
Beberapa tahun berlalu.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran kerajaan, dan di pagi hari yang sangat cerah.
“Awww…”
“Papa, apa papa tidak apa-apa?”
“Ahhh, tidak masalah. Hanya luka kecil.” Jariku tertusuk oleh jarum saat sedang memperbaiki sebuah boneka.
“Papa, tanganmu.”
“Huh?”
Beberapa saat kemudian.
“Kau menjilatinya.” Dia menjilat lukaku, meskipun begitu lukanya sembuh tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
“Hmm, rasanya manis.”
“Eh? Manis?”
“Darah papa rasanya manis, sama seperti mama. Tapi saat aku mencoba pada kakak rasanya berbeda.”
“Ahhh, begitu.”
Putriku, Laura 9 tahun. Aku tak begitu ingat kejadiannya, tapi 9 tahun yang lalu, aku mengalahkan mahluk legendaris bernama Leiava dan karena hal itu ingatanku menghilang. Aku melakukan beberapa terapi untuk memulihkan ingatanku dan hasilnya seperti sekarang, ingatanku perlahan mulai pulih tapi masih ada beberapa hal yang belum aku ingat.
Lalu, untuk kehidupanku saat ini bisa dibilang cukup bahagia dan tenang, hidup dengan istri dan juga 2 anak kembarku, selain itu terkadang ada juga orang yang datang kemari hanya untuk berkunjung.
“Aku pulang.”
“Mama!!”
“Ahhh, Laura bagaimana? Apa bonekanya sudah selesai diperbaiki?”
“Iya, papa yang memperbaikinya.”
“Wah, syukurlah. Oh ya, mama ada tamu untukmu.”
“Tamu?”
Seseorang masuk dan itu adalah ayah mertuaku. “Ahhhh, cucu kesayanganku!!”
“K-kakek, ya. Huh? Dimana nenek?”
“Dia ada dikereta.”
“Aku mau menemui nenek.”
“Kalau kakek?”
“Tidak.”
“Ahhh…” Laura pergi menuju ke kereta kuda.
“Hahaha, seperti biasa ayah. Laura sepertinya sedikit tidak peduli padamu.”
“Ari, ya. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sudah lebih baik.”
“Lalu, dengan ingatanmu?”
“Ya, meskipun cukup sulit tapi aku sudah bisa mengingat sebagian besar apa yang sebenarnya terjadi padaku.”
“Begitu, syukurlah. Oh ya, dimana Ren?”
“Dia ada di belakang.”
“Berlatih sihir?”
“Iya, dia bilang ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia seperti pahlawan itu.”
“Pahlawan itu?”
“Ayah, bukankah aku sudah sering memberitahunya. Pahlawan itu, yang mengalahkan Leiava.” (Iona)
“Ahhh, begitu. Jadi sampai sekarang kau masih menyembunyikannya, ya.”
“Tidak ada untungnya anak-anakku mengetahuinya, jika mereka mengetahuinya mereka mungkin akan bersikap sombong atau mungkin mereka tidak akan percaya dengan hal itu.”
“Hmmm, begitu. Itu terserah padamu.”
“Lalu, ayah. Ada apa datang jauh-jauh kemari?... Ahhh, Iona, bisa siapkan minuman dan cemilan.”
“Baik, kalau begitu tunggu sebentar.” Iona pergi.
“Lalu?”
“Kau tau, kalau aku sekarang sudah tidak muda lagi.”
“Hmmm, jadi sudah waktunya, ya.”
“Aku tidak akan memaksa, hanya saja jika terlalu lama aku yakin aku tidak akan bisa menunggu.”
“Haaaa, begitu. Sejujurnya aku ingin Ren berusia 18 tahun dulu, aku ingin melihat perkembangannya. Tapi, jika memang seperti itu, ayah aku punya permintaan kecil untukmu.”
“Apa?”
“Ren dan Laura, beberapa bulan lagi usianya akan mencapai 12 tahun. Aku ingin mereka mendapatkan pendidikan. Setidaknya aku tak ingin masa muda mereka terbuang percuma.”
“Baiklah, lagipula pendidikan itu penting untuk mereka berdua.”
“Terimakasih banyak.”
“Lalu, persyaratanmu yang dulu apa masih ingin kau lanjutkan?”
“Persyaratan?” Aku sempat kebingungan dengan pertanyaan itu, tapi aku menyadarinya. “Ya, syarat itu masih berlaku. Aku sangat membenci pernikahan politik, jadi aku mohon jangan libatkan anak-anakku dalam hal itu.”
“Seperti biasa kau selalu egois, tapi jika itu adalah hal yang kau inginkan. Lakukanlah sesukamu.”
“Terimakasih.”
“Maaf lama, apa yang kalian bicarakan?”
“Bukan apa-apa… Hmmm, seperti biasa cemilan buatanmu enak.”
“Terimakasih.”
“Ayah, apa mau aku panggilan Ren?”
“Tidak perlu, jika dia berlatih aku tak ingin menggangunya.”
“Begitu.”
Cukup lama setelah itu.
“Haaaa, bagaimana kehidupan kalian disini?”
“Ya, seperti yang ayah lihat. Tidak ada yang istimewa, semuanya masih sama saja seperti dulu.”
“Begitu.”
“Kakek!!” (Ren)
“Ren.” Ia berlari dan langsung memeluk kakeknya.
“Kenapa tidak bilang kalau mau datang kemari.”
“Ya, masalah pekerjaan. Karena sudah selesai jadi kakek bisa datang kemari.”
“Begitu, jadi apa kakek akan menginap? Makan malam hari ini adalah makanan spesial, lo.”
“Wah, benarkah. Terimakasih, tapi sebelum matahari terbenam nanti kakek harus segera kembali.”
“Begitu, ya.” Mengetahui hal itu wajahnya menjadi sedikit murung.
“Iya, maaf.”
“T-tidak perlu minta maaf, jika tidak bisa mau bagaimana lagi.”
Laura tidak menyukai kakeknya tapi dia sangat menyanyangi neneknya, dan sebaliknya Ren tidak menyukai neneknya dan sangat menyanyangi kakeknya. Mereka berdua kembar, tapi memiliki sifat yang berbeda. Si adik menyukai hal yang indah, dan kakaknya menyukai hal yang disebut dengan kekuatan. Sangat berbanding terbalik.
“Oh ya Ren, bagaimana latihanmu?”
“Tidak berjalan lancar, ibu bilang aku memiliki kekuatan untuk mengguanakan sihir tapi sampai sekarang aku tidak bisa menggunakannya. Padahal aku sudah mengikuti apa yang ada dibuku.”
“Menggunakan sihir itu tidak semudah membalik telapak tangan, lo. Kau harus ingat itu.”
“Iya, aku tau. Haaaa, Laura enak, ya. Bisa menggunakan sihir, padahal kita kembar tapi kenapa hanya dia yang bisa menggunakan sihir.”
“Dia melakukan banyak latihan, seharusnya kau mencontohnya.” (Iona)
“Haaa, baik-baik.” Ren pergi.
“Lihat sikap buruknya itu, sangat mirip denganmu.”
“Uhuk… Y-ya, mau bagaimana lagi. Dia anakku, paling tidak dia akan mewarisi 1 atau 2 sifat burukku.”
“Haaa, Iona, bagaimana menurutmu?”
“Ya, sikapnya sangat mirip dengan ayahnya itu adalah hal yang mutlak.”
“Iya iya, aku mengerti.”
“Ari, kau mau pergi kemana?”
“Istana langit, ada sesuatu yang ingin aku lakukan.”
“Begitu, ingin menyelesaikan pekerjaanmu?”
“Ya, seperti itulah.” Tepat saat aku ingin pergi
“Papa, aku mau ikut!!”
“Eh, L-Laura…”
“Aku mau ikut, aku mau ikut.” Dia memegangi dan menarik-narik tanganku.
“Haaaa, papa tidak akan lama.”
“Aku ingin ikut.”
“Hmmm… Bagaimana ini.”
“Kenapa, ajak saja dia. Apa ada masalah?” (Ibu)
“Haaa, baiklah.”
“Asyik. Akhirnya, aku akan diajak ke istana langit.”
Jika diingat-ingat, ini adalah pertama kalinya Laura pergi ke istana langit, ya. “Laura, pegangan.”
“Ya.” Dia memegang tanganku.
“Semuanya, aku berangkat.”
“Ya.”
Beberapa saat setelah itu.
Di perpustakaan.
“Paman Lucy!! Dan Feil, ya, kenapa kalian bisa ada disini?!”
“Ya, disini adalah tempat untuk mencari pengetahuan memangnya kenapa jika aku ada disini?” (Feil)
Feil, anak dari Lucy dan juga Ria. Dia lebih tua beberapa bulan dari Laura dan Ren, demi mendapatkan persetujuan dia sampai melakukan hal itu. Sungguh nekat.
“Seperti biasa, mereka tidak bisa akur. Padahal mereka sudah cukup sering bertemu sebelumnya, aku jadi heran apa yang membuat mereka tidak bisa akur.”
“Entahlah, mungkin pemikiran atau pertikaian anak-anak.”
“Lalu, apa yang kau lakukan?Tidak biasanya kau datang kemari, dan lagi sambil membawa Laura.”
“Dia memaksaku untuk ikut, dan mertuaku menyuruhku. Mau bagaimana lagi.”
“Hmmm, begitu.”
“Oh ya, Lucy, bagaimana? Apa sudah dapat?”
“Ya, sepertinya ada beberapa jejak yang mencurigakan tapi masih terus diselidiki. Hanya tinggal menunggu waktunya sampai semuanya menjadi jelas.”
“Ehhh, jangan ambil aku mau membaca yang itu.” (Laura)
“Aku yang duluan membacanya.” (Feil)
“Aku duluan.”
__ADS_1
“Uhh, mereka berdua mulai ribut.”
“Ara, kalian berdua. Jika ingin ribut jangan disini, pergi dan cari tempat lain.” (Ria) Ria menunjukkan wajah marahnya pada mereka berdua.
“M-maafkan kami.” Tapi kerena itu mereka berdua akhirnya bisa tenang.
“Haaa, dasar mereka berdua selalu saja membuat keributan saat bertemu. Wakil komandan, kau datang apa ada masalah?”
“Ya, aku hanya ingin disini sebentar. Selain itu, aku tak menyangka kau bisa jadi wanita yang menawan seperti ini.”
“Ahhh, terimakasih.”
“Hey, apa yang kau lakukan. Memuji istri orang didepan suaminya langsung.”
“Haaaa, iya iya. Ria, bagaimana dengan keadaan markas?”
“Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan. Jika ada perintah, mereka semua siap untuk langsung bergerak.”
“Begitu. Bagaimana dengan yang lain, apa mereka memberikan informasi?”
“Untuk sekarang sepertinya tidak ada, semuanya masih aman terkendali.” (Lucy)
“Seperti itu.”
Musuh yang dihadapi disini adalah monster, sisa-sisa dari kekuatan Leiava. Monster itu membuat kekacauan, meskipun 5 ras terkuat sudah bersatu tapi tidak ada keamanan didunia ini. Sisa monster dari Leiava masih berkeliaran bebas diseluruh tempat didunia ini, meskipun begitu seluruh ras sudah bisa hidup dengan berdampingan. Setidaknya impianku sudah menjadi kenyataan, membuat dunia dimana orang-orang bisa hidup dengan harmonis.
“Oh ya, ngomong-ngomong aku belum mendapatkan kabar dari raja naga sejak hari itu.”
“Raja naga, ya.”
“Apa kau tau sesuatu?”
“Sepertinya dia terlalu tua, dan lagi keinginannya sudah terpenuhi jadi aku pikir dia akan tidur untuk beberapa waktu.”
“Begitu.”
“Oh ya, beberapa hari lagi festival akan segera dilaksanakan. Bagaimana kalau kita datang, sekalian ajak anak-anakmu yang lain.”
“Festival? Papa, festival apa?”
“Ahhh, Laura tidak pernah tau, ya. Festival yang diadakan setiap tahun di lembah naga.”
“Wahhh, aku ingin melihatnya!!”
“Iya, nanti sekalian ajak ibu dan kakakmu juga.”
“Asyik.”
“Kau sudah beberapa tahun terakhir tidak kesana.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku selalu kesana setiap tahunnya.”
“Ya, aku sibuk. Sejak hari itu, aku selalu mengalami hal-hal yang buruk, dan tentang festival itu aku baru ingat beberapa bulan yang lalu.”
“Hmmm, begitu. Ya, kalau begitu kami akan menunggumu. Aku tak sabar menantikan hari itu.”
“Ya, aku juga.”
Cukup lama setelah itu, di rumah.
“Mama, aku pulang.”
“Laura, bagaimana?”
“Tempatnya sangat bagus, aku tak tau kalau ada tempat yang indah seperti itu. Selain itu taman bunganya juga sangat indah.”
“Begitu, syukurlah kalau kau menyukainya.”
“Ayah dan ibu?”
“Mereka sudah kembali, mereka bilang ada urusan mendadak jadi mau tak mau mereka harus segera pulang.”
“Begitu. Padahal jarang sekali mereka punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama cucunya.”
“Mau bagaimana lagi, tugas mereka seperti itu.”
“Ayah, darimana kau?” (Ren) Ren muncul.
“Ren, ya. Ini, ayah membawakan buku kesukaanmu.” Aku memberikannya sebuah buku yang aku ambil dari perpustakaan.
“Buku ini.”
“Bukankah ini yang kau inginkan, kau bisa belajar lebih baik dengan buku itu’kan.”
“Ayah terimakasih banyak.”
“Ya, jangan sampai hilang, ya.”
“Baik.”
Dia terlihat sangat senang dan melihat hal itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.
“Mama, beberapa hari lagi akan ada festival. Aku ingin datang.”
“Festival?”
“Kau ingat, festival di lembah naga.”
“Ahhh, festival itu. Sudah lama sekali aku tak kesana. Kalau begitu, baiklah.”
“Asyik… Aku tidak sabar menunggu seperti apa festivalnya.”
“Festivalnya sangat luar biasa, papa yakin kau akan terkejut melihatnya.”
“Sungguh, aku sangat menantikannya.”
“Oh ya, Laura. Apa kau ingin pergi kesekolah?”
“Sekolah?”
“Ya, kau bisa mendapatkan banyak teman disana dan mungkin saja kau bisa belajar hal baru.”
“Ayah, aku ingin masuk kedalam akademi militer.” (Ren) Dan lagi, dia muncul secara tiba-tiba.
“Hooo, apa kau yakin?”
“Jika berlatih sendiri aku tidak akan menjadi kuat, selain itu aku ingin menjadi orang yang hebat.”
“Haaa, iya iya. Jika itu yang kau inginkan, lakukan saja.”
“Benar’kah?”
“Baik.” Dia pergi.
“Papa, maksudnya jangan berlebihan?”
“Ahhh, lupakan itu. Itu bukan hal yang penting.”
“Begitu, mencurigakan. Kalau begitu, aku akan kembali ke kamar.”
“Sifatnya itu lebih mirip denganmu. Kenapa mereka berdua kebanyakan meniru sifat burukmu.” (Iona)
“Hahaha, aku juga tak tau. Tapi, bukankah itu adalah hal baik.”
“Hal baik?”
“Mereka akan terus mencoba dan terus mencoba, mecari cara agar impian mereka bisa tercapai. Bukankah itu yang selalu kita tanamkan pada mereka sejak mereka kecil. Mereka akan terus berusaha untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Meskipun begitu, Ruote dan Oigi, aku harap tidak akan ada hal yang akan membuatku menggunakan sihir itu lagi.”
“Ari…”
“Haaaa, ngomong-ngomong jarang sekali kita mendapatkan waktu berdua begini. Sudah lama sekali moment seperti ini tidak terjadi.”
“Kau benar, selama ini kita selalu sibuk mengurus mereka dan tugas kita, sampai melupakan hal seperti ini.”
“Ya, kau benar.”
“Ari, mau bersantai diluar?”
“Eh?”
Di luar.
“Haaaa, sudah lama sekali aku tak merasakan hal seperti ini. Tempat tidur terbaikku.” Aku tidur dipangkuan Iona.
“Kau masih saja mengatakan hal seperti itu.”
“Ya, sebenarnya aku akan malu jika anak-anak melihatku seperti ini, jadi mendapatkan waktu berharga seperti ini tidak akan aku sia-siakan.”
“Kau tidak ingin memperlihatkan sisi lainmu pada mereka?”
“Itu tidak perlu, saat ini aku sudah memiliki terlalu banyak kelemahan. Jika aku menunjukkan sikapku yang lain…”
“Begitu.”
“Selain itu, seperti ini juga tidak buruk. Semuanya berjalan dengan lancar.”
“Ari, yang kau maksud dengan kelemahan.”
“Seperti yang pernah aku katakan dulu, kau adalah kelemahan dan juga kekuatanku. Jika sampai terjadi sesuatu padamu dan aku tak bisa melindungimu, maka aku sudah kehilangan alasan untuk hidup. Lalu sekarang, kelemahanku bertambah meskipun begitu kekuatanku juga semakin bertambah. Aku tak menginginkan hal lain, selama aku bisa melindungi kalian, itu sudah cukup untukku. Aku sudah sangat bahagia dengan kehidupan yang tenang seperti ini. Meskipun ini terdengar sangat egois, tapi jika ada sesuatu yang berbahaya keselamatan kalian yang akan paling aku utamakan.”
“Bukankah memang seperti itu, sikap dari seorang suami dan juga seorang ayah. Itu bukan hal egois, tapi itu adalah sesuatu yang memang harus kau lakukan.”
“Begitu, ya.” Hembusan angin yang tenang membuat perasaanku juga ikut tenang. “Iona, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
Beberapa hari kemudian.
Sore hari, di ruang santai istana langit.
“Wahhh, naganya banyak sekali.” (Laura)
“Ahh, malam ini adalah festivalnya. Para naga ini mereka mencari pasangan.”
“Romantis sekali.”
“Ren, ada apa? Apa kau takut?”
“M-mereka semua itu naga!! Dan lagi, kenapa bisa kita ada ditempat ini?!”
“Ahhh, ayahmu ini lupa bilang.” (Lucy)
“P-paman Lucy, dan juga bibi Ria.”
“Yo, ada aku juga.” (Feil)
“Feil juga.”
“Istana langit, ya lebih tepatnya rumah ini milik orang tuamu, lo.” (Lucy)
“Eh, milik orang tuaku? Yang benar saja!!”
“Kalian benar-benar tidak menceritakan apapun pada mereka, ya.”
“Ya, aku pikir jika menceritakannya mereka akan besar kepala.”
“Menceritakan, apa?”
“Ibumu itu adalah seorang putri raja, Iona L. Thorwn.”
“Thorwn, maksud paman ibu adalah putri dari kerajaan?”
“Ya, karena menikah dengan ayahmu dia mengganti namanya menggunakan nama ayahmu Touji Iona..”
“Y-yang benar saja. Itu berarti, kakek dan nenek.”
“Mereka adalah raja dan ratu kerajaan Thorwn.”
Mendengar hal itu, Laura dan juga Ren terkejut. “Kakek dan nenek adalah raja?” (Laura)
“Iya.”
“K-kenapa papa tidak menceritakan hal ini pada kami?!”
“Y-ya, papa pikir itu hanya akan menggangu kalian jadi tidak perlu diceritakan.”
“Y-yang benar saja!!” (Ren)
“Lalu, yang menjadi ayahmu sekarang, adalah orang yang kau kagumi.”
“Orang yang aku kagumi.”
“Hey Lucy, tidak perlu bicara sampai sejauh itu.”
“Ya, karena sudah sekalian mau bagaimana lagi.”
“Orang yang kakak kagumi?”
__ADS_1
“Seorang pahlawan yang menyelamatkan dunia dari kehancuran yang diakibatkan oleh mahluk legendaris, Leiava. Touji Ari.”
“T-tidak mungkin, jika ibu putri raja aku mungkin masih percaya. Tapi ayah seorang pahlawan… Itu meragukan.”
“Ya, wajar saja jika kau meragukannya. Tapi tidak masalah, selama apa yang kau percayai itu adalah kebenaran untukmu itu tidak masalah.”
“Hey, ayahmu pernah ingin menghancurkan sebuah kerajaan, lo.”
“Jangan bahas lebih jauh lagi.”
“Papa ternyata orang yang hebat.” (Laura)
“Hahaha, papa selalu kalah dengan mamamu, dia adalah orang terkuat yang tidak bisa papa kalahkan (terutama dalam hal ranjang.)”
“Hooo, menarik.” (Lucy)
“Diam kau.”
“Papa, bisa tunjukkan berapa banyak element yang bisa papa gunakan.”
“Huh? Hmm, baiklah.” Aku menggunakannya untuk pertama kali dihadapan mereka. “Air, api, tanah, angin, logam, cahaya, kegelapan, daun, lava, petir…” Aku berbicara sambil menunjukkan sihir yang bisa aku gunakan.
“Sayang, cukup.”
“Huh? Ahh, baik.” Aku menurutinya dan berhenti.
“W-wah, papa hebat.”
“Bagaimana? Apa kau sudah percaya, Ren.” (Lucy)
“Itu menyebalkan, jika ayah bisa menggunakan sihir sebanyak itu kenapa kau tidak pernah mengajariku.”
“Pengajaran dari ayahmu sangat membosankan, ibu yakin kalau kau pasti akan bosan hanya dengan 2 hari latihan saja.”
“Ya, yang dikatakan oleh ibumu itu benar.”
“Haaaa, begitu, ya. Jika ibu sudah bilang begitu, mau bagaimana lagi.”
“Tapi, jika kau mau ayah bisa membuatkan metode latihan yang cocok untukmu.”
“Benarkah?!”
“Iya.”
“Asyik, terimakasih.”
“Bocah, apa aku menggangu?” (???)
“Ahhh, bagaimana caranya kau masuk kemari?” Homura datang kemari.
“Aku yang membuat tempat ini, jadi wajar saja aku tau.”
“Hmmm, begitu ya.”
“Papa, siapa dia? Kekuatannya sangat besar.”
“Hahaha, ini pertama kalinya kita bertemu, ya. Kau memiliki anak-anak yang sangat menarik, nona apa kau mau memelihara naga?”
“Naga?” (Laura)
“Iya.” Ia mengeluarkan sebuah telur naga. “Apa kau mau?”
“Papa, apa boleh?”
“Tanyakan saja pada mamamu.”
“Mama, apa boleh?”
“Kau bisa merawatnya?”
“Kalau itu… Aku akan berusaha.”
“Begitu, raja naga terimakasih atas tawarannya.”
“Hahaha, kalau begitu jaga dia dengan baik, ya.” Dia memberikan telur itu pada Laura.
“Asyik, aku akhirnya punya peliharaan.”
“Peliharaan, ya. Kalau bisa, anggap dia sebagai rekanmu.”
“Rekan?”
“Maksudnya teman, jika dalam kesulitan dia akan membantumu. Jika kau memiliki masalah kau bisa menceritakan semua masalahmu padanya, seperti itu.”
“Begitu, ya. Teman.”
“Lalu, apa kau juga mau?” Homura menatap kearah Ren.
“Tidak, terimakasih. Aku tak membutuhkannya, hanya orang lemah yang membutuhkan bantuan.”
“Oh ya, ngomong-ngomong ayahmu juga punya naga. Apa kau tidak tau?”
“A-apa, ayah juga punya.”
“Ahhh, Dravin. Dia tidur di gua, karena tidak ada kejadian yang berbahaya selama beberapa tahun ini jadi aku tidak ingin menggangu tidurnya.”
“K-kalau begitu aku juga mau.”
“Hooo, cepat sekali berubah pikiran. Tapi, baiklah.” Dia memberikan Ren telur naga. “Lalu, apa kau juga mau? Feil.”
“Tidak terimakasih.” (Feil)
“Begitu, apa kau yakin?”
“Iya, lagipula aku tak membutuhkannya. Jika aku tak bisa merawatnya aku hanya akan membuatnya menderita, jadi lebih baik tidak usah.”
“Pilihan yang bijak.”
“Lalu, raja naga. Apa yang kau lakukan disini?”
“Eh, dia raja naga?” (Ren)
“Iya, Homura, sang raja naga.”
“K-kenapa ada banyak orang luar biasa disini. Ayah, ibu, dan lagi raja naga.”
“Hahaha, ayahmu lebih hebat. Dia adalah pemimpin 5 ras besar.”
“Hey, aku sudah bilang untuk tidak mengungkitnya dihadapan anak-anak.”
“Pemimpin 5 ras besar.”
“Ya, ras naga, elf, drawf, halfhuman dan juga iblis. Ayahmu memimpin mereka semua.”
“Ayah, a-apa itu benar?”
“Tidak perlu kau pikirkan, saat ini aku adalah ayahmu yang payah dalam segala hal.”
“I-itu…”
“Haaaa, terlalu banyak rahasia yang diungkap disini. Aku sampai bingung harus berkata apa, aku ingin ke perpustakaan dulu. Kita akan bertemu disini lagi saat matahari terbenam.” Aku pergi.
“Ibu, apa ayah itu… Seperti yang dikatakan oleh raja naga?”
“Hmmm, bagaimana menurutmu?”
“Dia adalah ayah yang payah dalam segala hal, tapi juga pengertian terdapat keinginan anak-anaknya.”
“Jika kau berfikir seperti itu, tetaplah berfikir seperti itu. Dia adalah ayahmu, jangan menganggapnya sebagai seorang pahlawan atau apapun, dia hanyalah ayah payahmu. Dengan begitu dia bisa menjadi seorang ayah yang baik untukmu dan juga adikmu.”
“Begitu, ya. Tapi, apa yang dikatakan oleh paman dan juga raja naga benar…”
“Panggil saja aku paman Homura, lagipula raja naga sedikit tidak nyaman untukku.”
“Paman Homura.”
“Nah, seperti itu lebih baik. Jika kau ingin mengetahui kebenarannya, kau harus bertanya pada ayahmu sendiri. Siapa dia sebenarnya dan seberapa kuat sebenarnya dia, lalu kenapa dia memilih untuk menjadi seperti sekarang. Kau akan mendapatkan jawabannya jika kau bertanya padanya.”
“Kalau begitu… Ibu, tolong pegang ini.”
“Ahhh, hati hati dijalan. Ayahmu ada dilantai atas, kau akan menemukannya disana.” Ren pergi.
“Anak-anak diusianya memang sangat bersemangat. Aku jadi ingat saat muda dulu.” (Homura)
Beberapa menit kemudian.
“Hmmm, sepertinya ini cukup sulit. Selain itu, kenapa pemasukan kerajaan bisa jadi seperti ini. Haaa, sepertinya ada seseorang yang suah melakukan korupsi.”
“Ayah.”
“Huh? Ren, ada apa?”
“Ha ha ha… A-aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Hmmm, duduk dan tenangkan dirimu dulu. Setelah itu baru bicara.”
“B-baik.”
Beberapa saat kemudian.
“Minum ini.” Aku membawakannya minuman. “Haaaa, sore yang tenang seperti ini memang sangat pas untuk bersantai.”
“Ayah, aku ingin bertanya. Jika ayah adalah seorang pahlawan, kenapa ayah menyembunyikan hal itu dari kami, dan yang paling penting kenapa ayah membuang semua itu?”
Aku tak tau apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya aku harus menjawabnya. “Ayahmu ini hanya ingin kau tidak tau tentang hal itu, menganggap ayahmu sebagai seorang ayah biasa akan lebih menyenangkan. Lalu, alasan ayahmu ini membuang semua ini, karena aku sudah lelah dengan semua itu.”
“Lelah?”
“Kau tau, hidup dalam kesibukan yang tidak pernah aku lakukan. Itu sangat melelahkan, ayahmu ini hanya ingin melakukan apa yang ingin dia lakukan. Prisipku, selesaikan masalah yang kau buat sendiri jangan melimpahkannya pada orang lain, seperti itu mudahnya. Dan kau adalah putraku.” Aku mengelus kepalanya. “Menjagamu adalah kewajibanku, dan itu lebih penting dari apapun. Kau, adikmu dan juga ibumu, kalian semua adalah orang yang paling berharga untukku jadi membuang semua itu demi menghabiskan waktu bersama dengan kalian semua adalah hal yang aku inginkan. Sebagai seorang suami dan juga ayah. Aku tak tau kau akan mengerti atau tidak, tapi suatu hari nanti kau pasti akan mengerti, semoga kau bisa mendapatkan sesuatu yang berharga bagimu melebihi apapun.”
“Sesuatu yang berharga bagiku.”
“Ya, aku yakin kau pasti akan menemukannya, cepat atau lambat. Sesuatu yang akan membuat hidupmu berubah, sesuatu yang akan membuatmu akan lebih mengutamakan nya lebih dari apapun.”
“Begitu, aku tak begitu mengerti.”
“Itu tidak masalah, semuanya baru akan berlanjut. Kehidupanmu yang sebenarnya akan segera dimulai, nikmati kehidupanmu itu layaknya anak-anak pada umumnya. Seiring dengan berjalannya waktu kau juga akan mengerti apa yang ayahmu ini katakan, untuk sekarang.” Aku menyentuh kepalanya.
“Ayah, apa yang kau… A-apa ini?!”
“Kau merasakannya, itu adalah mana milikmu. Laura mewarisi mana milik ibumu sedangkan kau, mewarisi mana milikku. Jumlah mana yang terlalu besar akan sangat berbahaya bagi tubuhmu, oleh karena itu selama ini aku menekannya.”
“Jadi itu sebabnya aku tak bisa menggunakan sihir sebaik adikku.”
“Ya, jika kau bisa membuktikan kalau kau layak menggunakan kekuatan yang sama seperti ayahmu maka aku akan melepaskannya. Oleh karena itu, berlatihlah.”
“Baik.” Matanya dipenuhi oleh sebuah harapan yang aku berikan. Dia terlihat sangat senang dan bersemangat.
“Dan jangan berlebihan, itu hanya akan berdampak buruk pada tubuhmu.”
“Baik, aku mengerti.”
Mengerti atau tidak aku tak tau, tapi aku sudah memulainya. Kehidupan untuk anak-anakku.
Lalu, malam harinya.
Kami semua berbelanja di festival yang ada di lembah naga dan menikmati semua yang ada disini bukan hanya naga tapi juga berbagai ras, semuanya terlihat sangat bahagia. Moment seperti ini adalah moment yang paling berharga.
“Sayang, ada apa?”
“T-tidak ada apa-apa. Aku hanya berfikir kalau hal seperti ini sangat berharga, semua orang yang ada disini sangat bahagia.”
“Impianmu akhirnya terwujud, ya. Dunia dimana semua orang bisa hidup dengan harmonis.”
“Ya.”
Lalu, bagian akhir.
Di halaman istana langit.
Aku dan juga yang lainnya berkumpul disini, duduk sembari menyaksikan kembang api yang perlahan mulai menghiasi gelapnya langit malam.
“Pemandangan ini masih sama saat pertama kali kita datang kemari, benar’kan.”
“Ya, tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama.” Aku menatap kearah Laura dan juga Ren, mereka berdua terlihat begitu terpukau dengan apa yang baru pertama kali mereka saksikan ini.
“Aku rasa anak-anak juga menyukainya.”
“Senang sekali rasanya bisa melihat mereka bahagia seperti itu. Iona, apa aku sudah jadi seorang ayah yang baik?” Aku selalu memikirkannya, aku tak pernah tau caranya menjadi seorang ayah, ayahku di dunia itu tidak pernah memperlakukanku sebagai seorang anak oleh karena itu aku selalu gelisah tentang hal ini.
Kiss.
Dia mencium ku. “Kau lucu. Kau itu sudah menjadi seorang ayah yang sangat luar biasa, aku pikir kau adalah seorang ayah yang terbaik. Bisa mengerti apa yang diinginkan oleh anak-anakmu dan juga membiarkan mereka memilih apa yang mereka inginkan. Jika itu orang lain, mereka pasti akan membiarkan anaknya memilih apa yang diinginkan oleh orang tuanya, tapi kau berbeda. Kau adalah ayah yang sangat baik dan sangat perhatian.”
“Begitu, ya.” Aku memandangi petasan yang dilepaskan ke langit. “Haaaa, sepertinya sampai disini saja, ya.”
“Sayang, apa kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak, bukan apa-apa.”
__ADS_1
Ya, ini bukanlah akhir, tapi ini adalah kisah baru yang akan segera dimulai.
End…