
Di sebuah rumah tak kalah mewah. Doni masih terlelap di atas busa kasur premium diselimuti bad cover mahal. Tidak lupa air conditioner tetap menyala sebagai pengiring tidur layaknya yang dilakukan orang-orang berada.
Hingga suara nada panggilan masuk harus menghentikan tidur ternyaman impian orang-orang.
"Emhh ... sapa sih pagi-pagi udah ganggu aja!" keluh Doni. Terbiasa jomblo lelaki yang sudah menginjak angka di kepala tiga masih enggan menggerakkan tangannya. Tetapi seperti sambaran kilat yang datang secara tiba-tiba. Doni ingat akan status baru hari kemarin Ia sandang.
"Ah, jangan-jangan yang telvon Ayang Ani lagi."
Secepat mungkin Doni menggeser ikon terima tanpa melihat layar.
"Hallo Ayangg selamat pagi! cintaku, sayangku muah muah." seru Doni langsung.
"Eh, kampret! nginggo apa gimana sih Lo! ini Gue Axel!" terang Axel bergidik geli saat mendapatkan sapa manja dari sang sahabat.
Barulah Doni melihat layar ponsel dengan mata menyipit.
"He, maaf Bro ... lagian Lo ngapain pagi-pagi buta udah telepon macem perawan lagi kasmaran aja!" sungut Doni balik.
"Heleh malah gantian marahin!"
"Ini Gue mau minta tolong sama Ani ... berhubung Gue nggak punya nomornya Dia, jadi Gue minta tolong aja sama Lo ...."
"Minta tolong apaan?" jeda Doni langsung padahal asal belum selesai mengutarakan permintaannya.
"Diem bawel! Gue belum selesai!" sungut Axel memaki. Doni berada di depannya dia akan memukul menggunakan bogeman tangannya saat ini juga.
"Wkwk, oke sorry Bro ... yaudah gih apa lanjutin-lanjutin!" sahut Doni dengan kekehan.
"Jadi semalam kan gue berangkat ke Malaysia, gantiin posisi Papa meeting disini."
"Terus selama Gue pergi kalau Aira nggak mau tinggal sama Mama Mila, tolong dong Lo bilang sama Ani suruh temenin Amira tidur di rumah." pinta Axel.
"Lah emangnya Om Anggoro kenapa? kok Lu harus gantiin Beliau?" tanya Doni.
"Kemarin sore Papa kecelakaan ... terus kakinya patah jadi karena itu Gue harus gantiin Papa disini."
"Astaga! oke oke gue tahu sekarang ... nanti Gue bilang sama Ani ... pasti Dia mau kok." sahut Doni.
"Oke thanks ya Bro ... ya udah Gue mau prepare dulu kayaknya meetingnya udah mau dimulai."
"Siap Bro good luck!" sahut Doni mematikan sambungan telepon.
*
__ADS_1
Di Negeri tetangga tepatnya sebuah gedung tinggi dilantai sembilan. Axel berdiri didekat jendela kaca. Walaupun pemandangan diluar sangat indah tetapi pandangan matanya tidak berhenti melihat foto pernikahan Dirinya bersama Amira. Foto dalam balutan dress putih serta dirinya mengenakan jas hitam tanpa adanya senyuman manis. Dipandanginya secara terus menerus.
"Baru aja pisah beberapa jam tapi kok udah kangen banget sih." keluh Axel mengecup layar ponselnya sebagai pelipur rasa rindu yang tengah menyelinap di relung hatinya.
"Pak Axel acara meeting mau dimulai! mari kita masuk dan tunggu didalam saja Pak!"
Suara seseorang memanggil Axel. Dan dia pun langsung memasuki ruangan yang dimaksud. Menghentikan aktivitas pandangan mata, menggenggam erat ponselnya ditangan. Seakan tak pernah rela untuk melepaskannya.
*
Pagi yang hangat. Amira masih menemani Mila di kamar inap VIP menunggu Ayah mertuanya.
"Sayang Kamu nggak kuliah?" Mila menggoyangkan lirih bahu menantunya yang masih tertidur. Sebenarnya tatapan matanya tidak tega untuk melakukannya. Namun, dirinya tahu ada tanggung jawab yang harus Amira lakukan sebagai pelajar.
"Emh, iya Maa ...." sahut Amira.
"Eh iya kamu kan sejak kejadian itu nggak berangkat kuliah ya? tapi kebanyakan libur juga nggak bagus Sayang." seru Mila sadar. tetapi memberikan nasehat agar Amira tetap berangkat.
Amira hanya tersenyum aneh, sebab semua yang dikatakan Mila tidak ada yang salah.
"Gini deh ... biar Kamu nggak ada yang ganggu, Mama suruh Pak jaga buat awal Kamu dikampus, gimana?"
"Eh Pak Jaka yang anggota kepolisian itu?" sahut Amira langsung dan Mila mengangguk membenarkan.
"Ah, nggak usah Ma Amira udah nggak papa ko." tolak Amira.
"Iya serius ... ya udah Amira sekarang siap-siap pulang dulu ya Ma ... kebetulan mata kuliahnya masih jam kedua." terang Amira mengangkat tubuhnya menarik jaket dan tas kecilnya untuk segera berangkat.
"Kabur ah sebelum Mama Mila beneran suruh Pak Jaka buat jagain Aku ."
"Maaf ya Mama Mila, tapi dikawal polisi waktu ke kampus itu sangat berlebihan."
Amira menjabat tangan Anggoro sebelum pergi dan melakukan cium pipi kanan dan kiri untuk sang ibu mertua.
"Hati-hati di jalan Sayang sekolah yang pintar." Mila melambaikan tangannya dan dibalas Amira juga.
"Huh, punya mertua terlalu sayang ternyata repot juga ya." gelak Amira berjalan seraya menggelengkan kepalanya.
*
Ini kali pertamanya Amira kembali ke kampus setelah kejadian memalukan terjadi.
Tetapi Ani sudah bersiap menyapa kedatangan Gadis itu di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Hingga tampak sosok yang dimaksud berjalan anggun dari transportasi umum.
"Amira!" pekik Ani bersemangat melambaikan tangannya.
Amira tersenyum membalas lambaian tangan, dan segera menghampiri Ani disana.
"Hai akhirnya Kamu berangkat juga." seru Ani lagi.
"Hehehe iya nih, tapi sebenarnya aku masih takut sih." ujar Amira jujur. Apalagi saat dirinya melangkahkan kaki semua pasang mata melihat ke arahnya.
"Udah nggak papa, tenang aja Gue selalu ada di samping Lo kok ... lagian Pak Axel pergi ke luar negeri kan?" celetuk Ani sebelumnya Doni sudah memberitahu.
"Kamu tahu Mas Axel pergi ke luar negeri dari siapa?" tanya Amira akhirnya.
"Dari Pak Doni ... tadi pagi Dia telepon Aku katanya Pak Axel minta tolong buat Aku temenin Kamu." terang Ani.
Mata Amira terbelalak tak percaya. Namun bukan karena takut melainkan merasa amat bahagia karena ternyata Axel sangat memperhatikan dirinya sampai seperti ini.
"Nggak usah salting kayak gitu lah bikin iri aja," goda Ani mengaitkan tangannya di leher Amira. Mereka berjalan menyusuri halaman kampus tanpa ada rasa canggung lagi.
Tidak sadar di belakang berjarak beberapa langkah. Angel sedang melirik sinis ke arah mereka berdua.
"Kurang ajar banget sih Ani! mana kemarin dia ternyata bisa lepas dari preman bayaran Gue lagi! dan lihat sekarang tengil banget kayak biasa akrab sama kakak tiri." ucapnya.
"Tapi ada yang menarik, Pak Axel lagi nggak ada di rumah dong sekarang? tadi kan Mama bilang suruh kasih kabar kalau ada berita bagus."
"Oke let's go waktunya kita kasih tahu Mama tentang kabar ini." terang Angel sibuk mengusap layar ponsel.
*
Eva duduk di meja makan posisi tangan yang sibuk memainkan ponsel. Saling kirim pesan dengan Dargo sang selingkuhan.
"Kamu sarapan menunya ponsel?" celetuk Demien dari tadi melihat Eva tidak melepaskan benda itu dari tangannya.
"Udah sih Mas nggak usah ganggu Aku! makan aja menu sarapan yang udah ada, anggap aja Aku nggak ada disini!" balas Eva lebih sadis.
Walaupun tidak ada perasaan apapun. tetapi sebagai suami yang sah Demien tetap berhak untuk bertanya.
"Ya udah terserah Kamu aja!" jawabnya tak kalah acuhnya. Kemudian menghabiskan sisa potongan sandwich terakhir dan bergegas untuk berangkat ke kantor.
Tidak ada lagi ciuman di kening atau jabatan tangan di antara Eva dan Demien. Layaknya dua orang asing sejak saat itu Eva memilih tidur terpisah.
"Halo Angel, jadi Amira di rumah sendirian?"
__ADS_1
"Oke Sayang makasih ya informasinya ... ya hati-hati." Eva meyakinkan berita yang dikirim putrinya tentang Amira. Bibir liciknya menyeringai memperlihatkan betapa jahatnya wajah Eva sekarang.
"Lihat aja Mas Demien! ini balasannya karena kamu udah tega nyakitin Aku!" ucap Eva penuh dendam.