
Mendapatkan penentangan dari Elena seakan mengetahui kepribadian yang Dia miliki. Axel berdiri santai mengalihkan pandangannya dengan senyuman penuh arti.
"Kenapa kok Kamu malah senyum? ada yang lucu?" keluh Elena.
"Ada lah! Lo itu lucu Elena!"
"Gue kira semenjak Lo pergi ke LA paling gak sifat sok tahu Lo udah berubah! ah ... tapi ternyata Gue salah!" imbuh Axel akhirnya mengalihkan tatapannya kepada Elena.
Elena sungguh terasa akan sindiran itu, walaupun Axel bukan sedang menyindir melainkan memang menyerangnya.
Pada akhirnya Dia hanya menggigit bibirnya saja, ingin mengelak namun tak bisa berucap.
"Udah kan? selesai?Gue mau ke kantor!" pamit Axel karena akhirnya Elena malah diam.
Baru saja Axel melangkahkan kakinya, bahkan siap memutar tubuhnya yang kekar.
Tiba-tiba,
"Kamu masih sayang Aku kan Xel?" tanya Elena mampu menghentikan langkah Axel yang semula telah bertekad untuk meninggalkannya.
Lagi-lagi Axel harus meluruskan permalasahan ini dengan segera.
"Kayaknya Lo harus tahu satu hal deh Elena!" ucapnya.
Elena masih menunggu, walaupun hatinya sudah bisa menerka jawaban Axel pasti masih sama seperti pernyataan awal.
"Gue, udah gak ada perasaan apapun sama Lo!" tegas Axel untuk yang terakhir kalinya.
"Deg!"
Perasaan hancur Elena mendapatkan dua pernyataan yang sama.
"Padahal Aku balik ke Indonesia cuma demi Kamu!" isak Elena dengan suara bergetar, pada akhirnya tak lagi bisa menahan air bening yang hendak buru-bu terjun melalui kelopak matanya.
Sebagai laki-laki yang baik, tangisan Elena membuat Axel menjadi tak tega. Dosen killer itu kembali membalikkan badannya entah untuk yang keberapa kalinya akibat ulah Elena ini.
Kemudian menepuk kedua bahu itu penuh perhatian dari seorang teman. Tidak ada rasa cinta yang terpancar dari retina matanya. Elena bahkan bisa melihatnya jua.
"Elena! Kita bisa jadi teman! tapi jangan pernah ungkit kejadian dulu lagi!" ucap Axel lembut penuh perhatian namun tersirat sebuah peringatan.
"Kenapa? apa karena Dia?" tanya Elena menyebut Amira dengan kata Dia saja.
"Ya!" jawab Axel sangat yakin.
"Tapi dulu, cuma Aku yang bisa bikin Kamu jatuh cinta!" kekeh Elena masih saja membawa kenangan.
__ADS_1
Tanpa Axel sadari dibelakang datang Amira sedang membantu Dosen wanita membawa buku sampai ke kantor. Karena posisi Axel membelakangi Amira.
Mata Elena melihat kedatangan sang rival, hingga timbul kesempatan untuk membuat hubungan Mereka menjadi renggang.
"Aku, gak akan pernah rela Kamu jadi milik orang lain Xel!"
"Kebetulan ada Amira! aah, Aku tahu!"
"Tapi dulu, Kamu bisa cinta sama Aku kan?" pertanyaan jebakan yang Elena ciptakan agar Amira mendengar pertanyaan ini.
"Ya! tapi---"
"Brakk!" Suara buku jatuh menabrak lantai keras, Amira melepaskannya ketika tersentak kata-kata Axel barusan.
Hingga Axel terkejut dan membalikkan badannya, ternyata Amira sudah ada disini.
"Ya ampun Amira kamu gak papa?" tanya Dosen Wanita membantu Amira merapikan buku kembali.
"Aduh, maaf ya Bu ... gara-gara Amira malah jadi berantakan!" keluh Amira untuk dirinya sendiri.
"Berantakan kayak hati Amira sekarang ini Bu," batin Amira dalam keadaan tangan yang sibuk hingga tinggal buku terakhir.
Amira membawanya kedalam ruangan.
"Yes! akhirnya itu bocah ingusan bisa denger! Gue yakin Mereka sebentar lagi pasti berantem!" batin Elena puas setelah misinnya berhasil.
"Amira, Kamu gak papa?" tanyanya khawatir, tapi Amira yang terlanjur kecewa pergi begitu saja tanpa menjawab.
"Amira!" pekik Axel berusaha mengejar, tetapi Elena malah menahan dirinya.
"Kamu kan udah bikin perjanjian! Pernikahan Kamu gak boleh bocor kan?" ucap Elena perduli untuk menambah keberhasilan rencananya.
Tetapi Axel sama sekali tak peduli, menarik tangannya melepaskannya.
"Gue gak perduli lagi sama isi perjanjian! karena sekarang Amira lebih penting!" ketus Axel segera berlari mengejar Amira semakin menjauh.
"Pak Axel ternyata masih cinta sama Dia? Aku kok bodoh banget bisa ngomong Pak Axel buat cinta sama Aku?" isak Amira berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran Axel. Tangannya sibuk mengusap airmata yang keluar. Entah mengapa hatinya terasa amat sakit. Dicengkeram kuat oleh Amira atas perasaan baru yang Ia rasakan selama hidupnya.
Dari arah berlawanan Doni yang selesai mengajar, melihat Amira sedang berlarian.
"Amira kenapa lari-larian? eh, tapi kok dia kayaknya nangis ya?" guman Doni sampai menyipitkan matanya. Hingga akhirnya Amira melewati dirinya begitu saja tanpa menyapa.
"Kayaknya ada yang gak beres nih!" guman Doni akhirnya mengikuti kemana perginya Amira.
*
__ADS_1
Tujuan Amira berlari keatas loteng, mencari tempat tersembunyi untuk meluapkan perasaan sakit hati. Hingga tempat inilah yang telah Amira langsung pilih.
Diatas loteng memang tidak ada orang, situasi yang sangat cocok bagi Amira.
"AHHH, PAK AXEL, KENAPA BUKAN SAYA!" jerit Amira berdiri ditepi, berteriak sekencang mungkin.
Tanpa Amira tahu, Doni sedang berdiri dibelakang. Tersenyum simpul melihat sikap anak didiknya tanpa berniat untuk menganggu. Sebaliknya Doni malah mengeluarkan ponselnya untuk merekam.
"Kayaknya ini bakalan jadi momen jeritan isi hati! Gue rekam buat kasih tahu ke kulkas dua pintu!" ucapnya.
Seperti yang dikatakan, Amira terlihat mengatur nafasnya untuk kembali berteriak. Badannya sampai diangkat tegap.
"PAK, SAYA GAK TERIMA! KENAPA BUKAN SAYA AJA YANG BISA BIKIN BAPAK CINTA! SAYA GAK RELA DATENG TERAKHIR!"
"HAH, HAH ...SAYA BARU AJA MAU NAPAS BAHAGIA PAK! TAPI HATI SAYA UDAH PATAH LAGI!" imbuh Amira lagi.
"SAYA GAK MAU NIKAH KONTRAK! BISA GAK KALO KITA NIKAH SELAMANYA AJA! APA SAYA TERLALU EGOIS?"
"Enggak Kamu gak egois kok! Oh ya kalo patah tinggal masukin ke mesin rautan aja lah!" sela Doni sebelumnya memasukkan ponselnya kedalam saku.
Seketika Amira menoleh,
"Bapak sejak kapan ada disini?" tanyanya dengan wajah memerah karena malu.
"Daritadi, Kamu gak sadar kan? padahal Kita tadi papasan loh!" jawab Doni santai, menghampiri anak didiknya sekaligus istri dari temannya itu.
Berjalan hingga akhirnya tiba diposisi yang sama dengan Amira. Matanya langsung disuguhi pemandangan yang indah jauh mata memandang.
"Kalo Saya lihat kayaknya Elena bikin masalah ya?" terka Doni mengingat Elena telah mengutarakan perasaannya saat bertemu dengannya.
Walaupun kenyataannya memang seperti itu tentu saja Amira tak mau mengakuinya. Semula mencoba menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan prasangka Doni.
Tetapi,
"Gak usah bohong! Saya tahu kok! Orang Elena aja kekeh banget mau bikin Axel jatuh cinta lagi!" tukas Doni tiba-tiba.
Jelas aja Amira membuka matanya lebar mendengar hal ini. Kemudian kepalanya tertunduk sedih.
"Jadi, sebentar lagi Pak Axel bakalan cerai dong sama Saya?" tanyanya lirih.
"Ya enggaklah! kok Kamu bisa ngomong kayak gitu?" tanya Doni balik.
"Lah, tadi Pak Axel juga ngaku suka sama Bu Elena!" jawab Amira semakin lirih.
"Hahahaha." Suara tawa keras Doni yang saat mendengar ucapan Elena mampu menggelitik perutnya.
__ADS_1
"Kok, Bapak malah ketawa sih?" tanyanya.
"Haha, maaf-maaf ... Amira, Saya kasih tahu ya?"