
"Ayo Amira, Kamu harus tanggung jawab sekarang ... lihat Mas Axel dimarahin gara-gara Kamu kan."
Memang Amira sempat bersembunyi dibalik tubuh Axel. Tetapi Ia langsung melangkah maju.
Walaupun masih dalam keadaan wajah tertunduk dan tangannya juga menggandeng jemari tangan suaminya. Amira sudah bertekad tidak ingin Axel mendapatkan masalah besar hanya karena melindungi dirinya.
"Papa, Amira minta maaf karena semua ini salahnya Amira bukan Mas Axel." ucapnya.
Anggoro dan Mila melemparkan tatapan. Melihat istrinya bersiap untuk menjadi garda terdepan mendorong Axel harus melakukan sekarang. lelaki itu tidak rela jika Amira menjadi sasaran kemarahan Anggoro.
"Enggak Pa! jelas-jelas ini salahnya Axel bukan salah Amira ... Papa gak usah dengerin Amira Pa!" Axel berusaha untuk melindungi. Tetapi Amira menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mas! jangan kayak gini! coba aja kalo Mas Axel gak nikah sama Aku, nggak perlu kan buang-buang waktu buat nyelamatin Aku dari jahatnya Mama Eva ... dan pasti nggak akan ada masalah di hidup Mas Axel juga mama Mila sama Papa ...." jeda Amira. karena perhatiannya teralihkan ketika Mila turun dari ranjang Rumah Sakit.
Gadis itu sudah pasrah dengan semua yang mungkin bisa terjadi. tetapi dia takkan menyerah untuk menyelamatkan Axel bagaimanapun caranya.
Langkah kaki Mila kian mendekat, Amira memejamkan matanya mengira Mila akan menampar pipi ataupun yang lain sebagai simbol hukuman.
Tetapi Mila mendekati Amira hendak menghampiri menantunya itu memang karena hatinya merasa tersindir.
"Sayang kok ngomongnya gitu sih?" tanyanya lembut tidak seperti yang ditakutkan oleh Amira tadi.
Amira sempat terdiam namun bukankah sekarang waktunya gadis itu untuk menjawab sebab sekarang Ibu mertuanya sedang bertanya padanya.
"Maaf Ma tapi semua ini bener kok ... Amira itu pembawa sial ... semua orang yang dekat sama Amira pasti bakalan kena masalah." terang Amira menyalahkan dirinya sendiri mengapa pula Dia harus merepotkan keluarga sebaik ini. jangankan untuk membalas budi atau kebaikan mereka justru Amira hanya mampu menambah masalah saja.
"Nggak Sayang nggak begitu nggak bener Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu!" tentang Mila.
Mila tetap bersikukuh dan memeluk menantunya. Mengusap rambut-rambut Amira yang kini sudah menangis. Gadis itu memang takut tapi perasaan bersalahnya lebih besar.
Suasana semakin tegang, sebagai kepala keluarga Axel harus bertindak seperti seorang pemimpin yang bertanggung jawab.
"Axel minta maaf Pa ... Axel juga ngaku salah, Axel lebih milih nyelamatin Amira daripada bertahan di ruang meeting berjuang demi Papa." ucap Axel mengutarakan permohonan maaf secara tulus.
"Bruk." Suara hentakan lantai mengenai lutut Kaki saat Axel bersimpuh diatas lantai tepat didepan Anggoro. Dan membuat sang Papa sangat terkejut. Tetapi belum mengatakan apapun dan menunggu apa yang ingin dijelaskan oleh Axel kepadanya.
__ADS_1
Dalam wajah tertunduk dan bersimpuh Axel mengatur nafasnya untuk meneruskan ucapan maaf yang masih harus diselesaikan.
"Axel akan terima semua hukuman dari Papa apapun itu ... atau mungkin tarik semua fasilitas yang Papa sama Mama kasih buat gantiin proyek Papa yang gagal Axel raih ... dan kalo belum cukup Axel rela gaji Dosen dipotong bahkan untuk seumur hidup juga gak papa." terangnya panjang lebar seolah tidak perduli jika harus hidup miskin tanpa adanya fasilitas.
Sungguh pengorbanan Axel demi menyelamatkan Amira tidak main-main. Lelaki itu rela melakukan apa saja agar Amira tidak terkena imbasnya. Meskipun tidak dipungkiri ini semua terjadi juga karena salah istrinya. Karena memiliki Ibu Tiri yang jahat dan sering menganggu.
"Hahaha ...." Daripada setuju ataupun menolak justru Anggoro dan Mila tertawa lebar. suara tawarannya mereka terdengar dan menggema di dalam ruangan.
Tentu saja menimbulkan pertanyaan bagi Axel juga Amira. Bahkan saking bingungnya Amira sampai menoleh ke wajah Mila yang sedang berdiri berada disampingnya itu.
Mereka berdua saling menoleh tidak menemukan apapun yang lucu di suasana setegang ini. Dan mengapa kedua orang tua mereka malah tertawa lebar seperti ini?
Memeluk manja Amira, mengusap kedua pipi menantunya itu dengan perasaan gemas.
"Ih, kalian kok so sweet banget sih ... Mama jadi iri deh." ucap Mila sampai menangis haru.
"Ayo Axel berdiri! Papa ini manusia bukan Tuhan!" hardik Anggoro tidak ingin Axel terus bersimpuh disana. Andai saja dirinya bisa berjalan mungkin akan mengangkat tubuh Axel tetapi karena tidak bisa hanya mampu dengan cara demikian.
Segera Axel mengangkat tubuhnya dan masih terpaku melihat wajah sang Papa.
"Papa gak marah?" tanya Axel sekali lagi. karena sudah terlihat tawa di bibir Anggoro.
"Marah lah! enak aja! Kamu udah gak tanggung jawab itu udah bikin kesalahan besar!" sungut Anggoro masih mengungkit tindakan Axel yang berlaku sesuka hati.
"Bener! udah gede kok tapi masih ceroboh!" timpal Mila juga memarahi.
"He, maaf Ma, Pa ... Axel kaget banget waktu ditelvon Mbok Darmi kalo Amira mau diculik sama Mama Eva!" terang Axel akhirnya mengutarakan alasan mengapa dirinya pergi.
"APA?" ucap Mila dan Anggoro secara bersamaan. Siapa yang sangka ternyata alasan kepergian Axel menyangkut keselamatan Amira. Mulut Mila bahkan sampai ternganga ada rasa menyesal di dalam hatinya karena tidak bertanya lebih dulu dan melakukan sidang di depan Amira.
"Astaga gimana ini pantesan aja tadi Amira sampai kayak gitu?" batin Mila penuh sesal.
"Amira mau diculik sama si nenek lampir? Ya ampun Sayangku ... gimana sekarang Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Mila akhirnya bergegas untuk melihat kondisi Amira.
Wanita itu ingin melihat dari wajahnya lebih dulu kemudian turun menuju tubuh bagian bawah.
__ADS_1
"Amira nggak papa Ma karena untung aja Ani datang buat nolongin ...." jelas Amira.
"Ani yang udah nyiram Kamu waktu itu? Dia nolongin Kamu?" tanya Mila dan Amira mengangguk setuju.
Akhirnya Mila memeluk Amira sekali lagi punggungnya secara lembut.
"Ya Tuhan syukur deh Sayang kalau Kamu nggak papa ...." ucapnya lega.
Namun kelembutan itu berubah menjadi kemarahan. Mila melepaskan pelukannya dan wajahnya teramat murka.
"Ini nggak bisa dibiarin Mama harus laporin kejadian ini sama Polisi!"
Awalnya Amira ingin menahan atau melarang. Tetapi tindakan Eva hari ini sudah sangat keterlaluan.
"Maaf Mama Eva tapi Amira nggak bisa bantuin Mama lagi." batin Amira menarik lagi niatnya kemudian membiarkan Mila untuk melakukan laporan itu ke pihak atau berwajib.
*
Di sebuah klinik Eva sedang berbaring di atas ranjang karena matanya sedang mendapatkan perawatan medis.
Dan saat telah berakhir terpaksa mata Eva harus ditutup menggunakan perban untuk menjaga kebersihan dari debu ataupun juga kotoran yang menempel.
Kemudian membayar beberapa jumlah biaya perawatan ditemani Dargo pula.
"Mas pokoknya aku nggak terima! mataku kayak gini tapi Amira nggak berhasil kita apa-apain!" protes Eva kesal.
Dargo mengusap bahu Eva, dan membukakan pintu Rumah Sakit.
"Tenang aja Sayang kita bakal bikin perhitungan lagi ... Kamu nggak usah khawatir." terangnya.
Eva mengangguk sebal, dan akhirnya mereka meninggalkan Rumah Sakit.
Tetapi ponselnya berdering, terlihat notifikasi ada pesan email yang masuk.
Sejenak Eva menghentikan langkahnya dan melihat pesan apa itu.
__ADS_1
"APA?" Eva terperanjat saat melihat isi pesan. bahkan matanya sampai membelalak lebar sekali.