
Anggoro sadar satu kalimat ini mampu menghancurkan kebahagiaan sang Istri.
"Maaf Sayang, kita gak boleh terlalu berharap sama takdir Tuhan yang masih jadi misteri!" imbuhnya lagi.
"Papa cuma gak mau Mama kecewa nantinya." tutup Anggoro.
Mila sesaat diam, dirinya baru menyadari kesalahannya ini.
Wajahnya tertunduk namun demikian mengangkatnya kembali.
Senyuman manis yang terpancar dari bibirnya, Anggoro seharusnya senang tapi justru mengernyitkan keningnya karena heran.
"Ya kalo ternyata Amira gak bisa hamil yaudah gak papa Pa, mau gimana lagi?"
jawaban Mila akhirnya menjelaskan arti senyuman itu. Anggoro mengangguk. Lega sekali rasanya mengetahui jawaban Mila. Kemudian memeluknya mesra.
"Udah malam, tidur yuk!" ajaknya lagi.
Mila mengangguk dan mengangkat bokongnya.
"Eh, tapi kan Papa belum makan?" seru Mila menyadari.
"Masih kenyang Ma, tadi Papa ketemu sama Klien." jawab Anggoro.
"Oh, gitu ... yaudah yuk istirahat ... Mama juga ngantuk!" kata Mila akhirnya.
Mereka menaiki anak tangga, keharmonisan antar dua pasang beda usia sangat menyejukkan mata.
*
Demien pulang dari Kantor. Awalnya ingin mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Amira. Tetapi Axel telah memberikan kabar bahwa Amira sudah pulang.
"Papa, darimana?" tanya Eva berdiri diambang pintu menyapa Demien.
"Dari kerjalah! apalagi?" ketus Demien mencoba melewati Eva.
Eva yang sengaja memberikan pertanyaan untuk memancing jawaban sebenarnya, kurang puas dengan jawaban Demien ini.
"Kerja atau pergi ke rumah sakit?" ucap Eva dengan nada bicara yang menjengkelkan.
"Kamu tahu darimana kalo Saya ke Rumah Sakit?" tanya Demien dingin.
"Aku udah bela-belain dateng ke Kantor biar bisa makan siang bareng! eh taunya Papa malah pergi! sentak Mila kesal.
"Kamu ke kantor? ajak makan siang? cih! seharusnya Kamu itu bangun pagi Eva! masak bikin bekel buat Aku bawa ke kantor!" balas Demien sungguh meluapkannya kekesalan selama ini.
Eva yang berharap mendapatkan permohonan maaf malah tertusuk kata-kata Demien padanya.
Melihat bungkamnya mulut Eva, Demien tersenyum getir.
__ADS_1
"Kamu sadar dong! pernah gak selama nikah sama Aku, kamu masa buat keluarga? yang ada kamu malah suruh-suruh Amira aja kan!"
"Deg!"
Kalimat Demien yang mampu menambah tamparan keras bagi Eva, rupanya Eva harus memupus permohonan maaf yang telah Ia harapkan sebelumnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu Demian melangkahkan kakinya. Meninggalkan Eva sendirian di ambang pintu tanpa bersedia untuk mendengarkan penjelasan.
Eva memutar setengah tubuhnya memandangi bahu tugas Demian sungguh tanpa berniat untuk menoleh ke arahnya kembali.
"Kenapa kamu berubah Mas? padahal dulu Kamu cinta banget sama Aku? apa semua ini gara-gara Rani?" ucap Eva mampu menghentikan langkah Demien.
"Kamu masih belum sadar sama kesalahan kamu sendiri?" balas Demien santai namun terdengar menyindir.
"Eva aku memang pernah cinta sama kamu setengah mati! Tapi kamu sendiri kan yang udah ninggalin aku buat nikah sama pengusaha kaya yang tua itu!"
"Terus sekarang Kamu tanya, kenapa Aku berubah?"
Jawaban Demien sama sekali tidak terbayangkan oleh Eva. Mengungkit kejadian tentang pengkhianatan nya dulu pernah dilakukan saat masih menjalin hubungan bersama Demien semasa kuliah.
"Pikiran Kamu pasti udah di doktrin sama Rani kan Mas?" tuduh Eva menyangkut pautkan orang yang telah tiada.
Dan itu memancing amarah Demien, akan mengepalkan tangan yang kuat dengan rahang mengeras.
"Ini semua pasti gara-gara Rani yang udah bikin kamu lupain aku! Rani pasti udah bilang yang nggak baik tentang aku kan?" tuduh Eva semakin melantur.
"EVA JAGA OMONGAN KAMU TENTANG RANI!" bentak Demien tak rela Rani dicap buruk semacam itu.
Jantung Eva semakin bergemuruh, mengetahui kenyataan pahit. Mengira Demien menikah karena cinta ternyata tidak.
"Jadi bukan karena kamu cinta sama aku?" tanya Eva ingin memastikan jawaban dari bibir sang suami.
"Kamu yakin nggak akan nyesel tanya gini?" balas Demien membalikkan keyakinan kepada Eva.
"AYO JAWAB MAS!" desak Eva sungguh keputusan yang sangat salah.
"Ya! Aku sama sekali nggak ada perasaan cinta sama kamu! Cinta itu udah lama hilang Eva ... Aku bahkan lupa Aku memiliki perasaan itu untuk kamu." jawab Demien yakin terlihat dari sorot matanya.
"Tapi, aku tetap akan menjalankan hubungan pernikahan ini walaupun tanpa perasaan itu, jadi kamu nggak perlu khawatir tentang semua biaya kuliah Angel dan kehidupan kamu sehari-hari." terang Demien membalikkan badannya hendak pergi lagi.
"Kalo kamu gak cinta buat apa pernikahan ini Mas! lebih baik Kami ceraikan Aku!" ucap Eva yang telah dibakar kenyataan mengucapkan permintaan berupa perpisahan.
"Terserah Kamu Eva! kalo kamu pengen cerai silahkan urus sendiri!" kata Demien tanpa menghentikan langkahnya.
"Brukk."
Eva tertunduk lemas diatas lantai, keluar sudah air mata karena sakit hatinya ini.
Suara isak tangis yang kencang, seharusnya membuat Mbok Darmi iba. Sayangnya sang pembantu terkesan acuh dan terus meneruskan perkataannya di dapur.
__ADS_1
"Maaf ya Nyonya bukannya Saya jahat ... tapi kan Nyonya pernah bilang tangan Saya gak higenis karena jelek." ujar Mbok Darmi.
Dan keributan sebagai penghantar malam, Demien tidur di kamar utama sedangkan Eva memilih tidur dikamar tamu.
Malam ini Mereka memilih tidur di tempat yang berbeda.
*
Keesokan pagi harinya.
Amira tidur dalam pelukan Axel setelah melakukan adegan mesra.
Sinar matahari masuk menghangatkan tubuhnya.
"Selamat pagi Mas," sapa Amira mengecup kening sang suami.
"Emh," kata Axel menggeliatkan tubuhnya. Dan membuka mata. Melihat wajah cantik layaknya bidadari kayangan dengan rambut acak-acakan.
"Masih sakit?" tanyanya khawatir dengan kondisi Amira.
"Enggak kok!" jawab Amira seraya menggelengkan kepalanya.
"Mau lagi?" goda Axel mengkedikkan matanya.
"Ah, sakit Sayang." keluh Axel saat Amira mencubit pinggangnya.
"Habisnya nakal sih, bangun tuh udah siang!" sungut Amira menunjuk jam diatas meja dengan dagunya.
Axel melihatnya pula, kemudian memutar kembali wajahnya.
"Kiss me!" pintanya lagi.
Awalnya Axel hanya ingin menggoda namun ternyata.
Amira memajukan bibirnya tanpa ragu. Lagi-lagi Mereka saling mencurahkan kasih sayang.
Dan tangan Axel gatal untuk menyentuh benda kembar yang padat dan kenyal menyentuh dada bidangnya meninggalkan rasa geli.
"Ah, Mas." sungut Amira dengan tatapan menyelidik.
"Hehe maaf, habisnya gemes." seru Axel dengan senyuman meringis.
Siapa sangka Dosen killer seperti dirinya bisa berubah menjadi budak cinta? Dan takdirlah yang mampu mengubah.
"Mas, ayo bangun nanti Kamu telat loh." protes Amira untuk membuat Axel bangkit.
"Loh, kok aku aja ... Kamu juga kuliah kan?"
Amira menggeleng lirih.
__ADS_1
"Sayang ...." kata Axel segera beranjak mengangkat setengah tubuhnya itu.