
Beberapa hari setelah itu.
Pagi hari, di hutan dekat dengan lembah kematian.
Aku sudah mengirimkan surat untuk Lucy agar bersiap di posisi beberapa hari yang lalu, dan aku saat ini bersama dengan para pemimpin ras sudah mulai bergerak menuju ke tempat Leiava untuk memulai rencana besatr itu.
“Sesuai dengan informasi, monster yang muncul sudah semakin sedikit dari kemarin.” (Ruie) Didalam perjalanan kami dihadang oleh monster buatan Leiava tapi jumlahnya tidak sebanyak sebelumnya.
“Pasukan iblis memang hebat, pengumpulan informasi yang luar biasa.” (Homura)
“Hahaha, kalian terlalu memuji. Itu bukan hal yang sulit, tapi bukan juga hal yang mudah. Selain itu, kita sekarang dipimpin oleh seorang yang berbakat, aku yakin ini akan jadi kemenangan yang mudah.”
“Hahaha, aku tak pantas dipuji. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa saja. Selain itu, kita harus bergegas sebelum dia benar-benar bangkit seutuhnya.”
Cukup lama setelah itu.
Dari jarak yang sangat jauh, kami bisa melihatnya, Leiava yang mulai bangkit. “Hmmm, padahal daraknya sekitar 500km dari sini, tapi tubuh Leiava terlihat sangat jelas.” Sebuah monster raksasa dengan bentuk kura-kura dengan cangkang yang sangat besar, bisa aku bilang seperti itu. Lagipula itu yang raja iblis tulis.
Monster dengan bentuk kura-kura raksasa, dan berukuran sangat besar melebihi gunung dan tinggi hampir mencapai langit. Ya, meskipun sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan oleh raja naga Homura, tapi kekuatannya kemungkinan saja sama. Selain itu, jika dipikir-pikir lagi, jika apa yang dikatakan oleh raja naga Homura memang benar itu berarti Leiava sudah mulai melemah sekarang. Meskipun begitu kekuatannya masih sangat besar, setidaknya itulah yang bisa aku prediksi saat ini.
“Baiklah, semuanya kita berpencar.”
“Ya.”
Berjam-jam setelah itu.
Siang hari yang cukup terik.
‘Semuanya sudah siap, ya.’ Aku mendapatkan telepati dari Ruie dan mereka semua sudah berada di lokasi mereka masing-masing. “Baiklah, jika sebesar 6 gunung yang di satukan itu berarti 400km jaraknya sudah cukup.”
Aku kembali mendapatkan telepati dari Ruie, yang lain sudah memulainya. “Kalau begitu, aku juga.” Rencana pertama, membuah sebuah penghalang raksasa yang terbuat dari sihir cahaya dan juga kegelapan sebesar area lembah kematian. 2 element itu adalah element yang terkuat tapi juga memakan banyak sekali mana. Tapi… “Aku sudah cukup istirahat dan aku juga sudah membuat rencana cadangan, aku siap dengan hal ini.” Sihir ini akan dapat menghalau semua monster dan juga berguna untuk menggagalkan seluruh serangan yang mungkin akan dilepaskan oleh Leiava nantinya, tapi disaat bersamaan ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Dan disitulah waktunya.
Cukup lama setelah itu.
“Yo, kami datang.” (Lucy)
Lucy datang. “Bagaimana, apa para pasukan aliansi kerajaan yang lain sudah ada dilokasi?”
“Tenang saja, semuanya sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Lagipula, mengatur 15juta pasukan sendirian itu tidak mudah.”
“Ya, aku mengandalkanmu.”
“Bagaimana denganmu? Apa kau juga butuh pembantu?”
“Tenang saja, bayanganku bisa mengurus semuanya.”
“Bayangan?... Woaaaahh!!! S-siapa dia?”
Seseorang yang sangat mirip denganku muncul. “Ini adalah sihir yang baru aku pelajari, sihir bayangan. Bisa dibilang, clone dari diriku.”
“Kau, di waktu seperti ini masih sempat mempelajari sihir baru.”
“Ayolah, aku butuh waktu beberapa hari untuk mempelajarinya, selain itu dia juga sedikit berguna.”
“Berguna?”
“Yo, bagaimana dengan yang lain?”
“Semuanya sudah berada diposisi mereka masing-masing.”
“Hmmm, begitu. Lanjutkan penjagan, jangan biarkan ada satupun monster yang mendekat.”
“Serahkan saja padaku.” Bayanganku pergi.
“Ehhh, rasanya sangat aneh melihatmu berbicara dengan dirimu sendiri.” (Lucy)
“Ya, jika butuh teman bicara mereka juga bisa membantu. Selain itu, mereka membuatku tidak kesepian disini.”
__ADS_1
“Berbicara dengan dirimu sendiri, pasti akan ada perbedaan pendapat antara dirimu dan juga dan bayanganmu.”
“Hahaha, kau benar. Saat pertama kali aku mencobanya dia langsung marah dan menyuruhku untuk berhenti melakukan hal seperti ini, tapi karena ini adalah yang terbaik aku (bayangan diriku) menyerah. Dan hasilnya sepeti sekarang.”
“Bagaimana dengan kekuatan mereka? Jika ada banyak dirimu yang memiliki kekuatan besar, bukankah itu…”
“Tenang saja, sejujurnya mereka tidak bergitu kuat. Mungkin kekuatan mereka hanya setara dengan penyihir kerajaan, dan sihir mereka tidak akan bisa menghancurkan 1 kerajaan dengan mudah, jadi kau bisa tenang.”
“Kau, kekuatan itu sudah besar. Haaaa, sudahlah. Lalu, berapa banyak yang kau buat?”
“Hmmm, hanya 3. Aku tak bisa membuat lebih dari itu, selain itu mereka semua menyimpan stamina yang aku butuhkan, jadi jika aku kekurangan stamina maka dengan melenyapkan salah satu dari mereka staminaku akan segera pulih.”
“Begitu, pencegahan, ya.”
“Ya, seperti itulah. Ini aku lakukan untuk pencagahan terburuk.”
“Jika sepert itu, kenapa kau tidak membuat banyak dan hanya 3.”
“Hmmm, ya karena mereka bisa berfikir sendiri, jadi aku tak bisa membuat lebih banyak dari ini. Kau bisa bayangkan betapa repotnya jika aku ada banyak, pembicaraan apa yang akan mereka bahas saat sudah berkumpul nantinya.”
“Hal mesum.”
“Ya, hal mesum.”
“Tentu saja hal mesum, memangnya apa lagi.”
“Hmmm, hal mesum, ya.” (Lucy)
“Ehhh!!! A-apa yang kalian lakukan disini!!” Tanpa aku sadari semua bayanganku berkumpul disini. “Bagaimana dengan penjagaannya, bagaimana dengan monsternya.”
“Semuanya sudah bersih.”
“Hmm, begitu.”
“Sifat mereka tidak jauh berbeda darimu.”
“Ya, karena mereka semua adalah aku, tapi aku tidak mesum.”
“Hmmm, apa kalian ingat saat pertama kali kita menghabiskan malam bersama dengan Iona.”
“Waaaa!!! Kenapa kalian malah membahas hal itu!! Masih ada hal lain yang bisa kalian bahas, kenapa malah memilih hal itu.”
“Ya, bukankah kau selalu memikirkannya. Malam dimana pertama kali kau dan Iona melakukan hal itu.”
“Hoooo, menarik.” (Lucy)
“Sialah kau.”
“Lalu, kapan dan dimana kalian melakukannya?” (Lucy)
“Huh? Kenapa aku harus memberitahumu, itu adalah masalah pribadi. Meskipun aku bilang seperti itu, kau pasti sudah tau.”
“Haaaa, sepertinya mereka semua memang dirimu. Sikap dan juga ucapan mereka semua adalah dirimu.”
“Sudah aku bilang, mereka adalah aku.”
“Ya, ya.”
“Huh? Lucy, kau sudah mau pergi?”
“Iya, berurusan dengan 1 Ari saja sudah berat, apalagi harus berurusan dengan 4 Ari.”
“Hahaha, kalau begitu selamat jalan. Hati-hati dijalan.”
“Ya.” Lucy pergi.
“Hmmm, ngomong-ngomong, dia sendirian datang kemari?”
__ADS_1
“Hmmm, apa kau merasa ada yang aneh?”
“Jika seperti itu, hanya ada 1 hal yang bisa aku pikirkan.”
“Dia menggunakan sihirnya.”
“Dan memutuskan untuk ikut bertarung.”
“Untuk melindungi apa yang beharga baginya.”
“Ya, dan jangan dipisah seperti itu, itu sedikit membingungkan.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Diriku?”
“Kau tidak lihat, aku sedang membuat pelindung sekarang. Jangan ajak aku bicara lagi, membuat ini memakan banyak tenaga dan juga aku harus konsentrasi.”
“Haaa, iya iya. Kalau begitu, diriku yang lain. Ayo rapat.”
“Rapat? Tapi apa yang akan kita bahas.”
“Tentu saja, apa lagi kalau bukan hal itu.”
“Hey!!! Apa yang akan kalian bahas!!”
“Jangan pedulikan kami, kau harus fokus dengan tugasmu, jangan hiraukan kami.”
“Sialan.” Mereka adalah diriku, dan semua sifat yang mereka miliki adalah milikku. Mereka semua mencerminkan semua sifatku yang tak pernah aku tunjukkan selama ini pada orang lain, mereka adalah emosiku semua perasaan yang ada padaku membentuk mereka. Bayangan, itu hanyalah sebuah pengecoh sebenarnya mereka adalah bayangan yang dibentuk dari emosiku yang aku pendam. Bisa dibilang, mereka adalah sifatku yang lain. “Haaaa, merepotkan.”
“Jika kau ingin bergabung bilang saja, kami akan menyambutmu dengan hangan dan ramah.”
“Lakukan saja sendiri, masih ada hal yang harus aku lakukan.”
“Begitu. Seperti biasa, diriku ini memang suka menyibukkan diri. Karena itulah aku sampai tidak mempedulikan orang lain, sejujurnya aku benci dengan diriku yang seperti itu.”
“Kau membencinya?”
“Ya, lihat saja dia. Membuat pelindung sebesar itu, meskipun dibantu oleh para pemimpin ras besar, tapi lihat dia disini. Sendirian tanpa ada satupun orang yang melindungimu. Menyibukkan diri apanya, kau hanya lebih suka tidak terlibat sesuatu hal yang merepotkan, tapi nyatanya kau selalu datang pada hal yang merepotkan itu sendiri.”
“Hahaha, lucu rasanya diceramahi oleh diriku sendiri.”
“Kau bilang itu lucu, kau itu sebenarnya bodoh, kau sama sekali tidak jenius dan tidak memiliki apapun.”
“Ehh, k-kenapa kau menangis.”
“H-hey, jangan menangis. Tenanglah.”
“Begitu, ya. Sifat itu.” Kesedihan, salah satu sifat yang tak pernah aku tunjukkan, aku melihatnya sekarang.
“Aku sudah menahannya selama ini, kau sama sekali tak pernah mementingkan dirimu sendiri. Rela berkorban demi orang yang dicintai, kau gila. Jika kau mati siapa yang akan melindunginya, orang yang sangat kau cintai itu!! SIAPA!!!”
“Haaaa, merepotkan.”
“Katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan. Apa yang sebenarnya kau mau, apa yang sebenarnya kau perjuangkan selama ini. KATAKAN!!”
“Aku, tak tau. Jika kau bertanya seperti itu padaku, seharusnya kau sudah tau jawabannya. Kau adalah sifat yang aku miliki, seharusnya kau sudah mengetahuinya, tidak perlu aku jelaskan.”
“Sungguh egois. Keinginan yang kau inginkan saat ini tidak akan terkabul, ingin memenangkan perang tanpa ada korban. Itu sangat naif, kau seharusnya sudah tau hal itu. Perang, dimana semua orang saling membunuh untuk hal yang mereka percayai. Dan pertempuran, sebuah pertempuran yang ditujukan untuk mengalahkan musuh yang kuat. Dari kedua hal itu kau seharusnya sudah mengerti, semuanya akan merenggut nyawa, baik yang musuh ataupun teman. Kenapa kau masih bisa berfikir tentang hal bodoh seperti itu.”
“Ya, aku mengakui kalau itu memang hal yang naif dan bodoh, tapi apa salahnya melakukan hal itu.”
“Kau, sialan.”
“Hey, hentikan perdebatan kalian berdua. Sekarang bukan waktunya untuk berdebat.”
“Cih, mereka sudah muncul lagi, ya.”
Dari arah depan, monster mulai bermunculan dan perlahan mulai mengepung kami. “Haaaa, semuanya aku serahkan tugas ini pada kalian.”
__ADS_1
“Tidak perlu kau suruh. Menyebalkan, disuruh oleh diriku sendiri.”
“Hahaha.” Mereka semua pergi. “Apa yang sebenarnya aku inginkan, ya.” Hanya 1 hal yang sebenarnya aku inginkan, aku tak ingin lebih. “Kehidupan yang bahagia.”