Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Kecelakaan


__ADS_3

Mila sebenarnya ingin kembali ke rumah Sang putra karena dompetnya masih tertinggal di sana. Namun saat hendak berangkat ponselnya berdering.


"Halo Pa, kenapa?" sapa Mila dengan senyuman merekah. Tetapi senyuman itu menghilang ketika mendengar suara gaduh dari sebrang pembicara.


"Bu ini suaminya kecelakaan sekarang udah ada di ambulans ... sekarang mau Kita bawa ke Rumah Sakit, tolong nanti Ibu langsung susul aja ya ke Rumah Sakit Medika Sehat." terang seseorang tak diketahui namanya itu.


"Ah, iya ya ... tapi keadaan Suami Saya gimana ya Pak?" tanya Mila dengan bibir bergetar.


"Syukur gak papa sih Bu masih sadar, cuman kayaknya kakinya patah, karena kejepit kursi kemudi, pokoke Ibu yang tenang ya ...."


"Nut." sambungan telepon pun dimatikan. Seketika hilang semangat Mila dan terjatuh lemas diatas lantai.


"Astaga Nyonya Mila!" pekik para pelayan yang datang untuk membantu.


"Gak! Aku gak boleh kayak gini ... pokoknya harus kuat," Mila menguatkan dirinya. Dan kembali membuka pola kunci dilayar ponselnya. Mencari kontak nama Axel disana.


Suara dengungan tanda sambungan telepon telah tersambung. Mila dengan cemas mengigit ujung kuku telunjuknya itu.


"Ayo Xel, cepetan angkat!" katanya.


*


Di sebuah resto cepat saji Amira dan Axel sedang melahap makanan ala jepang yang ternyata sangat digemari oleh istrinya.


Melihat Amira makan begitu lahap menjadi pemandangan baru di matanya.


"Hehe, maaf ya Mas ... Aku kelihatan rakus ya?" kata Amira memperlihatkan ujung bibirnya yang terkena saus.


"Enggak papa, Aku malah nyesel banget kenapa gak dari kemarin beliin Kamu sushi kayak gini ... baru tahu ternyata Istriku pencinta Sushi."


"Pelan-pelan dong makannya ... tuh jadi belepotan kan ...." kata Axel tanpa ragu mengusap bibir Amira menggunakan tissu.


Karena menikmati momen dinner romantis dengan alunan music yang merdu. Axel tak tahu ponselnya berdering beberapa kali.


Hingga akhirnya seperti ada ikatan batin. Tangan Axel memutuskan untuk menarik ponselnya dari dalam saku.


"Astaga! ternyata Mama telvon ...." Axel akhirnya terperanjat buru-buru menekan panggilan baru.


"Halo Ma, maaf ... Axel gak tahu soalnya tiba-tiba aja jadi mode silent." ungkap Axel amat bersalah.


"APA? Oke oke Axel jemput Mama sekarang!"


masa mematikan sambungan telepon kemudian lomba menyalahkan beberapa lembar uang di atas nampan.


Raut wajah cemas beralih menghinggapi di mimik suaminya. Amira bertanya-tanya karena Dirinya belum tahu situasi apa yang sedang terjadi sehingga membuat suami yang seperti itu.


"Ada apa Mas?" tanyanya.


"Ini tadi Mama kasih kabar kalo Papa kecelakaan ... ayo kita ke Rumah Sakit tapi sebelumnya jemput Mama dulu." kata Axel menarik tangan Amira.

__ADS_1


Amira menarik tas kecilnya dan mengikuti kemanapun Suaminya pergi.


Axel secara cepat menginjak pedal gas, membelah jalanan hitam untuk menuju ke rumah sama Mama. Selang lima belas menit kemudian dirinya sampai di tempat tujuan.


Tetapi Mila ditemani para Pelayan sudah menunggu di depan gerbang.


"Maaf ya Ma," ucap Axel sekali lagi.


Mila hanya mengangguk saja bukan karena marah melainkan menahan diri untuk tetap kuat


Membuka pintu dan duduk di kursi belakang bersampingan dengan Amira. Sebelumnya Amira memang sengaja untuk duduk di bagian belakang agar bisa menemani sang Ibu mertua.


Mencoba menenangkan dengan cara mengusap lembut kedua bahu Mila.


Mereka langsung tancap gas menuju Rumah Sakit dimana Anggoro mendapatkan perawatan.


Suasana ramai namun tidak bersuara, terjadi di kawasan milik Rumah Sakit. Mereka hanya berlalu lalang secara hening untuk menjaga ketenangan pasien.


Axel turun dari mobil membantu sang Mama, mereka bertiga langsung berlari ke ruangan IGD.


Disana terlihat Anggoro dipenuhi banyak luka dan kondisi kaki yang dipasang gip panjang seukuran dengan pergelangan kaki.


Sekuat tenaga Mila berlari dan menciumi seluruh bagian wajah Anggoro.


"Papa kok bisa sih kayak gini, tadi mau pulang nggak berdoa apa gimana ....?" keluh Mila dengan berderai air mata.


"Maaf Ma tadi Papa mau belok karena tiba-tiba ada kucing berhenti ditengah jalan ... eh ternyata lawan arah ada trek ... untung aja Papa bisa banting stir kanan, tapi ya itu malah nabrak pohon ... hehe."


"Ya Maaf Ma," ucap Anggoro lagi.


"Oh ya mumpung Axel ada di sini ... kebetulan besok pagi Papa mau berangkat meeting ke Malaysia tapi keadaan Papa malah kayak gini ... besok tolong ya gantiin Papa berangkat kesana, soalnya udah fix nggak bisa dibatalin."


"Deg!" Amira dan Axel saling menatap, tapi bibir Amira langsung tersenyum kembali.


"Iya Pa ... Mas Axel mau kok," kata Amira justru yang memberikan jawaban.


"Beneran nggak papa?" tanya Mila. Sejujurnya dirinya tahu bunga cinta diantara keduanya sedang tumbuh mekar mekarnya. Dan sekarang mereka malah harus terpisah karena keadaan.


"Nggak papa lagian itu cuma sementara, kalau meetingnya udah selesai Axel bisa pulang kan?" terang Axel santai. Walaupun sebenarnya hatinya ingin menolak. Namun genggaman tangan Amira yang lembut namun erat itu meyakinkan dirinya.


"Ya udah sekarang Kamu berangkat ke bandara ya ... Papa udah beli tiketnya." terang Anggoro.


"Sekarang udah harus berangkat?" tanya Axel terkejut saat mengetahui dirinya harus berangkat sekarang juga.


"Iya kan besok pagi meetingnya kalau nggak berangkat sekarang, terus kapan?" jelas Anggoro.


"Ya udah bentar Axel mau kangen-kangenan dulu sama Amira ... tolong kasih Axel waktu 1 jam lagi ya?" pinta Axel membuat Mila dan Anggoro tergelak namun tidak bisa menolak. Mereka berdua mengangguk untuk mengizinkan.


Axel berjalan keluar dari ruang IGD sambil bergandengan tangan. Berjalan menjauh dari kerumunan. Di ujung halaman Rumah Sakit terdapat taman. Mereka berhenti disana.

__ADS_1


Mereka memutar hingga posisi tubuh saling berhadapan. Axel menghela nafas panjang.


"Aku minta maaf ya ... terpaksa gak bisa nolak." ucapnya.


"Gak lah Mas, kan emang Aku yang mau." tegas Amira seakan ikut menyalahkan dirinya.


Dengan lembut Axel menarik bahu istrinya untuk mendekap erat. Mencium dalam aroma yang akan selalu dirindukannya.


"Kamu baik-baik ya dirumah ... kalo gak selama Aku pergi Kamu tinggal aja sama Mama Mila." terang Axel mengingat banyaknya orang jahat yang selalu mengganggu Amira.


"Iya, Mas juga hati-hati ya ...." terang Amira.


Belum puas hanya memeluk saja. Axel mulai melepaskan diri, beralih mengecup bibir ranum itu untuk salam perpisahan. Amira memejamkan matanya menerima serangan yang akan menjadi penghantar kepergian Mereka.


Tidak ada yang berani mengganggu, sebab tertutup pohon cemara dan suara air mancur sebagai pengiring momen romantis ini.


Setelah tiga puluh menit kemudian, mereka berdua kembali untuk menemui Mila dan Anggoro.


"Kok udah kesini? kan masih 30 menit lagi? tanya Mila.


"Mau tiga puluh menit atau satu jam lagi sama aja Ma, nantinya pisah juga kan." terang Axel lesu.


"He, iya sih ... Ya udah jadi mau berangkat sekarang?" tanya Mila.


"Iya Axel berangkat sekarang aja." jawab Axel mantab.


"Iya Ma ... ini Aku mau ke sana dianterin Amira naik taksi aja." terang Axel lagi.


"Jangan dong! nanti Mama panggilin sopir buat nganterin Kalian! hancurlah harga diri Mama ... masak anaknya naik taksi!" terang Mila menolak.


Axel hanya menganggukkan kepalanya pasrah.


"Ya udah Kamu tinggal berangkat aja nanti Sekretaris Papa udah ada di sana bawa semua dokumen penting." terang Anggoro.


"Oke Kita keluar dulu ya nungguin sopir ... dan Papa cepetan sehat, titip Amira selama Axel nggak ada di rumah ... Soalnya Mama kan juga tahu keluarga Amira macem psikopat semua." terang Axel diiringi gelak tawa yang lain.


Mereka akhirnya berangkat menuju bandara setelah sopir panggilan Mila datang untuk menjemput.


Di sepanjang perjalanan Amira menyandarkan kepalanya di bahu sama suami. Hingga akhirnya Mereka tiba di Bandara.


"Kamu pulang aja, nanti malah kemalaman loh." titah Axel meskipun enggan mengatakan hal ini.


Sebelum pergi laki-laki Amira memeluknya, perpisahan sementara ini benar-benar berat untuk mereka berdua.


Dan terdengar suara panggilan nama penumpang yang akan berangkat. termasuk juga nama Axel pun dipanggil.


Mereka saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan terakhir ketika Axel. benar-benar harus masuk ke dalam ruang yang tidak boleh dimasuki selain penumpang.


Meskipun telah berpisah Amira tidak semesta untuk kembali. Masih setia menunggu di suatu tempat melihat badan pesawat yang besar. Lima menit kemudian terdengar suara bising tanda pesawat akan segera lepas landas.

__ADS_1


Berdasarkan naluri saja walaupun tak tahu letak posisi suaminya ada di mana Amira melambaikan tangannya lagi.


"CEPAT PULANG YA MAS!" teriaknya sangat kencang.


__ADS_2