
"Emh ...."
Kata pertama keluar ketika Amira membuka matanya. Sosok pertama yang Ia lihat adalah wajah Mila sedang duduk mengusap jemari tangannya.
"Sayang, udah siuman? apa ada yang sakit?" tanyanya ramah dengan senyuman yang seperti biasa mampu meneduhkan hati.
Amira belum menjawab malah terpaku dengan pemandangan ruangan asing tempat yang belum pernah dirinya kunjungi.
"Aku ada di rumah sakit?" tanyanya melihat di tangan kirinya ada selang infus menjalar di tiang penyangga.
"Iya Sayang." jawab Mila lembut.
"Mas Axel mana?" tanya Amira melihat suaminya tidak serta disini.
"Tuh, disebelah Kamu." jawab Mila mengarahkan matanya, hingga Amira melihat sosok lelakinya sedang tertidur disamping ranjang milik rumah sakit.
Bibirnya tersenyum saat wajah tampan itu sedang terlelap.
"Maaf ya Sayang ... gara-gara Mama malah bikin Kamu jadi menderita." ucap Mila sendu.
Melihat respon ibu mertuanya apakah mungkin Mila tahu dengan permalasahan yang sedang terjadi.
Amira hanya menunduk saja, Andai saja mampu mengelak tetapi dirinya tidak pandai untuk berbohong. Sebab, Amira yang baru saja mengalami trauma berat menjadikan dirinya terkena gangguan mental. Tentu saja Mila tahu, hingga menyadari apa yang sedang terjadi.
"Oh, ya Kamu tahu gak Amira, kenapa Mama bisa ada disini." tukas Mila mengungkit kejadian yang menyebabkan dirinya kemari.
Amira belum juga merespon, hanya bola mata yang tetap mengarahkan pada sang Ibu mertua. Dengan tatapan kosong.
Mila sama sekali tidak menaruh perasaan kesal, dirinya paham kondisi Amira sedang tidak baik-baik saja. Dan membulatkan tekad untuk menghibur menantunya itu.
"Aku harus hibur Amira! Aku gak mau lihat Amira terus-terusan sedih kayak gini!" batin Mila penuh tekad.
Kemudian menggeser kursinya agar lebih dekat dan kembali mengusap tangan Amira.
"Jadi Sayang, tadi ... waktu Mama lagi sibuk meeting sama klien, tiba-tiba aja Axel telepon, dan tahu gak? suami Kamu itu ngomong sambil nangis-nangis mana kenceng banget Amira." ucap Mila.
"Nih, tadi Dia bilang kayak gini ... Mama tolongin Axel! ini Amira pingsan Mama ... tapi sekarang udah Axel bawa, ada di mobil ... terus Axel harus gimana Ma." jeda Mila tergelak namun segera memusatkan pikirannya lagi untuk bercerita.
"Pokoknya Dia itu panik banget Sayang, terus Mama suruh kan bawa Kamu ke rumah sakit ... yaudah terus Kita bawa Kamu kesini ... dan akhirnya menantu Mama baik-baik saja." kata Mila lega memeluk Amira.
"Maaf ya Sayang bukannya Mama jahat atau seneng lihat Kamu sakit tapi jujur aja Mama seneng banget ... setelah sekian lama akhirnya Axel nangis tatrum, duh berasa jadi emak-emak rempong deh Mama ini." imbuh Mila dengan ungkapan bahagia.
Setelah mendengarkan cerita Mila, mampu menghibur Amira, dan terhibur serta pula tersenyum.
__ADS_1
"Mas Axel nangisnya beneran kenceng Ma?" tanya Amira tertarik.
"Ho.oh kayak anak kecil minta balon tapi gak dibeliin." jawab Mila sengaja melebihkan cerita.
Sontak saja Amira tertawa lebar, bahkan melirik sang Suami. Betapa lucunya dia bila melihat kejadian itu secara langsung.
"Coba aja waktu itu Amira gak pingsan." sesalnya kemudian.
Sedari tadi Anggoro hanya diam saja, namun lelaki itu ingat akan sesuatu. Dan hanya diam menguping pembicaraan para wanita yang sibuk menghibahkan puteranya.
"Kan di dalem mobil ada kamera pasti ada rekamannya kok." tukasnya.
"Beneran Pa?" sela Amira antusias.
"Nanti Aku ambilin, tenang aja Sayang." sela Axel dalam tidurnya, walaupun sejak tadi sebenarnya Dia mendengar semua obrolan ini.
"He, kamu udah bangun Mas?" tanya Amira malu akhirnya ketahuan juga.
Segera Axel mengangkat wajahnya, menatap wajah Amira penuh rasa cinta.
Apalagi wajah yang tadinya pucat seperti mayat sudah kembali cerah dan bahkan bibirnya sedang tersenyum.
"Kamu, jangan khawatir Saya bakal usut tuntas siapa yang udah nyebar itu video!" tegasnya.
"Aku gak mau kuliah lagi, Aku malu." tukas Amira lirih, memainkan ujung kukunya. Karena kejadian ini membuat luka dan rasa malu yang amat membekas di relung hatinya.
"Loh, kok gitu Sayang ... nanti Mama Rani sedih dong." tukas Mila tiba-tiba tahu tentang keinginan Rani untuk Amira .
Mata Amira menyelidik bukan untuk memarahi melainkan terkejut dengan pernyataan Mila perihal nama dan cita-cita almarhum ibunya.
"Mama tahu darimana kalo Mama Rani pengen banget Aku jadi Sarjana?" tanyanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Amira sekarang, Mila justru mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mengeluarkan dompet kecil. Tampak sebuah foto dua gadis yang berpose seraya tersenyum dengan dua jari bentuk peace.
Kemudian Mila menunjukkannya kepada Amira.
"Ini bukannya Mama Rani? tapi sama siapa?" tanya Amira melihat dari dekat wajah Rani muda sedang bersama seseorang.
"Apa ini foto Mama?" tanya Amira lagi saat melihat ada kemiripan dengan wajah sang ibu mertua di foto ini.
Agar lebih nyaman Mila meletakkan bokongnya diatas ranjang tempat tidur, duduk bersebelahan dengan Amira.
"Ini foto Mama sama Mama Rani waktu SMA." jawab Mila akhirnya sesuai perkiraan Amira.
__ADS_1
Sulit bagi Amira mencerna ucapan Mila barusan. Matanya terlihat berkedip berkali-kali.
"Iya, Mama itu sebenernya udah lama kenal sama Mama Kamu, karena Kita itu teman dari SD." ungkap Mila.
"Jadi, itu alasan Mama mau nikahin Amira sama Mas Axel?" tanya Amira, pertama kali ketika Mila tiba-tiba melamarnya padahal status Mereka dari kalangan orang berada. Memang terdengar mustahil. Tetapi kenyataannya Mila dengan penuh kasih sayang malah menjadikan dirinya sebagai menantu kesayangan bahkan dianggap seperti anak kandung.
"Gak juga sih, Mama awalnya juga kaget ternyata Kamu anak sambungnya Eva ... jujur aja sebelumnya Eva mau jodohin Angel bukan Kamu, Sayang."
"Tapi, tiba-tiba Dia berubah pikiran ... terus Dia kasih tahu foto Kamu ... pas Mama lihat, jantung Mama deg-degan banget."
"Selama ini Mama cari-cari dimana Mama Kamu, karena Mama pindah ke luar negeri terus malah hp dan semua informasi ilang begitu aja." jeda Mila tertunduk sedih saat tahu ternyata Rani telah tiada.
"Hem ... sedih lagi waktu Mama tahu tentang Rani yang ternyata udah pergi dari dunia ini." tutupnya hingga meneteskan air mata.
Siapa yang akan mengira, ternyata jauh sebelumnya Mila dan Rani adalah sepasang sahabat karib.
Tak ingin mengingat kesedihan ini, Mila buru-buru mengusap air matanya.
Ditatapnya wajah Amira, mengangkat lembut dagunya.
"Sayang, tolong jangan pernah Kamu putus asa lagi ya? Mama, Axel, Papa akan selalu dukung Kamu."
"Kamu harus inget! Kita ini Keluarga! kamu gak sendirian lagi Sayang." tukas Mila menunjukkan bahwa apapun yang terjadi Mereka akan senantiasa membela Amira.
"Kita bisa kok pindahin Kamu ke Fakultas yang lain." sela Axel tak mau memaksakan Amira untuk tetap mencari ilmu ditempat itu.
"Iya! Mama juga gak masalah! Kamu tinggal pilih aja mau yang kemana." timpal Mila memberikan kebebasan bagi Amira.
"Apa boleh? nanti ngrepotin gak?" ucap Amira sebenarnya ada keraguan karena terus merepotkan keluarga suaminya ini.
"Enggak dong cantik! tenang aja! apa mau Papa beli itu Kampus terus bikin kelas privat buat Kamu?" timpal Anggoro tak ingin kalah dengan yang lain.
Semua orang tergelak, bahkan Axel membentuk bibirnya menjadi bulat sempurna.
"Widih, ngeri lah ... ini sih namanya bukan saingan sama orang lain ... tapi sama orang tua sendiri." tukasnya bergurau.
"Iya dong! apa sih yang enggak buat mantu kesayangan Papa." jawab Anggoro terkesan setuju dengan perumpamaan Axel tadi.
"Gimana Sayang? mau?" tanya Mila seharusnya Dirinya cemburu, tapi lihat yang terjadi tetap memprioritaskan pilihan Amira.
Mendapatkan kasih sayang sebesar ini bahkan sangat terlihat tulus membuat Amira sungguh terharu bahagia. Cara Mereka berkorban malah melebihi keluarga kandungnya saja.
"Brakk."
__ADS_1
Seseorang membuka pintu kamar dengan sangat kasar, dan mengejutkan semua orang disana.