
Eva, Angel dan Dargo dalam pertemuan Mereka telah membahas banyak perihal. Kemudian berkata berpisah dan tak lupa saling bertukar nomor ponsel.
Akan ada hal yang telah direncanakan semoga Amira dan Axel mampu melewatinya.
"Cih, Gua bakalan cari ini alamat! Lihat aja!" seru Dargo.
*
Sedangkan sekarang disebuah mobil. Ada yang sedang senang, Amira menyandarkan kepalanya dibahu kursi ditemani oleh Mila.
Setelah merengek bagai anak kecil, meminta pulang malam ini juga.
Perjuangan Mila dan Axel memohon kepada pihak Rumah Sakit harus berjalan sengit. Tentu awalnya pihak Rumah Sakit tidak mengijinkan karena administrasi pada waktu malam sudah tidak beroperasi lagi.
Namun mereka menjelaskan kondisi Amira jauh lebih baik, akhirnya menghubungi pihak Dokter melalui video call dan Mereka diizinkan pulang sedangkan administrasi diurus besok.
"Mas, Ma makasih ya ... akhirnya Aku bisa tidur dirumah." kata Amira senang bukan kepalang.
"Iya Sayang sama-sama," balas Mila mengusap tangan Amira.
"Jangankan cuma izin pulang, Kamu minta beli itu Rumah Sakit aja juga bakalan Mama beliin." imbuh Mila bener-bener ingin menunjukkan perasaan sayangnya untuk Amira seorang.
Amira dan Axel pun terkekeh, mendengarkan perkataan Mila ini.
"Yah, pokoknya berat banget ini ... saingannya dari orang tua sendiri, tadi Papa mau beli kampus dan sekarang Mama mau beli Rumah Sakit ... berat banget saingan Axel ... Sayang maaf ya aku gak bisa saingan Aku cuma bisa beliin seblak." ungkap Axel.
"Hahaha," dan terpecah lah suara tawa yang lepas memenuhi mobil.
"Ada kok Mas yang bisa bikin Kamu tetap menang." kata Amira tiba-tiba.
"Apa?" jawab Axel langsung mengintip dari kaca spion yang menggantung.
"Anak!" jawab Amira juga.
Sungguh diluar ekspektasi dan keberanian yang selama ini selalu bersembunyi dalam hatinya. Entah ada angin apa Amira mengatakan hal seperti ini bahkan didepan Mila pula.
Sedangkan di kursi kemudi, wajah padam Axel seketika muncul. Dia tersipu malu karena ucapan Amira barusan.
"Hahaha, iya bener-bener ... nah, kan gunain kesempatan itu sebaik mungkin Xel, jadi Kamu tetap jadi pemenangnya." kata Mila memprovokasi.
Amira belum sadar ucapannya akan menjadi sebuah tragedi besar pada malam ini.
Axel tersenyum sendiri, memainkan jarinya diatas stir bulat dengan banyak berandai-andai.
Selang lima belas menit kemudian, Mereka tiba dirumah.
Mila membantu Amira dengan memegangi pergelangan tangannya.
Tak terasa jam menunjukkan pukul tujuh malam. Satu kata saja yang Amira ucapkan terus mengulik didalam pikiran sang Dosen.
__ADS_1
"Mah ...." panggil Axel mengehentikan langkah Mila dan Amira.
"Ya, kenapa Sayang?" tanya Mila memutar tubuhnya.
"Maaf ya, Axel mau tugas malam ... Mama gak papa kan Axel tinggal sendiri?" kata Axel membuat Amira tercengang.
"Eh? tentu aja boleh dong ... silahkan." kata Mila malah menyerahkan Amira secara senang hati.
Langkah tegas Axel menghampiri istrinya dengan wajah genitnya, dari mata Amira terlihat Axel benar-benar akan melakukannya.
Mata mereka saling bungkam, tetapi Axel sudah membulatkan tekad.
"Grep."
Dengan gagahnya mengangkat tubuhnya mungil Amira.
"Mas, Aku bisa jalan sendiri." tolak Amira.
"Udah tahu Sayang, tapi kan kamu habis sakit ... Jadi diem aja ya."
"Cupppp." kata Axel ditutup dengan kecupan manis menyentuh bibir Amira.
Kata sungkan sepertinya dibuang jauh-jauh oleh Axel, tak perduli lagi ada sang Mama yang menyaksikan keromantisan Mereka.
Memang perlakuan cinta yang membuat Amira tersipu malu.
Dan kini Axel meneruskannya langkahnya, membawa Amira menaiki anak tangga.
Amira tertawa malu dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axel.
Perjuangan Axel agak berat namun tetap bertahan hingga ke lantai dua.
Mereka akhirnya berhasil melewati banyaknya anak tangga dan selamat.
Tangan Amira membantu Axel membuka pintu dengan menekan gagangnya.
Axel tersenyum saja, dan terus membawa istrinya kedalam kamar.
"Sayang, maaf ya kayaknya malam ini Kita harus! aku gak bisa nahan lagi." ucap Axel mengutarakan niatnya.
Amira hanya mengangguk, bibirnya yak mampu berucap saking malunya.
Ditepi ranjang Axel meletakkan Amira secara perlahan. Kemudian kembali menutup pintu rapat bahkan menguncinya juga.
"Takutnya Mama kepo kan?" celetuk Axel lagi-lagi membuat Amira tertawa.
Dan tiba saatnya.
Axel menghampiri kembali sang istri. Mata mereka saling beradu beberapa detik. Kemudian juga saling menyunggingkan senyuman manis.
__ADS_1
Axel mulai mengangkat tangannya dituntunnya ke wajah Amira. Mengusap lembut dan berhenti tepat didagu lancip Amira.
"Ilove u, walaupun terkesan terlalu cepat, tapi kayaknya Saya gak bisa nunda lebih lama lagi." katanya.
"Ilove u too Mas." jawab Amira membalasnya.
Axel mendekatkan wajahnya dan mencium bibir ranum Amira. Merasakan lembutnya bibir mungil itu.
"Maaf Amira Aku terlalu bodoh untuk menilai perasaanku sendiri, tapi itu dulu! karena sekarang Aku gak akan buta lagi! Aku mau jadi suami yang baik buat Kamu!"
Wajah polos Amira merona menikmati setiap hembusan nafas Axel.
Mereka menghabiskan malam dengan berkeringat, melakukan olahraga dewasa itu secara menggebu-gebu. Amira dibuat tak berdaya dan terus saja melenguh. Hingga akhirnya tiba pada akhir adegan. Axel menyemburkan cairan kental disana.
Kemudian melakukan kegiatan penutup dengan mengecup bibir Amira dalam waktu yang lama.
*
Diruang tamu Mila sedang bersorak girang,
Dan terdengar gerbang berbunyi.
"Ah, itu pasti Papa." ucapnya bergegas.
Mila keluar untuk menjemput sang pujaan hati. Sesuai prediksi Anggoro dengan sabar menunggu.
Terlihat Mila menekan tombol untuk membuka gerbang. Hingga akhirnya gerbang terbuka.
"Mama kenapa kok senyum-senyum?" tanya Anggoro berhasil memasukkan mobilnya dan membuka kaca jendela. Kedatangannya disapa Mila dengan senyuman manis itu.
"Hehehe, Mama lagi bahagia banget tau Pa." jawab Mila masih dengan senyuman yang terlihat semakin merekah.
"Berarti selama ini Mama gak pernah bahagia ya?" tanya Anggoro sedih menilai pernyataan Mila dalam artian lain.
"Eh, gak gitu maksudnya Pa ... aduh jangan salah paham dong." balas Mila seraya membantu Anggoro membawakan tasnya.
"Gini lho Pa, maksudnya Mama itu bahagia karena sebentar lagi Mama mau punya cucu!" ungkap Mila sambil bergoyang riang.
"Owalahh gitu tah, ya ampun hampir aja Papa salah kira." kata Anggoro tersenyum lega.
"Kok sepi Ma? emangnya pada kemana?" tanya Anggoro tak melihat adanya pergerakan manusia selain dirinya dan Mila.
"Ih, kan tadi Mama udah kasih tahu, Mereka lagi bikin cucu!" tegas Mila sekali lagi.
"Hahaha, astaga jadi gitu to?" jawab Anggoro dengan kekehan.
Anggoro melepaskan sepatunya dan duduk diatas sofa. Tapi tiba-tiba dayang sesuatu dalam fikirannya.
"Ma, maaf nih ya ... bukannya Papa ada niat buat bikin hancur kebahagiaan Mama, tapi gimana kalo seandainya Amira gak bisa hamil?"
__ADS_1
"Deg."
Mila seketika langsung menoleh.