
Amira sengaja menjauhkan ponselnya, agar pembicaraannya bersama Mbok Darmi. Gadis itu tidak ingin masalah ini sampai terdengar ke telinga Mila.
"Aduh ... tolong ampun Nyonya."
Suara jeritan Mbok Darmi dari dalam sambungan telepon mampu didengar oleh Amira.
"Pokoknya Aku harus kerumah Papa sekarang! Mbok Darmi sama Papa lagi butuh bantuan Aku."
"Tapi sbayik Aku harus rahasiain ini dari Mas Axel sama Mama Mila, pokoknya Aku gak mau Mereka sampai lapor ke Polisi lagi."
Itulah isi batin Amira mengubah ekspresi wajah tegangnya itu menjadi biasa saja. Gadis itu sedang berpura-pura tersenyum.
"Ah, gitu ya Mbok? oke nanti Amira kesana, ya Mbok."
Amira mematikan sambungan telepon. Axel dan Mila terlihat heran melihat sikap perubahan Amira yang sangat tidak masuk akal itu.
"Ada apa Sayang?" tanya Mila ingin tahu.
"Ini Ma , Mbok Darmi minta resep sayur asem ... suruh Amira kesana ... yaudah ya Ma, Amira pergi dulu." kilah Amira berbohong hendak meninggalkan Axel dan Ibu mertuanya itu.
Tetapi Axel tahu Amira sedang menyembunyikan sesuatu darinya tetap mencoba untuk bertanya. Walau Amira sudah berlalu dan hendak menyebrangi jalan.
"Ma, tolong sekarang Mama temenin Papa aja! masalah Amira biar Axel yang urus! Mama pasti juga ngerasa ada yang gak beres kan?" tanya Axel melihat wajah Mila penuh tanda tanya menatap kepergian sang menantu. Baru saja ingin mencegah kepergian Amira tetapi Axel bergerak lebih dulu.
"Hati-hati ya Sayang ... kalo ada apa-apa jangan sungkan buat hubungin Mama." ucap Mila membalikkan badannya dan bersembunyi dibalik pintu.
Setelah Mila pergi, segeralah Axel berlari untuk mengejar Amira. Tangannya langsung menarik tangan Amira dan langsung memutar tubuh gadis itu.
"Sayang, Kamu cuma lagi bohongin kita kan?" ucapnya.
Amira berusaha untuk tetap tegar, walaupun bibirnya terlihat bergetar menahan tangis. Belum lagi tangannya juga bergerak karena gemetar.
"Enggak kok Mas! udah ya jangan ganggu Aku! Mbok Darmi udah nungguin." tegas Amira mencoba melepaskan tangannya. Tetapi Axel justru lebih mempererat genggamannya.
"Ayo Aku temenin!" ucap Axel langsung tidak mau terlalu banyak berbicara menuju pada intinya.
Mata mereka saling bertatapan, sesungguhnya Amira benar-benar menahan air mata yang sudah menjadi bendungan karena matanya terlihat berkaca-kaca.
"Mas, tolong! Aku mau berangkat sendiri aja!" tegas Amira dengan suara bergetar.
Axel meraih tubuh kecil itu kedalam pelukannya, membuktikan bahwa dirinya akan selalu andil mengenai apapun yang akan menyangkut Amira.
__ADS_1
"Tolong jangan kayak gini Amira! jujur Aku sedih banget ngerasa gak berguna buat Kamu." ungkapnya.
Jatuh sudah air mata Amira. Namun tetap saja Amira menyembunyikannya dari sang suami. Segera mengusap pipinya yang basah. Sekalipun Axel tetap tahu lewat hembusan nafas tidak teratur Amira karena menahan diri.
"Amira Sayang, apa aku gak bisa jadi buku diary Kamu? jadi tempat ternyaman untuk Kamu bercerita, berkeluh kesah dari hari bahagia ataupun duka?" imbuh Axel lagi.
Tak mampu Amira mengelak maupun mengakuinya. Dia hanya bisa terdiam saja. Bukan karena tidak mau, Amira terlalu sungkan untuk selalu melibatkan keluarga Axel dalam permasalahan yang menimpa keluarganya.
Amira secara hati-hati melepaskan pelukan Axel dengan cara menepis lembut tubuhnya.
"Mas, untuk masalah keluargaku tolong jangan ikut campur!" tegasnya penuh harap agar Axel mengerti.
"Tapi kenapa? Kita kan suami istri? Aku udah anggep keluarga Kamu kayak keluargaku sendiri!" balas Axel menyakinkan Amira. Tetapi Amira jutsru menggelengkan kepalanya tidak sependapat. Kemudian menggenggam kedua jemari tangan Axel.
"Kamu bisa kok Mas bantuin Aku!" tukasnya.
Seketika wajah Axel menjadi senang.
"Yaudah ayok! sekarang Kita berangkat." ajak Axel bersemangat.
"Mas, Kamu bantuin jaga Mama Mila buat gak lapor sama Polisi!"
Perlahan Amira melepaskan tangannya dan bergegas untuk pergi. Membalikkan badannya mengacungkan jari telunjuk didepan bibirnya.
"Ststst." Amira mengedipkan matanya untuk Axel disana. Dengan air mata yang keluar deras sebagai salam perpisahan sekaligus permintaan tegas darinya.
Ingin rasanya Axel berlari untuk mengejar, bahkan mengikut kemanapun perginya Amira. Tetapi ada amanat yang tetap harus dijaga. Axel tidak mau mengecewakan Amira.
Dengan berjalan tegap tanpa rasa takut Amira menatap lurus. Hingga akhirnya melihat transportasi umum sesuai dengan rute yang hendak Ia tumpangi.
Walaupun cemas dan khawatir, Amira berusaha untuk tetap tenang sampai ditempat tujuan.
*
Ani dan Doni tengah kembali ke kampus. Mereka duduk didepan taman untuk beristirahat ataupun sekedar menikmati waktu senggang.
Hingga akhirnya kebersamaan mereka harus terganggu. Saat Elena datang mengacaukan semuanya.
"Eh, kalian ngapain? mana cuma berduaan aja lagi, macem kayak orang pacaran aja!" goda Elena sok akrab.
"Lah, emang Kita pacaran!" sahut Doni langsung.
__ADS_1
Tentu saja mengundang perhatian Elena hingga akhirnya wanita itu duduk bersebelahan dengannya.
"Serius? gila ternyata selama ini Gue temenan sama Pedofil ya?" sindir Elena langsung.
Awalnya Ani merasa sangat tersinggung dan hendak memaki Elena dengan kata-kata kasarnya. Namun, Doni memberikan kode larangan. Hanya hembusan kasar sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Gak usah rusuh deh Lo! Gue juga baru sadar kalo ternyata selama ini temenan sama penipu!" balas Doni.
"Deg!" Seperti tertohok kalimat Doni niat hati ingin mengerjai, justru Elena lah yang terkena imbasnya.
Ani tertawa puas mengacungkan jempolnya. Sedangkan Elena hanya mencebik bibirnya. Sudah terlambat untuk mengubah ekspresi wajahnya yang berlagak tidak tahu. Karena Ani dan Doni sudah melihat ekspresi gugup terukir jelas diwajahnya.
*
Kembali pada Amira akhirnya tiba di rumah sang Papa. Tetapi terlihat Eva sudah bersiap untuk pergi meninggalkan halaman rumah. Tampak mobil miliknya sudah melaju dan sengaja mengarah pada posisi Amira berdiri.
Amira langsung berlari naik keatas kolam ikan untuk mengindari tabrakan yang dapat melukai tubuhnya itu.
Tatapan mata mengejek dengan tawa jahat yang berasal dari sikap Eva dan juga Dargo.
"Astaga! jangan-jangan ...?"
Amira merasa panik setengah mati. Langsung berlari untuk melihat keadaan Demien. Tidak perduli dengan kakinya yang terluka karena tergesek ujung sepatu. Asalkan bisa menyelamatkan sang Papa.
"Ya Tuhan, tolong ...." dalam gerak kaki yang sedang berlari, Amira berdoa.
Walaupun detak jantungnya semakin kencang saja. Amira membuka pintu utama.
"PA? PAPA?" teriak Amira.
Amira mencari kesegala tempat yang ada di lantai dasar. Tetapi Demien ataupun juga Mbok Darmi belum berhasil Ia temukan.
Hingga terdengar suaranya rintihan seseorang di lantai atas.
Amira bersiap memasang kekuatan kakinya untuk menaiki anak tangga dengan berlari.
Seperti mendapatkan kekuatan Amira berhasil tiba di lantai atas.
Ketika kakinya tiba dilantai atas, Amira melihat suatu pemandangan. Gadis itu nyaris tak bisa berkata lagi dan langsung berlari untuk menghampiri.
Suara hentakan kaki menyentuh lantai beriringan dengan tetesan keringat juga air matanya. Amira ....
__ADS_1