Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
11


__ADS_3

Beberapa hari setelah itu.


“Ari, apa tubuhmu sudah lebih baik?”


“Ya, setidaknya ini tidak separah yang sebelumnya. Terimakasih karena sudah merawatku selama beberapa hari terakhir ini.”


“Tidak masalah.”


“Oh ya Iona, bagaimana dengan pembuatan penawar racunnya, apa sudah selesai?”


“Sepertinya sudah selesai, lagipula semua itu ada dibawah kendali pangeran Lucy, jadi semuanya pasti berjalan dengan lancar.”


“Begitu, sepertinya dia kerepotan.”


“Dia ingin membantu meskipun sedikit, lagipula dia adalah seorang wakil komandan yang kau pilih.”


“Wakil komandan, ya.”


“Ari, ada sesuatu yang ingin aku katakan.”


“Huh? Ada apa?”


“Begini, bagiamana bilangnya, ya.”


“Katakan saja, jangan ditahan.”


“Begini, bagaimana jika kau saja yang memimpin pasukan, aku tidak begitu bisa mengurus semua hal itu. Meskipun aku dibantu olehmu dan juga teman-temanku yang lain, aku masih kesusahan untuk melakukan tugas dengan baik.”


“Aku menolaknya.”


“Eh?!! Kenapa?!!”


“Kau tidak bisa melakukannya.”


“Apa ada alasannya?”


“Prajurit yang memanggilmu komandan sekarang itu, mereka akan terus menjadi prajuritmu hingga kau menjadi seorang ratu.”


“EH? Kenapa bisa seperti itu? Aku tak pernah tau akan hal itu sebelumnya.”


“Itu karena tidak ada yang pernah kau tanyai terntang hal itu, coba saja kau bertanya pada ayahmu. Pasti dia juga akan menjawab seperti apa yang aku ucapkan barusan.”


“Jadi, aku harus terus memimpin mereka, begitu.”


“Ya, itu akan menjadi sebuah keharusan untukmu.”


“Tapi, aku tidak akan sanggup meskipun dibantu. Aku tak sanggup, aku ingin mencoba untuk fokus dengan pendidikanku.”


“Haa, kau itu… Kau bisa bersikap seperti ini didepanku karena aku sudah cukup lama kenal denganmu, tapi setidaknya berusahalah menjadi seorang pemimpin jika ada didepan mereka.”


“Kau mengenali aku? Tapi, bukannya aku yang mengenalimu lebih baik dari siapapun.”


“Hee, kau sudah bisa berkata seperti itu. Tapi ya, aku tak bisa menyangkalnya. Kau jauh lebih mengenalku dibandingkan siapapun, (bergumam) bahkan dari orang tuaku sekalipun.”


“Huh?”


“Tidak, lupakan saja. Untuk kedepannya, aku harap kau bisa membagi waktumu baik dalam hal belajar, dan juga mengurus hal mengenai kemiliteran.”


“Ehh, itu…”


“Tolong kerja samanya, komandan.”


“J-jangan memanggilku seperti itu, mendengar hal itu darimu…”


“Huh? Ada apa?”


“T-tidak, ahh benar juga, hari ini aku ada tugas yang harus segera diselesaikan. Aku akan pergi.” Iona pergi.


“Haa, kau tidak pandai dalam hal berbohong.” Aku kembali berbaring. “Aku harap setelah ini, untuk beberapa lama tidak akan terjadi masalah lagi.” Penyerangan dari kerajaan Victoria bisa diredam untuk sementara waku dan dilain sisi, kerajaan ini sudah mendapatkan bantuan dari kerajaan lain entah bagaimana cara Lucy melakukannya. Tapi setidaknya itu sudah cukup menguntungkan untuk saat ini. “Sepertinya ada hal yang lupa Iona bicarakan padaku.” Setidaknya hal itu bisa aku pastikan.


Beberapa hari berlalu.


Sore hari, sepulang dari akademi.


Aku, Iona dan juga Lucy sedang dalam perjalanan menuju ke markas khusus.


“Eh, apa aku serius masih menjadi seorang wakil?” (Lucy)


“Iya, kau adalah wakil yang dipilih oleh Ari, jadi aku pikir menjadikanmu sebagai wakil adalah hal yang benar.” (Iona)


“Lalu, apa jabatan Ari? Jika ada 2 wakil, bukannya itu akan sedikit aneh.”


“Apa yang kau bilang aneh? Jika seorang pemimpin membutuhkan beberapa orang yang bisa membantunya menyelesaikan pekerjaannya, bukankah itu tidak termasuk hal yang aneh. Lagipula menurutku, jabatan dibawah seorang pimpinan itu semua tugasnya hampir sama, yaitu mempermudah seorang pemimpin melakukan tugasnya.”


“Y-ya, seperti itu. Jadi, tidak masalah.” (Iona)


“Jika kau sendiri yang bilang, ya sudah. Dengan senang hati aku akan menerimanya.”


Dimarkas khusus.


“Ari, kau mau pergi kemana?”


“Melihat-lihat, kau kerjakan saja berkas yang disana jika ada yang tidak kau mengerti taruh saja ditempatku.”


“Baik.”


“Seorang wakil yang memerintah ketuanya.” (Lucy)


“Ada apa? Apa ada masalah dengan hal itu?”


“Tidak.”


“Kalau begitu aku pergi.”


Ditengah perjalanan, aku melihat semua prajurit yang sedang berlatih dengan giat. ‘Sepertinya mereka sudah lebih baik.’ Ini mengingatkanku dengan saat melihat cara mereka berlatih untuk yang pertama kalinya. Mereka semua sangat buruk dalam hal ini dan sekarang mereka semua sudah jauh berkembang. ‘Untuk pelatihan pasukan, sepertinya aku cukupkan sampai disini saja.’ Masih ada beberapa metode lagi yang bisa aku berikan pada mereka, tapi aku juga ingin melihat seberapa hebat mereka bisa mengembangkan metode yang sudah pernah aku berikan untuk dikembangkan lagi.


“Wakil komandan.” (Famus)


Famus datang menghampiriku. “Ada apa? Apa ada masalah?”


“Tidak, semuanya baik-baik saja.”


“Begitu. Ngomong-ngomong pelatihan disini sangat hebat.”


“Ya, ini semua berkat arahan dari komandan. Dia memberikan pelatihan pada kami dan beginilah jadinya sekarang. Tapi, sudah lama sekali tidak ada arahan latihan baru, semuanya sudah menunggu untuk melakukan pelatihan yang baru.”

__ADS_1


Dia berkata seperti itu, sepertinya mereka masih belum mengembangkan latihan yang pernah diberikan. “Ini hanyalah saranku saja, mau diterima atau tidak setidaknya dengarkan dulu.”


“Saran?”


“Ya. Jika kalian terlalu bergantung pada komandan kalian dalam hal porsi latihan, kenapa tidak kembangkan saja latihan yang selama ini sudah diberikan pada kalian.”


“Mengembangkan latihan yang sebelumnya?”


“Ya, saat ini komandan kalian sudah sangat sibuk. Ditambah lagi dengan tugas akademinya, dia mungkin tidak akan sempat untuk membuatkan latihan baru untuk kalian. Nah, disanalah kalian harus mengembangkannya.”


“Begitu, ya. Benar juga, komandan sudah sangat banyak memberikan latihan baru pada kami dan sekarang adalah giliran kami untuk mengembangkan semua yang sudah komandan berikan.”


“Nah, itu baru semangat yang bagus. Aku menantikan hasilnya.”


Cukup lama setelah itu.


Dibelakang markas khusus.


“Haa, angin sore yang menyegarkan ditambah dengan suasana yang nyaman seperti ini.” Aku sedang berbaring, menikmati matahari sore yang sedang bersinar cerah. “Hmm, apa yang ingin aku lakukan setelah ini?” Aku merasa kalau akan ada masalah yang akan muncul lagi, oleh karena itu aku ingin menyiapkannya setidaknya semua scenario yang dibutuhkan pada waktunya.


“Ari, disini kau ternyata.”


“Iona, ada apa?”


“Aku mencarimu. Apa yang kau lakukan disini?”


“Menikmati matahari sore, lalu kenapa kau mencariku? Apa ada sesuatu yang tidak kau ketahui? Jika seperti itu kau bisa meminta bantuan Lucy sebelum bertanya padaku.”


“Bukan, aku sudah menyelesaikan semuanya.”


“Menyelesaikan semuanya? Itu meragukan.”


“Benar, aku tidak bohong aku sudah menyelesaikan semua tugaku.”


“Haa, iya iya. Aku percaya. Lalu, ada apa?”


Perlahan Iona mulai berjalan mendekatiku dan duduk tepat disamping kananku. “Ari, rentangkan tanganmu.”


“Huh? Untuk apa?”


“Sudah, lakukan saja.”


“Haa, iya.” Aku menurutinya dan merentangkan kedua tanganku.


Secara tiba-tiba Iona langsung menaruh kepalanya dilenganku dan ikut berbaring disampingku. “Hehe…”


“Apa yang kau lakukan?”


“Aku ingin sekali melakukan ini.”


“Tanganku mati rasa lo, lagipula ini akan sakit untukku.”


“Begitu, maaf.”


“Haa, terserah kau saja.” Aku membiarkannya karena ia terlihat murung. “Tapi hanya sebentar.”


“Terimakasih.”


Beberapa menit kemudian.


Malam hari.


“Hoaammm…” (Iona)


“Kau sudah bangun.”


“Dimana ini?”


“Buka matamu dulu sebelum bicara, kau ada di kamarku. Aku memindahkanmu kesini saat kau tertidur tadi. Sekarang sudah malam, sebaiknya kau segera kembali.”


“Aku masih mengantuk, aku ingin tidur lagi.”


“Hey, ayolah.”


“Ari, selamat malam.”


“Haa, sudahlah.” Aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang belum sempat aku selesaikan tadi. “Iona, aku dengar kau akan melakukan tes, ya. Tes untuk projek besarmu yang sudah kau rangcang selama ini.”


“Ya, tapi aku tak yakin bisa atau tidak. Meskipun begitu, semua teman-temanku sudah berjuang sangat keras setidaknya aku berharap semua kerja keras yang kami lakukan terbayarkan.”


“Begitu. Jika saja bukan penelitian tentang sihir, aku mungkin akan membantumu.”


“Kau sangat tidak menyukai sihir, ya.”


“Sihir adalah sesuatu yang merepotkan, jika ada permasalahan yang bisa diselesaikan secara biasa aku tak perlu berfikiran tentang hal seperti itu. Sihir menurutku adalah sesuatu yang merepotkan, meskipun begitu itu bisa sangat menguntungkan.”


“Kau juga memikirkannya?”


“Tidak, ini lebih baik karena sihir hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Aku tak bisa berfikir hal apa yang akan terjadi jika semua orang diberikan kekuatan sihir.”


“Aku pikir semuanya akan setara, jika semua bisa menggunakan sihir maka itu akan sangat membantu.”


“Ya, jika pemikiran semua orang sama sepertimu itu akan sangat bagus.”


“Ari, ada apa?”


“Haa, tidak ada apa-apa. Kau tidak tidur? Kau bilang barusan kalau kau mengantuk?”


“K-kau mengajakku mengobrol, aku tidak jadi memejamkan mata. Kalau begitu aku akan tidur, selamat malam.”


“Ya.”


Suasana menjadi hening setelah itu.


“Ari, saat mengendongku tadi, apa aku berat?”


“Kau masih belum tidur. Ya, setidaknya aku masih sanggup membawamu. Jika lebih dari ini mungkin aku akan kesulitan. Apa itu sudah menjawab pertanyaanmu?” Tak ada jawaban darinya. “Dia mengigau, ya.” Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.


Esoknya.


Dipagi hari yang cerah. Di akademi.


“Ari, kenapa kau terlihat sangat mengantuk seperti itu?”


“Haa, seseorang membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam.”

__ADS_1


“Tuan putri? Dia menginap di tempatmu?”


“Apa aku perlu menjawabnya?”


“Hee, apa yang sudah kau lakukan padanya?”


“Sebelum pertanyaanmu itu semakin menjadi liar, aku akan memberitahumu kalau semua yang kau pikirkan tidak terjadi padaku.”


“Hmm, begitu.”


Beberapa menit setelah itu.


“Selamat pagi semua.”


Yang menjadi pengajar bukan Iona melainkan orang lain. “Huh? Dimana putri?” (Lucy)


“Dia belum memberitahumu?”


“Huh? Memberi tahu apa?”


“Baiklah, perkenalkan aku adalah Lyris. Hari ini dan mungkin selama beberapa hari kedepan aku akan menggantikan putri Iona mengajar dikelas, karena dia memiliki urusan penting. Oleh karena itu semuanya, mohon kerja samanya.” (Lyris)


“Urusan penting?”


“Dia berencana untuk menyelesaikan projek besarnya, mungkin karena waktunya juga sudah hampir habis dia putuskan untuk segera menyelesaikannya.”


“Sebuah projek? Hmm, sepertinya itu sesuatu yang bagus.”


“Benar juga. Kau’kan seorang pangeran jenius, bantulah Iona untuk menyelesaikan pekerjaannya itu.”


“Eh, lalu bagaimana dengan tugas militer?”


“Biar aku yang mengurusnya.”


“Kalau begitu dengan senang hati, selama aku bisa membantu aku akan melakukannya dengan senang hati.”


“Ya.” Pengetahuan Lucy tentang sihir pasti lebih hebat atau bahkan lebih baik dariku, oleh karena itu menyuruhnya untuk melakukan hal semacam ini adalah pilihan yang bagus.


Sore hari.


Di markas khusus.


“Hmm, berkas ini sudah selesai. Lysia, bisa tolong taruh berkas ini ke meja pangeran Lucy.”


“Baik.”


“Oh ya, katakan juga pada Sofia, Rine, dan juga Ria untuk segera membawakan berkas yang belum selesai dikerjakan kemari.”


“Semuanya?”


“Ya.”


“Tapi, apa anda sanggup. Ada banyak sekali berkas yang belum selesai.”


“Tenang saja, aku akan menyelesaikannya. Bawakan saja semuanya padaku.”


“Baik.”


Beberapa menit setelah itu.


“Ini adalah semua berkasnya.”


“Sampai menumpuk seperti sebuah gunung seperti ini.” Semuanya sangat banyak, berkasnya melebihi apa yang aku bayangkan. “Terimakasih, kalian bisa pulang. Aku yang akan melakukan sisanya.”


“Baik.” Mereka ber 4 pergi dan aku mulai mengerjakan semua berkas yang ada.


Beberapa saat setelah itu.


Sfx : ketukan pintu.


“Masuklah.”


“Wakil komandan.” (Laren)


“Ada apa?”


“Maaf, tapi ada beberapa pasukan yang ingin libur dari kegiatan militer. Saya harus meminta izin dari komandan tentang hal ini terlebih dahulu.”


“Hmmm, begitu. Kalau boleh tau, jatah libur dari militer yang disiapkan oleh putri berapa lama?”


“4 minggu dalam setengah tahun.”


“Huh? Hanya 4 minggu?”


“Iya, itu adalah libur yang kami dapatkan dari komandan.”


“Hmm…” Aku kembali mengingat, saat aku berada ditubuh Iona aku cukup mengabaikan tempat ini jadi para pasukan bebas ingin berada disini atau tidak karena akupun tidak begitu memperhatikan mereka. Tapi sekarang, tempat ini sudah menjadi markas terutama saat Iona kembali ketubuhnya, jadi hal seperti itu mungkin saja terjadi. “Silahkan saja, jika ada yang ingin mendapatkan libur tambahan katakan saja. Dan jika ada yang melarang katakan kalau aku yang menyuruhnya.”


“Tapi, hal ini butuh persetujuan dari komandan langsung.”


“Tidak masalah, lagipula komandan kalian tidak akan menentangku. Ya, sedikit menenangkan pikiran juga diperlukan.”


“Baiklah kalau seperti itu, terimakasih.”


“Oh ya, sebelum kembali ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”


“Wakil komandan, ada apa?”


“Seberapa banyak prajurit yang sudah berkeluarga disini?”


“Komandan, apa ada masalah dengan hal itu?”


“Tidak, aku hanya ingin tau saja.”


“Begitu. Kebanyakan pasukan yang ada disini adalah petualang ataupun mantan pasukan kerajaan, jadi yang berkeluarga tidak banyak. Mungkin hanya seperempat dari semua jumlah pasukan.”


“Hmm, begitu. Kau boleh pergi.”


“Baik.” Laren pergi.


“Seperempat, ya.” Jumlah yang cukup banyak. Jumlah pasukan ditempat ini sudah lebih dari 1000 orang, tapi yang aktif bertugas hanya para ketua regu dan 10 prajurit yang dibawah latihan para ketua regu saja, untuk sisanya hanya bertugas saat ada serangan ataupun hal lain yang membutuhkan kekuatan lebih. “Meskipun begitu, seperempat itu cukup banyak.”


Hal ini sedikit membuatku kebingungan. “Jika sampai ada korban yang jatuh dipihak ini, dan jika itu adalah prajurit yang berkeluarga apa yang akan terjadi pada keluarga yang ditinggalkan.” Hal seperti itu menjadi sebuah pertanyaan bagiku. Rencanaku memang cukup baik, dan akupun juga selalu membuat rencana yang bisa diantisipasi dengan baik, meskipun begitu mengingat kecerobohanku waktu itu dapat membawaku kedalam hal menyakitkan seperti itu, aku menjadi sedikit khawatir jika sampai salah langkah. “Ini sedikit membuatku sakit kepala.” Aku ingin memikirkannya, tapi bukan untuk hari ini.


Aku kembali mengerjakan dokumen yang ada disini, dan itu berlangsung selama semalaman sampai aku menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2