
"Asik, akhirnya Reyno udah buka hati Dia buat Aku ... coba aja dari dulu Dia kayak gini, jadi Aku gak perlu jahat sama Amira kan." batin Angel bahagia semakin merekatkan tangannya.
Angel mengira Reyno telah menaruh hati padanya. Karena Mereka berjalan seraya bergandengan tangan. Padahal yang terjadi Reyno ingin menggunakan Angel untuk memanas-manasi Amira saja.
Meskipun di sisi samping kanan terdapat seorang wanita yang sedang menemani dirinya. Tetap saja retina mata Reyno terus mengarah untuk Amira seorang.
"Kok bisa kebetulan ya Kita ketemu di sini?" sapa Reyno basa basi lebih dulu.
Wajah Axel sempat gugup, karena terkejut.
"Lah, ngapain juga Gue takut? emangnya kenapa kalo Reyno tahu? gak masalah kan?"
Kemudian Axel mengubah ekspresi wajahnya kembali tenang. Memutar tubuhnya untuk melihat ke arah etalase. Memilih model ponsel yang cocok untuk istrinya.
"Reyno lagi cari apa di sini?" sapa Amira malah tidak memperhatikan tangan Reyno. Padahal Reyno telah bertekad untuk membuatnya cemburu.
"Ini lagi cari laptop, kalo Kamu?" tanya balik Reyno masih giat menunjukkan tangannya itu agar Amira melihatnya.
Dan seperti usahanya telah membuahkan hasil akhirnya Amira menyadari ke tangan mereka berdua saling merekat.
"Cie yang udah jadian selamat ya ...." ucap Amira dengan senyuman manis nan natural tanpa terlihat dibuat-buat. Tidak ada reaksi cemburu di wajahnya seperti yang sedang Reyno nantikan.
"Kamu nggak cemburu?" tanya Reyno. Sungguh terdengar sangat konyol.
"Cemburu? kenapa Amira harus cemburu?" sela Axel tertarik menimbrung obrolan Mereka.
"Eh, enggak kok Pak ... maaf Saya salah ngomong." ucap Reyno melupakan adanya Axel disini.
"Yaudah ya Pak, Saya permisi dulu." Reyno menarik tangan Angel. Niatan ingin membeli laptop Ia urungkan. Karena justru mereka keluar dari area jual beli barang elektronik.
"Temen Kamu kok aneh banget sih, maksudnya apa coba ngomong cemburu di depan suaminya? sengaja nantangin Saya?" sungut Axel bertanya.
Terang saja hal itu mengundang gelak tawa Amira, mengusap dada bidang Axel untuk memberikan pengertian.
"Malu ah udah gede masak cemburuan, apalagi saingannya anak didiknya sendiri." goda Amira.
__ADS_1
Axel pun ikut terpancing dengan gurauan itu dan hilanglah rasa kesalnya menjadi tawa.
"Ya udah oke pilih mana yang Kamu mau, pokoknya jangan ragukan kekayaan suamimu ini ... mau minta beli sama counternya juga boleh tapi tunggu Aku laporan dulu sama mayma Mila ya." gelak Axel diikuti Amira juga.
"Sombongnya kok nanggung amat sih Mas pakai bawa-bawa harta orang tua segala." keluh Amira menyindir sang suami.
Dan Axel hanya membalas dengan mengaitkan tangannya di leher istrinya. Kemudian mengajak kembali untuk lekas memilih tanpa harus marah atau juga tersinggung.
Mereka menyusuri Mall berdua menikmati waktu bersama.
Reyno duduk dengan pandangan mata yang kosong. Di sebuah kursi yang memang disediakan di setiap sudut oleh pihak Mall.
Lirikan mata sinis Angel jelas tahu alasan apa yang membuat Reyno sampai seperti itu.
"Cih, baru aja mau bahagia udah gagal lagi ... kayaknya emang bener deh yang diomongin Mama kalau Amira belum mati itu Gue nggak akan pernah bisa bahagia." batin Angel terjeda kemudian kembali memperhatikan wajah Reyno.
"Ah gue tahu, mungkin Gue juga harus pakai cara kekerasan buat bikin Reyno bertekuk lutut sama Gue."
Timbullah niatan Angel yang baru Gadis itu telah bersiap untuk merancang dan mengatakannya.
"Biasa aja kali ... nggak usah salah tingkah kayak gitu kayak sama siapa aja." imbuh Angel lagi melihat gelagat Reyno sangat mudah untuk diterka olehnya.
Reyno masih enggan menjawab hanya senyuman tipis mengisyaratkan betapa bodohnya Dia sudah mencintai istri orang lain.
"Padahal yang Aku tahu Kak Amira juga cinta lho sama Kamu." celetuk Angel mengada-ada entah apa rencananya kali ini dengan sengaja mengatakan kenyataan palsu.
Wajah Reyno ini langsung memutar menatap Angel dalam. Seakan pernyataan Angel ini mampu membuat hatinya menjadi cerah kembali.
"Kamu serius?" tanyanya dan Angel mengangguk saja.
"Gimana kalau Kita atur rencana buat nolongin Amira biar bisa pisah sama Pak Axel, pasti Dia akan terima kasih banget sama Kamu kan?" kata Angel dengan ajakan jebakan. Namun Reyno mengernyitkan dahinya.
"Tapi Amira kemarin bilang Dia udah cinta sama Pak Axel." balas Reyno dengar pengakuan Amira kala itu.
Mendengarnya Angel terlihat gelagapan namun segera mungkin mengubah ekspresinya.
__ADS_1
"Kamu nggak tahu sih kan Pak Axel bikin peraturan pernikahan, jadi mungkin itu cuma alasan Amira aja karena Dia takut diancam sama Beliau." jelas Angel memancing amarah Reyno.
"Apa? jadi gara-gara itu Amira nggak bisa lepas dari Pak Axel? nggak! ini nggak boleh dibiarin! Aku harus nolongin Amira."
"Bagus Reyno ... terus aja Kamu kemakan omongan aku, karena kalau Kamu sampai terlibat masalah hukum Aku bakalan jadi pahlawan buat Kamu ... dan bikin Kamu punya hutang budi sama Aku karena masalah ini." batin Angel di balik dari senyum tulusnya yang ingin menolong padahal memiliki rencana jahat terselubung tanpa Reyno ketahui.
*
Sebuah kamar kos kecil berukuran tiga petak. apa yang sedang memadu kasih di sana. Entah sudah keberapa kali Eva dan Dargo melakukan hubungan panas itu dalam satu hari.
"Kamu nggak mau pulang?" tanya Dargo mengusap rambut kekasihnya itu.
"Kamu ngusir Aku atau gimana ini?" keluh Eva tersinggung.
"Jangan marah dong ... maaf, Aku cuma takut nanti Kamu bisa dimarahin sama Suami Kamu." ungkap Dargo agar tidak memperpanjang kesalahan pahaman.
"Biarin aja dia marah! tapi kayaknya itu nggak mungkin karena Dia sama sekali nggak pernah peduli sama Aku." terang Eva lagi.
"Goblok banget sih suami Kamu! punya istri cantik dan bahenol kayak gini kok disia-siain." kata Dargo membuat Eva melayang saja akibat bualannya itu.
"Emang Mas Demien itu goblok banget! aku udah gatal banget sih pengen kuasain semua harta Dia," ungkap Eva dengan niatan jahatnya untuk Demien.
"Tenang aja kita bakalan culik anaknya dulu, terus minta tebusan ... waktu dia udah kasih tebusan kita balikin anaknya, dan kapan-kapan gantian Kita culik Dia." seringai Dargo disusul Eva juga. Bibirnya tersenyum licik saat mendengar rencana jahat Dargo yang terdengar menyenangkan.
"Ide bagus, gak usah lama-lama Mas ... besok langsung Kita eksekusi aja." pinta Eva kepada Dargo. Dan Dargo menyetujuinya dengan mengacungkan jempolnya itu.
*
Di rumahnya yang megah. Mila sedang kebingungan mencari dompet kulitnya. berjalan ke sana kemari serta mengeluarkan segala isi tas.
"Dompet Mama ke mana ya?" ucapnya.
"Bentar deh, Aku coba inget-inget dulu."
Agar lebih nyaman Mila pun duduk di atas sofa, mengusap dagunya menggoyangkan bola matanya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Ah, iya Aku tahu!"