
“Baiklah, aku akan bahas rencananya. Dengarkan baik-baik.”
“Baik.”
“Pertama, dengan jumlah pasukan besar itu pasti ada beberapa ahli sihir.”
“Kau bermaksud untuk menyuruh para pasukan khusus untuk membunuh para penyihir itu? Seperti itu.” (Lucy)
“Ya, tapi karena penjagaan akan sangat ketat kemungkinan hal itu sangat sulit untuk dilakukan.”
“Lalu, wakil komandan kenapa anda menyarankan hal yang tidak bisa dilakukan?” (Dirk)
“Aku tidak bilang tidak bisa, tapi hanya sangat sulit.”
“Kau memiliki rencana?”
“Aku hanya memiliki 2 rencana yang bisa digunakan.”
“Jadi sisanya tidak bisa?”
“Bukan tidak bisa, hanya saja tidak mungkin. Sudah, kembali ke topik. Rencana pertama adalah memancing para penyihir itu untuk keluar. Perkiraanku jumlah penyihir yang ada dipasukan itu tidak lebih dari 50 orang.”
“Darimana kau mendapatkan informasi itu?”
“Kau itu banyak bertanya, ya.”
“Aku hanya penasaran, apa salahnya.”
“Haaa, baiklah. Itu hanyalah perkiraan, tapi karena jumlah orang yang bisa menggunakan sihir sangat sedikit atau bahkan langkah, dengan jumlah segitu sepertinya sudah cukup untuk menjadi sebuah perkiraan. Lagipula, ada kemungkinan jika jumlahnya lebih sedikit dari itu.”
“Lalu, untuk rencana kedua?”
“Ini adalah rencana yang aku sarankan, membunuh penyihir itu secara diam-diam, bisa dibilang ini adalah misi khusus untuk pasukan assassin. Meskipun begitu, kita butuh sesuatu untuk melakukan hal itu.”
“Sebuah pengalih perhatian, kau ingin bilang itu’kan.”
“Kau membaca pikiranku, ya.”
“Aku tidak memiliki kekuatan untuk itu, aku hanya berfikir disaat para assassin itu bergerak pasti harus ada yang mengalihkan perhatian dengan begitu pergerakan mereka akan berjalan dengan lancar.”
“Jadi, wakil komandan. Tentang pengalih perhatian itu, apa anda punya rencana?” (Famus)
“Hmmm, yang bisa aku pikirkan hanyalah sebuah hal gila dan ini sedikit nekat.”
“Memangnya apa?”
Esoknya.
Diperjalanan.
“Haa, kenapa aku harus ikut juga.” (Lucy)
“Ini semua bagian dari rencana, bukankah kau juga mau ikut serta.”
“Tapi bukan dalam hal nekat seperti ini.” Saat ini aku, Lucy dan juga para ketua regu sedang dalam penyamaran. “Tapi, kenapa harus menjadi pedangang keliling.”
“Bukankah kita semua sudah setuju dengan hal ini kemarin.”
“Tapi ini sangat berbahaya.”
“Tenanglah, percayakan semuanya padaku.”
__ADS_1
“Mencurigakan.”
Kemarin.
Ruang rapat.
“Memangnya apa?” (Lucy)
“Pedangang keliling.”
“Pedangang keliling?” Para ketua regu terlihat kebingungan.
“Status pedangang keliling itu adalah status yang hebat, pedangang keliling bisa berkelana keseluruh penjuru dunia dengan mudah.”
“Tapi, pedangang keliling itu memiliki kartu khusus pedangang keliling. Oleh karena itu mereka bisa melakukan itu. Jika kita tidak memilikinya kita pasti akan ketahuan.”
“Hehehe, kalau untuk itu…” Aku mengeluarkan sesuatu. “Bukankah ini yang kau maksud.”
“I-itu.” (Lucy)
“Wakil komandan, itu bukannya kartu khusus pedangang keliling. Darimana anda mendapatkannya?”
“Aku memintanya pada Iona. Waktu aku bilang ingin kartu ini untuk kesebuah keperluan, dia meyanggupinya. Lalu aku mendapatkannya.”
“Tunggu, kapan kau memintanya?”
“Hmmm, kapan, ya. Aku lupa, tapi sepertinya beberapa bulan yang lalu.”
“Kau, untuk apa sebenarnya itu.”
“Hmmm, aku berencana untuk mencari sesuatu kekerajaan lain makanya aku meminta ini.”
“Tidak, bukan itu hanya saja hal lainnya. Haaa, lupakan itu. Bagaimana semua, apa kalian setuju?”
“Jika sudah terencana seperti ini, mau bagaimana lagi.”(Lucy)
“Lalu, untuk para ketua regu? Bagaimana apa kalian setuju?”
“Kami setuju, jika ini dapat melindungi ketua dan kerajaan ini kami setuju.”
“Bagus, kita akan mulai rencananya besok.”
“Eh? Besok, kenapa terburu-buru sekali. Bahkan persiapannya saja belum siap.” (Lucy)
“Huh? Persiapan? Persiapannya sudah siap, kok.”
“Eh? Serius? Kapan kau menyiapkannya?”
“Sudah aku bilang, aku berencana untuk pergi ke kerajaan lain. Tentu saja aku sudah menyiapkan segalanya. Tapi karena saat ini adalah kondisi mendesak, menggunakannya untuk hal ini adalah pilihan terbaik untuk saat ini.”
“Lalu, untuk selanjutnya jika saja ini tidak berjalan sesuai dengan rencana apa yang ingin kau lakukan untuk antisipasi?”
“Hmmm, untuk itu. Aku juga sudah memikirkannya. Setelah para ahli sihir itu berhasil dibunuh, selanjutnya adalah serangan dadakan, dengan begitu aku yakin mereka pasti akan terkejut.”
“Kau juga sudah menyiapkan rencananya?”
“Rencananya simpel dan sangat mudah. Setelah pengalihan perhatian dan misi pembunuhan para penyihir berhasil, setelah itu waktunya para pasukan beraksi. Katakan pada seluruh pasukan untuk bersiap, kemungkinan pertempuran kali ini akan sedikit lebih sulit karena kita kalah jumlah.” 12 kali lipat dari jumlah musuh, itulah situasi yang dihadapi olehku saat ini. “Tapi percayalah, kemenangan akan ada dipihak kita. Sampaikan itu pada semua pasukan, kita harus segera bersiap untuk besok.”
Kembali ke sekarang.
Saat ini karena aku dan Lucy tidak bisa mengendari kereta kuda, Grild yang melakukannya.
__ADS_1
“Kau sangat yakin dengan hal itu, apa kau punya rencana cadangan lain?” (Lucy)
“Tentu saja ada, semuanya sudah aku persiapkan dengan matang.”
“Haaa, lalu apa-apaan dengan semua tong anggur ini.”
“Ini adalah bagian dari rencana.”
“Bukan hanya 1, tapi kau menyiapkan 10 kereta kuda penuh dengan puluhan tong anggur. Berapa banyak uang yang diperlukan untuk membeli semua itu.” Kami membawa 10 kereta kuda penuh dengan tong anggur yang disukai orang dewasa, semua dilakukan untuk membuat penyamaran ini sempurna.
“Haa, aku menghabiskan semua gajiku untuk membeli itu kau tau.”
“Eh? Kau digaji?”
“Tidak, memangnya kau digaji.”
“Kenapa kau balik menanyakan hal itu padaku!!”
“Hahaha… Tenanglah, kita berdua sama-sama tidak digaji oleh raja’kok. Aku mendapatkan itu semua dari Iona, dia menyiapkan semuanya untukku.”
“Kau itu. Oh ya Grild, ngomong-ngomong berapa gaji kalian para ketua regu?” (Lucy)
“Gaji kami? Hmm, sepertinya sekitar 200 sampai 500.”
“I-itu sudah sangat banyak. Kau pasti sudah kaya sekarang.”
“Ya, kehidupan keluarga saya sudah lebih baik dari sebelumnya begitupula dengan yang lain.”
“Grild, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Bertanya sesuatu?”
“Kau saat ini sudah memiliki kehidupan yang sempurna, kenapa kau tidak berhenti saja dan nikmati kehidupanmu itu?”
“Umm, bagaiman ya. Saya merasa senang berada disini, saya merasa kalau tempat ini adalah rumah kedua saya. Saya pikir yang lain juga merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, selain itu semua kesejahteraan yang kami dapatkan berawal dari sini. Jika pergi dari sini, saya rasa kami semua belum cukup untuk membalas apa yang sudah komandan berikan pada kami selama ini.”
“Tapi, kalian bisa saja mati kapan saja.”
“Saya, tidak kami semua sudah siap akan hal itu. Demi melindungi sesuatu yang sangat dicintai, kami rela mengorbankan nyawa kami sebagai taruhannya.”
“Kalian menyukai putri, maksudku komandan?”
“Beliau sudah memberikan kehidupan pada semua orang, saya yakin semua orang pasti juga sangat mencintainya. Selain itu, komandan itu bagaikan seorang penyelamat.”
Setelah itu, Lucy menatap kearahku. “Ada apa?”
“(berbisik) Sepertinya tanggung jawabmu saat ini semakin besar.”
“Haaa, kau benar.” Sikap egoisku yang tidak akan membiarkan satupun bawahanku mati, mungkin akan jadi boomerang dikemudian harinya. Meskipun begitu, aku akan tetap melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. “Sepertinya bebanku bertambah lagi.” Mereka mempercayakan hidupnya pada seorang komandan yang sangat mereka cintai. Aku membaringkan tubuhku.
“Ada apa?” (Lucy)
“Sepertinya aku mual.”
“Hey cepat turun jangan mual disini!!”
“Hahaha, aku hanya bercanda. Tapi, aku ingin istirahat sebentar. Bangunkan aku jika kita sudah sampai ditujuan.”
“Baik.”
Hari ini, mungkin akan menjadi hari yang sangat berbahaya yang pernah aku alami. Hari dimana aku turun langsung kelapangan untuk melancarkan strategi yang gila. ‘Mungkin.’
__ADS_1