
Tangan Amira bersiap melayangkan stik golf ditangannya kearah sosok yang dicurigai sebagai pencuri alias maling.
Tetapi betapa terkejutnya saat sosok itu membalikkan badannya. Sehingga tampak dengan jelas wajahnya sekarang dimata Amira.
"Pak Axel?" seru Amira. Tangannya telah siap mengayun untuk memukul. Untungnya bagai memiliki rem cakram seketika tangannya terhenti. Bagaimana jadinya bila Amira tetap melayangkan pukulan itu. Tentu saja tindakannya akan meninggalkan goresan diwajah tampan Axel.
"Amira kamu mau pukul saya?" tanya Axel matanya melirik benda panjang ditangan Amira.
Tangan Axel masih bersiaga sekalipun sempat bergidik membayangkan betapa sakitnya stik golf bila mengenai wajahnya. Perasaan sungkan Amira, seperti tertangkap basah seakan menuduh sang pemilik rumah. Ketika tahu bukan pencuri yang ada diruangan dapur, segera tangan Amira menurunkan stik golf ditangannya. Wajah Amira merona terlihat juga tersenyum malu akibat tingkahnya ini.
"Heheh, maaf Pak ... Saya kira tadi Bapak itu maling." jawab Amira lirih dengan senyuman meringis.
Keluguan diwajah Amira terlihat menggemaskan dimata Axel. Bibir tegasnya itu menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Bapak kenapa? keselek?" tanya Amira melihat ekspresi aneh diwajah suaminya sekarang. Bahkan Amira bersedia untuk membantu untuk menepuk punggung Axel, jika memang itu terjadi.
"Ah, enggak kok ... saya gak papa." jawab Axel singkat menyembunyikan wajahnya untuk menghindari tatapan Amira. Sungguh Ia tak mau reaksi gemasnya diketahui oleh Amira.
"Oh, gitu ... maaf ya Pak udah nuduh sembarangan, lagian Bapak lagi ngapain malam-malam disini?" tanya Amira penuh tanda tanya.
"Ya ... Saya sih emang biasa tidur malam ... kamu sendiri ngapain malah bangun? laper?" terka Axel. Pernyataan yang sangat mengenai sasaran. Sangat mudah menerka karena dirinya sendiri sering sekali seperti ini. Apalagi jika berangkat tidur lebih cepat dari jam tidur biasanya.
Lagi-lagi bunyi tanda kelaparan diperut Amira bersuara.
"Hehehe ... iya Pak." jawab Amira lebih memilih mengakui. Kali ini gagal sudah bagi Axel untuk tidak tersenyum. Meskipun tawa kaku dan hanya terlihat seperti dengusan kecil saja.
"Kamu mau makan apa? di freezer ada sosis sama nugget atau mau masak? dibox juga banyak sayuran." tukas Axel diselingi menyodorkan mulutnya dengan segelas air putih.
Mata bulat Amira terlihat berfikir. Apa yang sekiranya sedang Ia inginkan sekarang.
"Eum ... ada kerupuk mentah gak Pak?" tanya Amira melenceng jauh dari semua yang telah Axel tawarkan.
"Ada sih ... kenapa?" tanya Axel heran.
__ADS_1
"Jangan bilang ini anak cuma mau makan pakai kerupuk aja?" batin Axel menganggap pertanyaan Amira sebagai pilihan menu makan gadis kecil itu.
"Kencur ada juga gak Pak?" tanya Amira lagi.
Pertanyaan yang benar-benar Axel tak habis pikir dibuatnya.
"Ada kayaknya ... eh gak tahu ding ... coba kamu cek aja dibumbu dapur." jawab Axel ragu karena Amira membuat kepalanya pusing.
"Buat apa kerupuk mentah sama kencur?" guman Axel lirih.
Bergegaslah Amira kemeja dapur. Mencari bahan baku yang Ia butuhkan. Tangannya sibuk mencari kencur ditempat bumbu. Untuk melihat apa yang akan dibuat Amira. Dalam posisi diam bahkan juga menutup mulutnya, Axel hanya memperhatikan kesibukan tangan Amira tanpa berniat untuk mengganggu. Terlihat bukan hanya dua bahan itu saja yang Amira persiapkan. Bahkan ada mie instan dan sayuran sawi hijau yang diambil oleh gadis itu.
"Dia mau bikin apa sih?" tanya Axel dalam hati. Dirinya mengakui hubungan mereka terbilang belum akrab. Sehingga laki-laki ini merasa tak pantas untuk bertanya, takut dikira senang ikut campur. Padahal hanya sebatas acara memasak kenapa pula Axel berfikir jauh menembus awan.
"Nah, sambil ulek bumbu, kerupuknya kita rebus dulu." guman Amira mempersiapkan panci diisi dengan air diletakkan diatas kompor. Bunyi dari tangan Amira memutar pemantik api.
Setelahnya Amira mulai menumbuk beberapa cabai dan bawang putih, ditambah dengan kencur dicampur menjadi satu. Aroma sengir memenuhi ruang memasak, tangan Axel menutup hidungnya.
"Ya ampun, bener-bener deh ini anak mau bikin apa sih sebenernya?" keluh Axel aroma kencur menggangu indra penciumannya.
"Ah, udah pas." kata Amira mematikan kompor.
Merasa sia-sia tidak berhasil menemukan nama masakan yang tengah Amira buat. Akhirnya Axel memilih angkat kaki untuk pergi. Kepalanya malah terasa berdenyut karena berfikir terlalu keras hanya karena memikirkan apa nama masakan Amira.
"Pak jangan pergi dulu ... kan belum mateng." kata Amira melihat kepergian Axel. Bagaimana gadis muda ini tahu tentang kepergiannya, bahkan sejak tadi dia sibuk menatap kompor saja.
"Kamu mau ajak Saya makan itu?" tanya Axel memperlihatkan ekspresi aneh diwajahnya.
Amira mengangguk yakin.
"Kamu yakin itu makanan? bukan obat tikus?" tanya Axel meragukan bila yang itu adalah sebuah makanan.
Lagi-lagi Amira menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pak tunggu deh ini tinggal Saya tumis bumbunya ... ini bakalan enak banget." kata Amira yakin bahkan tak terlihat keraguan dimatanya itu.
Sebenarnya Axel ingin menolak tetapi karena ada dorongan dari rasa penasaran, Ia pun memundurkan langkahnya dan malah duduk didepan meja makan.
Bunyi suara dari tumisan bumbu didalam wajan menimbulkan aroma baru. Berbeda dengan yang pertama, aroma kali ini menggiurkan Axel.
"Eh, yang sekarang kok baunya enak?" pujinya.
Detik terus berjalan menjadi menit. Jam terus berputar. Amira datang membawa nampan berisi dua mangkuk makanan. Kepulan asap nampak dari atas mangkuk. Bagai memang tengah menantikannya Axel diam ditempat hingga satu mangkuk mendarat tepat didepannya.
"Nah ini buat Bapak." kata Amira girang meletakkan makanan untuk Axel seorang. Kemudian giliran Amira lekas menarik kursinya, seperti biasa Ia memilih tempat duduk yang agak jauh dari Axel.
Melihat makanan hangat sudah tersaji diatas mejanya. Kepala Axel membungkuk memperhatikan makanan itu sesaat.
"Dari tampilannya sih kayaknya enak." kata Axel menilai makanan itu cukup menarik. Sedangkan Amira sedang menikmati makanannya sendiri. Lihat saja entah keberapa kalinya dia sibuk memakan makanannya tanpa ragu.
Sedangkan Axel yang ragu masih mengaduk mangkuknya, hingga terlihat kerupuk matang dan sayuran hijau diatas sendok yang telah Ia angkat keatas permukaan. Dan tampaklah dengan jelas.
Hawa panas ketika hidung Axel menghirup lagi aroma dalam jarak yang dekat. Mulut Axel mulai meniup guna meredakan tingkat kepanasan, setelah beberapa saat tampak lidahnya menjilat.
"Eh, kok enak?" katanya. Setelah yakin langsung saja satu sendok penuh Ia lahap sepenuhnya.
"Woah enak ... ini namanya makanan apa?" puji Axel ingin tahu makanan yang baru saja Ia cicipi untuk pertama kalinya.
"Ini namanya seblak Pak ... enak kan?" jawab Amira bangga mengenalkan nama makanan ini.
"Iya enak banget ... ini kamu bikin sendiri resepnya?" tanya Axel mengira makanan ini resep buatan Amira sendiri.
"Bukanlah Pak ... saya aja dapet dari Mbok Darmi ... tapi pernah sih beberapa kali lihat dijalan ada yang jualan juga." jelas Amira masih dengan aktivitas tangan yang sibuk.
"Oh, gitu ... sayang banget ya makanan seenak ini Saya baru tahu." ungkap Axel menyesal.
"Makannya Pak jangan dirumah aja, sekali-kali hangout dong ... jangan belajar aja." balas Amira mulai berani menggoda.
__ADS_1
"Kalo saya bodoh kamu mau gagal skripsi? terus gak pernah lulus?" balas Axel lagi terlihat santai menanggapi gurauan Amira untuknya.
Amira hanya tertawa tanpa mengatakan apapun. Mereka berdua tak sadar obrolan ringan ini mulai memudarkan sekat kecanggungan diantara mereka.