
Meskipun sedang dilanda perasaan malu karena tertangkap basah oleh sahabat suaminya. Tetapi dirinya tetap tertarik untuk mendengarkan cerita Doni.
" Aduh, malu banget! Pak Doni denger gak ya? tapi, apa maksud omongan Pak Doni tadi ya?"
"Kamu, gak usah khawatir tentang perasaan Axel buat kamu! Dia udah ada rasa sama Kamu Amira!" jelas Doni lagi.
Seharusnya Amira senang, sayangnya tidak demikian , bibirnya terlihat tersenyum kecil, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Enggak Pak, itu gak mungkin!" ucapnya.
"Kenapa gak mungkin? emang Axel pernah ngomong gak suka? pasti dia cuma bilang nggak tahu apa itu cinta kan?"
"Deg."
Wajah Amira terkejut mendengar pernyataan yang sering sekali Axel katakan tentang cinta. Dan Doni melihat keterkejutan di wajah Amira hanya terkekeh saja.
"Hidupnya Axel itu berat Amira! Saya rasa dia butuh bantuan Kamu! Seperti yang Kamu tahu, Saya harap kamu jangan pernah nyerah! sebenarnya Axel itu udah ada rasa kok sama Kamu, cuman Dia itu emang buta perasaan aja!"
"Jangankan sama cinta! besok hari ulang tahunnya aja dia juga gak inget!" ungkap Doni berhasil membuat Amira terkejut lagi.
"Jadi, besok Pak Axel ulang tahun?" sela Amira.
"Hu.um ... Saya harap Kamu kasih dia sesuatu yang spesial! bisa kan?" pinta Doni. Bagaikan anak anjing Amira menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda bersedia.
__ADS_1
"Baguslah, oh ya Saya ada rencana bagus! sini deh Saya bisikin!" imbuh Doni memberikan kode agar Amira mendekat.
Mendapatkan perintah, Amira mendekatkan wajahnya, Doni mendekatkan telinganya untuk membisikkan sesuatu, mata Amira terlihat cerah, namun beberapa detik matanya berkerut.
"Emangnya gak papa Pak?" tanyanya menjauhkan wajahnya sesaat.
"Gak papa nanti Saya bantu! pokoknya Saya ikut ngawasin pergerakan kulkas, oke!"
"Oke!" balas Amira setuju.
"Yaudah selamat berjuang! Saya turun duluan dan Kamu jangan kebawah dulu!" pinta Doni meninggalkan Amira ditempat ini.
Sesuai perintah Amira menunggu.
Dan ketika Doni berhasil menuruni anak tangga, ada yang sedang berlari seperti mencari sesuatu.
"Lo lihat Amira gak?" tanya Axel akhirnya mengungkap identitasnya.
"Enggak tuh! kenapa? Lo habis bikin masalah ya?" dusta Doni guna mengetes kejujuran Axel padanya.
Wajah Axel terlihat semakin suram, menendang kakinya tak terarah atas perasaan tak menentu. Dirinya telah mencari Amira sampai keseluruh gedung Kampus. Dan tempat ini terletak paling ujung menjadi tempat terakhir. Namun, istri kecilnya belum berhasil ditemukan.
"Gue bego banget! tadi kan Gue dicegat sama Elena! dan gak sengaja ini mulut ngaku kalo Gue dulu pernah cinta sama Dia!" jeda Axel kurang merasa puas bercerita saja, mulai menggerakkan tangannya untuk menahan bahu Doni. Mata serius dengan wajah dipenuhi keringat. Tentu saja menjadi pemandangan yang langka. Sebenarnya Doni sedang menahan tawa. Tetapi tetap berusaha untuk menahan diri sekuat mungkin.
__ADS_1
"Kok bisa banget Amira kebetulan lewat gitu loh! kayaknya Amira marah ini Don sama Gue ... aduh gimana ya ini!" tutup Axel masih berusaha mencari dengan memutar wajahnya. Andai saja Axel sadar mimik dan gelagat Doni, padahal sangat mencurigakan. Pasti dengan mudahnya Dia akan menemukan Amira saat ini juga.
"Itu namanya cinta Xel!" celetuk Doni malah menilai rasa daripada membantu untuk mencari Amira.
Lagi-lagi Axel memutar wajahnya.
"Cinta? kayak gini cinta? bukannya karena rasa bersalah?" tanyanya.
"Ya kalo gak cinta ngapain merasa bersalah bego!" ketus Doni menendang lirih kaki Axel karena gemas.
Sesaat Axel terdiam, kemudian sedikit merasakan perasaan yang baru saja Ia rasakan sama ketika dirinya kehilangan Amira untuk pertama kalinya.
Hanya saja kali ini rasa ketakutan itu bertambah menjadi dua kali lipat.
Dipegangnya dada bidang itu, Axel tersenyum simpul.
"Apa boleh udah tua sebucin ini?" guman Axel asal bukan untuk mencari jawaban. Hanya sekedar ungkapan diri.
"Terserah Lo sih! Ayo kita ke kantor! Lo ada jam mapel kan?" ajak Doni mengaitkan tangannya ditengkuk leher Axel.
Mereka pergi meninggalkan tempat lorong tangga menunju loteng. Dengan mudahnya Doni mengalihkan perhatian Axel.
Dari ruangan atas Amira mengintip, hanya terlihat separuh kepalanya saja.
__ADS_1
"Ah, akhirnya Pak Axel pergi!"
"Oke, sekarang mendingan cari kue sama kado buat bikin kejutan nanti malam!" seru Amira sangat bersemangat bercampur bahagia.