Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Pacaran.


__ADS_3

Amira menanti jawaban dari Doni dan juga Ani. Mereka duduk didepan teras depan rumah sederhana milik Ani sendiri.


"Kok malah diem aja? cepetan ngomong!" hardik Amira lagi. Ternyata gadis yang biasa bersabar sekejap berubah dan hendak marah.


"Iya, iya ... sebenarnya Kita udah resmi pacaran." jelas Ani tak berani menatap wajah Amira.


"Buahaahaha." Amira tertawa sampai terpingkal-pingkal. Bahkan sampai menepuk perutnya.


Melihat reaksi yang Amira perlihatkan, membuat Ani dan Doni bertanya-tanya.


"Kayaknya Amira gila deh." kata Doni dengan menunjuk dahinya dengan jari telunjuk.


"Padahal cantik tapi kok ...." ucapan Ani terputus ketika Amira menutup mulutnya. Bunyi suara yang terdengar tidak jelas. Seperti dengungan hewan kumbang saja.


"Enak aja! Aku tuh normal tahu!" balas Amira dengan nada merajuk. Kemudian melepaskan tangannya dari mulut Ani.


"Akhirnya Aku ada temen main rahasia-rahasiaan ...." kata Amira, mengira Ani dan Doni akan melakukan hal sama seperti dirinya juga.


"Yey, enggaklah!" kata Ani dan Doni dengan nada bicara yang bersamaan.


"Lah, kok?" ucap Amira tak mengerti.


"Saya nggak mau main rahasia-rahasiaan kayak kalian ... Saya juga udah tua nggak ada rencana buat pacaran lama-lama, secepat mungkin Saya bakal nikahin Ani dan mau sebar undangan." jelas Doni lantang.


Suara tepuk tangan berasal dari telapak tangan Amira. Gadis itu benar-benar merasa takjub dengan keputusan sang Dosen.


"Woah, Bapak ini diam-diam ternyata bijaksana banget ya?" pujinya.


"Jadi kayak gini ya kalau Dosen sama mahasiswa itu berawal dari saling cinta? kayak nggak ada beban aja gitu waktu kalian ketahuan lagi pacaran?" imbuh Amira lagi. Dia sempat merasa iri, namun tidak sampai untuk berkecil hati di waktu yang lama. Perasaan sedih itu segera dia tepis dan menyunggingkan senyuman manisnya.


Sedangkan Ani merasa sangat bahagia. Memang sebelum Amira datang, Doni melamarnya lebih dulu. Walaupun sempat ada perdebatan kecil. Sebab Ani menyadari bahwa dirinya bukanlah berasal dari keluarga yang mapan. Bagaimana jika keluarga Doni tidak merestui hubungan mereka. Tetapi Doni meyakinkan dirinya dan tetap bersikukuh untuk mengajak dirinya ke jenjang pernikahan. Tentu saja Ani menyetujui dan hampir melakukan kecupan mesra. Sayangnya belum sempat bibir mereka saling bersentuhan, Amira lebih dulu datang dan memergoki dan menghancurkan kemesraan itu.

__ADS_1


"Kamu habis dari Bandara nganterin Axel ya?" tanya Doni akhirnya.


"Iya Pak," jawab Amira singkat.


"Kayaknya Dia udah sampai deh sekarang! Kamu nggak mau telepon Dia?" ujar Doni, sebenarnya Dia juga merasa khawatir. Karena Axel pergi bersama Elena.


"Ya udah deh Aku coba telepon dulu kali ya?" ucap Amira mencoba untuk menghubungi Axel.


*


Di sebuah hotel ternama. Axel memang mengganti tempat tanpa berbicara lebih dulu.


Sehingga Elena merasa terkejut melihat alamat hotel yang berbeda dengan yang sudah Roby persiapkan.


"Perasaan hotelnya bukan yang ini deh?" ucapnya.


"Emang! hotel yang dikasih sama Papa kamu itu hotel murah ... dan ini adalah hotel yang paling mahal di kota ini! tenang aja Aku bayar pakai biaya sendiri kok, terus aku juga juga bakalan bayar untuk kamar Kamu." terang Axel. Baru kali ini dia bersedia menggunakan fasilitas uang yang diberikan Mila untuknya. Uang yang dalam jumlah fantastis tersimpan di dalam kartu kredit pemberian sang Mama selama beberapa tahun. Axel tidak pernah menggunakan uang itu semenjak bekerja sebagai Dosen. Kini demi cintanya kepada Amira, Dia terpaksa menggunakan uang itu sebagai alat menghindar dari Elena.


Mereka akhirnya memasuki gedung hotel mewah itu. Karena dirinya adalah orang yang sudah memesan, Axel segera menuju ke meja resepsionis. Entah apa yang diobrolkan oleh mereka berdua. Hingga tampak sang resepsionis memberikan dua kartu kepada Axel.


"Nih, satu buat lo!" kata Axel menyerahkan kartu itu kepada Elena.


"Emangnya kita nggak sekamar?" tanya Elena dengan bodohnya.


"Enggak lah! jangan ngaco Kamu!" ketus Axel berlalu menarik tas kopernya meninggalkan Elena di lantai dasar kepunyaan hotel.


Lagi-lagi Elena mendengus kesal, melihat tahu Axel yang mulai tenggelam memasuki sebuah lift.


"Kalau kayak gini terus sih rencana Gue bisa gagal total!" katanya, akhirnya terbukalah hati Elena. Dia sempat mengira masih ada cinta dihati Axel untuk dirinya. Namun setelah yang terjadi Dia sedikit tahu.


Dipandangnya kartu hotel itu, Elena mulai memikirkan sesuatu. Hingga langkah kakinya justru meninggalkan hotel.

__ADS_1


*


"Halo sayang?" sapa Axel saat menerima panggilan video call dari istrinya. Terlihat wajah yang sangat dia rindukan sedang tersenyum manis di depan layar.


"Gimana Xel, aman nggak?" kata Doni membuat Axel terkejut. Hingga akhirnya dia tahu Amira sedang bersama teman-temannya.


"Aman dong! iman Gue kan teguh pada pendirian! tapi ini baru sampai, bahu Gue pegel banget." keluh Axel menggerakkan tahunya untuk menghilangkan rasa pegal.


"Cie percaya deh percaya!" balas Doni dengan nada mengejek.


"Ya udah Mas istirahat dulu aja ya, tapi nggak usah sampai bobo ini soalnya kan udah mau malam nanti malah nggak bisa tidur lagi." Amira melihat suasana sudah hampir gelap.


"Oke hati-hati kalau pulang ya Sayang." kata Axel lagi, membentuk bibirnya mengecup dari jauh. Amira tergelak malu berani membalas dengan hal sama.


Suara Ani dan Doni menertawakan tingkah Axel memang menjadi alasan Amira. sedangkan di arah seberang Axel mengacungkan bogemnya kepada mereka berdua. Akhirnya akhirnya mengakhiri panggilan telepon.


Amira meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas, tetapi ternyata nada ponsel Doni berganti menimbulkan bunyi.


Mata Doni tampak berkerut ketika membaca nama kontak. Dia tampak ragu untuk menerima panggilan itu dan menunggunya beberapa saat.


Namun karena rasa kemanusiaan, Roni menghela nafas panjang dan menggeser ikon terima.


"Ada apa El?" sesaat dia yang malas hanya menunggu saja. Enggan mengatakan banyak hal dan malah membolak-balikkan bola matanya. Hingga akhirnya ada satu kalimat Elena yang mampu membuat Doni membuka matanya lebar.


"Apa Lu bilang? Lu nggak lagi nginggo kan El?" suara sambaran berupa jawaban pedas yang terdengar tidak jelas ketika Elena memaki Doni, hanya menimbulkan suara gaduh seperti hewan lalat yang mengerubungi makanan.


"Amira, ini Elena mau ngomong." kata Doni, setelah mendapatkan makian ternyata dia menyerahkan ponselnya kepada Amira.


Meskipun sempat merasa ragu dan curiga, akhirnya Amira menerima uluran tangan yang sedang memberikan ponsel itu untuknya.


"Hallo Kak, ada apa?" tanya Amira dengan dahi yang berkerut.

__ADS_1


"Sekarang?" jawab Amira mengalihkan tatapannya kepada Doni dan Ani yang sedang memperhatikan wajahnya juga.


__ADS_2