kemudian sedikit berfikir tentang rencana yang cocok digunakan untuk situasi seperti ini.
Beberapa saat kemudian.
“Lucy, apa dikerajaan ini ada orang yang bisa menggunakan sihir?”
“Menggunakan sihir? Aku tak tau, tapi sepertinya ada meskipun jumlahnya sangat langkah.”
“Begitu. Ahh, benar juga. Apa di akademi ada studi tentang sihir, jika ada pasti…”
“Ya, sayangnya tidak ada yang seperti itu. Kau pasti sudah tau sejarah dunia ini, sihir adalah hal yang sangat langkah dan hanya keluarga kerajaan yang bisa menggunakannya. Meskipun juga ada beberapa orang selain anggota kerajaan yang mendapatkan berkat itu.”
“Tapi, kerajaan Bagdist memiliki banyak penyihir.”
“Setiap kerajaan itu berbeda, kerajaan Bagdist mungkin melakukan sesuatu pada orang-orang itu agar bisa menggunakan sihir. Kau seharusnya juga sudah mencurigainya.”
“B-benar juga.”
“Kau tidak menyadarinya?!”
“S-sudahlah, abaikan saja masalah itu.”
“Kau mengalihkan pembicaraan.”
“Sudahlah, sekarang kembali ketopik utama. Lucy, apa kau memiliki seorang kenalan yang bisa menggunakan sihir?”
“Yang bisa menggunakan sihir? Sayangnya aku tak punya seorang kenalan yang seperti itu.”
“Begitu, jadi kita hanya bisa berharap banyak pada bantuan yang akan datang ini, ya.”
“Wakil komandan, lapor.” Seseorang tiba-tiba saja masuk keruang rapat. “Saya dari regu pengintai, saya sudah mendapatkan jumlah pasti pasukan yang sedang disiapkan oleh 3 kerajaan itu.”
“Hooo, itu bagus. Berapa jumlahnya?” (Lucy)
“100 ribu pasukan. Untuk lebih detailnya masih belum ditemukan, hanya itu saja yang bisa kami dapatkan.”
“Kerja bagus, kalian boleh beristirahat.”
“Baik.” Prajurit itu pergi.
“100 ribu pasukan, lebih banyak dari yang sebelumnya. Lalu, apa yang bisa kau lakukan sekarang?”
“Ya, seperti yang aku bilang. Kita hanya bisa berharap pada bantuan yang datang, entah berapapun jumlahnya semua tergantung pada bantuan. Mau sedikit atau banyak itu akan sangat berpengaruh, ya jika ada banyak itu akan sangat bagus.”
“Kalau begitu, bagaimana jika aku juga memanggil pasukan dari kerajaanku untuk membantu?”
“Tidak, sebaiknya kau tak melakukan hal itu.”
“Boleh aku tau alasannya?”
“Tidak ada alasan khusus, hanya saja jika sampai melibatkan kerajaanmu juga maka perang besar ini akan menjadi semakin sulit untuk dikendalikan.”
“Semakin sulit untuk dikendalikan?”
“Ya, kau pikir selain kerajaanmu kerajaan lain akan dia dan hanya melihat? Tentu saja tidak, mereka juga akan ikut turun tangan. Meskipun yang memulai perang ini bukan dari kerajaan ini, tapi bantuan dari kerajaan yang tak bersangkutan akan menjadi masalah. Kecuali…”
“Kecuali suatu kerajaan memiliki hubungan antara kerajaan lain, maka kerajaan itu bisa ikut dalam suatu kejadian yang terjadi dikerajaan tersebut. Begitu, ya. Aku mengerti.”
“Kau disini hanyalah sebagai seorang pelajar, tidak lebih dari itu. Kau bisa pergi dan kembali saat perang sudah usai, tapi aku ragu kau akan melakukannya.”
“Tentu saja, aku sudah menganggap kerajaan ini adalah rumahku dan markas ini adalah tempatku tinggal. Apapun yang terjadi aku akan tetap tinggal disini.”
“Itu terlalu berlebihan, tapi sudahlah. Aku menyukai semangatmu itu, tetap pertahankan. Ingin aku berkata seperti itu, tapi jika kondisinya memburuk, Lucy aku menitipkan Iona padamu.”
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Kau tak perlu tau, tapi saat keadaannya semakin memburuk, tolong jaga Iona.”
“Baik, serahkan saja padaku.”
“Maaf, aku terlambat.” (Iona)
Sesaat setelah pembicaraan kami selesai, Iona datang.
“Kau terlambat, apa ada masalah?”
“Aku tadi habis rapat, jadi tidak bisa langsung pergi begitu saja.”
“Begitu, jadi kau sudah tau keadaannya sekarang?”
“Aku hanya dengar sedikit, katanya akan ada penyerangan besar-besaran ke kerajaan ini. Untuk lebih lengkapnya aku tak tau, sepertinya informasi itu masih dirahasiakan.”
“Dirahasiakan, ya.”
“Ari, memangnya dari kerajaan mana yang akan menyerang dan apa alasannya?”
Aku menjelaskan sesingkat mungkin kejadian yang sudah terjadi dan apa alasan kenapa perang ini bisa terjadi.
Setelah itu.
“Aku tak tau kalau hal seperti itu terjadi dikerajaan ini.” (Iona)
“Kau terlalu sibuk sampai tidak menyadarinya, tapi aku tak akan menyalahkanmu. Selain itu, jika raja sampai tau hal ini mungkin akan sedikit berbahaya.”
“Sedikit berhaya? Kenapa? Kenapa jika ayah sampai tau hal ini akan berbahaya?”
“Sedikit, bukan berbahaya. Hanya sedikit. Ayahmu adalah seorang raja, seluruh pasukan berada dibawah kendalinya. Jika sampai dia memintamu untuk menggunakan seluruh pasukan yang ada disini untuk ikut berperang, maka semuanya akan kacau.”
“Aku masih tak mengerti.”
“Tunggu sebentar, kau bilang semuanya akan kacau? Apa kau sudah tau kejadiannya akan jadi seperti ini?” (Lucy)
“Tentu saja aku tau, jika suatu kerajaan mengalami kekalahan dan kerajaan itu tidak terima akan kekalahannya. Mereka pasti akan memanggil bala bantuan, selain itu seperti yang kau katakan sebelumnya, kerajaan ini sudah menjadi pusat perdangan. Keuntungan jika bisa menjatuhkan kerajaan ini akan sangat besar.”
“Tunggu, bisa jelaskan tentang ayahku juga?” (Iona)
“Begini Iona, dengarkan dengan baik.”
“Ya.”
“Yang memerintahkan kerajaan ini saat ini adalah ayahmu, jadi jika perintah penyerangan datang dari ayahmu maka semua prajurit akan ikut menyerang.”
“Lalu, apa masalahnya dengan hal itu?”
“Lawan kita kali ini adalah seorang yang memiliki atau bisa dibilang ahli dalam hal strategi. Bukankah seperti itu, bung Lucy.”
“Ya. Lalu hentikan memanggilku seperti itu.” (Lucy)
“Jika semua prajurit ikut berperang, maka pertahanan kerajaan akan melemah.”
“Ahhh, jadi itu alasanmu meminta bantuan dari kerajaan lain.”
“Tentu saja, pasukan bantuan berguna untuk mempertahankan kerajaan.”
“Lalu yang akan menyerang adalah pasukan khusus. Seperti itu, ya.”
“Yap, tapi bukan hanya itu. Dravin juga akan ikut serta di perang kali ini, dengan begitu kesempatan untuk menang akan jadi lebih besar.”
“Tapi, kenapa kau sangat yakin musuh akan menyerang langsung ke kerajaan ini?” (Iona)
“Itu adalah strategi dasar. Jika kerajaan diserang, maka prajurit hanya memiliki 2 pilihan, mundur untuk mempertahankan kerajaan, atau maju dan membiarkan kerajaan dikuasai. Ya, meskipun mundur kerajaan pasti akan dikuasai dan para pasukan akan dihabisi dengan mudah. Tapi jika maju, mau tak mau para pasukan harus berjuang lebih keras untuk menang agar bisa kembali merebut kerajaan. Atau bahasa gampangnya, jika mundur kekalahan akan menanti, dan jika maju mau tak mau kemenangan harus didapat. Seperti itu.”
“Tapi, itu semua akan beda cerita jika ada banyak pasukan yang berjaga dikerajaan. Aku mengerti.” (Lucy)
“Aku tidak mengerti.” (Iona)
“Ya, ini terlalu sulit untuk dipahami olehmu. Tapi, tenang saja aku akan berusaha untuk mempertahankan kerajaan ini dan memenangkan perang ini. Kau tak perlu khawatir.”
“Kau sangat yakin dengan hal itu? Apa kau punya sebuah jaminan?” (Lucy)
“Ini adalah pertaruhan, tenang saja. Semuanya sudah aku rencanakan dengan matang.”
“Kau ingin kembali terjun ke medang perang?”
“Ya, sebagai pengawas dan juga sebagai penyerang inti bersama Dravin.”
“TIDAK BOLEH!!” (Iona)
“Huh? Putri, ada apa?” (Lucy)
“Tidak boleh!!”
“Eh? K-kenapa?” Aku tak tau kenapa tiba-tiba saja Iona bersikap seperti ini.
“Sekali tidak boleh, tetap tidak boleh!!”
Sifat egoisnya muncul, dan disaat seperti ini aku tak memiliki pilihan lain selain menurutinya. “Haaaa, baik-baik aku mengerti, aku akan memikirkan cara lain.”
“Benarkah?”
“Iya.” Aku tak ingin membuatnya khawatir, meskipun begitu rencana ini adalah rencana terbaik yang sudah aku pikirkan. “Haaaa, baiklah karena aku harus membuat rencana baru sepertinya hari ini akan jadi hari yang melelahkan. Aku akan kembali ke kamarku, jika ada perlu atau ada sesuatu yang penting datang saja.”
“Baik.”
Dikamar.
Aku duduk dimeja kerjaku, memandangi catatan yang sudah aku buat sebelumnya. “Sepertinya masih butuh sedikit penyempurnaan lagi.” Sebuah cacatatan strategi yang aku buat dimalam saat pertempuran itu selesai.
Sebelumnya aku menyiapkannya hanya untuk iseng belaka dan sebagai pencehagan. Tapi tak kusangka akan digunakan secepat ini. Meskipun begitu, ini hanyalah sebuah catatan strategi kasar, dan masih bisa dirubah. “Harus dirubah, ya.” Permintaan Iona, meskipun terdengar egois tapi aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi jika sampai aku membantahnya. “Waktuku hanya tinggal sebentar lagi sebelum perang bergejolak, aku tak punya banyak waktu.”
Cukup lama setelah itu.
Ketukan pintu.
“Apa aku boleh masuk?”
“Lucy, ya. Masuklah.” Lucy masuk. “Ada apa?”
“Kau yakin? Bukankah kau sudah merencanakannya dengan matang?”
“Dia tidak mengizinkannya, mau bagaimana lagi.”
“Tapi, sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan rencana baru, benar’kan.”
“Ya, itu memang benar. Sebuah rencana yang matang tidak bisa dibuat dalam semalam.”
“Selain itu, bukankah kau sudah memulai rencana ini dengan meminta bantuan kerajaan aliansi yang lain.”
“Haaaa, sudahlah. Aku akan mencoba sebaik mungkin untuk nanti malam, aku akan memikirkan cara lain.”
“Begitu. Ternyata kau memiliki sisi penurut juga, ya.”
“Tidak juga, aku hanya tak mau membuatnya khawatir saja. Haaaa, aku tak boleh bermalas-malasan hari ini.”
“Kau akan mulai memikirkan rencana baru?”
“Ini butuh sedikit waktu, aku akan mulai sore ini dan jika dapat akan aku sempurnakan malam nanti.”
“Bagaimana jika tidak dapat?”
Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Sudah, aku sedang sibuk sekarang. Datang lagi nanti jika memang ada hal penting yang harus dibicarakan.”
“Baiklah.” Lucy keluar dari kamar.
“Aku harap aku punya banyak waktu yang tersisa sebelum pertempuran besar itu mulai bergejolak.”
__ADS_1