Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Dinas


__ADS_3

Axel keluar kelas hendak mengejar Amira. Baru saja melangkahkan kakinya.


"Pak Axel, Anda dipanggil Rektor! dan sedang ditunggu diruang Beliau." ucap salah satu seorang Dosen juga.


"Ah, iya Bu, Saya kesana sekarang." jawab Axel, melirik arah jalan Amira dan ruangan Rektor berbeda. Hingga akhirnya Dosen killer itu pergi ketempat yang lebih penting tanpa bisa ditunda. Walaupun sebenarnya Amira juga penting bagi kehidupannya.


Didalam ruangan Elena dan Roby sedang berdua.


"Kamu gak bohong kan soal cerita ini?" kata Roby kepada putri semata wayangnya yang telah banyak bercerita tentang karangan fiksi belaka.


"Beneran Pa! Elena gak bohong! pokoknya Papa percaya aja deh sama Elena." katanya dengan wajah menyakinkan.


Entah apa yang Elena rencanakan hingga akhirnya Roby harus memanggil Axel kemari.


Dan terdengar ketukan pintu menghentikan obrolan Ayah dan anaknya.


"Masuk!" titah Roby. Dan masuklah Axel kedalam ruangan. Tak tahu kenapa melihat ada Elena perasaannya menjadi lebih gusar.


"Duduk Pak!" titah Roby lagi agar Axel lekas meletakkan bokongnya diatas kursi.


"Ada apa ya Pak?" tanya Axel setelah duduk membenarkan posisi seperti yang diinginkan.


Roby melirik kearah Elena dengan tatapan keraguan tetapi putrinya tetap menginginkan Dirinya tetap berbicara sesuai yang sudah Mereka diskusikan sbelumnya.


Hingga nafas panjang sebagai pembuka dilakukan oleh Roby.


"Begini Pak, Saya berencana untuk melakukan pertukaran Dosen selama satu Minggu dan Saya memilih Pak Axel untuk maju sebagai wakil dari Kampus Kita!"


"Deg!" Permintaan tanpa adanya aba-aba atau diskusi terlebih dahulu tentu saja mengejutkan Axel. Dia sampai membeliak indra penglihatannya itu. Namun, langsung menggeleng lirih untuk fokus kembali.


"Gimana Pak? Saya sudah siapkan semua Akomodasi dan juga hotel untuk tempat tinggal Bapak selama melakukan pertukaran disana."


"Dan, Saya juga suruh Elena untuk temani Bapak selama menjalani tugas diluar."


"Deg!" Lagi-lagi jantung Axel berdegup lebih kencang setelah mendengarkan Elena diajukan sebagai teman dalam melakukan tugasnya.

__ADS_1


"Maaf tapi kenapa harus Elena? kan ada Pak Doni atau gak Dosen laki-laki yang lain?" protes Axel langsung.


"Tapi kalau Dosen yang lain itu lagi ada tugas untuk penilaian skripsi di setiap jurusan dan cuma Elena saja yang jadwalnya kosong." jawab Roby. Sejujurnya Dia terpaksa melakukan pembohongan ini atas desakan Elena.


"Maaf Axel, Saya terpaksa berbohong ... Saya nggak mau Kamu terus menderita menjalani pernikahan palsu itu!" batin Roby ternyata Elena berbicara kebohongan tentang pernikahan Axel padanya. Mengira Axel merasa tertekan dan tidak bahagia dan Mereka berniat untuk melepaskan janji suci pernikahan itu.


"Pak tapi Saya udah punya istri! bagaimana jika Istri Saya tidak setuju? lagi pula Saya nggak masalah kok tugas dinas tanpa ditemenin!" kekeuh Axel tetap menolak.


"Maaf Pak keputusan Saya sudah bulat nanti silahkan Anda ke Bandara karena jadwal keberangkatan pesawat jam 17.00." ketus Roby lebih tegas. Ada yang sedang tertawa berbahagia di ujung ruangan, Elena mencium keberhasilan dari misinya untuk membuat ulah lagi.


"Saya permisi dulu Pak." pamit Axel. tanpa memberikan salam hormat dan pergi begitu saja. Ketika membuka pintu tepat bertepatan dengan Doni yang baru saja melintas.


"Eh, tum---benn?" Doni ingin bertanya namun terjeda ketika melihat wajah Axel sedang berwarna merah padam dengan tatapan mata kesalnya.


"Kenapa lu ada apa?" tanya Doni mengejar Axel dan untuk menyeimbangkan jalan Mereka.


"Masa Rektor nyuruh Gue buat jadi wakil pertukaran Dosen di luar sama Elena? apa nggak aneh?" ketus Axel.


"Seriusan Lo? kok bisa?" tanya Doni menangapi dengan wajah penuh teka-teki.


*


Meninggalkan kepahitan pada nasib Axel.


Sekarang di rumah sederhana Ani tepatnya di depan halaman yang masih berupa tanah lapang berukuran 6x9. Ani sedang mengajari beberapa gerakan dasar bela diri kepada Amira.


"Gila keren banget lu Amira! baru latihan belum ada satu hari aja gerakan lo itu loh udah keren, mantap-mantap!" puji Ani sampai mengacungkan kedua jempolnya kepada Amira.


"Masa sih biasa aja kali? sebenarnya dari dulu Aku emang suka sama olahraga tarung ... tapi selalu nggak boleh sama Papa." jelas Amira tersipu sekaligus sedih.


"Heleh, gak usah sedih kan sekarang udah latihan sama Gue?" kata Ani. Sehingga mengubah wajah sedih Amira menjadi senyuman lagi.


Mereka berdua tengah fokus belajar ilmu beladiri. Entah mengapa Amira ingin sekali belajar ilmu pertahanan diri. Mungkin ketika mengingat banyaknya kejadian buruk dari orang-orang jahat ingin mencelakakan dirinya sampai beberapa kali. Ditambah lebih semangat melihat kepandaian Ani pula.


Walaupun latihan itu sering diselingi gelak canda tawa dari mereka berdua. Karena Ani mempertunjukkan jurus yang lucu atas variasinya sendiri. Dan lugunya Amira mengikuti setiap gerakan konyolnya sehingga membuat Ani tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


*


Di kampus Axel dan Doni masih mencoba untuk melakukan protes kepada Roby. tetapi karena Roby sudah didoktrin secara penuh oleh Elena. Sang Rektor tidak menggubris dan tetap pada pendiriannya. Alhasil jerih payah melakukan protes tidak membuahkan hasil.


Dengan wajah lesu Axel berniat untuk pulang dan berjalan menuju tempat parkir.


"Daripada sedih nggak ada gunanya mendingan Lo ketemu sama Amira deh, tapi gue takutnya kalau istri lo nggak setu ----?" kata Doni tidak sampai pada kalimat sempurna. karena Axel sudah berlari dan memasuki mobil, bahkan mesin mobilnya sudah terdengar.


"Lah itu bocah ngilang apa gimana?" keluhnya kebingungan.


Didalam mobil Axel memasang seatbelt dan langsung menancapkan gas.


"Ayo dong Sayang, angkat!" katanya mencoba menghubungi Amira.


"Lagi dimana Aku susul ya sekarang?" kata Axel saat panggilan telepon mulai tersambung.


"Oke pokoknya tunggu ya? kalau Aku belum datang jangan kemana-mana!" setelah mendapatkan alamat yang disebutkan oleh Amira ada dimana. Axel langsung menekan simbol berwarna merah. Mengarahkan mobilnya ketempat yang akan dituju.


Amira sudah menunggu di depan gang, karena posisi rumah Ani terletak di dalam gang dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat. Hatinya juga merasa cemas mendengar suara tegas Axel terkesan tidak seperti biasanya.


"Aduh ada apa ya kok perasaanku nggak enak sih?" katanya melihat kendaraan milik suaminya datang dari arah Timur.


Amira tersenyum simpul melambaikan tangannya. Walaupun Axel sudah tahu sosok yang dicintai sedang berdiri disana.


Suara pintu terbuka ketika Axel mendorongkan pintu itu untuk Amira.


Ketika pintu terbuka tampaklah wajah Axel secara jelas, Amira melihatnya untuk beberapa detik.


"Kenapa? ganteng banget kan Suami Kamu?" ucap Axel menggoda. Tentulah membuat Amira tersipu-sipu namun menganggukkan kepalanya sebagai tanda sependapat.


Namun ketika Dia duduk di depan kursi samping kemudi. Giliran Axel memperhatikan wajahnya. Namun pandangan Axel sedikit teralihkan dengan genangan air yang luas.


"Itu danau bukan sih?" tanyanya. membuat Amira melihat ke arah sana pula.


"Kata Ani tadi sih Iya Mas," jawabnya.

__ADS_1


"Kita mampir dulu yuk, sambil ngobrol sebentar ada yang mau Aku omongin sama Kamu." kata Axel seraya menghela nafas panjangnya.


__ADS_2