
Sekalipun tuduhan Eva benar, tentu saja Demian langsung tegas mengatakan kebalikannya.
"Kata siapa? gak usah sok tahu kamu Eva! kalian darimana aja sebenarnya, jam segini baru pulang?" tegas Demien berbalik menyerang anak istrinya dengan pertanyaan. Karena hanya cara itu dia bisa mencari celah untuk tidak menjawab pertanyaan Eva.
"Angel baru pulang dari bikin tugas kelompok Pa ...." kilah Angel padahal dirinya pergi party disebuah club malam.
Demien bergantian mengalihkan pandangannya kearah Eva, sedang menunggu jawaban darinya.
"Kalo aku dari rumahnya Amira." jawab Eva langsung.
"Ngapain?" tanya Demien menyelidik karena dirinya tahu Eva menaruh rasa benci terhadap putrinya itu. Kenapa pula Eva harus repot-repot datang kesana.
"Ya jenguk Amira lah Mas ... kan aku ini ibunya ... jadi wajar dong? Amira itu beruntung banget punya Ibu tiri yang baik hati kayak aku ini ... walaupun cuma anak tiri tapi nyatanya aku tetep gak beda-bedain status dia." jelas Eva sombong. Dari ruangan dapur Mbok Darmi menjulurkan lidahnya karena mual.
"Heleh, mbelgedhes Bu, Bu ... ngaku-ngaku gak beda-bedain ... jangan lupa saya ini saksi hidup yang selalu tahu perlakuan jahat Bu Eva sama Non Amira." bisiknya.
Daripada mendengarkan cerita dongeng yang dikarang Eva hanya membuat Mbok Darmi kesal. Segera Mbok Darmi pergi untuk beristirahat dikamarnya.
"Udahlah, tidur aja daripada hipertensi." katanya berlalu.
Reaksi yang ditunjukkan wajah Demien hanya datar. Walaupun kenyataannya dia juga ingin melihat keadaan Amira dengan matanya sendiri. Namun, bibir kaku itu hanya memendam dalam hati.
"Tapi Pa, lebih baik gak usah dateng kesana lagi ... asal Papa tahu ... tadi Mama diusir sama Axel ... emang itu anak pungut kurang ajar banget!" keluh Eva mulai mengadu. Padahal dirinya sendiri yang berbuat ulah.
Awalnya Demien mengira Eva benar-benar tulus untuk menjenguk Amira disana. Tetapi setelah mendengar pengakuan Eva barusan. Barulah dirinya tahu pasti istrinya telah membuat keributan dirumah Axel.
"Yaudahlah gak usah kesana lagi ... gampang kan? lagian kamu kurang kerjaan banget, buang-buang waktu aja." seru Demien dingin. Laki-laki ini merasakan matanya yang berat. Akhirnya beranjak untuk pergi ke kamar beristirahat.
"Pa kok malah pergi? mau kemana?" tanya Eva melihat Demien beranjak dari tempat duduknya.
"Tidurlah ... kamu gak tahu ini udah malem?" jawab Demien terus berjalan meninggalkan Eva diruang tamu.
Demien tiba dikamar utama. Sorot matanya mengarah langsung kearah foto pernikahannya dengan Rani. Disamping foto itu ada foto lain. Foto mereka dimana ada Amira kecil tertawa lebar ketika berkunjung ke kebun binatang.
Potret gambar kebahagiaan terlihat jelas diwajah mereka bertiga. Kenangan manis saat mereka masih menjadi keluarga yang utuh.
"Rani, aku kangen." ucap Demien lirih. Memang Demien belum bisa menerima kepergian Rani hingga sekarang. Dirinya masih sulit menerima kenyataan pahit ini dan tetap menyalahkan Amira sebagai penyebab kematian Rani dulu.
Hingga langkah kaki Eva menyusul dari belakang menyadarkan Demien. Buru-buru Demien mengubah ekspresi wajah sedihnya itu agar tak diketahui oleh Eva. Harga dirinya memang tinggi, bukan tanpa alasan karena Demien tahu Eva sangat membenci Rani.
__ADS_1
"Kok malah berhenti disini Pa?" tanya Eva melihat Demien berdiri diambang pintu.
"Enggak apa-apa ...." jawab Demien singkat kemudian meneruskan langkahnya.
Sama halnya dengan Demien. Ketika Eva masuk matanya juga melihat gambar foto keluarga suaminya itu.
Tentu saja Eva kesal melihatnya. Apalagi sekarang dirinya telah resmi menjadi istri Demien. Dulu Eva pernah sekali meminta Demien untuk melepaskan foto itu dari dinding. Tetapi yang terjadi dengan tegas Demien menolak dan malah memaki Eva.
Sejak saat itu Eva tak pernah berani untuk meminta dan terpaksa melihat gambaran itu setiap kali menapakkan kaki dikamar ini.
Jam terus berjalan. Lebih baik Demien segera merebahkan tubuhnya itu untuk beristirahat.
Lampu utama Ia matikan digantikan dengan lampu kecil. Eva memejamkan matanya pula.
Dialam mimpi.
Demien sedang berdiri disuatu tempat yang indah. Tempat luas bernuansa putih bersih dikelilingi bunga berwarna-warni.
"Mas ...." panggil seseorang terdengar familiar ditelinga Demien.
Segeralah Demien memutar tubuhnya, karena sumber suara tepat dibelakang tubuhnya.
"Rani?" ucap Demien menghampiri istri tercintanya itu.
Rani masih terdiam menunggu Demien berhasil mendekati dirinya. Tanpa ragu Demien menggenggam erat jemari tangan Rani ketika jarak mereka semakin dekat.
"Sayang, aku kangen." ucap Demien langsung mengutarakan perasaan rindu untuk Rani seorang.
"Aku juga kangen Mas ... gimana kabar Amira? dia bahagia kan?"
"Deg." Pertanyaan Rani mampu menggetarkan hati Demien. Karena yang terjadi Amira sama sekali tidak merasa bahagia setelah Rani tiada.
"Mas, kenapa kok diam aja?" desak Rani karena Demien tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
"Mas, kamu gak gagal kan? aku tahu Mas kamu Papa yang baik buat Amira, aku percaya sama kamu Mas." ucap Rani semakin lirih. Tangan Demien perlahan merasa kosong. Dia pun menoleh hingga akhirnya menyadari sosok Rani kian memudar dan lekas hilang dari pandangan.
"Rani tolong jangan pergi! Rani!" pekik Demien mencoba meraih tubuh Rani yang tak mampu Ia sentuh.
"Mas, bangun ... Mas Demien?" panggil Eva menggoyangkan tubuh Demian. Suara jeritan Demien membangunkan Eva. Bahkan Demien menyebutkan nama Rani berkali-kali.
__ADS_1
Demien membuka matanya, air keringat membasahi sekujur tubuhnya itu. Ia pun mengangkat tubuhnya duduk diatas tempat tidur. Melihat keadaan sekitar membuat Demien sadar dirinya sedang bermimpi.
"Ini Mas minum dulu." kata Eva menyerahkan segelas air putih untuk suaminya. Demien menerima meminum beberapa teguk saja.
"Kamu mimpi apa Mas?" tanya Eva berlagak tak tahu padahal dengan jelas telinganya mendengar Demien menyebutkan nama Rani.
"Gak papa ... cuma mimpi buruk." kata Demien berbohong.
Eva memandang wajah Demien, ada banyak pertanyaan dari dalam hatinya.
"Mas, apa aku gak bisa bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku?" batin Eva saja, sengaja mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Sebab Eva tahu hanya akan menimbulkan pertengkaran bagi mereka bila dirinya nekat melakukan hal itu.
Keputusan yang paling tepat adalah kembali merebahkan diri untuk meneruskan tidur malamnya yang sempat terganggu.
"Udah malam Mas, ayo tidur lagi." seru Eva dingin dengan posisi tidur membelakangi Demien.
*
Kembali kerumah pengantin baru,
Waktu tengah malam Amira berjalan hati-hati mengatur langkahnya agar tidak bersuara. Karena tidur terlalu cepat menyebabkan dirinya bangun ditengah malam seperti ini. Ditambah dia melakukan makan malam di awal waktu petang. Sehingga perutnya terasa keroncongan karena lapar.
"Aduh ini perut kok gak bisa diajak kompromi sih!" kata Amira memarahi bagian pencernaan makanannya karena terus saja berbunyi.
Hingga terdengar bunyi nyaring dari sana.
"Sabar kek, baru juga jalan." sungut Amira lagi.
Tetapi baru saja menginjakkan kakinya ada suara dari ruangan dapur.
"Eh, siapa tuh? jangan-jangan maling lagi?" kata Amira. Merasa sedang dalam kondisi berbahaya, Amira mencari benda keras yang bisa digunakan untuk memukul. Hingga matanya tertuju pada stik golf disamping pagar tangga.
Amira hati-hati menarik benda panjang itu. Berhasil mengangkatnya dari tempatnya.
"Awas aja ya ... bakalan aku masih hadiah istimewa itu Maling!" ketus Amira tanpa rasa takut.
Amira mengintip dari celah pintu, memang terlihat bayangan seseorang dari pancaran sinar lampu.
"Ah, ternyata ada penyusup, lest go Amira dalam hitungan 3 ... oke 1,2,3 ...."
__ADS_1