
Keheningan malam semakin larut membuat Mereka tidak mau memperpanjang perdebatan konyol ini lagi.
"Hah, yaudah Kita tidur bareng! tapi Kamu yakin gak papa?" tanya Axel masih setengah ragu, tetapi saat ini dirinya tak memiliki pilihan lain lagi.
"Ya, gak papa lah Pak ... kan tinggal tidur aja?" jawab Amira polos.
Lagi-lagi Axel mengernyitkan dahinya, melihat wajah Amira datar bahkan terkesan biasa saja. "Lah ini anak seriusan? efek udah ngantuk berat deh kayaknya." batinnya heran.
"Brukk." Kemudian melemparkan kembali bantal dan guling keatas ranjang. Dan bergegas merebahkan dirinya di ranjang sisi kiri, membersihkan posisi tidurnya menggunakan tangan.
"Lah, kenapa malah berdiri? Kamu berubah fikiran?" tanya Axel sudah bersiap untuk lekas tidur, tetapi Amira malah berdiri mematung diposisi yang sama. Tentulah Amira sadar tentang lamunannya, kemudian bergegas untuk ke sisi kanan beranjak tidur.
Semula posisi kepala Axel terangkat karena tadi melihat Amira tak juga bergerak. Setelah melihat istri kecilnya mulai menempati tempat bagiannya. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya lagi.
"Ayo Amira, kalem aja gak papa kok!" batin Amira berdoa secara khidmat, lupa akan kehadiran Axel ada disampingnya. Apalagi dengan jelas Amira mengucapkan kata-kata itu menggunakan mulutnya lupa untuk membatin.
"Cih, dasar labil! tenang aja Saya gak akan sentuh Kamu! sekarang silahkan Kamu tidur senyenyak mungkin! anggep aja Saya gak ada." ketus Axel membalikkan badannya membelakangi Amira.
"Kalo Bapak gak kelihatan baru deh Saya bisa kayak gitu! tapi kan Bapak aja kelihatan gede plus nyata banget!" bisik gadis itu, bibir Amira seketika meruncing, perkataan Axel dikatakan secara blak-blakan itu sungguh menyinggung perasaannya. Namun, tanpa Mereka sadari. Entah karena lelah atau memang merasa nyaman, keduanya malah terlelap dalam waktu yang singkat.
*
Keesokan harinya, Amira dan Axel belum juga membuka mata. Padahal sinar matahari mulai nampak menyorot tubuh Mereka dari celah jendela kaca. Siapa yang mengira Axel tanpa sadar memeluk Amira lembut, dan sebaliknya Amira juga mengusap tangan kekarnya. Bahkan kepala dengan rambut panjangnya sedang bersandar berhimpitan dengan tubuh kekar Axel sekarang.
Hingga akhirnya suara ketukan pintu dari luar sebagai alarm membangunkan Mereka berdua.
"Tok, tok, tok."
Amira mendengar ketukan yang terus berbunyi, perlahan membuka matanya yang sepat. Tetapi terhalang oleh sinar matahari yang menyilaukan matanya.
"Emh." serunya lirih, masih belum sadar tentang posisi tidur Mereka, hingga akhirnya ....
"Astaga! apa ini?" seru Amira melihat pakaian dalamnya terpampang nyata berdekatan dengan tubuh kekar Axel.
Mendengar Amira berkata dengan nada tinggi membangun Axel segera.
__ADS_1
"Kamu, kenapa sih?" tanya Axel dengan nada malas, padahal Amira sedang mencurigai dirinya sekarang.
Buru-buru Amira menjauhkan tubuhnya dan menarik kain selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya itu.
Axel melihat tingkah yang dilakukan Amira hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa? kedinginan?" tanyanya.
"Bapak semalem udah berbuat macam-macam sama Saya ya?" tuduh Amira langsung.
Seketika Axel tersentak hingga mengangkat tubuhnya untuk duduk diatas ranjang. Siapa yang tak merasa kesal, mendapatkan tuduhan seperti ini padahal matanya belum terbuka secara sempurna.
"Amira, ini masih pagi loh! bahkan matahari aja baru aja dateng, terus Kamu gak lihat! mata Saya aja baru juga kebuka!" ketus Axel tak terima. Daripada menyesal ataupun meminta maaf, Amira malah tersenyum getir meragukan penjelasan yang keluar dari bibir Axel.
"Bapak yakin? terus itu apa?" tanyanya menggunakan dagunya untuk menunjuk barang berharganya ada disana.
Langsung saja Axel mengarahkan bola matanya, dan bagai tertampar kenyataan, serta pertanyaan yang memutar di otaknya melihat benda pusaka yang sebelumnya telah Ia kembalikan kedalam selimut semalam.
"Lah, kok bisa ada disini?" tanyanya heran, bahkan tanpa ragu mengangkat benda itu menggunakan tangannya.
Bukannya menjawab cercaan Amira yang ditujukan padanya, Axel tertuju dengan pemandangan kain selimut yang sedang digunakan oleh Amira. Hingga laki-laki itu setengah berdiri melihat seluruh pakaian Amira berceceran memenuhi lantai.
Kali ini giliran mulutnya yang mencebik kesal.
"Tuh, lihat Kamu sendiri yang udah bikin berantakan semua baju, Kamu kan yang narik selimut?" tukas Axel, walaupun Dia tak tahu kapan pula Amira menarik kain tebal itu semalam.
Dan Amira menyadari, ketika waktu tengah malam dirinya merasakan hawa dingin dari air conditioner.
"Ya ampun, iya Pak Aku yang ambil." jawab Amira dengan tawa cengengesan.
Tidak ada komentar yang terucap dari bibir Axel, hanya menatap sinis Amira sebagai hukuman untuk gadis muda itu.
"Baru juga buka mata! udah dituduh! padahal semalem udah berusaha banget ngumpetin itu benda pusaka!" celetuk Axel tak sadar membongkar rahasia sendiri kepada Amira.
"Jadi, Bapak udah pernah nyuri daleman Saya?" seru Amira, lagi-lagi menuduh Axel.
__ADS_1
Axel yang sedang berdiri ditepi ranjang, akhirnya berkacak pinggang. Mendapatkan dua tuduhan dalam waktu kurang dari setengah jam.
"Amira, Kamu ini! Saya gak ada niatan buat nyuri daleman Kamu! lagian buat apa? gak ada gunanya! Saya mau beli satu pabriknya juga bisa!" ketus Axel sengit mulai menyombongkan diri karena saking kesalnya kepada Amira.
"Beli satu pabrik mau buat apa Pak? emangnya Bapak mau jualan?mau resign jadi Dosen?" balas Amira malah serius menanggapi.
"Amira? Kamu belum bangun Sayang?" teriak Mila dari depan pintu. Karena sibuk berdebat Axel dan Amira tak sadar, padahal Mila sudah menunggu sejak tadi sekali.
"Ya ampun! jadi lupa sama Mama kan, ini semua gara-gara Bapak sih!" sungut Amira berani menyalahkan Axel.
Axel mendengus kesal mendengarnya.
"Apaan ini bocah bikin emosi aja perasaan! terus gimana sama nasib Gue yang udah dituduh seenaknya sendiri!" ketus Axel tanpa basa-basi, seraya merapikan selimutnya melipat dengan rapi kembali.
"Pagi Ma, maaf ya Amira lama buka pintunya." ucap Amira merasa tak enak hati. Tetapi sebaliknya Mila malah mengulas senyuman manisnya. Mencuri lirikan mata melihat Axel sedang merapikan selimut disana.
"Kalian habis tempur ya?" tanya Mila dengan terkekeh, dari sisi ranjang jelas saja Axel paham dengan plesetan kata Mila mengarah ke hubungan sensitif. Tetapi tidak bagi si polos Amira mengira dengan artian lain.
"Iya, kok Mama tahu?" jawab Amira langsung karena baru saja Mereka berdua selesai berdebat atau lebih benarnya obrolan mereka tak menemui titik akhir karena Mila. Pengakuan Amira jelas membuat Axel melebarkan kelopak matanya, dan langsung menoleh kearah gadis itu.
"Eh, buset! Itu anak gak kira-kira banget ... udah nuduh nyuri daleman sekarang malah ngakunya udah tempur!" sungut Axel dalam hati memaki Amira.
"Kok Mama malah senyum-senyum?" tanya Amira melihat senyuman merekah dibibir Mila sekarang.
"Iya dong! Mama kan bahagia banget sebentar lagi mau punya cucu." jelas Mila.
"Eh, cucu?" ulang Amira terheran-heran, merasa obrolan Mereka mulai tak nyambung.
"Loh, kenapa kaget? kan tadi Kamu bilang semalam Kalian tempur? ah, apa mungkin karena Amira masih kuliah, jadi mau nunda punya anak dulu?" kata Mila lebih melenceng jauh.
Barulah Amira tersadar dengan arti kata tempur yang dimaksud Mila tadi.
"Ya Tuhan, jadi tempur itu ...." seru Amira membayangkan hubungan intim suami istri seperti yang dimaksud oleh Mila padanya.
Dari belakang Axel tergelak, sampai membuat perutnya bergetar.
__ADS_1
"Haha ... haha ...."