
Beberapa hari sebelumnya.
“Baik, rencananya seperti biasa tapi jika kalian merasa tidak bisa kalian bisa mundur dan aku yang akan mengurus sisanya.”
“Baik.” Rapat singkat dengan para assassin sudah selesai, sekarang adalah waktunya untuk eksekusi.
Malam hari.
“Sepertinya berhasil.” Aku mengawasi mereka dari ketinggian bersama dengan Dravin. Tanda keberhasilan mereka sudah ditunjukan, waktunya untuk operasi lanjutan.
Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, pasti ada lebih dari 500 penyihir, oleh karena itu tujuan utama pasukan assassin adalah membunuh para penyihir terlebih dahulu, jika berhasil maka Dravin akan mengurus sisanya beserta pasukan yang lain.
“Baiklah.”
Setelah cukup lama.
Sejauh ini semuanya berjalan sesuai dengan rencana. “Huh? Gagal?” Pertanda kegagalan muncul. “Ini gawat, Dravin ayo.”
Groaarrr.
Kami bergegas menuju ke tempat yang cukup dekat meskipun begitu tidak terjangkau oleh musuh. “Sepertinya disini sudah cukup.” Diatas langit malam, kami tetap terbang meskipun cukup sulit tapi aku harus bisa melakukannya. “Baiklah rekan, waktunya menunjukkan kemampuanmu.”
Aku menggunakan senapan sihir. “Peluru, ada, kecepatan angin, dingin, jarak, ummm, sepertinya tidak bisa dihitung. Sudahlah, semuanya sudah siap. Persiapan menembakkan peluru pertama, target penyihir.” Hal yang aku butuhkan saat ini adalah konsentrasi yang tinggi. “Aku harus mengenainya.” Aku melakukan beberapa penyesuaian sebelum menembak, dan menemukan memontum yang pasti. “Tembak.”
Swuuuut.
“1 target lumpuh, serangan selajutnya. Tembak, 2 target lumpuh. Selanjutnya, tembak, 3 target lumpuh.” Aku terus menembaki 1 persatu penyihir musuh yang terlihat, dari jarak sejauh ini mereka tidak akan bisa menyadari, meskipun menyadari mereka tak akan bisa melakukan sesuatu. ‘Ini sempurna.’
“Itu sangat hebat, aku tak menyangka wakil komandan bisa membuat benda sehebat itu. Itu bisa menembak dari jarak yang jauh selain itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun.” (Prajurit)
“Tapi yang paling penting, kemampuan wakil komandan itu sendiri. Dia bisa menembak diatas seekor naga yang sedang terbang, jika bukan karena kemampuannya orang lain pasti tidak akan bisa melakukan hal seperti itu.”
“Benar juga.”
“Ahhh, itu tanda dari wakil komandan. Semua musuh yang berbahaya sudah dibasmi. Baiklah, sekarang saatnya kita menunjukkan kemampuan kita pada para pasukan itu.”
“YAAA!!!”
Para pasukan mulai maju, para penyihir juga sudah dihabisi terlebih dahulu, dan karena serangan malam pasti kebanyakan prajurit musuh juga tak memiliki waktu untuk melakukan persiapan dan mereka bisa dilumpuhkan dengan mudah. “Baiklah, sekarang aku hanya tinggal membantu mereka dari sini saja.”
“M-musuh menyerang!! Segera bertempur!!” Para pasukan musuh telat untuk menyadarinya, serangan dadakan yang dilakukan oleh pasukan dengan jumlah yang sedikit. Meskipun melawan banyak prajurit asalkan strategi yang dilakukan dipikirkan dengan baik maka semuanya akan baik-baik saja.
“Hooo, ternyata mereka melakukan sedikit perlawanan, ya.” Prajurit musuh yang tertekan mencoba untuk melakukan perlahawan, meskipun kalah jumlah tapi pengalaman bertarung prajurit khusus tidak bisa dianggap remeh. Selain itu semua unit pasukan melakukan tugasnya dengan baik, pasukan assassin menghancurkan persediaan miliki musuh dan pasukan pemanah membakar tenda senjata milik musuh. “Rencana penyerangan malam, sukses.”
Cukup lama setelah itu.
“Baiklah, Dravin beritanda pada mereka.”
Groaaarrr.
Setelah berteriak, Dravin menghembuskan nafas berapinya kelangit malam dan itu membuat sosoknya terlihat sangat besar dan seolah mengintimidasi musuh. “Rencana penghancuran mental, selesai.” Bukan hanya sebagai tanda, tapi ini juga menjadi awal penyerangan dari sang naga Dravin.
Para pasukan khusus mundur, dan sesaat setelah itu naga Dravin mulai melakukan penyerangan membabibuta, dia membakar semuanya dan membasmi banyak pasukan musuh. “Misi pembasmian, selesai.” Tentu saja aku tak ikut karena itu akan sangat berbahaya.
Setelah puas, Dravin kembali ke tempat perkumpulan.
Tanpa disadari fajarpun terbit.
“Bagi kalian yang kelelahan, kalian bisa istirahat. Oh ya, apa ada yang terluka?”
“Wakil komandan, sejauh ini seluruh pasukan baik-baik saja, tidak ada yang terluka serius.” (Prajurit)
“Begitu. Syukurlah.”
“Jika seperti ini terus, kita pasti bisa memenangkan perang ini dengan mudah.”
“Ya, itu benar.”
Semangat dari para prajurit yang ada disini terpancar, dan itu membuatku sangat senang.
“Wakil komandan, apa anda yakin tidak ingin dibuatkan tenda?”
“Tidak, membuat tenda hanya akan membuat persembunyian kita menjadi mencolok. Selain itu, jika seperti ini kalian bisa berada dimana saja memahami lingkungan hutan ini dan memanfaatkan semua yang ada disini untuk dijadikan sebagai senjata.”
“Saya mengerti, sama saat melawan kerajaan Ruens. Komandan juga menyuruh kita untuk menghafal peta dan jebakan yang ada disana, tapi saa tak menyangka akan mendengar hal seperti itu lagi sekarang.”
“B-begitu.” Itu adalah pertempuran pertama, jumlah pasukan khusus masih berjumlah 300 orang saat itu tapi mereka berhasil mengusir pasukan yang jumlahnya lebih banyak dari mereka. “Baiklah, kita istirahat sebentar dan bergantian berjaga selama 4 jam. Jika ada sesuatu yang mencurigakan segera lapor.”
“Baik.”
Cukup lama setelah itu.
Di tepi sungai.
“Aku tak menyangka ada tempat senyaman ini disini, haaaa ini menyegarkan.” Aku merendam kakiku diair sungai yang mengalir ini, rasa sangat nyaman.
“Wakil komandan.” (Famus)
Famus datang menghampiriku. “Ada apa?”
“Tak ada tanda-tanda pasukan musuh akan mundur, apa yang harus kita lakukan?”
“Bagaimana dengan keadaan ketua regu yang lain?”
“Mereka sedang mengawasi kamp musuh, jika ada sesuatu yang mencurigakan para assassin akan melaporkannya untuk anda.”
“Begitu. Bilang juga pada mereka untuk tidak memaksakan diri, mengintai itu memang penting tapi jika daya fokus menghilang maka pengintaian tidak akan berjalan dengan baik.”
“Baik, akan saya sampaikan. Satu hal lagi, wakil komandan.”
“Ya?”
“Sepertinya para komandan dari pihak musuh sedang merencanakan sesuatu, saya harap anda bisa menjaga diri anda.”
“Terimakasih atas saranmu, akan aku ingat.”
Malam hari, serangan ke-2.
__ADS_1
“Sepertinya mereka saat ini sedang waspada.” (Dirk)
“Itu jelas, kemarin mereka sudah dibantai habis-habisan sudah jelas mereka akan sangat waspada.” (Famus)
“Laren, bagaimana apa ada perintah dari wakil komandan?” (Grild)
“Tidak, beliau menyuruh kita untuk menunggu.” (Laren)
“Meskipun begitu, wakil komandan adalah orang yang hebat, ya. Sampai saat ini, setelah melewati beberapa penyerangan besar sama sekali tidak ada korban satupun dipihak kita.”
“Ya, itu benar. Beliau memang sangat luar biasa, kita memiliki orang-orang yang bisa diandalkan disini. Komandan, wakil komandan Ari, dan juga wakil komandan Lucy. Mereka semua adalah orang yang sangat hebat, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka ber-3 berkumpul dan merencanakan sesuatu yang lebih hebat.”
“Sudah banyak hal yang terjadi, dan sudah banyak juga strategi dari komandan dan juga wakil komandan Ari yang ditunjukkan olehnya.”
“Tapi, karena komandan saat ini sedang sibuk dengan kehidupan kerajaan, beliau sudah jarang ikut serta dalam pembuatan stratergi, semuanya diserahkan pada wakil komandan.”
“Ya, menjadi bagian dari keluarga kerajaan itu sangat sulit. Bahkan sampai membuat sebuah pasukan khusus, beliau pasti sudah berusaha sangat keras.”
“Ya, yang tak bisa aku lupakan dari komandan adalah senyumannya. Senyuman yang menenangkan.”
“Hahahaha, kau benar. Ya, setidaknya saat pulang nanti aku berharap bisa disambut oleh senyumannya.”
“Ya, oleh karena itu kita harus membawa kemenangan diperang ini.”
“Ya!!”
Sementara itu.
“Hmmm, penjagaannya menjadi semakin ketat. Tapi disitulah masalahnya, semakin ketat penjagaannya maka semakin banyak tenaga yang harus dikeluarkan, dan karena itu akan ada banyak prajurit yang kelelahan karena berpatroli. Aku hanya perlu memanfaatkan hal itu, dengan begitu kali ini kemenangan akan kami dapatkan.”
Berjam-jam kemudian.
“Haaa, baiklah. Waktunya sudah cukup, sekarang saatnya.” Aku memberikan tanda pada pasukan yang lain, meskipun begitu aku tau kalau akan ada perangkap oleh karena itu. “Lepaskan.” Ratusan anak panah dilepaskan, saat ini seluruh pasukan pemanah sudah mengepung area kamp musuh jadi tak ada tempat untuk bersembunyi lagi.
Meskipun demikian. “Hooo, ternyata masih ada.” Sihir angin membuat panah yang dilepaskan menjadi tak beraturan dan jatuh. Masih ada beberapa penyihir yang hidup, mereka tau kalau semua penyihir akan dibunuh terlebih dahulu oleh karena itu mereka menyembunyikan beberapa penyihir. “Meskipun begitu, aku sudah membacanya. Kalian, tidak bisa melakukan apapun.” Para pasukan menyerang.
Karena para penyihir menahan panah yang dilancarkan oleh para pemanah, mereka tidak bisa ikut menyerang. Alhasil formasi yang mereka buat kacau. “Baiklah, waktunya penghabisan. Rekan, ayo beraksi.” Aku mencoba untuk menyeimbangkan tubuhku, membuat pikiranku tenang, dan setelah itu. “Tembak, tembak, tembak, tembak, tembak...” Seluruh penyihir tumbang dan tak ada yang menahan anak panah yang dilepaskan, alhasil mereka menerima 2 serangan sekaligus.
“Pembantaian 2 serangan, selesai.” Malam ini bukan panggung untuk Dravin, melainkan panggung untuk mereka para prajurit khusus yang hebat.
Esoknya.
“Yeahhh!!! Kita menang lagi.” Para prajurit kelihatan senang dengan kemenangan ke-2 ini.
“Laren, bagaimana dengan jumlah pasukan musuh saat ini?”
“Saya sudah memeriksanya, kurang lebih jumlah musuh saat ini sekitar 50-60 ribu pasukan.”
“Begitu.” 2 hari penyerangan dan sekitar 40 ribu pasukan sudah berhasil dihabisi. “Baiklah, malam ini adalah serangan terakhir. Kita buat raja bodoh itu kapok dan hancurkan mereka habis-habisan.”
“Yaaa!!!”
Kami tak boleh menghabiskan banyak waktu lagi, persediaan makanan yang kami bawa sudah hampir habis. Meskipun aku dapat mengambilnya lagi tapi itu akan sangat berbahaya, sumber keamanan kamp ini ada karena adanya Dravin, selain itu akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga jika harus kembali kesana kemari.
Malam hari.
“Baik, malam ini akan jadi penyerangan terakhir, kita habisi pasukan raja bodoh itu dan para antek-anteknya.”
“Ahhh, itu hanya kiasan. Yang penting, malam ini kita bantai mereka!!!”
“YAAAA!!!”
“Tapi, aku akan memerikan kalian 1 perintah. Larilah jika terjadi sesuatu diluar dugaan, jangan buang-buang nyawa kalian.”
“Baik.”
“Kalau begitu, operasi serangan ketiga, dimulai.”
Aku masih mengawasi dari kejauhan. “Hmmm, sepertinya penjagaannya melemah dibanding kemarin.” Penjagaan dikamp lebih lemah dari kemarin, dan itu jelas membuatku sedikit curiga. “Apa yang mereka rencanakan?”
Beberapa menit setelah itu.
“Ahh, tandanya sudah muncul.” Tapi, aku merasa ada yang aneh. “Itu bukan tempat yang seharusnya.” Dan sesaat kemudian aku menyadarinya. “Sial!!” Aku memberikan tanda untuk mundur, tapi sebagian pasukan sudah maju. “Dravin, ayo.”
Groaarrr.
Mereka menggunakan tanda kami sebagai umpan, mereka memancing pasukan kami untuk maju dan setelah itu mereka akan dikepung lalu dihabisi.
Beberapa saat kemudian.
“Semuanya, mundur!! Ini jebakan!!”
Sesaat kemudian, sebuah bolah api raksasa muncul dan mengarah kearah ku. “H-hampir saja.”
“Wakil komandan!!”
“Mundur!! Akan aku bukankan jalan.”
“B-baik.”
“Meskipun begitu, serangan barusan. Ternyata mereka masih memilikinya, ya. Dan lagi, sepertinya dia lebih kuat dari para penyihir sebelumnya.” Setidaknya itulah yang aku rasakan barusan. “Dravin, bukakan jalan untuk mereka.”
Groarrr.
Dravin membukakan jalan dan para pasukan mundur.
Pertempuran malam ini, kacau.
Esoknya.
“Bagaimana? Apa semuanya baik-baik saja?” Aku khawatir jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, aku yang menanggung nyawa mereka semua. Aku tak bisa menunjukkan wajahku jika sampai salah satu dari mereka meninggalkan keluarganya.
“Ya, semuanya baik-baik saja.” (prajurit)
“Syukurlah.” Mendengar hal itu aku menjadi sangat lega.
“Wakil komandan, tangan anda!!”
__ADS_1
Saat aku menyadarinya, tanganku ternyata terkena luka bakar akibat serangan itu. Meskipun tidak parah, tapi ini membuatku sedikit kesulitan menggunakan senapan sihir ini.
Beberapa menit kemudian.
“Sudah, ini hanyalah pertolongan pertama. Sebaiknya anda tidak usah memaksakan diri.”
“Ya, ini cum masalah kecik, segini saja tidak akan jadi masalah. Tapi terimakasih.” Tanganku dibalut oleh perban yang diberikan obat pereda rasa sakit.
“Wakil komandan, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” (Dirk)
“Sepertinya mereka berniat untuk menyerang balik.”
“Sepertinya begitu.”
“Kalau begitu, suruh para ketua regu untuk berkumpul. Kita akan mengadakan rapat dadakan.”
“Baik.”
Cukup lama setelah itu.
Semua para ketua regu sudah berkumpul.
“Seperti yang kita tau, kemarin mereka mencoba untuk melawan balik dengan berpura-pura sebagai rekan. Ya, meskipun mereka cuma menggunakan apa yang kita gunakan sebagai tanda. Tapi, fakta tentang mereka yang mencoba menyerang balik sudah didepan mata. Kemungkinan setelah ini kitalah yang akan diserang.”
“Kalau begitu, bukankah kita harus menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melakukannya.” (Laren)
“Itu memang rencananya, tapi setelah kekalahan kita selaman. Ada beberapa prajurit yang terluka, dan juga bahan pasokan makanan kita juga sudah habis. Seharusnya saat ini kita sudah pulang jika kemarin tidak ada kejadian seperti itu.”
“Begitu.”
“Haaaa, yosh. Baiklah.”
“Wakil komandan, apa anda memiliki rencana?”
“Suruh para pasukan yang sudah tidak bisa bertarung untuk mundur, bagi yang bisa suruh mereka untuk membuat jebakan sebanyak-banyaknya seluruh hutan ini. Kali ini, akan menjadi pertarungan terakhir. Aku akan mencoba membunuh penyihir yang tersisa itu… Tapi ya, aku hanya memiliki 1 kali kesempatan saja. Jika gagal suruh seluruh pasukan untuk mundur, ini perintah.”
“Tapi.”
“Ini perintah.”
“Baik.”
Sisa peluruku hanya ada 1, dan jika aku gagal maka semuanya berakhir. Penyihir itu kuat, jika aku tak bisa membunuhnya maka dia akan membunuh seluruh pasukanku yang ada disini. ‘Aku tidak boleh gagal.’ Saat ini, aku diharuskan untuk tidak boleh gagal apapun yang terjadi karena semuanya bergantung padaku. Mereka menyerahkan nyawanya padaku, oleh karena itu aku tak boleh membiarkan mereka mati. “Semuanya, bubar.”
Sore hari.
Penyerangan kali ini dimulai sore hari, sebenarnya ini bukan penyerangan tapi sebuah pertahanan. Cukup banyak pasukan dipihak kami yang sudah tidak bisa bertarung dan terpaksa mundur, saat ini hanya ada sekitar lebih dari 400 orang saja yang bisa bertarung. “Aku harap semuanya berjalan sesuai dengan rencana.”
“Wakil komandan, apa anda yakin dengan hal itu?” (Dirk)
“Hal apa?”
“Pasukan kita sedang menang, dan saat ini sedang mendominasi medang perang. Jika sepeti itu tidak akan ada bantuan yang membantu.”
“Meskipun membantu, butuh waktu untuk datang kemari. Selain itu, aku tak ingin Iona khawatir. Oleh karena itu, selama kita bisa kembali dengan selamat itu sudah termasuk kemenangan untuk kita.”
“Begitu, saya mengerti.”
“ Mereka datang.”
Para pasukan musuh mulai bergerak, dan penyihir itu dilindungi oleh banyak sekali prajurit. “Baiklah, kita mulai rencananya. Aku dan Dravin akan memancing perhatian mereka, sedangkan kalian bisa mengalihkan perhatian pasukan yang lain.”
“Baik.”
“Baik Dravin, aku sudah membuatmu bekerja terlalu keras saat ini. Tapi tenang saja, setelah ini selesai kau bisa istirahat sepuasmu.” Aku menaiki Dravin dan mulai terbang tinggi. “Baiklah, seharusnya mereka tidak akan bis… Awas.” Serangan bola api raksasa, dan serangan itu sampai diketinggian seperti ini. “Hey hey, ternyata dia memang kuat. Tapi tidak masalah, Dravin mulai.”
Groaarrr.
Pasukan musuh terpecah belah akibat perhatiannya teralihkan oleh sisa pasukanku. “Baiklah, waktunya menemb…” Aku tertembak jatuh, oleh serangan penyihir itu. “S-sial!! Paling tidak, 1 tembakan saja.” Meskipun dalam keadaan seperti ini, 1 tembakan sangat penting.
‘Waktu jatuhku untuk sampai ketanah adalah kemungkinan kurang dari 30 detik, dengan waktu itu aku memanfaatkan sebaik mungkin.’ Aku tak tau dapat mengitung dari mana, tapi dengan begitu aku bisa tau apa yang harus aku lakukan sekarang.
Meskipun begitu. “S-sial!! AHHHHHGG!!!” Serangan bola apinya mengenai tubuhku. “S-sial!! Aku harus menengainya!!” Adrenalinku masih ada, dan aku yakin bisa mengenainya. “Target, terkunci. Tembak.”
Swuuuut.
“Target, dilumpuhka…”
------------
Saat aku membuka mata ternyata Dravin yang menolongku. “Wakil komandan!!”
Tubuhku tidak bisa digerakkan, dan semua tubuhku terasa sangat menyakitkan. “Kami akan segera mengobati anda, bertahanlah.”
Melihat mereka yang peduli padaku, aku merasa sangat senang. “Dravin, h..habisi, m..mereka…” Penyihirnya sudah dilumpuhkan, dengan begitu Dravin bisa dengan mudah membunuh semua pasukan musuh, tak ada lagi yang bisa menghalanginya.
Groaarr!!!
“Wakil komandan, bertahanlah!!!” (Grild)
“H..hey hey, a..apa-apaan wa..jah kalian i-tu. Kita m..memenangkan p..erang i..ni lo, j..agan menunjuk..an waj..ah sedih se..perti itu.”
“Wakil komandan, bertahanlah. Aku mohon!! Jika sampai terjadi sesuatu pada anda kami semua tidak tau harus menghadap komandan seperti apa.”
“I..tu mu..dah. Se..nyum, dan katakan. Kami kembali. D..engan begitu, ak..u yakin, di..a pasti akan sen..ang.”
“Tapi, yang bisa membuat komandan senang hanyalah anda. Jika anda pergi komandan akan sangat terpukul, kami mohon bertahanlah. Kami akan mencoba untuk mengobati semua luka anda.”
“T..terimakasih.” Penglihatanku mulai buram. ‘Haaa, aku ingin tidur sebentar.’ Aku perlahan mulai menutup mataku.
“Wakil komandan, wakil komandan!!! Tim medis, cepat!!”
Beberapa saat kemudian.
“M-maaf, tapi beliau sudah.”
“T-tidak mungkin.”
__ADS_1
--
‘Haaa, andai saja aku bilang jika aku mencintainya lebih awal. Aku pasti tidak akan menyesal seperti ini, tapi jika aku mengatakannya aku akan menghilang. Itu sangat lucu. Kira-kira, kemana aku akan pergi setelah ini, ya.’ Meskipun begitu, hatiku sangat sedih karena harus meninggalkan Iona. ‘Aku harap, bisa bertemu lagi denganmu. Iona.’ Meskipun mustahil, tapi aku sangat mengharapkannya.