
Di sebuah ruang meeting, tepatnya di negara orang. Seharusnya sedang digelar acara pembahasan bisnis yang akan mereka bicarakan.
Tetapi sang wakil dari Anggoro group, malah pergi begitu saja dan melarikan diri.
"Lah, Tuan Axel kok gak ada?" ucap Antonio Sekretaris kepercayaan Anggoro mencari keberadaan wakil dari Atasannya hilang dari posisi duduknya.
Lelaki itu tidak tahu ternyata Axel sudah terbang menggunakan Helikopter untuk kembali ke Indonesia.
*
Sebuah helikopter terbang dengan gagahnya mencari celah diantara banyaknya gedung tinggi.
Amira tersenyum merekah melihat sosok tampan itu bergelantung di bagian pintu.
"Udahlah orang miskin minggir dulu!" celetuk Ani melihat pemandangan mewah dari seorang suami datang jauh-jauh menggunakan helikopter demi menyelamatkan istrinya. Sungguh membuat Gadis merasa sangat iri.
"Gile-gile itu anak bener-bener deh." Doni mengaitkan tangannya ke leher Ani.
Dibalas Ani dengan melirik tajam, namun tidak sampai menepis tangannya dari sana.
"Kamu jangan pengen kayak gitu ya? orang tuaku cukup kaya sih, tapi gak sampai kayak punya Axel." celetuk Doni, membandingkan kekayaan Axel tidak ada apa-apanya.
"Gak usah khawatir Pak ... Saya udah terbiasa hidup miskin dari kecil." jawab Ani dengan santainya. Tentunya mengundang gelak tawa Doni. Kemudian menyandarkan kepalanya di kepala Ani.
*
__ADS_1
"Ayo dong Pak, cepetan turun!" titah Axel kepada Pilot tak sabar ingin segera menghampiri Amira.
"Maaf Pak, Kita gak bisa turun ... karena gak ada tempat untuk landasan Pak." terang Pilot, alasan dirinya tidak bisa menurunkan helikopter kerena jarak antara gedung sangat berdekatan.
Tetapi Axel tidak sesabar itu sekarang.
"Udahlah! tolong terbang lebih turun saja ... Saya mau lompat!" balas Axel.
"Ah, jangan Pak! itu sangat berbahaya! gini aja Bapak turun pakai tali pengaman ... nanti kalo udah sampai dibawah lepasin sendiri ya." katanya salah satu awak yang berjaga dibagian belakang.
"Oke!"
Setelah mendengarkan jawaban Axel yang bersedia, akhirnya Ia mulai memasang tali itu di bagian pinggang. Mengikat erat agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Setelah beberapa menit. Akhirnya selesailah sudah acara ikat mengikat dan kemudian Axel mulai melompat.
Kemudian membuka kancing pengait dan langsung berlari.
Amira juga berlari untuk menghampiri sang suami, mereka menuju tempat diantara satu sama lainnya.
"Grep." Pelukan hangat sebagai salam sapa. Axel benar-benar dibuat ketakutan karena mendengar kabar buruk dari Mbok Darmi.
"Lah, Den Axel dari mana kok naik helikopter?" tanya Mbok Darmi kebingungan.
"Axel sebenarnya lagi meeting ke luar negeri Mbok," jelas Doni memberitahu.
__ADS_1
Mbok Darmi menutup mulutnya, ada rasa penyesalan dari hatinya.
"Ya ampun, kalo gitu Saya udah bikin meeting Den Axel gagal dong?" ucapnya.
"Nggak apa-apa Mbok kalah tender sekali juga nggak bakalan bikin Axel bangkrut." celetuk Doni santai.
"Kamu nggak papa Sayang ada yang sakit?" Puas memeluk tubuh Amira segeralah Axel mengecek kondisi tubuh Amira. mengusap kedua pipi Amira bertanya dengan penuh khawatir.
"Nggak papa Mas tadi ada Ani yang udah datang bantuin Aku." terang Amira.
"Tapi kan bukannya sekarang Mas lagi meeting ya?" imbuh Amira lagi.
"Hehe, gak jadi soalnya Aku kabur." terang Axel menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu, meninggalkan tanggung jawab dan justru kembali ke sini.
*
Anggoro sedang menikmati menu sarapan bersama Mila, tiba-tiba mendapatkan telepon dari sekretarisnya.
"Halo Antonio gimana meetingnya sukses?"
Terdengar sahutan Antonio menjelaskan kepergian Axel secara mendadak meninggalkan ruang meeting. Bahkan sebelum meeting itu dimulai.
"Apa Kamu bilang? Axel kabur terus kita jadi kalah?"
Anggoro terperanjat, mendengar kenyataan seperti ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Lelaki itu hanya menatap terus ke wajah Mila.
__ADS_1
"Ada apa Pa? kok Papa kayaknya lagi marah?"