
"Mas, Aku boleh lihat?" pinta Amira, tentu saja dengan senang hati Axel menuruti permintaan sang istri. Memutar layar ponselnya menghadap wajah Amira, agar lebih nyaman.
"Sebelumnya terima kasih atas perhatian kalian semua ... saya Ani Andriani salah satu mahasiswa dari jurusan desainer, ingin menyampaikan Maaf serta melakukan klarifikasi. Terlebih kepada Amira Aurora, yang telah menjadi korban penyiraman yang tak lain pelaku adalah Saya sendiri. Karena itu Saya benar-benar meminta maaf, sebab kesalahan Saya ini menyebabkan Amira mendapatkan hinaan dari berbagai pihak, Saya tahu dan saya tidak berharap banyak untuk mendapatkan balasan atas permintaan maaf saya ini ... tetapi Saya tekankan sekali lagi, sebenarnya apa yang terjadi bukanlah seperti apa yang telah saya katakan sebelumnya, Amira bukanlah seorang ayam kampus dan Saya hanya salah praduga saja ... Saya akui Saya ini memang bodoh, memilih menggunakan kekerasan daripada mencari tahu sumber lebih dulu ... dan untuk teman-teman sekalian mohon jangan membully Amira lagi karena ini murni kesalahan Saya!"
"Demikian itu yang bisa Saya sampaikan, mohon dimengerti."
"Patz!" sambungan siaran secara langsung akhirnya dimatikan.
Akhirnya Ani sedikit bisa bernafas lega. Walaupun masih ada perasaan bersalah karena belum meminta maaf secara langsung kepada Amira.
"Ini udah langkah bagus kok, nanti Kita langsung jenguk Amira di rumah sakit aja." tukas Doni menepuk pundak Ani sebelum meninggalkan gadis itu disini.
"Terimakasih banyak ya Pak udah mau bantuin." ucap Ani setelah mendapatkan bantuan dari sang Dosen. Dan Doni membalasnya dengan acungan jempol tangan saja tanpa mengucapkan sepatah kata.
Diluar Angel telah menunggu, menyapa Ani yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
"Lo gak bilang kalo ternyata Amira itu istrinya Pak Axel?" protes Ani saat tahu disini ada Angel.
"Sialan! kok Ani bisa tahu kalo Pak Axel suaminya Amira? kalo kayak gini sih Gue gak bisa jadiin Ani lagi buat kasih perhitungan sama Amira!" batin Angel tentang ucapan Ani untuknya.
"Dasar! Lo yang bego Ani! dari dulu semua anak juga tahu kalo Angel itu gak suka sama Amira." guman Ani menepuk dahinya sendiri.
"Awas minggir sana!" sentak Ani memaksa tubuh Angel untuk tidak menghalangi jalannya.
Kata yang diucapkan oleh Ani tentu saja didengar pula oleh Angel, wanita jahat itu mendengus.
"Kita bisa kok jadi Genk buat bikin Amira menderita!" teriak Angel agar Ani mau bergabung.
Langkah kaki Ani sedang malas karena perasaan bersalahnya, dan sekarang Angel malah mengutarakan niatnya agar dirinya mau bersekutu?
Ani berusaha memutar setengah tubuhnya itu, meskipun dirinya tak mau.
__ADS_1
"Gak usah mimpi! Gue sama sekali gak ada niat buat jadi anak buah Lo Angel!" ketus Ani seraya menyunggingkan senyuman mengejek.
"Eh, sialan! kalo Lo mau kerjasama sama Gue! dijamin hidup Lo gak akan menderita! Gue setiap hari bakal jemput Lo." tawar Angel guna merayu Ani.
"Gak perlu! Gue lebih respect sama temen tukang ojek daripada harus diantar jemput sama orang licik kayak Lo ini!" balas Ani seraya membalikkan badannya dan pergi.
"Cih, biarpun Gue miskin bukan berarti Lo bisa beli harga diri Gue!" guman Ani berlalu, semakin mantap untuk menjauhi Angel.
"Arghh!! hampir aja ketemu sama orang yang bisa diajak kompromi ... eh, malah udah berubah fikiran duluan!" sungut Angel kesal usai kehilangan kesempatan bagus.
*
Setelah menyaksikan acara permintaan maaf yang dilakukan Ani, akhirnya Amira tersenyum. Meskipun hanya senyuman tipis saja, sebagai pertanda kondisi kesehatan mental Amira kian membaik.
"Kalo Kamu gak mau maafin Dia juga gak papa Sayang, gak usah dipaksain." celetuk Demien menyuapi Amira dengan potongan apel.
"Tapi kan kata Mama Rani sesama manusia itu, harus saling memaafkan Pa." sahut Amira terjeda saat mulutnya sibuk mengunyah.
"Kalo Mama lihat kayaknya yang nyebar video itu bukan Ani deh," timpal Mila melihat cara berbicara Ani menunjukkan bahwa gadis ini memiliki watak yang baik.
"Iya Mah ... Axel juga setuju ... ada orang lain yang rekam terus nyebarin video." balas Axel memiliki pemikiran yang sama, dengan seksama melihat posisi pengambilan gambar untuk mencari pelaku.
"Itu gampang, nanti Papa bakalan cari orang yang bisa lacak siapa yang udah nyebarin itu video." balas Anggoro ingin membantu.
Mereka berbincang di ruang tamu khusus yang memang disediakan di kamar VVIP, sedangkan Amira dan Demien duduk berdekatan di ranjang.
"Amira?" panggil Demien.
"Hemmm?" balas Amira menatap wajah sang Papa, panggilan lembut untuk pertama kalinya setelah hilang beberapa tahun terakhir.
"Kamu pasti lebih bahagia ya tinggal sama keluarga suami Kamu." tukas Demien merasa malu, apalagi melihat secara langsung rasa sayang dan keperdulian Mereka kepada Amira.
__ADS_1
Amira bisa saja menjawab Ya, namun satu kata singkat itu mungkin saja akan membuat luka dihati Demien. Perasaan cemburu serta perasaan bersalah akibat kalah bersaing dengan keluarga orang lain. Padahal seharusnya dirinya sebagai garda terdepan.
"Gak juga kok Pa," jawaban Amira mampu membuat Anggoro, Mila dan Axel menoleh kearahnya. Mendapatkan serangan dari dua sisi cukup untuk membuat Amira dilema.
"Eh, gini maksud Amira ... emang sih Amira bahagia setelah akhirnya bisa ketemu sama Mama Mila yang sayang banget sama Amira, tapi ...." jeda Amira meraih jemari tangan Demien.
"Bagi Amira Papa itu yang terbaik, rumah kita dan segala kenangan juga masih jadi juara dihati Amira Pa, gak akan ada gantinya kalo ditambah kenangan manis sih masih bisa." tukas Amira menimbulkan tawa semua orang.
"Hah, hampir aja Mama salah sangka, takut banget gak sengaja bikin salah." ungkap Mila mengusap dadanya yang terasa dag dig dug.
"Maafin Papa selama ini ya Sayang." ucap Demien kali ini untuk kesalahannya sendiri.
Tanpa menunggu lama Amira langsung menganggukkan kepalanya.
Mereka saling berpelukan saling melupakan semua kesalahan diantara satu sama lainnya.
"Ah, ternyata Mereka udah baikan? Kurang ajar! Ini gak bisa Aku biarin!" kecam Eva mengintip dari balik pintu, celah berbentuk kotak sehingga mempermudah dirinya untuk melihat keadaan yang terjadi didalam ruangan.
Apalagi tidak ada yang sadar dengan kedatangannya kesini. Bahkan Eva juga membuka pintu supaya mendengarkan apa pembicaraan Mereka.
Sebelumnya Eva datang ke Kantor berencana untuk melakukan makan siang bersama. Tetapi, saat tiba di Kantor ternyata Demien tidak ada ditempat itu. Eva yang mencari tahu akhirnya mendapatkan kabar dari sekretaris pribadi Demien bahwa suaminya pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Amira.
"Lihat aja Mas! Aku gak akan pernah kasih kesempatan untuk Kamu baikan lagi sama Amira!" kecam Eva berlalu. Atau jika tidak Mereka akan mengetahui keberadaannya disini.
*
Di sebuah halaman, Dargo sedang menyulut rokok. Awalnya tidak ada yang menggangu kesenangannya sampai akhirnya Dargo melihat sebuah papan baliho diatas trotoar.
"Itu bukannya Axel?" guman Dargo melihat foto Axel dalam ukuran amat besar.
"Ah, ternyata Dia udah sukses jadi Guru? Gue bakal cari itu kampus!" seringai Dargo
__ADS_1