
Perjalanan Mereka menuju Restoran dimana janji akan bertemu bersama Mila.
Arah jalan berbeda tentu disadari Amira.
"Pak, kok lurus aja? kan seharusnya belok?" tanya Amira akhirnya, melihat gang perumahan yang seharusnya akan Mereka lewati.
"Kita gak langsung pulang! tadi Mama telvon mau ajak diner." jelas Axel fokus menyetir menggerakkan stir kemudi sesekali melihat ponsel untuk melihat alamat diaplikasi map.
"Oh, gitu tapi Saya cuma pakai baju kayak gini gak papa?" tanya Amira menyadari pakaiannya yang biasa.
Seketika Axel menoleh,
"Gak papa tetep cantik!"
"Blush."
"Eh? ya gitu deh maksudnya." tukas Axel menjadi salah tingkah, apalagi Amira terlihat memalingkan wajahnya melihat kearah jendela. Hatinya terasa dag dig dug. Mendapatkan serangan cinta dari sang Dosen.
"Apa mau belanja dulu?" tawar Axel untuk memupus perasaan aneh ini. Bagi laki-laki dingin seperti dirinya, cinta adalah sebutan perasaan yang tabu. Dari kecil terbiasa hidup tanpa belas cinta juga kasih sayang. Sehingga dirinya sulit untuk menerima gejolak perasaan cinta itu diwaktu yang cepat.
"Boleh Pak, Aku udah lama banget gak pernah pergi belanja!" jawab Amira girang, menyetujui ajakan suaminya. Sebab belanja adalah surganya bagi wanita.
"Oke, Kita cari butik dulu." jawab Axel, memperhatikan toko yang berderet disepanjang jalan. Hingga akhirnya Mereka berhenti disebuah butik ternama.
"Gimana? cocok gak? kalo Kamu gak suka, Kita cari toko yang lain?" tanya Axel meminta pendapat Amira. Perhatian secara tak langsung itu lagi-lagi dilakukan.
"Gak usah Pak ... disini aja! nanti Mama Mila lama lagi nungguinnya." jawab Amira.
"Yaudah masuk gih!" titah Axel melihat Amira justru diam saja tak kunjung menggerakkan kakinya.
"Bapak kalo gak ikut masuk ... malah kesannya kayak supir Saya aja ... temenin Saya dong Pak." ajak Amira tak ingin merendahkan status Axel bila menunggu diluar.
Kata-kata Amira menyambung menjadi satu kalimat, terdengar seperti sindiran bagi Axel.
"Lah, baru sadar? Kamu sendiri udah beberapa kali anggep Saya supir kok!" tegas Axel ditutup dengan mencebik bibirnya.
"Kapan Pak?" tanya Amira sama sekali merasa tak demikian.
"Ya itu kalo naik mobil pilih kursi belakang? Kamu kira tandanya apa?" seru Axel ternyata membahas pemilihan tempat duduk Amira.
Semula Gadis muda ini berniat untuk menyadarkan Axel. Dan yang terjadi malah dirinya sendiri yang tertohok.
"Hehe, iya yah? ya maaf Pak." balas Amira tersipu menyibakkan rambutnya untuk menghilangkan perasaan malu.
__ADS_1
"Udah gak usah khawatir nanti Saya ikutan masuk ... Kamu duluan aja." kata Axel bersedia.
Barulah Amira melangkahkan kakinya, sepintas Axel hanya mengatakan kata-kata sepele. Tetapi bisa membuat Amira senang bukan main.
Baru saja melangkahkan kakinya, kedatangan Amira disambut oleh Para pramuniaga toko yang sedang berkerja.
"Mau cari pakaian apa Mbak? bisa Saya bantu carikan?" tanyanya ramah.
Sepintas gedung toko ini bila dilihat dari luar seperti kecil, tetapi ternyata ruangan didalam tidak seperti yang terlihat. Besar dan luas serta model pakaian yang bervariasi terjajar rapi di rak gantungan.
"Anu, Saya mau dinner Mbak ... kira-kira baju apa yang cocok?"
"Ah, Saya tahu ... mari Mbak ikuti Saya!" kata Pramuniaga membawa Amira dimana tempat khusus pakaian dress.
"Nah, silahkan Mbak pilih ... nanti tinggal coba aja dikamar pas ya?" seru Pramuniaga.
Amira mengangguk lirih, kemudian lekas untuk memilih pakaian yang sekiranya cocok dengan seleranya.
Tangan kecilnya menyentuh dress berwarna tosca dengan lengan dihiasi kain rendra transparan.
"Bagus itu!" sela Axel mengagetkan Amira,
"Eh, iya Pak ...." jawab Amira gugup.
"Loh, ternyata Mas nya ini bapaknya si Mbak tah? Saya kira pasangan suami istri." sela Pramuniaga yang berdiri menemani Amira.
"Hem, udah dibilang supir ... eh, sekarang tambah lagi kayak Bapak-bapak ... nasib, nasib!" keluh Axel kesal.
Untuk menghilangkan rasa bosan, Axel memutuskan untuk melihat pakaian saja. Berjalan ke sana kemari sebagai pelipur kebosanan.
"Cocok gak Pak?" tanya Amira ketika selesai mengenakan dress itu dan meminta pendapat sang suami.
Axel memutar tubuhnya betapa terkejutnya melihat gadis cantik yang mampu mengalihkan pandangan matanya. Perpaduan warna dress dengan kulit putih Amira sungguh sangat serasi.
"Kamu cantik banget!" puji Axel secara tulus mengutarakan pendapatnya tanpa dibuat-buat.
Berkali-kali jantung Amira berdegup tak beraturan, bahkan belum sempat normal. Ditambah lagi mendengar kata-kata Axel barusan semakin membuat jantungnya berdebar-debar.
"He, jadi Aku beli ini aja ya?" tanya Amira dengan wajah tersipu.
"Ho.oh udah itu aja!" jawab Axel yakin.
"Loh, mau kemana?" tanya Axel melihat Amira justru kembali ke kamar ganti.
__ADS_1
"Mau ganti baju dulu kan Pak?" jawabnya lugu.
"Gak usah dong! sekalian aja pakai ... ayok Kita bayar dulu." ajak Axel meraih tangan Amira menuntun istrinya menuju meja kasir.
"Berapa Mbak?" tanya Amira kepada Kasir.
"Ah, tiga ratus ribu rupiah Mbak." jawabnya.
Amira hendak mengeluarkan dompet dalam tas kecilnya tetapi Axel lebih dulu membayarnya.
"Udah Saya aja yang bayar! Itu uangnya Kamu simpan aja buat tabungan!" tegas Axel.
Tidak ada yang bisa Amira lakukan karena sang kasir telah menerima uang pemberian Axel ebih dulu. Ia pun pasrah menunggu kartu debit sang suami dikembalikan.
"Udah yuk berangkat!" ajak Axel lagi.
Setelah pernyataannya yang sempat diucapkan sebelum memasuki toko. Axel ingin melihat reaksi Amira apakah Gadis itu masih ingin duduk di belakang atau duduk di samping kursi kemudi.
Matanya menjadi cerah serta hatinya pun merasa girang. Terlihat Amira membuka pintu depan.
"Ah, anak pinter!" puji Axel lirih agar tak sampai terdengar Amira. Bisa-bisa gadis itu merasa malu dan mengubah tempat duduknya lagi.
Mereka meninggalkan toko bergegas menemui Mila di Restoran.
*
Di Restoran.
Mila sibuk melihat buku menu sesekali melihat jam di tangannya.
"Kok Axel sama Amira belum dateng ya Pa?" gusar Mila.
"Kata siapa? noh, udah jalan berduaan!" seru Anggoro melihat Axel berjalan beriringan dengan Amira.
"Ya ampun cantiknya mantu Mama." puji Mila.
"Iya nih! Cantik banget mantu Papa." imbuh Anggoro sama memuji.
"Makasih Ma, Pa ... tadi Mas Axel yang udah bantuin milih baju ini." jawab Amira memberitahu, sehingga mata Mila membuka lebar saking senangnya mendengar cerita itu.
"Woah, bagus dong! kalo milih dress cewek aja bisa ... Berarti milih baju bayi juga bisa dong?" sindir Mila dengan entengnya.
"Apa? bayi? siapa yang punya bayi? Aku mau punya adik?" tanya Axel justru salah mengartikan.
__ADS_1
"Bukan lah! bayi Kamu dong Xel!" tegas Mila.
"Ha! Apa Ma?" balas Axel terkejut mendengar pernyataan Mila ternyata untuk dirinya.