
Untungnya bagikan rem cakram, angin yang siap menghembus dari mulut Axel tiba-tiba berhenti, dan gagal mematikan api lilin.
"Ada apa?" tanya Axel.
"Hehe, doa dulu dong! masak langsung ditiup." jawab Amira tersenyum.
"Oh, gitu ya? ya maaf seumur-umur baru kali ini Saya tiup lilin." jawab Axel polos bin jujur.
"Semoga pernikahan Kita bisa awet selamanya! sehat, sukses dan yang terakhir bisa kasih Mama keturunan! Aamiin aamiin!" doa Axel mengusap wajahnya menutup ucapan doanya.
Harapan dan doa yang benar-benar bisa membuat Amira semakin salah tingkah. Apalagi ketika Axel tanpa keraguan mengucapkan doa terakhir untuk mewujudkan keinginan Mila memiliki seorang cucu.
"Nah, udah! sekarang apa?" tanya Axel ketika berhasil meniup lilin.
"Potong kue!" jawab Amira bersemangat.
Sedangkan Axel hanya menurut saja dan melihat Amira sibuk mengambil pisau roti.
"Kok berhenti disitu? sini dong kita potong kue!" ajak Amira melihat Axel masih saja berdiri diruang tengah. Sedangkan dirinya lebih dulu memasuki ruangan dapur.
Hingga akhirnya Axel menyusul kesana. Amira duduk dan menunggu sang bintang utama, masih dengan wajah polos menggemaskan itu. Sungguh mampu menimbulkan perasaan ingin mencium ataupun memeluk dirinya terus-menerus.
Secara hati-hati Amira menggerakkan kue agar lebih dekat dengan posisi Axel. Memberikan pisau untuk Axel.
Dengan senyuman merekah, Axel akhirnya menerima dan segera memotong kue berbentuk bulat. Kue ulang tahun bewarna biru dengan cream putih bersih tanpa hiasan berlebihan. Sesuai dengan usia yang sedang merayakan hari lahirnya, ya siapa lagi jika bukan Axel sendiri.
"Terus apalagi?" tanya Axel.
"Em, sekarang Bapak mau kasih kue ini buat siapa?" tanya Amira, walaupun hanya ada dirinya disini. Tetap saja akan terasa aneh bila menyebut dirinya sendiri.
"Ah, Aku tahu." sela Axel mengerti, dan langsung memotong ujung kue itu yang sudah diletakkan di piring kecil.
"Hak?" titah Axel ketika menyuapi Amira.
__ADS_1
"Aemm." Amira menerima suapan itu, walaupun sempat berfikir buruk, mengira Axel akan memakan kue itu sendiri.
Betapa bahagianya Mereka, hingga akhirnya mampu menghilangkan sekat yang selalu menjadi penghalang.
"Amira, sekali lagi terimakasih banyak ya ... Saya beneran bahagia, tolong tetap disisi Saya seterusnya." pinta Axel mengusir jemari tangan Amira. Menatap Amira penuh rasa cinta yang tulus dari matanya.
"Tenang Pak, Saya gak akan pergi." balas Amira mencengkram lembut jemari tangan Axel. Sama mencurahkan perasaan cintanya.
"Eh, Bapak udah makan? mau aku bikinin mie goreng atau nasi goreng?" tawar Amira karena Axel baru saja tiba selepas mengajar.
"Bikin mie goreng buatan istri enak kali ya? boleh deh." ucap Axel memilih menu pertama yang ditawarkan Amira.
"Oke, siap tunggu pesanannya ya ...." seru Amira layaknya seorang penjual makanan kepada pelanggan.
Menimbulkan gelak tawa Axel melihat kelucuan Amira ini.
Dan bergegaslah Amira untuk membuatkan menu pilihan Axel, tangannya lekas sibuk untuk mencari sesuatu. Tidak perduli dengan heningnya malam menjadi saksi. Asalkan Axel senang Amira bersiap untuk menyenangkan hati sang Suami.
"Pak, kasih telur mau?" tanya Amira memastikan keinginan Axel apakah bersedia ataukah tidak.
"Oke siap!" jawab Amira bersemangat.
Disaat semua orang sedang tidur untuk beristirahat, dirumah ini malah masih terjaga dan bahkan sedang bersiap untuk mengisi perut.
Sepertinya rasa kantuk sudah gagal untuk menghancurkan kehangatan yang sedang terjadi sekarang. Karena rasa romantis dan cinta sedang berkuasa.
Selang lima belas menit, akhirnya Amira berhasil membuat menu mie goreng spesial. Membawa piring berisi mie untuk diberikan kepada suami tercinta.
"Woah kayaknya enak ... tapi kok cuma satu?" tanya Axel ketika Amira hanya membawa sepiring saja.
"Hehe, iya Pak ... Saya udah kenyang takut gemuk juga makan malam-malam." jawab Amira jujur. Dan menarik kursi duduk berdekatan.
"Kamu udah gak fobia duduk deket-deket sama Saya?" goda Axel melihat Amira telah berpindah dari sebelumnya.
__ADS_1
"Hehe, gak dong! kan udah kebukti Bapak itu jinak." gelak Amira disusul Axel pun juga tergelak.
"Ya ampun, Saya ternyata udah kayak singa aja ya?" ucap Axel sedikit terkejut walaupun tidak sampai marah.
"Cepetan gih dimakan, nanti keburu dingin loh."
Sesuai permintaan Amira akhirnya Axel mulai menggerakkan tangannya untuk mencoba mie buatan Amira.
"Woah enak kok!" puji Axel ketika berhasil memasukkan satu suapan.
"Beneran? wah syukur deh ... takutnya gak enak soalnya yang dimasakin kan chef." kata Amira lagi-lagi menyebabkan Axel tersenyum.
Hampir saja Amira melupakan benda penting yang sudah dibeli secara susah payah.
"Eh, iya kadonya." sentak Amira bergegas mengambil benda terbungkus kertas bewarna cinta yang tergeletak diatas meja.
Kemudian kembali lagi, dan akhirnya menyerahkan kado untuk Axel.
"Ini Pak."
Tangan Axel menerima, melihat benda berukuran kecil diatas tangannya.
"Boleh dibuka?" tanyanya.
Amira mengangguk.
Secara hati-hati Axel membuka penutup, dan tampak kertas kardus. Hingga akhirnya membuka penutup atas.
"Woah, jam tangan?" seru Axel ketika membuka semua terlihat jelas benda waktu sebagai penghias tangan.
"Makasih ya Sayang ... tapi Aku boleh minta kado lain gak?" ucap Axel tersirat pertanyaan.
"Apa Pak?" tanya Amira santai sebelum mendengar permintaan Axel.
__ADS_1
"Nanti Kita tidur bareng ya?" ucap Axel tiba-tiba. Padahal baru saja dirinya duduk, dan sekarang malah mengutarakan niatnya itu.
"Eh? tidur bareng?"