Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 24. Demien telepon?


__ADS_3

Suasana tegang ketika semua orang menjadikan Amira sebagai pusat perhatian. Mereka tentunya tahu perihal penyiksaan yang yang dilakukan oleh Eva kepada gadis muda itu.


"Heh Bu! Saya juga lihat Ibu mau nyrobot dompet mbak nya!" seru Penjual cabai.


"Iya, malah marah-marah gak jelas lagi! tenang Bu, Saya mau kok jadi Saksi buat bikin laporan ke Polisi." imbuh yang lain ikut serta membela Amira.


Merasa terpojok dan terdesak, akhirnya Eva harus melakukan permintaan maaf secara sungguh-sungguh untuk bersimpuh dihadapan Amira.


"Aduh, apes banget sih! udahlah minta maaf aja daripada masuk penjara." batinnya bersiap setengah badannya telah berjongkok.


"Udah Ma, tolong jangan sujud di kaki Saya ... Amira bukan Tuhan Ma, yang berhak disembah cuma Tuhan." tolak Amira memundurkan kakinya lebih menjauh.


Mila sadar sikap lembut Amira dari dulu memang telah terlihat, Ia harus melakukan sesuatu sekarang demi membuat Eva jera ataupun menyesal karena menyakiti Amira.


"Yaudah, gak usah sampai sujud! ngomong aja maaf yang bener." ketus Mila tetap menginginkan permintaan maaf secara sungguh-sungguh dari Eva.


Dengan ancang-ancang hembusan nafas berat yang Eva lakukan sebagai pembuka. Sekalipun mulutnya terasa enggan untuk melakukannya.


"Amira, Saya minta maaf ... Saya udah jahat sama Kamu." ucapnya kaku.


Tetap saja Mila merasakan ketidaktulusan dari kata maaf itu. Mulai memajukan tubuhnya lagi untuk meminta Eva memperbaikinya lagi. Namun, segera Amira menahan tangan sang Ibu mertua.


"Ma, udah itu udah cukup kok." jelasnya dengan sorot mata penuh harap. Sejujurnya Amira tahu, menang dari Eva hanya akan menimbulkan masalah baru untuknya nanti. Apalagi Eva terlihat menaruh rasa dendam dari tatapan matanya itu yang ditujukan untuknya.


Mila akhirnya terdiam, menuruti permintaan sang menantu.


"Oke, untung Amira baik banget mau maafin Kamu ...." tukas Mila sinis.


Eva hanya menunduk meremas kepalan tangannya itu.


"Awas aja ya Kamu Amira! Saya gak akan tinggal diam." ketus Eva dalam hati sesuai yang difikirkan Amira memang dilakukan olehnya. Hidup bersama selama lima tahun membuat Amira sangat hafal dengan sifat Eva.


Melihat wajah Eva membuat Mila benar-benar muak,


"Loh, ngapain masih disini! pergi sana!" sentak Mila mengusir Eva.


Secepatnya Eva memutar langkah kakinya, tak lupa menarik tangan Angel agar ikut serta.


Amira bernafas lega sekarang, menyandarkan tubuhnya yang lemas dibahu Mila.


"Sabar ya Sayang ...." ucap Mila penuh perhatian mengusap bahu Amira.


Mereka berjalan, dan memutuskan duduk disebuah kursi panjang. Memang benar orang baik akan mendapatkan kebaikan pula. Penjaga warung angkringan tanpa diminta lebih dulu memberikan segelas teh hangat untuk sang gadis lugu dan baik hati.


"Makasih ya Pak?" balas Mila membantu dengan memegangi gelas, secara telaten memberikan teh itu kepada Amira.

__ADS_1


Citra rasa manis dan hangatnya menyentuh kerongkongan Amira. Memberikan kekuatan yang hilang menjadi penuh kembali.


"Gak usah dipikirin Sayang ... sekarang Kamu aman, kan udah gak tinggal sama Mereka." jelas Mila melihat Amira masih saja melamun.


Sesuai dengan apa yang Mila katakan memang ketakutan ini sedang difikirkan oleh Amira.


"Aku, tahu Mama pasti gak bakalan diam aja ... Aku tahu watak Mama Eva kayak apa." guman Amira khawatir.


*


Didepan penjual buah, Eva melemparkan tas belanjaan tak terarah.


"Sialan itu anak! bikin malu aja." sungutnya dalam amarahnya.


"Ma, Angel gak terima! pokoknya Kita harus bales Amira!" ketus Angel sama kesalnya.


Hingga belum selesai Mereka membahas, terdengar suara nada ponsel berbunyi.


"Eh, Papa telepon!" kata Eva panik menekan icon angkat di layar ponsel.


"Halo Pa?" sapa Eva.


"Halo, Kamu kenapa belum pulang Eva? lama banget belanjanya?" ketus Demien, melihat jam dinding menghitung kepergian Eva saat ke pasar.


Eva mendengus, pagi ini lagi-lagi ada hal yang membuatnya kesal makin bertambah.


Dari lawan bicara terdengar Demien menghembuskan nafas panjangnya.


"Yaudah kalo gitu, Papa mau bawa Mbok Darmi berobat dulu ... cepetan Kamu pulang! terus nanti temenin Mbok Darmi!" titah Demien.


Dan munculah sebuah ide baru, Eva memikirkan rencana.


"Eh, tunggu Pa!" seru Eva mengehentikan Demien yang telah bersiap hendak mematikan sambungan telepon.


"Kenapa?" tanya Demien.


"Itu Mbok Darmi kan sakit ... mungkin Dia kangen sama Amira, coba suruh Amira nginep atau main ke rumah pasti Mbok Darmi seneng terus cepet sehat." tukas Eva menyeringai tanpa Demien tahu.


Sesaat Demien setuju dengan pendapat istrinya itu, Dia pun berniat untuk menghubungi Amira.


"Ah, iya deh! kalo gitu Papa telepon Amira dulu." kata Demien memutus panggilan telepon.


"Yes! akhirnya ada cara buat bikin menderita itu anak gak tahu diri!" sorak Eva dalam tawa jahatnya.


"Hahah ... bagus Ma ... Dia kira Kita bakalan diem aja gitu!" imbuh Angel sama liciknya.

__ADS_1


Eva memungut kembali tas yang telah Ia lempar, kemudian bergegas untuk pergi membeli keperluan.


"Ayo Sayang kita belanja terus Kita atur rencana bikin hukuman buat Amira!" ajak Eva langsung bersemangat untuk berbelanja. Hal jahat yang terasa sangat sia-sia karena sibuk menyakiti orang lain.


*


Setelah cukup tenang, dan Amira merasakan tubuhnya kuat kembali. Amira bersama Mila sudah berpindah tempat untuk mencari barang pokok yang lain. Karena ponselnya memang tertinggal dirumah. Jadi, Axel yang menerima sambungan telepon itu.


Sepertinya biasanya, Axel memang rajin bersih-bersih. Walaupun dirinya adalah seorang laki-laki.


"Kayak denger hp bunyi deh." serunya dengan menoleh kekanan dan kekiri mencari ponsel itu. Dan tampak benda berbentuk segiempat panjang tergeletak diatas tempat tidur.


"Halo Pa?" ucap Axel saat tahu ketika melihat nama pemanggil.


"Ah, Axel? itu, Amira ada?" tanya Demien kaku, saat tahu ternyata bukan Amira yang menerima telepon darinya. Karena dirinya lebih dulu meminta nomor ponsel Amira lewat Mbok Darmi.


"Ah, Amira pergi sama Mama, Pa? belum pulang, kenapa?" tanya Axel santai karena memang terbiasa berbicara dengan orang baru setiap tahunya. Apalagi Dia adalah seorang pengajar.


"Em, gitu ya ... yaudah Papa titip pesan aja, nanti ...." Demien mulai menceritakan permintaan untuk Amira, dan Axel mendengarkan dengan seksama.


"Oh, ya Pa nanti kalo Amira pulang Axel sampaikan ... ada lagi gak Pa?" tanya Axel.


"Enggak ada itu aja, makasih ya Xel ... Papa tutup dulu."


"Nut." Satu detik kemudian sambungan telepon terputus, Axel meletakkan ponsel Amira keatas meja. Dan menunggu kedatangan Istri kecilnya dari pasar bersama Mila sang Mama.


Setengah jam kemudian, Mila dan Amira datang dengan tangan penuh barang belanjaan.


Axel yang sengaja memilih menunggu di sofa ruang tamu memutar kepalanya.


"Amira tadi Papa Kamu telepon!" jelas Axel.


Amira yang sedang sibuk meletakkan kantung plastik diatas meja dapur, mengarahkan retina matanya kearah suaminya.


"Papa Demien?" tanyanya polos bahkan sangat tak berarti.


Jelas saja Axel mencebik bibirnya.


"Iyalah! kalo Papa Anggoro gak mungkin juga kan? Dia ada disini ngapain juga masih telepon Kamu!" ketus Axel benar-benar gemas dalam artian kesal.


"Axel?" sentak Mila membela Amira.


Seketika Axel tergelak,


"Iyadeh maaf ... itu Ma, tadi Papa Demien minta Amira suruh nginep disana ... katanya Mbok Darmi sakit terus kangen." jelas Axel ringan tak memiliki beban.

__ADS_1


"APA? GAK BOLEH!" teriak Mila tegas melarang.


"Loh, kenapa emangnya Ma?" tanya Anggoro melihat reaksi Mila seperti ini.


__ADS_2