Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
61


__ADS_3

Esok harinya.


Istana langit sudah mulai bergerak dan melanjutkan perjalanan dan dalam 2 hari kedepan istana langit sudah sampai di benua iblis.


Di perpustakaan.


“Lucy, bagaimana dengan aliansi kerajaan?”


“Ya, aku mendapatkan cukup banyak, sekitar 70 kerajaan.”


“Woow, itu banyak.”


“Itu termasuk kerajaan Victoria.”


“Kau bisa membungkam pangeran itu.”


“Hah, jangan remehkan aku. Pangeran itu memang cerdas, tapi dia tidak pintar dalam berargumen.”


“Ya, kelebihanmu memang dalam hal berdebat.”


“Mereka bersedia memberikan bantuan, tapi dengan 1 syarat.”


“Syarat? Apa itu?”


“Dia ingin ikut mengatur strategi penyerangan.”


“Haaaa, jika saja dia tau kalau aku berencana untuk mengubah ara haluan perang, aku yakin pangeran bodoh itu tidak akan melakukan hal itu.”


“Ya, aku juga pikir seperti itu. Tapi karena terdengar seru, aku membiarkannya.”


“Ria, bisa kau kembali ke Thorwn, tolong bilang pada semua ketua regu untuk mempersiapkan diri dan juga para pasukan yang mereka latih. Waktu yang kita miliki sangat terbatas sekarang, aku tak bisa mengira waktu yang dibutuhkan sampai segel yang menyegel Leiava itu hancur dan dia akan bebas.”


“Baiklah.”


“Oh ya, sampaikan juga pada seluruh kerajaan aliansi untuk bersiap-siap, pertempuran akan segera dimulai.”


“Tapi komandan, untuk lokasi pertempurannya dimana?”


“Lembah kematian.”


“Huh? Bukankah lembah itu berada di dekat perbatasan antara Elf, Iblis dan juga manusia.” (Lucy)


“Ya, aku mendapatkan informasi itu dari raja naga Homura. Karena dia adalah orang yang melihat langsung kejadian itu, jadi aku bisa mempercayainya. Lokasi Leiava di segel ada di lembah kematian. Sampaikan hal itu pada kerajaan lain, suruh mereka untuk tidak mendekat sebelum musuh muncul.”


“Baik.”


“Lalu, untukku?” (Lucy)


“Hmmm, tolong atur strategi yang memungkinkan kejadian buruk lainnya bisa terjadi.”


“Aaah, aku mengerti. Karena tidak mengetahui kekuatan sebenarnya dari Leiava kau ingin menyiapkan opsi terburuk untuk mencegah korban berjatuhan lebih banyak, begitu.”


“Ya. Bisa aku serahkan tugas itu padamu?”


“Tenang saja, lagipula aku sedang senggang hari ini dan mungkin untuk hari-hari setelahnya. Aku akan melakukannya, jadi serahkan saja padaku.”


“Ya, terimakasih.”


“Lalu, Ari, bagaimana denganku?”


“Masih sesuai dengan rencana, jika kau ingin ikut denganku ke kerajaan iblis aku tidak akan menghentikanmu, tapi aku akan lebih senang jika kau tetap berada disini.”


“Aku akan ikut.”


“Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu.”


“Kau tidak akan memberiku obat tidur atau apapun agar aku tidak ikut denganmu’kan?”


“Tenang saja, aku tidak akan melakukan itu sekarang. Jadi tenang saja.”


“Kalau begitu aku pegang kata-katamu, jika kau tidak membawaku aku akan membencimu.”


“Iya iya. Oh ya, Marie, Paul, dan juga Naila sudah pulang, ya?”


“Iya, mereka bilang kalau mereka ingin pulang, jika terjadi sesuatu dia bilang akan langsung datang kemari.”


“Begitu, ya. Sepertinya tempat ini akan sepi, dan disini hanya akan ada kita ber-3.”


“Aku akan ikut dengan Ria, mengerjakannya disini memang menyenangkan tapi aku tak bisa membiarkannya sendirian.” (Lucy)


“Begitu, jadi hanya ada kita berdua disini, ya.”


“Lagipula istana langit ini adalah milik kalian berdua, jadi selamat menikmati hari kalian berdua selama beberapa hari.”


“Ya.”


Sore hari.


Perpustkaan.


“Haaaa, tempat ini sepi.” Aku sedang membaca buku disini bersama dengan Iona, dan entah kenapa tempat ini sudah terasa begitu sepi sekarang.


“Ari, ada apa kau terlihat sedih.”


“Haaaa, aku memang menyukai keheningan, tapi entah kenapa sekarang aku membencinya.”


“Kau selalu bersama dengan orang lain, berbincang-bincang, dan juga berdiskusi. Aku bisa mengerti alasanmu, tapi mereka pasti akan segera kembali dan tempat ini akan kembali ramai lagi.”


“Kau benar, mungkin hanya tinggal menunggu waktu saja sampai tempat ini bisa terasa hidup kembali.”


“Iya, itu benar.”


2 hari berlalu, dan hari ini adalah waktunya.


Istana raja iblis sudah terlihat dari atas sini.


“Iona, apa kau sudah siap?”


“Huuu, haaaa, aku sudah siap.”


“Kalau begitu…” Aku mulai menggendongnya.


“Tunggu.”


“Huh? Ada apa?”


“Aku ingin digendong layaknya seorang tuan putri, seperti yang ada di cerita cerita itu.”


“Hmmm, kau’kan memang seorang putri.”


“Mooo, ayolah.”


“Haaa, iya baiklah.” Aku menurutinya. Aku menggendongnya sesuai dengan keinginannya. “Ini akan lebih menyeramkan dari biasanya, jadi persiapkan dirimu. Jika kau takut kau bisa menutup matamu.”


“Lebih menyeramkan?”


Tanpa pikir panjang aku langsung melompat.


Setelah itu.


Aku mendarat, untuk pertama kalinya aku berhasil mendarat ditempat yang tepat.


“Manusia!!”


“B-bukan, mereka monster!!!”


Para iblis yang melihat kami berlarian.


“Ari, kau mengerti apa yang mereka katakan?”


“Ya, apa kau tidak?”


“Tidak sama sekali.”


“Hmmm, sepertinya kemampuan menerjemah yang ada diperpustakaan memang berguna.” Aku menurunkan Iona.


“K-kalian, berhenti apa yang kalian inginkan!!!”


Para prajurit iblis datang mereka menodongkan senjata mereka pada kami.


“Antarkan aku pada raja kalian, aku ingin bicara dengannya. Jika tidak, mungkin aku bisa meluluhlantahkan kerajaan ini.”


“Kau sudah datang.” (???)


Seseorang datang kemari, dia memiliki kekuatan yang hebat. “Paduka raja. Apa yang anda lakukan disini?!”


“Jadi kau, ya.” Raja iblis langsung datang padaku. “Jika seperti ini pembicaraan ini bisa dilakukan dengan cepat.”


“Kau mengerti bahasa kami, itu akan lebih mudah. Bicara disini tidak baik, mari ikut kedalam istanaku.”


“Paduka, apa anda yakin mengajak monster ini bersama dengan anda?!”


“Jangan khawatir, dia kesini bukan untuk memulai perang.”


Cukup lama setelah itu.


Di istana raja iblis.

__ADS_1


“Tempatnya besar.”


“Terimakasih atas pujianmu nona.”


“K-kau juga bisa bahasa manusia?”


“Tentu saja, aku ini raja iblis jangan meremehkan pengetahuan raja iblis. Tapi, aku juga terkejut dengan orang yang berdiri disampingmu itu, memiliki kekuatan yang hebat dan juga jenius.”


“Kau mengetahuinya?”


“Jika aku tidak mengetahuinya aku tidak akan datang menjemputmu secara langsung.”


Raja iblis ini memang ramah, seperti yang diceritakan oleh kakek pahlawan.


“Raja iblis yang ramah.”


“Aku terima pujianmu itu nona.”


Setelah itu, kami sampai di ruang tamu.


“Kalian bisa duduk dulu.”


“Tunggu, kenapa kau bisa tau kalau kami akan datang kemari?”


“Wah, nona tenang dulu aku akan menjawab pertanyaanmu nanti. Tunggu sebentar, aku akan mengambil cemilan dulu.” Raja iblis pergi.


“Ari, bukankah ini aneh. Dia menyambut kita, meskipun tau kita adalah musuh.”


“Hmmm, kau bilang tadi kalau dia ramah.”


“Y-ya, aku memang bilang seperti itu, tapi…”


“Maaf membuat kalian menunggu, aku membawakan cemilan untuk kalian dan juga teh hangat.” Ia menaruhnya di atas meja dan kemudian duduk. “Tenang, jangan panik seperti itu aku tidak menaruh racun dimanakanan atau teh itu.”


“Aku tak bisa mempercayaimu.”


“Jika seperti itu tidak masalah.”


“Raja iblis.”


“Panggil saja aku Utarus.”


“Begitu, kalau begitu kau bisa memanggilku…”


“Ari, dan juga Iona, benar’kan.”


Dia mengetahui nama kami. “D-darimana kau tau? Ini pertama kalinya kami datang kemari.” (Iona)


“Ahhh, pahlawan tua itu yang menjelaskannya. Cepat atau lambat akan ada sepasang manusia yang akan datang kemari.”


“Kakek pahlawan.”


“Aku tidak bisa merasakan sihirnya, dia pasti sudah beristirahat dengan tenang.”


“Tunggu sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu yang penting.”


“Nona, silahkan tanyakan apapun.”


“Kenapa kau menyerang kerajaan manusia?”


“Untuk bertahan hidup, tujuan penyerangan ini sebenarnya bukan untuk menguasai dunia tapi melainkan untuk bertahan hidup.”


“Bertahan hidup?”


“Iona, bukankah sudah aku jelaskan padamu sebelumnya. Tanah yang ada dibenua iblis tidak sesubur tanah yang ada di benua manusia.”


“Meskipun begitu, kenapa harus melakukan perang?”


“Dulu, 500 tahun yang lalu untuk pertama kalinya ada manusia yang mengajakku berbincang. Dia memberitahuku semua hal tentang manusia, dan juga sebagai gantinya aku juga memberitahu alasanku melakukan ini. Saat aku bilang seperti itu, dia berkata kalau tindakan yang aku lakukan sudah tepat, tapi salah.”


“Tepat tapi salah?”


“Kami para iblis dimusuhi oleh semua ras, kalian seharunya sudah tau itu. Oleh karena itu kebencian bangsaku tidak dapat aku pendam dan itu yang membuat mereka semua murka. Penyerangan yang para bangsaku lakukan 500 tahun yang lalu sebenarnya adalah untuk sedikit memperluas kekuasaan untuk bangsa kami bisa hidup, tapi bangsaku malah melupakan tujuan itu dan membabibuta semuanya. Melihat hal itu, sebagai pimpinan tertinggi mereka, sebagai seorang raja iblis aku merasa sangat bersalah melihat hal itu.”


“Raja iblis merasa bersalah.”


“Kami juga memiliki perasaan, cinta, dan hal lainnya yang dimiliki oleh ras lain.”


“Itu dimasa lalu, tapi kenapa sekarang kalian memulai penyerangan lagi?”


“Tujuannya masih sama, untuk membuat bangsaku bisa bertahan hidup. Ras iblis juga butuh kesejahteraan, aku bahkan rela jika harus mengorbankan nyawaku demi melindungi dan mensejahterakan rakyatku.”


“Pengorbanan yang begitu besar.”


“Tapi, kenapa harus memulai perang? Bukankah masih ada cara lain selain memulai perang.” Dalam hal ini, Iona sudah terlalu banyak bertanya jika dia bertanya lebih banyak lagi aku khawatir yang akan dia benci adalah manusia itu sendiri.


“T-tapi…”


“Iona, apa kau tau tentang Leiava yang muncul 1000 tahu lalu.”


“Iya, kau sudah memberitahuku sebelumnya.”


“Sebenarnya, dari apa yang aku dengar dari Homura para iblis adalah ras yang membantu mengalagkan dan menyegel Leiava. Dan para manusia tidak melakukan apapun.”


“Homura, kau bertemu dengan guruku?”


“Ya, dia sudah menceritakan semuanya tentangmu dan juga rasmu.”


“I-itu…”


“Kadang kenyataan memang kejam, manusia hanya memanggil pahlawan untuk mengalahkan Leiava dan membiarkan pahlawan itu bertarung melawannya tanpa memberikan bantuan sedikitpun.”


“Tidak mungkin.”


“Ya, tapi berbeda dengan ras iblis. Mereka membantu untuk mengalahkan Leiava, meskipun tidak banyak membantu tapi perjuangan dan pengorbanan para iblis dalam menghentikan serangan Leiava untuk yang kedua kalinya adalah bukti kalau sebenarnya ras iblis itu jauh lebih baik daripada manusia.”


“B-begitu.”


“Ya, tapi itu dimasa lalu. Meskipun begitu aku tak bisa menyangkal kalau masih ada orang yang bersikap seperti itu sekarang.”


“Jadi seperti itu, ya.”


“Nona tidak perlu dipikirkan, selain itu itu sudah kejadian lama. Tidak ada gunanya mengungkit luka lama.”


“M-maafkan aku.”


“Tidak perlu minta maaf, yang salah bukan nona tapi orang-orang dizaman dulu. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan nona.”


“Meskipun begitu, aku minta maaf karena sudah berfikiran buruk tentang kalian.”


“Ya, baiklah. Oh ya, tujuan kalian berdua datang kemari?”


“Untuk membuat pengalihan perang, kami butuh persetujuanmu.”


“Jadi benar, ya. Leiava akan segera bangkit.”


“Iya, tanda-tandanya sudah mulai muncul.”


“Apa kita bisa mengalahkannya?”


“Dahulu hanya ada pahlawan pertama dan juga ras iblis yang membantu, tapi sekarang semuanya ikut berpartisipasi. Oleh karena itu, raja iblis Utarus, tarik pasukanmu dan aku harap kau bisa ikut berpartisipasi dalam pertempuran yang mempertaruhkan hidup seluruh mahluk yang ada diduni ini.”


“Mempertaruhkan hidup seluruh mahluk, ya. Kalau boleh tau, apa impianmu yang sebenarnya?”


“Impianku. Membuat dunia dimana semua orang bisa hidup tenang dan harmonis.”


Raja iblis tersenyum. “Aku menantikannya, buatlah dunia seperti itu. Dengan begitu, mungkin saja bangsaku tidak akan menderita lagi dimasa depan.”


“Jadi anda menyetujuinya?”


“Iya.”


“Kalau begitu.” Aku mengeluarkan sebuah kertas dan memintanya untuk menandatangani kertas itu, dan juga memberikan cap asli dari kerajaan ini sebagai tanda bukti.


Setelah itu, saat kami berniat untuk pergi.


“Raja iblis, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”


“Nona, apa lagi yang ingin kau ketahui?”


“Kenapa kau menyetujuinya?”


“Aku melihat sesuatu yang besar akan dilakukan olehnya, dan selain itu jika dunia ini bisa menjadi seperti apa yang dia impikan maka aku yakin bangsaku bisa hidup dengan damai dan sejahtera. Oleh karena itu, meskipun hanya ada sedikit kesempatan aku ingin memberikan dia bantuan untuk mengwjudkan impian besarnya itu. Lagipula aku juga diuntungkan jika sampai dia berhasil mengwujudkan impian gilanya itu. Apa jawaban itu sudah membuatmu puas, nona?”


“Terimakasih. Ari, ayo kembali.”


“Eh, y-ya.”


Di istana langit, ruang istirahat.


“Iona.” Dia terlihat murung setelah mendengar kenyataannya.


“Maaf Ari, bisa biarkan aku sendiri.”


“Sayangnya aku tidak bisa melakukannya. Aku tak mau melihat wajahmu seperti itu, meskipun kenyataan itu begitu menyakitkan tapi itulah yang dilakukan oleh para pendahulu para umat manusia zaman dahulu. Itu memang adalah kenyataan yang mengejutkan.” Aku memegang tangannya. “Aku tak bisa membiarkan kesedihan terlihat diwajah istriku yang cantik dan manis ini.”


“Kau mencoba untuk menggodaku?”

__ADS_1


“Tidak, aku hanya mengatakan apa yang ada dikepalaku saja. Selain itu, aku tak bisa melihatmu sedih seperti itu.”


“Kalau begitu hibur aku.”


“Hmmm, jika kau bilang seperti itu. Apa yang harus aku lakukan?”


“Kau adalah suamiku’kan, kau pasti tau hal yang akan membuatku kembali ceria.”


“Sebentar… Ahh, benar juga.” Menggunakan teleportasi, aku langsung berpindah tempat bersama dengan Iona.


“Tempat ini…”


“Tempat yang paling kau sukai.” Taman bunga yang ada di pedalaman hutan, tempat yang paling disukai oleh Iona. “Tidak ada banyak yang berubah dari tempat ini, ini terlihat sama seperti terakhir kali kita datang kemari.”


“Iya, kau benar. Tapi, disini malam, lo. Kau mengajak gadis malam-malam ke dalam hutan yang gelap seperti ini.”


“Ada cahaya bulan, jadi tidak terlalu gelap. Jika memang terlalu gelap untukmu.” Aku menggunakan sihir cahaya untuk menyinari keseluruhan area yang ada ditempat ini. “Begini bagaimana? Sudah terlihat seperti siang hari?”


“Ya, begini lebih baik. Tapi, menggunakan sihir sebanyak itu apa tidak apa-apa untukmu?”


“Tenang, ini hanya sedikit mana yang aku gunakan, tidak sebanyak saat menggunakan teleportasi.”


“Begitu.”


Cukup lama setelah itu.


“Bagaimana, apa kau sudah merasa lebih baik.”


“Iya.”


“Kalau begitu, mau kembali sekarang?”


“Kenapa terburu-buru?”


“Setelah ini aku ingin pergi ke kerajaan HalfHuman dan juga Drawf untuk melakukan beberapa urusan.”


“Boleh aku ikut?”


“Iya.”


Setelah itu.


Siang hari, di kerajaan HalfHuman.


“Wah, nak kau datang lagi.” (Reans) Saat sampai di kerajaan HalfHuman, tempat pertama yang aku kunjungi adalah kedai milik bos Reans.


Tokonya baru buka di sore hari, jadi ini waktu yang pas. “Boleh aku minta bantuan.”


“Bantuan? Bantuan apa? Katakan saja, jika memang bisa aku akan membantu.”


“Terimakasih.”


Setelah cukup lama, aku sudah menjelaskan tujuanku kemari.


“Pengalihan perang, ya.”


“Aku sudah membawa dokumen yang dibutuhkan dari raja iblis, dan juga 2 syarat dari 3 syarat yang dibutuhkan sudah terpenuhi.”


“Tunggu sebentar, darimana kau tau hal itu? Itu bukanlah hal yang bisa diketahui oleh anak muda dan lagi orang pada zaman ini. Ya, kecuali dia belajar banyak dia pasti akan mengetahuinya.”


“Ya, aku membaca tentang itu di istana langit milik pahlawan, lalu penjelasan lebih detailnya aku diberitahu oleh Homura sang raja naga.”


“Istana langit milik pahlawan, dan Homura, ternyata begitu, ya. Kau sudah bertemu dengannya.”


“Huh? Anda mengenal raja naga?”


“Ya, dia adalah temanku. Sudah lama sekali aku tak melihatnya, aku pikir dia tertidur pulas di sarangnya.”


Ini membuatku sedikit terkejut, orang sepertinya bisa berteman dengan raja naga.


Pintu kedai terbuka. “Maaf menggangu yang… ahh, ada tamu ternyata.” (Ornel) Ornel si manusia singa masuk ke kedai. “Bos, aku membawakan beberapa tong minuman pesananmu.”


“Taruh di gudang.”


“Siap.”


“Dia bekerja untukmu?”


“Tidak, dia hanya sering membantu disini, lagipula dia sering minum tanpa bayar oleh karena itu dia membantu.”


“Begitu.”


“Mengenai pengalihan perang tadi, siapa yang akan menjadi lawan pengalihan itu? Siapa yang lebih kuat dari raja iblis?”


“Leiava.”


“Leiava. Aku pikir itu hanyalah cerita yang dikarang oleh pak tua itu, tak kusangka ternyata itu memang ada.”


“Segel yang dibuat oleh pahlawan pertama sudah hampir hancur, dan kemungkinan besar Leiava bisa bebas kapanpun lalu dia akan mulai meluluhlantahkan seluruh daratan.”


“Begitu, ya. Jika seperti itu, aku akan melakukan sesuatu tentang hal itu.”


“Benarkah? Terimakasih banyak.”


“Iya, kau bisa menyerahkan tugas itu padaku. Kau bisa pergi ke ras yang lain untuk mengatakan hal ini juga.”


“Terimakasih, aku sangat terbantu.”


“Tidak masalah, jika seluruh daratan ini diluluhlantahkan maka impianmu itu tidak akan terwujud, bukan.”


“Terimakasih banyak. Kalau begitu, kami akan pergi.”


“Ya, sampai jumpa lagi nanti.”


“Bos, apa mereka sudah pergi?”


“Iya.”


“Leiava yang mereka maksud, apa jangan-jangan itu…”


“Kemungkinan besar memang itu.”


“Yang mulia, apa yang harus dilakukan setelah ini?”


“Siapkan pasukan sebanyak mungkin, perang kali ini bukan untuk melawan iblis tapi melawan musuh yang sebenarnya dari seluruh ras yang ada dimuka bumi ini. Jika sampai gagal, maka habislah sudah.”


“Baik.”


Di bangsa Drawf.


Rapat berlangsung dengan baik tanpa adanya pertentangan, ini merupakan hal yang bagus karena mereka sudah mengetahuinya musuh yang sebenarnya harus dilawan.


Istana langit.


“Ari, selanjutnya adalah ras Elf’kan.”


“Mereka tidak menerima ajakan aliansi dariku, jadi aku pikir…”


“Meskipun begitu, saat ini yang akan menjadi lawan bukan ras iblis tapi mahluk yang bisa menghancurkan dunia ini. Jika mereka tidak melawan mereka hanya akan mati sia-sia. Aku pikir melakukan sesuatu dan kalah akan lebih baik dibandingkan kalah tanpa melakukan apapun.”


Aku tersenyum mendengar Iona berkata seperti itu. “Kau benar, setidaknya berusaha dulu baru menyesal daripada harus menyesal tanpa melakukan apapun.”


“Iya. Kalau begitu, ayo berangkat. Tujuan kita, ras Elf.”


“Iya iya.” Tujuan kami adalah ras Elf, membuat mereka mau berpartisipasi dalam perang kali ini.


Di desa elf.


“Boleh.” (Ruie)


“Eh? Serius?”


“Iya, lagipula jika tidak melakukan apapun tempat ini akan hancur. Selain itu, surat pegalihan perang sudah kau dapatkan itu berarti saat ini seluruh ras yang ada dialiansimu sudah setuju kalau musuh kita kali ini bukanlah raja iblis, melainkan mahluh dari era mitologi 5000 tahun lalu itu.”


“Iya.” Penyebutan eranya berbeda, tapi maksud dari mahluknya tetap sama yaitu Leiava.


“Aku akan mengatakan pada petinggi desa yang lain, setelah itu kami akan menyiapkan sebanyak mungkin pasukan elf yangbisa bertarung untuk ikut berpartisipasi dalam pertempuran ini.”


“Ya, terimakasih banyak.”


“Ari, benar’kan apa kataku tadi.”


“Ya.”


“Jadi dia istri yang kau bicarakan waktu itu, dia memang terlihat cantik dan menawan. Kau sepertinya sangat beruntung memiliki suami hebat sepertinya.”


“Anda terlalu memuji berlebihan, tapi dia memang hebat. Aku mengaguminya, selain itu dia adalah orang yang paling berharga bagiku.”


“Aku mengerti perasaan itu.”


“Kepala desa, para iblis mundur.” (???) Salah satu elf muda datang kemari. “Apa mereka merencanakan sesuatu?”


“Tenanglah, untuk sementara waktu aku bisa menjamin mereka tidak akan menyerang tempat ini lagi.”


“Kau, manusia yang membantu kami waktu itu. Terimakasih banyak, atas bantuanmu waktu itu kami bisa selamat.”


“Ya, tidak masalah. Iona, ayo kembali.”

__ADS_1


“Baik.” Kami sudah mendapatkan persetujuan dari seluruh aliansi ras, dan sisanya hanyalah mempersiapkan rencana dengan matang.


__ADS_2