
"Aku gak mau kuliah Mas, malu." jawab Amira mengutarakan alasannya. kejadian kemarin sudah disaksikan hampir seluruh warga kampus. Alasan itulah yang membuat Amira enggan datang ke tempat itu lagi.
"Tapi kan kemarin Ani udah minta maaf secara terbuka, Saya yakin teman-teman pasti percaya kok." tukas Axel menyakinkan Amira.
"Tapi, gimana kalau nanti Aku disiram lagi?" kata Amira penuh ketakutan, kejadian itu meninggalkan trauma di hatinya.
"Ya udah hari ini kamu libur nggak papa, tapi nanti tiga hari kemudian masuk lagi ya?" tukas Axel mengalah tak ingin memaksa.
Amira langsung mengangguk cepat dengan bibir tersenyum, Axel pun menyadari yang dibutuhkan Amira saat ini adalah waktu beristirahat.
"Aku mandi dulu ya ... eh mandi bareng yuk!" ajak Axel bersemangat menuntun Amira. Tidak ada penolakan dari wanita itu dan berjalan beriringan menuju kamar mandi.
Di ruang bawah Mila sibuk mempersiapkan menu sarapan, ditemani oleh Anggoro yang sudah bangun pula.
"Itu Axel sama Amira berapa ronde ya Pa?" celetuk Mila sambil mengaduk wajan untuk membuat bubur.
"Hust ... Mama ini ada-ada aja sih! mana Papa tahu, lagian itu kan terserah Mereka Mama Sayang, udah bikin sarapan dulu sana! Pagi-pagi nggak usah ghibah." sentak Anggoro halus.
Mila hanya tergelak dengan menutup bibirnya, rasa penasaran sebagai Ibu yang sedang bahagia kemudian meneruskan acara memasak hingga selesai.
20 menit kemudian Axel dan Amira turun bersama.
"Halo selamat pagi mantu dan anak Mama,"
"Pas banget bubur ayamnya udah matang kita sarapan yuk!" ajak Mila menyerahkan piring di depan kursi yang belum diduduki dan kemungkinan posisi akan ditempati oleh Amira dan Axel.
"Woah Mama udah masak? emangnya bangun jam berapa Ma, jam segini udah matang semua?"
Mata Amira dibuat takjub melihat banyaknya makanan pendamping bubur tertata rapi di atas meja, bahkan sambel santan yang terkenal sebagai paduan juga ada.
"Udah, nggak usah mikirin jam berapa mau masak sekarang waktunya Kita makan." jawab Mila tak sesuai agar Amira tidak merasa bersalah karena sebagai Mantu malah bangun terlambat.
"Aduh, bener-bener deh aku ini menantu macam apa! masak mertua jadi tamu malah masakin Tuan Rumah."
"Ayo Sayang nggak usah mikir macem-macem apalagi sama pikiran negatif!" seru Mila seperti peramal saja seakan mampu membaca isi hatinya.
"Ayo, Sayang ... kalo kita gak makan yakin deh pasti Mama bakalan nyuapin kita kayak anak bayi." bisik Axel membuat Amira tergelak.
Mila duduk lebih dulu menemani sang Suami disisi kanan. Tibalah Axel lebih dulu tiba membantu Amira menarik kursi, kemudian barulah dirinya duduk setelah memberikan full service untuk sang istri tercinta.
"Mama ambilin ya? komplit atau ada sesuatu yang Kamu gak mau?" tawar Mila pada Amira.
"Aku mau semuanya Ma, tapi sambelnya satu sendok aja." pinta Amira.
__ADS_1
Dengan penuh kasih sayang Mila mengambilkan dua centong bubur, dan beberapa tambahan seperti ayam, kacang dan bawang goreng. Menyiram kuah santan ditambah satu sendok sambel sesuai permintaan.
"Mau kerupuk?" tanya Mila lagi.
"Nanti aku makan sambil ngemil aja Ma." tolak Amira.
Axel melahap lebih dulu, walaupun kadang curi pandang melihat kedekatan ibu dan istrinya.
"Selamat makan." seru Mila penuh kegembiraan.
*
"Hati-hati ya Mas," ucap Amira mengantarkan Axel hingga ke garasi.
"Okey, gak usah banyak fikiran ya ... ilove u." ucap Axel mengecup kening Amira sebelum masuk kedalam mobilnya.
"Iya, ilove u too."
Amira setia menunggu melambaikan tangannya hingga gerbang secara otomatis menutup kembali.
Kemudian bergegas memasuki rumah karena sang suami sudah berangkat menuju Kampus.
"Mama, mau bikin apa?" tanya Amira melihat Mila sudah siap menuangkan tepung terigu kedalam wadah baskom.
"Mau bikin donat, Amira mau gak?" tanya Mila balik seraya tersenyum.
"Boleh dong, sini-sini!" jawab Mila mengayunkan tangannya berwarna putih tertutup tepung.
Amira rampak antusiasme, kemudian menunggu sang Ibu mertua selesai untuk menguleni adonan hingga sempurna.
"Ma, Amira boleh tanya gak?" ucap Amira tiba-tiba.
"Boleh, apa?" jawab Mila tanpa menghentikan tangannya.
"Kalau Mama sahabatnya Mama Rani, , berarti tahu dong kenapa kok papa Demien bisa nikah sama Mama Eva?" tanya Amira penasaran.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Amira mampu menghentikan aktivitas yang tangan Mila.
"Kalau itu sih Mama nggak tahu Sayang ... soalnya Mama waktu kuliah pindah ke luar negeri ... dan setahu Mama, Rani itu nggak pernah punya pacar." jawab Mila jujur.
"Oh, ya? Jadi Mama nggak tahu dong alasan Papa Demien bisa nikah sama Mama Eva?"
Mila mengangguk,
__ADS_1
Seketika wajah Amira menjadi lesu, dan Mila sadar akan hal itu.
"Emangnya kenapa Sayang? adakah sesuatu?" tanya Mila.
"Em, ada sedikit sih ... soalnya Amira tahu Papa itu cinta banget sama Mama Rani, tapi kok tiba-tiba malah nikah sama Mama Eva ... terus ...." kata Amira terjeda.
"Terus apa Sayang?" tanya Mila menyela.
"Waktu itu Mama Eva pernah bilang kalau Mama Rani udah rebut Papa Demien,"
"Apa? Eva bilang kayak gitu sama Kamu?" sentak Mila geram mendengarnya.
Amira mengangguk lirih, ingin mengelak namun tak mungkin.
"Astaga bener-bener deh itu Mak lampir bikin kesel aja." kata Mila kesal.
"Nggak mungkinlah Rani merebut Papa kamu dari dia! Mama tahu banget kok watak Rani itu gimana, udah Sayang nggak usah dipikirin itu mulut nyinyir sih Mak Lampir." kata Mila hendak menepuk bahu Amira, tapi sadar tangannya kotor.
"He, hampir aja lupa ... udah ah jangan mengotori indahnya pagi ini dengan berita Mak Lampir, mendingan sekarang kita lanjutin bikin donat ... cus." kata Mila bersemangat mengalihkan perhatian Amira ke hal yang lebih positif.
Amira tersenyum bahagia beruntung sekali mendapatkan mertua bahkan sangat sayang padanya.
Mereka akhirnya menghabiskan waktu untuk membuat donat tanpa memperdulikan hal lain.
*
Pagi ini Angel merasakan hawa yang berbeda di meja makan, tidak seperti biasanya Eva yang selalu berkeluh mesra tiba-tiba diam seribu bahasa.
Apalagi Demien hanya menghabiskan setengah makanan saja, kemudian pergi tanpa mengucapkan kata juga.
Setelah sang Ayah sambung pergi meninggalkan rumah, Angel akan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepada sang Mama.
"Ma, are you okay?" tanyanya.
Hanya air mata sebagai jawaban bibir Eva terlihat bergetar.
"Mama, ada apa sih? kok malah nangis?" tanya Angel panik.
Eva mengeluarkan air mata lebih dulu daripada menjawab pertanyaan Angel, agar hatinya yang sesak bisa mereda setelah mengeluarkan air mata kesedihannya itu.
Walaupun Angel sering bertindak jahat, Tetapi dia juga termasuk anak yang berbakti mengambilkan wadah tisu dan memberikannya kepada sang Mama.
"Ma, ada apa sih?" tanyanya sekali lagi.
__ADS_1
"Angel, Mama mau cerai!"
Satu kalimat Eva yang berhasil membelalakkan mata Angel.