Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Teguh


__ADS_3

"Kapan kamu beli tiket pesawatnya?" tanya Elena arah laju kakinya ke depan tetapi Gadis itu terus saja melihat ke belakang.


Sedang diposisi belakang Axel sibuk merapikan dompetnya selesai melakukan check in dari petugas.


"Udah deh nggak usah banyak tanya! pesawatnya udah siap-siap mau berangkat! nanti kita malah ditungguin banyak orang lagi!" ajak Axel melewati Elena tanpa menjawab pertanyaannya.


"Apaan sih orang Kamu yang telat kok malah marahin Aku!" balas Elena kesal segera menarik koper kecilnya dan mengikuti Axel.


Kejutan belum berakhir sampai disini. Karena masih ada kejutan yang menanti Elena saat di dalam badan pesawat.


"Lah ngapain Kamu ngikutin Aku?" tanya Axel melihat Elena sibuk mengikuti gerak tubuhnya layaknya tumbuhan parasit.


"Ya Kita lagi mau cari tempat duduk kan?" jawab Elena.


"Tempat duduk Kamu itu ada di seberang bukan disini!" ketus Axel menunjukkan posisi duduk Elena.


"Loh emangnya kita nggak duduk bareng?" seru Elena mengira tempat duduk Mereka dalam satu posisi.


Axel mengernyitkan dahinya, menatap remeh Elena dan segera duduk ditempat miliknya itu.


"Enggak lah kita kan bukan muhrim! takut ada setan lewat." jawabnya dengan posisi tubuh yang mulai tenggelam karena lebih dulu meletakkan bokongnya.


Elena yang tidak menyangka masih tertegun layaknya patung.


"Maaf Nona, pesawat sudah mau lepas landas bisa duduk di tempat Anda?" seru Pramugari kepada Elena.


Dengan perasaan hati yang dongkol, Elena mencebik bibirnya dan segera menuju tempat yang ditunjukkan oleh Axel.


"Mbak hati-hati dong! tasnya tuh kena muka Saya!" sungut seorang penumpang yang terkena imbasnya dari perasaan kesal Elena.


"Maaf gak sengaja!" ketus Elena walaupun kesal dirinya tidak boleh bersikap semaunya sendiri.


Hingga roda pesawat mulai bergerak. Dan suara bising sebagai pertanda bahwa Pesawat akan segera lepas landas.


Axel melihat foto Amira. Sebelum pergi mereka melakukan foto bersama hingga memenuhi galeri ponselnya.


Di depan lobby Bandara. Amira melihat kepergian pesawat suaminya dengan hati yang dipaksa untuk lapang.


"Aku percaya sama Kamu, Mas!" ucapnya yakin walaupun ada setitik keraguan.


Karena pesawat sudah pergi meninggalkan kota ini. Amira memasuki taksi yang sedang berhenti karena menunggu calon penumpang.

__ADS_1


"Kosong kan Pak?" tanya Amira lebih dulu.


"Betul Mbak! ini tujuan kita mau kemana ya?" tanya sang driver seraya menoleh.


"Jalan Raya anggrek ya Pak?" ucap Amira menyebutkan alamat rumah Ani.


"Aku mau main ke rumahnya Ani dulu lah sebentar, biar gak sumpek." batin Amira.


Mereka pergi meninggalkan Bandara.


Ketika diperjalanan. Amira melihat sesuatu di depan sebuah toko. Eva sedang berbincang dengan seseorang.


"Itukan Mama Eva ngapain Dia?" guman Amira hingga mobil taksi melaju kian menjauh. Amira sempat melihat bahkan sampai memutar setengah tubuhnya. Kemudian mengembalikan keposisi semula.


*


Di Rumah Sakit. Hari ini Anggoro sudah diizinkan pulang. Mereka sudah bersiap untuk menunggu jemputan.


Dibantu oleh kursi berjalan alias kursi roda. Mila mendorongnya melewati lorong dan menuju ruangan lift.


"Axel jadi berangkat Ma?" tanya Anggoro. Ternyata sebelum Axel pergi. putra semata wayangnya itu mengadu tentang tindakan tidak adil itu dengannya.


"Jadilah! kan tadi Papa juga denger kalo Rektornya sama sekali nggak kasih perubahan." jawab Mila sama kesalnya.


"Tenang aja Pa itu sih perkara gampang!" balas Mila menjentikkan jarinya sebagai simbol betapa mudahnya perkara menemui Rektor kampus dimana Axel bekerja. Sesuai perkiraan Anggoro sebelumnya, Dia menutup mulutnya karena mulai terpingkal. Menjebak istrinya sangatlah mudah apalagi bila menyangkut tentang permalasahan putranya.


Mereka menunggu mobil keluar dari lobby parkiran yang terletak dibagian dalam gedung. Hanya sekitar lima menit saja mobil Alphard berwarna hitam itulah datang menghampiri mereka.


Mila membantu suaminya, untuk mengangkat kaki Anggoro yang masih dibalut perban. Namun ketika selesai membantu ponselnya bergetar.


"Hallo? gimana sukses gak?" tanyanya langsung.


Kemudian Mila menyunggingkan senyuman merekahnya itu. Mengundang pertanyaan bagi Anggoro.


"Bagus! bawa surat itu ke rumah Saya! kalo udah lihat secara langsung baru nanti Saya bakal transfer komisi buat Kamu!" katanya kemudian mengakhiri panggilan telepon.


"Telepon dari siapa Ma?" tanya Anggoro penasaran.


"Dari seseorang agen rahasia dong Pa." jawab Mila tersenyum penuh arti hingga membuat ekspresi aneh terukir di bibir Anggoro. Tetapi jika sudah merahasiakan sesuatu pasti ada hal penting di dalamnya yang sudah direncanakan oleh istrinya. Sehingga Anggoro tidak mau ikut campur lebih dalam lagi. Toh laki-laki itu percaya bila sudah saatnya Mila pasti akan menceritakan semuanya juga.


Dia hanya mengusap jemari tangan Mila, menikmati perjalanan menuju rumah mewah mereka yang sudah dua hari ditinggalkan.

__ADS_1


*


Tiga puluh menit kemudian. Axel dan Elena tiba di kota provinsi. Seperti angin yang kencang, bergerak meninggalkan Elena. Dia sudah mengambil ancang-ancang berdiri ketika para penumpang yang lain membereskan barang bawaan Mereka.


Hingga akhirnya jaraknya berdiri dengan Elena selisih banyak oleh berapa penumpang.


"Itu Axel ngilangin apa gimana kok tiba-tiba udah ada disana aja!" sungut Elena.


Dan ketika pintu pesawat dibuka Axel mampu tersenyum bangga. Mengusap ujung hidungnya menggunakan jari jempol.


"Sayang akhirnya Aku berhasil!" ucap Axel mengajak foto Amira berbicara.


Kemudian mengecapnya sebelum melangkah menuruni tangga pada pesawat.


Kemudian tiba giliran Elena menuruni anak tangga. Lihat hati ingin menyusul tetapi Axel sudah jauh dan hampir memasuki gedung Bandara. Meskipun masih tampak jarak mereka lebih dari lima ratus meter jauhnya.


Nafas Elena mengendus cepat, serta dada yang bergemuruh layaknya hewan banteng yang sedang marah. Hancur sudah impian ingin bermesraan bersama Axel ketika berada di dalam pesawat. Tetapi harus menelan buah mengkudu yang super pahit seperti pahitnya kenyataan ini.


Dengan hentakan kaki menggebrak aspal seakan mengisyaratkan rasa tidak ikhlas. Tetapi mau bagaimana lagi. Tidak ada komentar bisa dilakukan karena Elena sudah setengah perjalanan mengikuti pertukaran Dosen bersama Axel.


"Axel, Kamu kok ninggalin Aku sih?" protes Elena lagi.


"Kata siapa nih Aku tungguin! tuh udah Aku pesenin taksi ... Kamu duduk di belakang ya! Aku mau nemenin Pak sopir!" kata Axel lagi-lagi meninggalkan Elena memasuki pintu di sisi samping kemudi.


"Woi ayo!" hardik Axel melihat dari kaca yang terbuka ketika Elena tidak bergerak untuk memasuki mobil.


Elena melirik sinis dan membuka pintu mobil bagian belakang, melemparkan pintu secara keras.


"Santai aja kali! bahaya kan kalau sampai rusak disuruh ganti!" seru Axel.


"Bodo amat!" sahut Elena kedua tangannya.


*


Meninggalkan keteguhan hati Axel dengan cara membentengi dirinya sendiri. Kini Amira telah tiba di depan gang dekat dengan rumah Ani.


Namun ada yang sedikit mengalihkan perhatiannya. Kendaraan roda dua milik seorang laki-laki terparkir di halaman.


"Ini motornya siapa ya?" guman Amira.


Kemudian masuk ke dalam halaman. Baru saja mata Amira mencari sosok sang Tuan rumah. Dia dikejutkan pemandangan romantis yang telah dilakukan insan yang belum mendeklarasikan tentang hubungan mereka kepada dirinya.

__ADS_1


"Astaga!" pekik Amira membuat Ani dan Doni terkejut.


__ADS_2