Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Rencana Eva selalu gagal!


__ADS_3

"Hallo Ma?"


Axel dengan percaya diri memanggil sebutan Mama karena memang yang sedang menelepon adalah Mila sang Ibu.


"Sayang, tolong nanti jemput Amira ya? jangan sampai Amira nginep ... oke! dan nanti Mama pengen ajak kalian dinner karena ada hal penting yang mau Mama omongin."


"Oh gitu ya, oke Ma! Dinner dimana ya?" jawab Axel tanpa melakukan penolakan, kemudian ditutup dan pertanyaan lagi.


"Nanti Mama kirim alamat restorannya ya!" sahut Mila belum menemukan tempat yang cocok.


"Siap Ma, Axel tunggu." jawab Axel.


Kemudian terdengar nada sambungan tanda berakhirnya panggilan. Karena Mila yang lebih dulu menutup sambungan telepon.


Dengan setia Doni masih menunggu menyandarkan tubuhnya dibadan mobilnya sendiri.


"Mama Lo telvon? gimana jadi gak?" tanyanya.


"Jadi kok! tapi gak bisa lama-lama ... soalnya Mama suruh jemput Amira." tukas Axel bersiap memasuki mobilnya.


"Lah, kasihan amat Amira diusir?" terka Doni jauh sampai keluar dimensi.


Seketika Axel mendengus lirih.


"Eh, cacing kremi! bisa diem gak! Lu mah sekarang Gue pikir-pikir udah kayak mulut emak-emak hoby gosip aja!" keluh Axel tentulah Doni dibuat terbahak-bahak sekalipun ada perasaan bersalah karena telah menuduh Axel yang bukan-bukan.


"Wkwkw, ya sorry Bro ... makanya jangan sebut nikah kontrak biar gue gak terus negatif thinking lah!" balas Doni tak sempat dijawab Axel, karena laki-laki itu telah masuk kedalam mobil bahkan mulai menjalankan mobilnya.


"Sialan malah ditinggal!"


Sebelum semakin jauh, akhirnya Doni memasuki mobil untuk bergegas mengejar Axel.


*


Sudah lewat dua jam, Eva tampaknya benar-benar memupus rencana untuk bisa melakukan penyiksaan terhadap Amira. Sedari tadi Pak Jaka tak mau menggerakkan kakinya meninggalkan sosok yang telah menjadi tanggung jawab penjagaan.


Raut wajah Eva sampai memerah, bukan karena jatuh cinta melainkan menahan amarahnya yang tertahan.


"Udah deh Ma, ikhlasin aja! awas kalo sampai marah-marah lagi!" ketus Angel mengawasi pergerakan Eva karena tadi ketika Pak Jaka menolak untuk membantu. Eva hampir mengamuk ingin memaki anggota kepolisian itu.


Hanya lirikan mata tajam saja sebagai jawaban. Hati Eva benar-benar sedang ada di puncaknya kesal.


"Ah, bener-bener gak asik! kenapa sih kayaknya nasib Amira lagi mujur banget!" batin Eva, lelah menunggu akhirnya dia memutar kakinya menaiki anak tangga.


Dari atas sofa lirikan bola mata Angel mengikuti pergerakan sang Mama. Kemudian geleng-geleng kepala melihat tingkah Ibunya seperti anak kecil yang merajuk, setelah apa yang dimau tak juga terlaksana.

__ADS_1


Tiba dilantai atas Eva membuka pintu secara perlahan, mengintip Demien yang masih fokus melihat laptop.


Kemudian memberanikan diri untuk memasuki kamar, sekalipun Dirinya tahu itu dilarang.


"Kamu lupa sama peraturan yang udah Saya buat?" ketus Demien merasakan ada derap langkah kaki dari balik tubuhnya yang sedang duduk.


Terdengar tawa lirih sekalipun hanya terdengar seperti dengusan nafas saja. Eva menyembunyikan Kedua tangannya. Malah semakin mendekat bahkan sekarang.


Sebuah kecupan mesra yang mendarat di pipi Demien, Eva merangkul tengkuk leher sang Suami. Dari gelagatnya, Wanita itu sedang mengatur rencana jahat yang baru.


"Pa, nanti Amira suruh nginep disini aja! Papa lagi kangen kan? biarlah Dia nginep sehari atau dua hari!" pinta Eva membuat aktivitas jemari tangan Demien terhenti.


Sebenarnya selama ini Demien mengetahui sebagian kejahatan yang telah dilakukan Eva.


"Hahh ... Eva, Eva Kamu kira Aku gak tahu selama ini Kamu udah sering bikin Amira tersiksa? selama ini Aku diam itu sengaja buat hukum Amira! tapi mulai sekarang Aku gak akan kasih ruang ataupun kesempatan lagi untuk Kamu, Eva!" batin Demien memutar wajahnya agar menjauh dari sentuhan pipi Eva.


Mendapatkan respon penolakan, tentu saja Eva dibuat heran.


"Kamu, gak usah ngatur-ngatur Amira! Karena sekarang Amira bukan jadi hak Saya lagi! jadi Saya harap Kamu gak perlu repot-repot mikirin Amira!" balas Demien, kembali menggerakkan tangannya untuk menulis.


"Deg."


"Ini Mas Demien kenapa sih? biasanya Dia bakalan setuju sama semua permintaan Aku! tapi lihat aja sekarang! malah seakan Dia nolak permintaan Aku." batin Eva langsung melepaskan tangannya dari leher Demien.


Di kamar Mbok Darmi, Amira sadar sekarang adalah jam waktu untuk makan siang. Gadis yang berstatus sebagai istri Dosen itu keluar dari kamar untuk menemui Pak Jaka.


"Pak, makan dulu ya? mau Saya beliin nasi?" tawar Amira ternyata perduli dengan kondisi Pak Jaka. Tetapi karena dirinya sekarang hanyalah seorang tamu, merasa tak memiliki kewenangan untuk membawa Pak Jaka ke meja makan yang ada dirumah ini.


Mendapatkan perhatian seperti ini, laki-laki bertubuh tegap dengan mengenakan seragam dinas malah tersenyum manis.


"Terimakasih Nyonya muda ... tapi nanti saja, Saya udah terbiasa makan siang terlambat!" tukas Pak Jaka menolak secara halus.


Tetapi Amira malah menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.


"Gak bisa gitu dong Pak ... kalo karena Bapak sungkan, Saya temenin ya?" tawar Amira lagi.


"Kita makan bareng aja!" sela Demien dari anak tangga.


Semua orang menoleh, tak terkecuali dengan Eva yang duduk diruang tengah bersama Angel.


Seperti mendapatkan dukungan, akhirnya Amira merasakan kebahagiaan yang sempat hilang.


"Ayo Pak, kita makan dulu." ajak Demien sang empu pemilik rumah.


Akhirnya Pak Jaka tak kuasa untuk menolak, dan akhirnya mereka melakukan makan siang bersama.

__ADS_1


*


Jam cepat berjalan, hingga langit cerah mulai meredup. Axel yang selesai membeli barang keperluan, akhirnya memacu gas mobilnya menunju kediaman Demien.


Hingga tak terasa mobilnya telah bersiap memasuki halaman.


"Ngapain Kamu kesini?" ketus Eva sengaja berdiri diambang pintu untuk mencegah Axel.


"Jemput Amira lah Ma!" jawab Axel sama ketusnya.


"Gak usah! Karena malam ini Amira mau nginep!" ketus Eva atas kehendaknya sendiri.


Beberapa menit yang lalu, saat Pak Jaka sudah berpamitan untuk pulang. Diwaktu yang singkat ketika Demien sedang sibuk membersihkan diri alias mandi, Eva menggunakan untuk mengancam Amira. Agar anak sambungnya bersedia untuk menginap. Walaupun Amira telah menggunakan alasan yang sama, tetapi Eva sama sekali tidak mengurungkan niatan jahatnya itu.


Axel hanya memiringkan kepalanya sedikit menurun, dengan tatapan mata remeh memperhatikan gerak-gerik Eva yang sangat mencurigakan.


"Ah, gitu ya? tapi maaf ya Ma? Saya ini suaminya Amira jadi, Saya berhak untuk jemput Amira ... jujur aja Saya gak kasih izin istri Saya untuk nginep disini!" tegas Axel yakin.


"Sayang, ayo kita pulang! jangan lupa pamit dulu sama Papa." seru Axel melihat Amira mengintip dengan wajah kegelisahan diambang pintu. Dengan tangannya yang terus ditahan oleh Angel.


Perasaan malu ataupun terharu, sedang membuncah di hati kecil Amira. Mendapatkan panggilan Sayang tepat didepan semua orang.


Amira sampai menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang meletup dengan warna rona cinta.


Waktu yang tepat, hingga akhirnya Demien datang.


"Selamat sore menjelang malam Pa." sapa Axel santun.


"Eh, udah dateng Xel? mau jemput Amira ya?" jawab Demien ramah berbeda dengan yang tadi Eva lakukan.


Mendapatkan respon yang baik dari Ayah mertuanya. Axel yakin ada udang dibalik batu dari rencana Eva yang telah berbohong. Tetapi karena masih memiliki rasa hormat, Axel enggan memperpanjang masalah ini. Karena yang terpenting Amira selamat.


"He, iya Pa ...." jawabnya seraya tersenyum simpul, dengan anggukan kepala yakin.


Dengan sedikit keberanian, Amira menarik tangannya dari cengkraman tangan Angel.


"Pa, Amira pulang dulu ya?"


"Mbok, makan yang banyak biar cepat sehat." tukas Amira lagi kali khusus untuk Mbok Darmi.


Dari atas ranjang, Mbok Darmi mengacungkan jempolnya saja.


Kemudian Mereka berdua pergi meninggalkan tempat ini.


"Awas aja Amira! Kamu bakalan nyesel karena hari ini udah bikin Saya gagal!" sinis Eva kembali menaruh rasa dendam.

__ADS_1


__ADS_2