
Seperti yang Dargo dikatakan sebelumnya, lelaki itu benar-benar datang ke kampus dimana Axel mengajar. Hanya bermodalkan tekad karena ingin bertemu guna memintanya sesuatu.
Gedung kampus yang mewah dan tinggi ketika tubuhnya terlihat kecil saat berdiri didepan pintu gerbang.
"Wah pantesan aja Axel banyak duit ... orang dia kerjanya di kampus ternama." kata Dargo sedikit takjub.
"Pokoknya hari ini Gue harus minta duit lagi sama Dia, lagian duit yang kemarin Dia kasih kan udah habis." imbuhnya mulai melangkahkan kakinya memasuki kawasan kampus.
Kedatangan Dargo kemari tentu saja menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dari semua orang. Apalagi saat penampilannya yang kumuh dan kotor itu percaya diri memasuki kawasan bersih nan elit ini.
"Itu ngapain gembel masuk kesini?"
"Kok Pak Satpam diem aja sih?"
"Pergi yuk, takutnya minta uang lagi."
Para mahasiswa berbicara seraya menghindari dengan mencari laju jalan yang lain. Terlebih bau badan Dargo sangat menyengat hidung. mereka mengira Virgo adalah sosok yang berbahaya dan ingin membuat rusuh, sebenarnya itu bisa saja terjadi. Karena Dargo selalu menggunakan kekerasan bila tidak mendapatkan apa yang dia mau.
"Sialan! Mereka gak tahu aja biar gembel gini Gue ini bapaknya Guru di Kampus ini tahu!" sungut Dargo memaki perlakuan kurang ajar. menyombongkan diri tentang statusnya sebagai ayah kandung Axel. Padahal selama dirinya menjadi Ayah tidak pernah sekalipun berperilaku seperti sosok yang sedang diagung-agungkan itu.
Tatapan mata jijik serta meremehkan bukan tanpa alasan. Andai saja pakaian Dargo lebih bersih dan sopan tentu saja Mereka akan lebih menghormati Dirinya. Bukan karena pakaian yang mahal dan bermerek tapi tingkah laku juga sangat berpengaruh untuk mendapatkan sebuah penghormatan.
Security yang kebetulan sedang berjaga, setelah mendapatkan laporan segera bergegas untuk mencari keberadaan Dargo.
"Ah, itu dia orangnya." katanya hingga akhirnya berniat untuk menghampiri lelaki itu ketika berdiri di tengah halaman Kampus.
"Permisi Pak, maaf ada keperluan apa yang datang kemari?" sapa security masih bernada ramah, sebab usia Dargo lebih tua darinya. Serta melakukan interogasi lebih dulu sebelum melakukan tindakan.
Dargo menoleh, memperhatikan sosok yang sedang bertanya padanya.
"Saya mau cari anak Saya!" sahutnya.
Walaupun ada keraguan, mana mungkin seorang Dargo memiliki anak yang sedang mencari ilmu di kampus ini. Sebisa mungkin Security memahami dan bertanya lagi.
__ADS_1
"Maaf kalo bisa Saya tahu, siapa nama anak Bapak ... nanti Saya bantu carikan." katanya.
"Gak usah Mas! Saya bisa cari sendiri!" tolak Dargo jika menerima bantuan dari Security bisa saja Axel malah mencari alasan agar tidak bertemu dengannya.
"Gue gak mau, nanti bisa aja Axel alesan ini itu karena Dia gak mau ketemu kan? mendingan Gue puterin aja ini gedung kampus! nanti juga ketemu!" batin Dargo, mengutarakan pendapatnya disana.
"Maaf Pak, bukannya Saya lancang tapi kedatangan Bapak kesini itu sangat menganggu kenyamanan para mahasiswa." tukas Security mulai bertindak tegas.
"Eleh, lancang banget jadi orang! gak usah sok deh Kamu Mas, cuma Security aja belagu! asal Kamu tahu ya! Anak saya itu Dosen disini! jangan macem-macem Kamu!" balas Dargo memaki.
Terang saja makian tersebut hanya dianggap sebagai angin lalu saja. Karena Security hanya mengira Dargo mengada-ada.
Sebaik mungkin dirinya telah menggunakan cara halus untuk mengusir Dargo dari tempat ini, Namun tampaknya sia-sia saja. akhirnya harus menggunakan cara kasar.
"Ayo Pak, Saya gak mau kena masalah cuma gara-gara gagal ngusir Bapak dari sini!" hardiknya menyeret tubuh Dargo. Tapi seperti kerasnya batu justru Dargo sama sekali tak ada niatan untuk pergi.
"Eh,eh, lepasin gak! jangan sembarangan pegang-pegang Saya!" kata Dargo memberontak.
Kali ini security tidak bergeming dan terus melakukan pengusiran, tubuhnya yang kekar dengan mudahnya membawa tubuh ceking Dargo menuju keluar gerbang.
"Eh buka tolol! Saya ini Bapaknya Axel!" tukas Dargo menggebrak jeruji gerbang.
Daripada mempercayai kata-kata Dargo yang terdengar seperti mengaku-ngaku saja. Security malah terkekeh.
"Bapak gak usah ngaku-ngaku Pak Axel itu anaknya Pengusaha Ibu Mila sama Bapak Anggoro! jangan ngadi-ngadi deh Pak." balasnya santai.
"Eh? apa Kamu bilang? Axel anaknya Pengusaha yang kaya raya itu?" tanya Dargo lebih memastikan apa yang baru saja Ia dengar. Walaupun dirinya mendekam di penjara perihal Anggoro dan Mila adalah sepasang pengusaha sukses Dia pun juga tahu.
Tak ada jawaban yang terucap, sebab Security lebih memilih pergi meninggalkannya disana.
Dargo masih tercengang, kemudian mengeluarkan ponsel bututnya dari dalam saku.
Uang pemberian Axel sebagian digunakan untuk membeli ponsel second. Tangannya sibuk menekan huruf alfabet untuk mencari sesuatu di kolom pencarian internet.
__ADS_1
"APA? ternyata selama ini Axel udah diadopsi?" ucapnya lebih tercengang saat membaca dan melihat foto Axel berada ditengah-tengah kalangan berada. Walaupun tak disebutkan secara gamblang bahwa keluarga itu telah mengadopsi Axel, namun setelah membaca dan melihat beberapa artikel Axel senantiasa ada. Jelas saja Dargo berfikir demikian.
"Enak banget itu anak hidupnya sekarang! pantesan aja punya mobil mewah, gak takut mati kelaparan kayak Gue sekarang ini!"
"Gak! Gak bisa dibiarin! Gue harus cari tahu alamat rumah Axel! Gue harus minta bagian dari jatah warisan, gini-gini Gue kan bapak kandungnya!" tegas Dargo lebih bertekad untuk menemui Axel bagaimanapun caranya.
Dargo beralih mengubah target pencarian, dan bukan lagi memaksa untuk memasuki kawasan Kampus. Dia pun pergi dengan mata yang terus mengawasi layar ponselnya untuk melihat alamat rumah Axel sekarang.
Angel melihat dari kejauhan sehingga setelah kabar tentang orang aneh membuat kerusuhan.
"Ah, jadi bapak-bapak itu bokapnya Axel?"
"Cih, emang pantes sih! mirip!" hina Angel meksipun sejujurnya tidak ada kemiripan sama sekali.
"Ah, gue tahu!" imbuhnya lagi.
"Gue bakalan ajak kerjasama itu bapak-bapak." tekad Angel akhirnya mengejar Dargo menggunakan jalan lain.
*
Ditepi jalan diatas trotoar Dargo berdiri,
"Perasaan Gue daritadi nyari alamatnya di internet kok gak ada?" keluhnya sibuk mencari namun tak kunjung menemukan alamat rumah Axel.
Didalam mobil Angel mencari keberadaan Dargo dengan melihat ke sepanjang jalan.
Tiba-tiba terdengar nada ponsel sebagai tanda ada panggilan telepon yang masuk.
"Angel, kamu lagi dimana? Mama lagi bete banget! bisa gak Kita ketemu?" sapa Eva saat panggilan darinya tersambung.
"Bete kenapa kali?" tanya Angel hingga akhirnya menemukan target utama yang sedang dicari.
Terdengar Eva menceritakan semua kejadian yang menyebabkan perasaan kesal dalam hatinya. Tetapi Angel malah menyeringai.
__ADS_1
"Oh, jadi gitu ceritanya ... tenang aja Ma ... Angel punya rencana bagus!" katanya menginjak rem mobil berhenti tepat disamping Dargo berdiri.