Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Keluar kandang macan masuk kandang buaya


__ADS_3

Sesaat kedua pasang mata saling bertatapan. Elena tertawa simpul, membelokkan tubuhnya menuju wastafel.


Suara air mengalir ketika Elena mulai membuka penutup kran dan segera mencuci tangannya.


Amira sebenarnya tidak terlalu menyukai, sosok pahlawan yang sudah membantu dirinya pagi ini.


"Yah, walupun gak tahu kenapa feeling Aku kok gak baik ya?" batin Amira, tetapi sebagai manusia yang berbudi luhur setelah mendapatkan pertolongan harus mengatakan ucapan terimakasih.


"Bu, makasih ya? berkat Ibu, Saya bisa keluar." ucap Amira, ada sedikit kesalahan ketika gadis itu memanggil Elena dengan sebutan Ibu.


Elena melihat cermin, dan berkaca.


"Emangnya wajah Gue setua itu apa?" seru Elena memegangi wajah, bergoyang ke kanan dan kekiri. Untuk melihat secara keseluruhan.


"Kamu, ada dendam apa sama Saya? kok tiba-tiba panggil Saya Ibu?" ketus Elena kemudian.


Jelas saja Amira mengernyitkan dahinya, malah dirinya yang sebenarnya telah mendapatkan tuduhan.


"Saya gak ada dendam kok Bu! emangnya kenapa?" tanya Amira polos, malah masih mengulang sebutan Ibu lagi.


"Astaga! ini Anak bener-bener ya?" sungut Elena menatap sinis Amira.


Tak ingin kesalahpahaman semakin melebar, Amira tahu apa yang seharusnya Dia lakukan.


"Ah, oke Nona maaf ... ada alasan Saya panggil Anda Ibu karena tadi Mas Axel cerita masalalu Nona ini yang pernah jadi Dosen kan?"


"Jadi, itu alasan Saya panggil Nona dengan kata Ibu!" jelas Amira.


Barulah Elena mengerti dan mulai tersenyum kembali, tapi sepertinya wanita itu salah paham dengan cerita Amira barusan.


"Ah, ternyata Axel masih ingat semua tentang Aku sedetail itu ya?" ucapnya seraya senyum-senyum sendiri. Membuat Amira tersenyum geli melihatnya.


"Terserah Nona aja, Saya mau balik ke kelas dulu." seru Amira berlalu, sungguh tak berniat untuk meladeni kata-kata Elena barusan.


Walaupun Elena memang sengaja mengatakannya di depan Amira untuk membuat Gadis itu cemburu.


"Kalo Kalian gak saling cinta udah cerai aja!" seru Elena mengehentikan langkah Amira.


Langsung saja Amira memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Ini Saya gak salah denger kan?" seru Amira tenang, menyakinkan dirinya sendiri atas apa yang baru saja Ia dengar.


Daripada merasa bersalah atau sungkan, Elena justru mengulas senyuman merekah dibibir tipisnya. Wanita itu sama sekali tidak menyesal, padahal telah lancang ikut campur urusan orang lain.


"Enggak lah! Saya udah dengar kok semua cerita dari Doni kalau kalian nikah itu tanpa adanya hubungan dulu kan?"


"Jadi, Saya rasa kisah Kamu itu bakalan berakhir! gak usah buang-buang waktu cuma buat nunda sakit hati!" ketus Elena percaya diri.


Amira tersenyum getir, baru kali ini hatinya terasa sangat marah. Walaupun sebagian yang dikatakan memang benar, tapi Amira tidak terima akan pernyataan terakhir Elena.


"Nona manis jembatan Ampera! tolong ya gak usah sok tahu! sekalipun Saya sama Mas Axel nikah bukan dasar menjalin hubungan dulu ... tapi, pernikahan Kita bakalan awet kok!" jeda Amira berani melawan, senyuman sinis terukir jelas dibibirnya. Reaksi baru yang ditunjukkan oleh Amira memang terlihat badas.


Melihat lawan bicaranya diam, Amira melihat jam yang memang digantung di dinding toilet.


Sudah setengah jam dirinya meninggalkan kelas.


"Jadi, ya Nona! Saya rasa Anda itu cuma sekedar masalalu! yang gak ada hak untuk memutuskan pernikahan Saya!" ketus Amira berjalan melewati Elena, meninggalkan kamar kecil.


Kondisi kamar kecil dipenuhi hawa panas. Nafas memburu yang keluar dari mulut Elena sungguh merasa malu setelah mendapatkan perlawanan.


"Kurang ajar! kata Doni itu anak polos sama tertindas! tapi kok, dia berani banget!" keluh Elena berguman sendirian dikamar mandi, memandangi celah pintu yang terbuka.


*


"Kok, Amira belum datang juga sih? Angel aja udah balik!" katanya, kemudian baru terfikirkan kejahatan yang sering direncanakan oleh Angel kepada Amira.


"Aku tahu, pasti Angel udah ngelakuin sesuatu ke Amira! Aku harus pastiiin!" seru Reyno bergegas untuk mengecek kondisi sang sahabat.


Tapi belum sempat mengangkat bokongnya tiba-tiba Amira datang dengan senyuman merekah.


"Maaf Bu, tadi Saya mules!" jelas Amira Kepada sang Dosen, segera kembali ketempat duduknya.


Dari kursi samping selisih beberapa kursi. Angel sedang kesal, melipat tangan.


"Kok, Amira udah kesini lagi?"


Amira duduk tenang tanpa berniat untuk menoleh ke arah manapun. Sibuk membuka buku untuk mengejar materi yang telah tertinggal selama dirinya pergi.


*

__ADS_1


Ketika selesai membersihkan diri, Elena telah jauh melangkah. Matanya menjadi cerah saat melihat Axel sedang berjalan gagah menyusuri lorong kampus.


"Axel?" panggil Elena berlari untuk menghampiri Axel disana.


"Hah! apes banget kenapa lagi malah ketemu disini!" guman Axel, terus saja melangkah. Meskipun tanpa menoleh dirinya tahu suara pemanggil namannya tadi adalah Elena.


"Ih, kok malah jalan terus sih!" ketus Elena justru Axel tidak berhenti.


"Set."


Setelah bersusah payah akhirnya Elena mampu meraih kemeja Axel untuk menghentikan langkah laki-laki itu.


"Nah, kan akhirnya dapet! Kamu kenapa sih Xel? Kayaknya gak seneng banget ketemu sama Aku!" protes Elena sadar sedari tadi Axel menghindari dirinya.


"Aku? gak papa! kenapa emangnya?" jawab Axel enggan menatap Elena karena belahan dadanya terbuka dan itu sangat membuatnya tidak nyaman.


"Hey, lihat Aku dong!" protes Elena menarik paksa wajah sang Dosen untuk menatap dirinya.


"Patz!" dengan tegas Axel menepis tangan lentik Elena dari wajahnya. Hingga membuat tangan Elena terpental.


"Elena Kamu jangan sembarangan sentuh wajah Saya ya?" imbuhnya dingin namun sangat terdengar tegas itu.


Tentu saja Elena merasa sedih mendapatkan penolakan dari Axel secara kasar, mengusap tangannya sendiri.


"Kamu kenapa sih berubah?" tanyanya menganggap hari ini masih sama dengan hari yang lalu. Padahal Elena sendiri yang telah pergi tetapi tidak sadar akan kesalahannya sendiri.


Sadar telah melakukan kesalahan diluar batas, karena bersikap kasar. Timbul sedikit perasaan bersalah di hati Axel sekarang.


"Maaf, Aku cuma nggak mau gara-gara Kamu pegang wajah Aku jadi timbul gosip yang nggak penting!" jelasnya kemudian.


"Tapi, kan dulu kita sering kayak gini Xel?" balas Elena membawa serta cerita kenangan.


"Maaf karena itu dulu sekarang udah nggak!" tegas Axel tanpa menunda.


"Apa karena Kamu udah nikah? terus bikin Kita jauh? Kamu nikah sama anak didik Kamu bukan karena rasa cinta kan?" cerca Elena.


Mendapatkan beberapa pertanyaan secara beruntun membuat Axel terdiam. bukan karena mengaku itu tuduhan Elena. Melainkan dia sedikit terkejut ternyata Elena telah mengetahui kenyataan tentang pernikahannya.


"Aku emang nikah tanpa cinta! tapi itu dulu! karena sekarang Aku udah cinta sama istriku, Elena!" tegas Axel hampir berbelok untuk memasuki kantor. Tetapi tangannya ditahan oleh Elena.

__ADS_1


"Bohong!" sela Elena langsung. Meragukan pernyataan asal padahal Dia mendengarnya sendiri secara jelas.


"Aku kenal Kamu udah lama Xel! Kamu gak mungkin goyah secepat ini!" imbuhnya lagi.


__ADS_2