
Siapa yang tidak akan terkejut melihat sang Mama sedang beradu mesra dengan lelaki lain. Apalagi Angel melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Angel?" segera Eva melepaskan ciumannya bersama Dargo dan menjauh. Tidak terbersit dalam pikirannya tentang kejadian seperti ini bisa terjadi kapan saja.
Sungguh hanya memancing tawa Demien saja. Perutnya seakan digelitik ketika melihat wajah gelagapan Eva tertangkap basah oleh anaknya sendiri.
"Saya sempat kecewa sih awalnya ... Saya kira Angel tahu kalau Kamu punya selingkuhan, tapi lihat wajah Kalian sama-sama kaget haha ... Saya jadi nggak nyesel udah nurutin semua apa mau Angel." ucapnya.
"Mama apa-apaan sih? terus laki-laki ini siapa Ma?" cerca Angel pada Eva. Dia langsung menghampiri sama Mama untuk meminta penjelasan.
"Angel tenang Mama bisa jelasin!" ucap Eva betapa malunya dirinya mendapatkan situasi seperti ini.
"Bodoh banget sih Aku! kenapa bisa lupa banget buat kasih tahu sama Angel lebih dulu?" batin Eva terlambat.
"Jelasin apa lagi Ma? terus sejak kapan Mama punya selingkuhan?" Angel terus saja mendesak Eva hingga akhirnya tangannya ditarik untuk menjauh dari ruang tengah.
"Ayo ikut Mama! kita ngomong dulu!" ajak Eva.
Di dalam ruangan khusus memasak alias dapur. Angel menepis tangan Eva tetapi matanya masih saja menatap wajah Mamanya untuk meminta penjelasan.
"Maaf sebelumnya Mama nggak pernah cerita sama Kamu, tapi Mama memang selingkuh dari Papa Demien."
__ADS_1
"Kenapa Mama selingkuh?" sela Angel langsung.
"Ya karena Mama nggak dicintai Angel, Mama kesepian!" terang Eva agar Angel mau mengerti. Tetapi sepertinya Gadis itu sama sekali tidak mau. Apalagi setelah melihat penampilan Dargo layaknya seorang gembel.
"Angel nggak mau hidup miskin Ma! pokoknya Angel mau Mama pisah sama dia!"
"Grep!" dari belakang Dargo sudah membawa obat bius yang dioles di sapu tangan.
Sehingga menyebabkan Angel tidak sadarkan diri dan langsung tergeletak lemas.
Tentu saja hal ini tidak diatur lebih dulu dan sangat mengejutkan Eva.
"Mas apa yang Kamu lakuin?" tanyanya.
Seharusnya Eva marah atau mencaci Dargo. Karena melakukan hal sekasar ini kepada Angel. Tetapi karena matanya sudah buta karena cinta. Serta rasa tamak yang ingin menguasai harta Demien. Dia pun tetap menutup mata dan seakan setuju dengan tindakan sang kekasih.
"Ya udah sekarang ayo kita bawa Angel ke kamarnya!" ajak Eva akhirnya.
Mereka berdua menggotong tubuh Angel ke dalam kamar meninggalkan Demian dan Mbok Darmi di lantai dasar.
Mbok Darmi yang diikat dalam posisi meringkuk berdekatan dengan telepon rumah merasa memiliki waktu untuk melakukan panggilan.
__ADS_1
"Pokoknya Saya harus coba kasih kabar sama Non Amira!" tekadnya.
Dalam posisi tangan dan kaki terikat. Sebisanya Mbok Darmi berusaha untuk berdiri. Walaupun geraknya terbatas. Dengan posisi tubuh terbalik tangan Mbok Darmi bergerak untuk meraih gagang telepon.
Setelah gagang terlepas dari tempatnya, Mbok Darmi mulai menekan beberapa nomor ponsel milik Amira.
Amira yang sedang kebingungan mendengar nada ponselnya berdering kembali.
"Ah ini kan nomor telepon rumahnya Papa?"
Secepat mungkin Amira menggeser untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo Mbok?" panggil Amira.
Tetapi tidak ada suara yang menjawab hanya bunyi tidak jelas saja yang terdengar.
"Halo Mbok Darmi?" panggil Amira sekali lagi.
Mbok Darmi tentu tidak bisa mengetahui apakah panggilan itu sudah terhubung ataukah belum. Sehingga masih menunggu beberapa saat untuk berbicara.
"Halo Non ini udah tersambung belum ya? maaf Mbok gak bisa tahu karena tangan sama kaki Mbok lagi diikat ... kita cuma mau kasih kabar aja kalau Nyonya Eva sekap kita di rumah!"
__ADS_1
Belum banyak yang bisa buat Darmi ucapkan terdengar suara Eva dan Dargo hendak kembali.