
Axel menyetir dengan keadaan hati penuh akan kekhawatiran.
Di sisi samping Amira mencoba menenangkan sang suami dengan mengusap tangan kirinya.
Sikap yang sangat membingungkan, seharusnya dia cemburu ataupun melarang tetapi justru bersikap seperti ini.
Sesekali Axel melirik ke arahnya.
"Nggak usah merasa bersalah kayak gitu Mas, tenang aja!" kata Amira seraya tersenyum manis.
"Kita bisa kok puter balik terus pulang! nanti Aku tinggal suruh Doni aja yang ke sana." balas Axel sepanjang perjalanan dirinya juga merasa bersalah terhadap istrinya.
Amira langsung menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
"Mas siapa tahu kan keadaan Elena udah darurat, it's oke Mas ayo nggak apa-apa." ucap Amira lembut lebih meyakinkan demi misi kemanusiaan.
Karena melihat keputusan istrinya yang terus mendukung, akhirnya Axel mempercepat laju mobilnya.
*
Di dalam Apartemen.
Elena berjalan ke sana kemari di depan pintu, bahkan melirik ke arah jendela untuk melihat sosok yang ditunggu-tunggu.
Letak apartemennya berada di lantai yang cukup tinggi membuat jalanan terlihat dari sana.
"Ah itu mobilnya Axel." sorak Elena senang.
"Sekarang waktunya buat tiduran, biar kelihatan menyakinkan." imbuh Elena lagi memposisikan dirinya tertidur diatas lantai.
*
Sedangkan di mobil lain terdapat perdebatan kecil yang dilakukan antara Ani dan Doni.
"Pak, ngapain sih Saya diajak segala?" protes Ani kepada Doni saat sang Dosen memaksa dirinya agar ikut serta.
"Gak papa dong! Kita kan udah resmi pacaran jadi kemana Saya pergi Kamu harus ikut." jawab Doni sangat enteng bagai tak memiliki beban.
Protes yang awalnya terlihat sangat menyebalkan itu akhirnya berubah menjadi senyuman malu.
Ani menutup wajahnya untuk menyembunyikan warna merah jambu yang mulai menjadi tergambar disana.
"Cie wonder woman ternyata bisa salting juga ya?" goda Doni melihat ekspresi gemas diwajah Ani. Seakan merubah citranya yang terbiasa berpenampilan tomboy.
"Apaan sih Pak gak jelas." sungut Ani memalingkan wajahnya semakin dibuat malu.
Dan laju mobil Mereka terlihat memasuki halaman apartemen. Sudah ada Axel datang lebih dulu bersama Amira.
"Kok kalian gak langsung masuk aja?" tanya Doni saat keluar dari mobilnya.
"Mas Axel nya yang gak mau, padahal daritadi udah Aku suruh." keluh Amira. Beberapa kali meminta sang suami untuk melihat bagaimana keadaan Elena, namun selalu menolak.
__ADS_1
"Gak mau lah!"
" Sayang .... Aku ini udah resmi jadi suami Kamu ... tadi Aku juga denger Elena pingsan kan? terus kalo cuma Aku aja masak Aku yang harus gendong Dia?"
"Emangnya kenapa Mas?" sela Amira polos.
"Ya gak maulah! Aku gak mau image jadi suami bisa rusak gara-gara ini!" ketus Axel menjaga baik nama baiknya.
"Pak, bisa gak sombong jadi suami idaman dilanjutin nanti aja! masalahnya ini ada nyawa manusia yang lagi diujung tanduk Pak." sela Ani kesal.
"Eh, iya yah? yaudah ayok!" kata Axel menarik tangan Amira dengan menggenggam erat.
"Ya elah gitu amat! gak mungkin Amira hilang Pak, tenang aja." sungut Ani. Namun Axel sama sekali tidak bergeming malah semakin merekatkan tangannya.
*
"Mereka kok lama banget sih?" keluh Elena masih dalam posisi terlentang.
"Mana tidur diatas lantai kan dingin banget, ini Axel apa berhenti dulu ya?"
Elena semula ingin bergegas mengangkat tubuhnya, namun terdengar langkah kaki sedang berhenti didepan kamarnya.
"Elena?"
"Tok, tok, tok,"
Elena mulai meneruskan aktingnya itu, dan memejamkan mata agar lebih mendalami peran.
"Alah Bapak kelamaan, keburu orangnya mati Pak."
"Brakkk." Dalam satu tendangan yang dilakukan oleh Ani menyebabkan getaran dahsyat, bahkan berhasil membuka pintu.
"Gila ini anak makan besi apa gimana sih? kuat banget perasaan?" kata Doni takjub.
Sedangkan Axel dan Amira berdiri dengan mulut menganga.
"Ani, sumpah Kamu keren banget." puji Amira sampai bertepuk tangan.
"Ealah, ngapain pada kayak gini ayo tolongin itu tuh ada yang pingsan!" protes Ani sempat-sempatnya mendapatkan pujian dalam keadaan genting seperti ini.
"Eh iya yah kenapa lupa!" kali ini Doni yang menjawab.
"Elena, El, Kamu gak papa?" Axel menepuk lembut pipinya untuk membangunkan Elena.
Secara perlahan Elena membuka matanya, bersikap seolah dirinya baru saja siuman pada padahal hanya berpura-pura.
"Emhh, sakit ... lemes ...." rintih Elena memegangi dahinya.
"Mas mendingan Kita bawa aja deh Dia ke Rumah Sakit." kata Amira melihat kondisi Elena yang lemas tak berdaya.
Mendengar suara Amira ikut serta berada di sini, seakan memberitahu Elena bahwa Axel ternyata datang bersama istrinya.
__ADS_1
"Sialan ini cewek bisa-bisanya dia ikut ke sini? pasti dia udah rayu Axel biar nggak dateng!" tuduh Elena kesal.
"Iya kita bawa aja ke Rumah Sakit biar lebih jelas." timpal Doni setuju.
"Ya udah Don Lo yang angkat." titah Axel kepada Doni.
Dengan bibir berkerut serta mata pun sama halnya. Doni mengapresiasikan perasaan malas dengan cara seperti itu.
"Bawel banget deh," ucapnya.
"Cuma perkara kayak gini juga mau ribut? udah sini Saya aja yang bawa." celetuk Ani.
Tanpa ragu Ani mulai merenggangkan otot tangannya yang kaku, bersiap untuk mengangkat tubuh Elena.
Tetapi jika seorang laki-laki mengangkat tubuh wanita dengan cara di papah. tidak untuk seorang Ani yang mengangkat Elena meletakkan diatas bahunya.
"Woahahaa." Axel dan Doni langsung tertawa lepas melihat Elena tergantung seperti hewan buruan saja.
"Udah kayak macem bawa Babi dari hutan aja tuh anak." kata Doni disela tawanya.
"Iyah bener tapi gila bahunya kuat banget Bro." timpal Axel.
Saat Ani berjalan dan berpapasan dengan banyak orang jelas saja mengundang tawa Mereka pula. Apalagi saat kedua tangan Elena tergantung-gantung seperti mayat.
"Ih cantik-cantik kok gila sih!" ejek Mereka
"Mbak obatnya habis?" ejek yang lain.
"Bangsat! hancur udah harga diri Gue yang cantik dan mahal ini!" sungut Elena.
"Mau langsung pura-pura melek , tapi nanti malah ketahuan kalau Gue lagi bohong? kalau kayak gini sih mendingan nggak usah!" batin Elena penuh rasa penyesalan.
Axel membuka pintu mobil Doni saat Ani tiba di halaman parkir. Secara hati-hati meletakkan tubuh lemas Elena di kursi belakang.
"Loh kok dimasukin ke mobil Gue?" seru Doni saat Axel membuka pintu mobil miliknya.
"Nggak papa sama aja nanti gue juga ikut kok dari belakang." jawab Axel mengerakkan alisnya secara naik turun.
"Ayo Pak berangkat!" desak Ani menarik tangan Doni agar segera memasuki kursi kemudi.
Doni mencebik bibirnya kesal, kenapa semua permasalahan ini harus dirinya dan Ani saja yang menanggung.
Tetapi tidak ada waktu lagi untuk berdebat, ditambah Ani selalu menghardik dirinya untuk cepat berangkat.
Dan akhirnya meninggalkan halaman parkir untuk mencari Rumah Sakit yang terdekat.
"El, Elena ... masih pusing?" panggil Doni melirik dari kaca spion yang tergantung tetapi Elena tidak merespon.
"Ani ini kayaknya gara-gara Kamu deh,"
"Kok gara-gara Saya sih Pak?"
__ADS_1