Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Lebay


__ADS_3

Mendengar rintihan Amira seketika membuat Axel panik.


"Aduh kayaknya aku harus pulang sekarang deh ... lagian hari ini kan aku cuma ada jam pagi aja!"


Tak perlu berlama-lama Axel segera untuk pulang, namun lebih suka mengambil tas diruang kantor. Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan istrinya sekarang. Walaupun sebenarnya keadaan Amira mungkin baik-baik saja.


Langkah kaki cepat Axel. Bergegas menuju mobilnya untuk pulang.


"Aduh, kenapa lagi lah ... jangan-jangan tangannya patah lagi?" kata Axel gusar mulai memikirkan jauh menembus awan. Walaupun hanya sekedar alibi saja karena sudah rindu berat terhadap sang istri.


"Woy, mau kemana? mau diajak ngopi malah pergi lagi?" teriak Doni dari depan kantor. Namun karena ada didalam mobil Axel tidak bisa mendengarnya.


"Et, dah itu orang ada apa kali?" kata Doni merasa gagal mengehentikan kepergian sang sahabat. Akhirnya mendorongnya untuk berjalan menuju kantin sendirian.


Membawa mobilnya keluar dari halaman kampus.


Melewati perempatan jalan besar yang terdapat lampu lalulintas pertama. Dan kebetulan sedang menyala lampu merah.


Seperti biasa banyak pengemis yang meminta-minta. Axel membuka kaca jendela berniat untuk merogoh tempat koin di dalam dashboard.


"Aduh malah ke pencet lagi!"


Secara tak sengaja tombol on menyala dan terdengar suara musik dari gelombang radio. Sebelum lampu berganti hijau memanfaatkan waktu yang tersisa Axel menyerahkan uang koin itu kepada sang pengemis.


Terdengar lagu Mario G sedang bergema dari gelombang radio. Lantunan musik dan syair lagu yang indah membuat Axel tersenyum.


"Kok lagu ini cocok banget deh buat Aku sama Amira?"


Segera Axel menancapkan gas saat lampu sudah berubah menjadi hijau.


Selang satu kilo jauhnya lagi-lagi Axel harus harus berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.


Bertepatan dengan sebuah deretan ruko toko baju dan barbershop.


Betapa terkejutnya Axel melihat sosok pasangan yang sedang berjalan keluar dari sebuah toko.


"Itukan Mama Eva sama Ayah Dargo?"


Pemandangan aneh yang terasa membingungkan, apalagi Eva dan Dargo berjalan sambil bergandengan tangan.


Untuk meyakinkan atas penglihatannya Axel sampai mengucak matanya.


"Eh ternyata beneran nggak salah lihat, tapi kok mereka ....?"


"Ah, sialan! jangan-jangan mereka kongkalikong buat bikin rencana jahat yang baru?"


"Gak bisa dibiarin ini, gue harus lebih waspada lagi sekarang!"

__ADS_1


Seperti rencana Tuhan memperlihatkan clue kepada Axel. Dan bergegas menutup jendela mobilnya. Agar keberadaannya tidak diketahui oleh dua orang itu.


Kemudian meneruskan perjalanannya untuk pulang.


*


Dirumah,


Mila membawa plester untuk menutup luka Amira. Goresan kecil akibat hantaman dari ujung meja, saat Amira tiba-tiba terjungkal.


"Bener-bener deh anak didiknya Axel, ini semua gara-gara Dia nih!"


sungut Mila agak kesal karena melihat Amira terluka.


"Mama jangan lupa Amira juga anak didiknya Mas Axel lho?" protes Amira bergurau saja.


"Hehe, iya yah Mama kok malah lupa sih? eh, hape Kamu mati?" tanya Mila melihat layar ponsel milik menantunya pecah.


"Iya deh kayaknya Ma, rusak." tukas Amira memperjelas.


"Nggak papa Sayang nanti Mama beliin yang baru kalo perlu sekalian sama konternya." kata Mila lagi-lagi menggunakan kekayaannya untuk menyenangkan Amira.


"Mama mau nyuruh Amira jualan ponsel?" celetuk Amira tercengang dengan niatan Mila.


Mila terperangah dan menggelengkan kepalanya.


"Yes Mama kena ... hahaha." Amira tertawa lebar sebab berhasil membuat Mila menarik ucapannya.


"Ih, sayang gitu deh sama Mama." protes Mila memeluk menantunya itu.


Amira masih saja tertawa kecil mengusap pergelangan tangan sang Ibu mertua penuh rasa cinta.


"Brakkk."


"Sayang mana yang patah?" tanya Axel tiba-tiba datang dan mendorong kencang pintu utama.


Amira dan Mila sampai terkejut dibuatnya. Mereka menoleh secara bersamaan melihat kearah pintu. Kedatangan Axel terkesan tiba-tiba bahkan tanpa mengucapkan kata permisi atau salam sapa lebih dulu.


"Axel ya ampun! bener-bener deh ini anak bikin jantung Mama mau copot aja!" sungut Mila masih memeluk erat Amira tanpa melepaskan tangannya.


Tanpa perduli dengan ucapan kesal yang dikatakan sang Mama justru Axel malah berlari menghampiri Amira.


"Sayang, mana yang sakit? kita kerumah sakit ya? yuk aku anterin!" ajak Axel beruntun hendak membawa Amira.


"Gak usah lebay deh Xel!" celetuk Mila dengan tatapan menyelidik.


"Mama, kok sekarang gitu sama Amira? jahat banget!" balas Axel merasa ada perubahan sikap Mila terhadap istrinya.

__ADS_1


Mata Mila terbelalak mendengarnya.


"Eh, apaan sih malah ngatain Mama jahat lagi!" kesal Mila dengan tuduhan Axel itu.


"Lah, iya kok! kemarin Mama nggak pernah kayak gini, pasti kalau Amira kenapa-kenapa Mama paling siap, tapi kenapa sekarang nggak?" imbuh Axel semakin panjang saja menuduh.


"Auhh ... sakit Mama!" keluh Axel merasakan perih pada pergelangan tangannya ketika Mila sengaja mencubit tangannya.


"Lagian Kamu sih, udah nuduh Mama sembarangan."


"Tuh lihat tangan Amira tuh cuma lecet doang masa mau dibawa ke Rumah Sakit?" kesal Mila menunjukkan luka di tangan Amira yang hanya sebesar upil itu.


"Jadi tangan Amira nggak patah? terus apanya dong yang patah!" tanya Axel lebih memancing emosi Mila.


"Nggak ada Axel! nggak ada!" gemas Mila sampai mengigit giginya.


"Mas, aku gak papa kok ... maaf tadi hpku jatuh terus pecah gak bisa nyala lagi." kata Amira harus ikut turun tangan menjelaskan kepada Axel.


"Hah ...." Axel menghela nafas panjang karena lega, kemudian duduk di sofa single.


"Aku tadi dijalan udah kayak pembalap aja tau! salip sana salip sini!" katanya menyandarkan kepalanya dibahu sofa.


"Cie yang udah cinta beneran!" goda Mila melihat curahan hati sang putera.


"Lah, emang dari dulu Axel udah cinta kok!" balas Axel lebih mengunggulkan perasaan yang dimilikinya.


"Kalau dari dulu kenapa pakai acara nikah kontrak segala?" celetuk Mila membuat Axel dan Amira tersentak.


Semula Axel duduk dengan santai kini sampai mengangkat tubuhnya tegap.


"Mama tahu dari mana?" tanyanya.


Sedangkan Amira hanya menatap sang ibu mertua tanpa berani bertanya. Namun sorot matanya menandakan pertanyaan yang sama dengan suaminya.


"Apa sekarang itu penting? terus sekarang kalian masih mau lanjutin pernikahan kontrak itu?" desak Mila ingin tahu kelanjutan pernikahan mereka.


Mendapatkan pertanyaan spontan seperti ini sejujurnya tidak pernah Axel bayangkan.


"Enggak Ma! sekarang Axel udah berubah pikiran ... tapi nggak tahu sih kalau Amira maunya gimana?" kata Axel.


Sebagai laki-laki dewasa yang berpendidikan. Meskipun Axel memiliki perasaan cinta yang besar untuk Amira. Namun sejauh ini hanya dirinya saja yang mengungkapkan perasaan cinta itu, Amira sendiri belum pernah mengatakan bersedia untuk hidup bersamanya untuk selamanya.


Ini sorot mata tertuju pada Amira.


Apalagi Mila sangat antusias sangat menantikan jawaban dari Amira.


"Jadi ...."

__ADS_1


__ADS_2