Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Kalian?


__ADS_3

"Ayo Sayang sekarang Kita bawa mata kamu berobat dulu." Dargo merangkul Eva membawa sang kekasih gelap agar matanya mendapatkan perawatan medis.


"Iya Mas ... Aku juga nggak mau buta." terang Eva setuju.


"Tapi suruh teman-teman Kamu itu jangan sampai gagal!" imbuh Eva lebih menekan agar rencana Mereka tidak gagal.


"Tenang aja Mereka pasti berhasil, perkara cocok tanam setiap cowok itu pasti pintar." jawab Dargo menyeringai. meninggalkan Amira bersama para teman-temannya.


Akhirnya Eva dan Dargo memutuskan untuk pergi. Karena Mereka harus membawa mata Eva untuk berobat. Tanah yang kotor hampir memenuhi retina matanya. Sehingga Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Inilah akibatnya hadiah dari sikap jahat yang telah mereka lakukan kepada Amira.


Dalam tangisan lirih Amira hanya bisa berharap. Namun tidak menyerah begitu saja. Masih mencoba dengan cara menarik tangannya agar bisa lepas dari cengkraman tangan para bandit.


"Kamu gak usah kebanyakan gaya! apalagi sampai buang-buang waktu buat kabur Neng, udah nurut aja sama Abang dijamin enak." kata salah satu bandit dengan senyuman mesum itu.


Mereka mendorong tubuh Amira. Karena gadis itu tidak bergerak masih bertahan dengan cara memberatkan diri.


"WOY KAMPRET BERHENTI!" teriak Ani berkacak pinggang menantang Mereka.


"Pak, bener ternyata Amira ada di tempat yang sama waktu Saya diserang!"


Ani memberikan informasi kepada Doni lewat telepon. Kemudian Ani meletakkan benda itu kedalam tas secara asal tanpa melihat.


"Bos, kok dia datang lagi?"


Terang saja kedatangan Ani kemarin membuat mereka kebingungan.


"Lepasin nggak! atau itu gigi mau Gue copot satu persatu pakai ini?" Ani meraih kayu balok besar kemudian memukulkannya di telapak tangan kirinya.


"Bos gimana ini? kemarin aja dia nggak bawa apa-apa kita kalah apalagi sekarang pakai kayu?" ujar salah satu anak buah.


"Udahlah daripada bonyok! mending kita lepasin aja ini cewek!" kata Mereka melemparkan tubuh Amira.


Secepat mungkin Ani menghampiri Amira dan membantunya berdiri.


"Amira kamu nggak papa kan?" tanya Ani mengusap pakaian Amira yang kotor.


"Awas ya kalau Gue lihat muka kalian lagi! Gue nggak akan diam! Gue juga nggak akan peduli lagi sama penjara! asalkan bisa! hemh!"

__ADS_1


Ani meremas kuat kepalan tangannya hingga menyebabkan gertakan bunyi tulang yang menakutkan.


Para bandit itu menelan salivanya, dapat dibayangkan bahwa ancaman itu bisa saja terjadi. Bila Mereka masih berani untuk menganggu.


"Nggak Neng ampun-ampun ... gini gini kita walaupun jahat belum pernah masuk penjara ... jadi jangan sampai deh." kata Mereka memohon kepada Ani.


Baru saja Ani ingin membalikkan badannya bersama Amira. Datanglah Dargo. Ternyata lelaki itu melihat kedatangan Ani saat hendak pergi. Melihat sandera mendapatkan pertolongan, tentu saja lelaki itu tidak terima.


"Mau kemana kalian?" ketus Dargo menutup jalan.


Ani mendengus kesal, bergegas menyembunyikan Amira di belakang tubuhnya.


"Mau pulang lah, nggak ingat sama pesan Mama? pelajar itu kalo dari sekolah harus langsung pulang ke rumah ... bukan malah mampir-mampir kayak gini! itu namanya bukan anak teladan!" ucap Ani menceramahi Dargo.


"Aduh lupa deh, Bapak ini kan mantan narapidana ... nggak pernah sekolah lagi ... jadi percuma lah Saya bilang panjang lebar kayak tadi ... Om juga gak bakalan tahu?" imbuh Ani dengan ejekan.


Benar-benar nyali gadis satu ini sungguh di luar batas. Seakan tidak ada rasa takutnya melawan Dargo dan justru malah berani untuk menantang.


"Gak usah banyak ngemeng Kamu! jangan nyesel ya kalau nanti kamu kenapa-napa karena udah berani tantang Saya!"


Dargo mulai menyerang melayangkan bogeman itu mengarahkan ke wajah Ani. namun Ani dengan gesit mengelak.


"Plak!" suara nyaring akibat pukulan keras cepat mengenai rahang tegas Dargo. Jelas saja membuat lelaki itu meringis.


Siapa sangka seorang gadis memiliki tenaga yang cukup kuat. Bahkan meninggalkan bekas merah di rahangnya.


Belum sempat Dargo mengaduh. Ani melayangkan kakinya dan berhasil memberikan bonus pukulan lagi. Kali ini menyentuh perut datar Dargo sampai membuat lelaki itu terpental.


Ani masih dalam posisi bersiap untuk menyerang. Dengan tatapan lurus memperhatikan pergerakan apa yang akan dilakukan dargo untuknya.


"Wow Ani hebat banget," puji Amira takjub.


"Ayo Om maju lagi! sekarang mau yang mana dulu wajah, tangan sama perut udah ... tinggal kaki aja yang belum ... apa mau di bikin pincang?" tantang Ani.


Dargo mengusap rahangnya kemudian menekan juga bagian pencernaan itu. Tendangan yang meninggalkan bekas ngilu serta rasa perih di pipi benar-benar menjelaskan bahwa Ani bukanlah gadis biasa.


Apalagi para rekan-rekannya malah bersembunyi.

__ADS_1


"Sial ternyata ini bocah jago banget bela dirinya! mana sakit banget lagi pipi sama perut Gue!" ketus Dargo.


"Udahlah mendingan Gue cabut aja! nanti Gue bakal atur siasat yang baru." batin Dargo memundurkan langkahnya. Meninggalkan karena Ani dan Amira disana.


"Mas kok gitu sih?" Eva melihat Dargo pergi tanpa melakukan perlawanan mendengus kesal. Bahkan sebelum pergi masih saja sempat untuk melirik sinis ke arah Amira.


"Dia bukan cewek sembarangan Eva! ini jelas bahaya buat kita, karena kalau kita kalah bisa-bisa kita malah masuk penjara tanpa dapat apapun." terang Dargo menuntun sang kekasih memberikan penjelasan tentang alasan Dirinya untuk mundur.


Ani masih berdiri tegap menunggu kedua orang itu sampai benar-benar pergi. Kemudian mengepalkan tangannya untuk para bandit yang bersembunyi dibalik pintu gudang.


"Brakkk." sadar akan kepalan tangan itu ditunjukkan untuk Mereka. Membuat mereka lari sampai terbirit-birit hingga menabrak pintu dan apapun yang menghalangi jalan Mereka.


"Udah Amira jangan dilihat bikin kotor mata aja!" ajak Ani menggandeng tangan Amira untuk keluar dari dalam gang.


"Non Amira!" teriak Mbok Darmi berlari dengan setelan baju jawa.


"Loh kok Mbok Darmi ada di sini?" tanya Amira heran.


Kemudian di belakang terlihat juga Doni berjalan ke arah mereka.


"Ya ampun non, syukur kalau Non nggak papa ... Mbok udah khawatir banget tadi."


Mbok Darmi memeluk Amira, lega sekali hatinya saat melihat Amira dalam keadaan baik-baik saja.


Sedangkan Amira sendiri justru kebingungan dari mana Mbok Darmi bisa tahu jika baru saja dirinya hampir saja mengalami celaka.


"Justru Mbok Darmi orang yang pertama kali telepon Saya, Amira." terang Doni tak tega melihat kebingungan diwajah Amira.


Amira hanya membuka mulutnya kemudian menatap wajah Mbok Darmi.


"Terus Mbok Darmi tahu dari siapa?" tanyanya kemudian.


"Tadi waktu Mbok lagi mau angkat jemuran, nggak sengaja dengar obrolan Nyonya Eva sama laki-laki ... katanya dia mau bikin perhitungan sama Non Amira, ya udah Mbok langsung cari nomor telepon di buku catatan Non Amira dulu itu,"


"Mbok sempet tuh lupa, tapi maaf ya Non ... Mbok udah nggak sopan masuk ke kamar Non yang lama ... habisnya cuma itu cara biar Mbok bisa bantuin Non."


"Terus Mbok telepon ke nomornya Pak Doni?" sela Amira karena lelaki itu yang datang kemari.

__ADS_1


"Bukan Non, tadi dua jam yang lalu ... Bibi telepon ke nomornya Den Axel!" terang Bibi.


Jelas saja Amira mengernyitkan dahinya, dan terdengar suara deru helikopter datang di langit luas.


__ADS_2