Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Mana kutahu!


__ADS_3

"Padahal Gue udah siap banget mau nolongin ... macem film di TV berharap banget jadi peran mirip Satria berkuda putih."


"Lah tapi ternyata yang mau ditolong udah kayak wonder woman aja." batin Doni tertohok dengan kenyataan.


"Bapak ngapain disini?" tanya Ani saat melihat Sang Dosen berdiri ditempat seperti ini.


"Eh, enggak kok! lagi mau nyari makan siang ... Kamu udah makan belum?"


Doni memilih melupakan niatan awal dirinya kemari untuk menyelamatkan gadis yang tengah bertanya padanya sekarang. Karena Ani sudah terselamatkan. Apalagi melihat keadaan Ani sangat baik-baik saja bahkan tak tergores seujung kuku pun.


"Cari makan?" ulang Ani meragukannya pernyataan Doni barusan.


"Iya! Aku kasih tahu tempat yang biasa jadi langganan makan sama Pak Axel waktu masa kuliah sampai sekarang." kata Doni untuk membuat Ani tertarik.


Tatapan mata Ani penuh arti, memandangi sosok Doni.


"Gak usah curiga kayak gitu deh, Saya kena sepak kaki Kamu juga udah nyungsep." celetuk Doni melihat keraguan di mata anak didiknya.


Jelaslah Ani tergelak ternyata gelagatnya sudah diketahui.


"Bapak hebat banget eh,"


"Yaudah Saya mau, tapi jangan ke Restoran mahal ya? takut keenakan tapi gak bisa beli lagi." ucapnya dibuka dengan kata pujian.


"Siap! ini cuma warung angkringan kok." jelas Doni berjalan lebih dulu dan Ani mengikutinya dari belakang.


Mereka menuju ke tempat angkringan Mbok Jumi. Mata Ani sangat takjub melihat banyaknya makanan aneka sate berjajar rapi dan sangat menggoda.


"Woah, kayaknya enak nih." katanya namun masih berdiri.


"Ayo, duduk ... Asal Kamu tahu makanan Mbok Jumi itu paling the best pokoknya." kata Doni mengunggulkan makanan Mbok Jumi seperti melakukan sebuah endors.


Setelah mendapatkan perintah, secara berani Ani duduk bersebelahan dengan posisi Doni.


"Cie Mas Doni akhirnya punya pacar juga." kata Mbok Jumi keluar dari persembunyiannya di belakang kedai.


"Iya Mbok Saya pacarnya!" jawab Ani seenaknya.


Dari samping belum hilang wajah Doni yang tersipu kini malah bertambah karena pengakuan Ani kepada Mbok Jumi.


"Eh, buset! ini anak bener-bener beda sama cewek lain apa yak? orang kalo dibilang kayak gitu pasti malu lah dia malah ngakuin?"


Kepribadiannya Ani telah membuat Doni terkejut berkali-kali. Bahkan sampai tak mampu berkata-kata.


"Pak, Saya boleh ngambil makanan berapa tusuk? kalau mau minta sama nasi boleh nggak?" tanya Ani bersikap sopan.


"Terserah berapa aja boleh! mau ambil hati Saya juga boleh."


"Deg!"

__ADS_1


Barulah kali ini Ani merasa dag dig dug der, pernyataan pancingan berupa gurauan saja ternyata dilahap langsung oleh Doni.


Tetapi itu tidak bertahan lama, Ani langsung kembali mengalihkan perhatiannya untuk melanjutkan makan sesuai pilihan yang tersaji.


"Bapak mah ada-ada aja hati Bapak nggak ada di situ kan?" ucap Ani menunjukkan ke arah berbagai macam sate.


"Untung Saya pinter nggak kemakan omongan Bapak!" imbuh Ani lagi.


Ternyata Ani menganggap kata-kata Doni sebatas gurauan saja, seolah-olah hanya untuk menggoda Ani.


"Enggak juga kok!" jawab Doni lagi.


"Eh?" Ani tercengang dibuatnya.


*


Meninggalkan dua insan yang sedang saling salah tingkah karena perasaan mereka.


Karena sekarang ada yang sedang saling suap di ruang tamu.


"Enak nggak Mas donat buatan Aku sama Mama?" tanya Amira.


"Enak kok malahan rasanya enak banget." puji Axel sembilan puluh persen jujur dan sepuluh persen berbohong. Karena kata-kata terakhirnya ditujukan untuk sang istri bukan untuk menilai kue donat itu.


"Mas lagi bayangin yang nggak-nggak ya?" sungut Amira melihat gelagat yang mencurigakan di wajah suaminya.


Mudah sekali Amira menebak apa yang sedang dipikirkan olehnya.


Jawaban Axel yang jujur itu membuat Amira memajukan bibirnya karena sebal.


"Kalau mikir jorok terus nanti kepalanya Aku siram pakai air kran loh!"


"Serius Kamu mau mandiin Aku? ya udah kalau gitu ayo sekarang aja!" balas Axel bukannya takut mendengar ancaman Amira justru malah menantang sang istri untuk segera melakukannya.


"Ih, ngeselin banget sih!" balas Amira melipat kedua tangannya.


"Loh, kok malah marah?" tanya Axel saat melihat ekspresi marah Amira. Laki-laki itu tidak berfikir bahwa sang istri sedang merajuk.


"Sayang ....?" panggilnya mesra.


Amira belum memberikan respon namun bibirnya terlihat menahan senyum disana.


Melihat pertahan Amira yang mulai retak, Axel berencana untuk melakukan sesuatu.


"Ah, geli Mas." rintih Amira saat Axel menggelitik pinggangnya. Sampai menyebabkan dirinya terjungkal diatas sofa.


Amira masih bergoyang guna menghindari tangan usil suaminya itu, namun kaos bagian bawah justru tersingkap.


Pemandangan yang mampu meningkatkan ketegangan. Axel mulai memikirkan hal nakal lagi. Ditambah Mereka hanya berdua saja. Karena Mila telah pergi dari tiga puluh menit yang lalu.

__ADS_1


Wajah Axel yang merah pada menahan sesuatu yang bergejolak dapat terbaca lagi oleh Amira.


"Udahlah pasrah aja, namanya istri kan tugasnya melayani Suami." batin Amira tersenyum pasrah.


Benar saja Axel mulai mengecup mesra, terasa seperti menggelitik membuat Amira melenguh.


Axel tidak ingin menikmati bagian ini saja, mulai merangkak kebagian atas.


Kali ini tempat yang menjadi sasarannya adalah bibir ranum Amira. Melakukan kecupan mesra yang begitu lama.


Amira di posisi bawah menerima saja dan malah mengaitkan tangannya dileher sang suami.


Pergulatan cukup sengit bahkan semakin memuncak. Axel bersiap untuk menanggalkan pakaiannya. Tetapi terjeda saat nada ponselnya berbunyi.


Terpaksa mata mereka berdua teralihkan ke arah benda sebagai alat komunikasi itu.


Disana tertulis kontak nama Elena sedang memanggil. Bahkan Amira juga bisa melihatnya secara jelas.


"Ini cewek ngapain sih ganggu aja!" protes Axel enggan menjawab.


"Coba angkat dulu Mas siapa tahu penting kan?" kata Amira tenang. Meskipun hatinya merasa cemburu.


"Nggak papa Amira tenang aja!" batin Amira mencoba menenangkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap egois.


Demi menuruti permintaan sang istri, dengan setengah hati Axel akhirnya menerima panggilan Elena.


"Hallo? ada apa Elena?"


"Xel, tolong Aku dirampok, tanganku berdarah Xel kena pisau ... Kamu bisa ke sini nggak tolongin Aku?"


Suara rintihan Elena yang terdengar sungguhan itu mampu membuat Axel tersentak bahkan sampai berdiri.


"Sekarang Kamu dimana?" tanyanya.


"Yes berhasil! Aku tahu Xel ... Kamu masih punya rasa cinta itu buat Aku, buktinya aja Kamu mau kesini kan?" batin Elena disebrang posisinya.


"Aku ada di Apartemen kenanga, nomor 230 ... Aku tunggu ya Xel aku butuh bantuan Kamu, pencurinya udah ditangkap sama Polisi."


"Aku kira tanganku nggak papa tapi ternyata darahnya makin keluar banyak ... Aku lemes banget Xel mau pingsan."


"Brukk." Elina sengaja berpura-pura jatuh untuk meyakinkan Axel bahwa dirinya memang tak sadarkan diri.


"Elena tunggu! Aku ke sana sekarang ya?"


Tidak ada jawaban yang terdengar karena Elena sengaja melakukannya.


"Hallo Elena?"


"HALLO????"

__ADS_1


__ADS_2