
Kata-kata yang belum sempurna itu terpotong saat tangan Amira menekan lembut dahi Axel.
"Mas Axel lupa apa gimana si?" katanya.
Axel melirik di mana tangan Amira berada. Bola matanya sampai menyudut penuh ke atas.
"Emangnya apa?" tanyanya polos.
Amira mendengus kesal, namun tidak menggunakan perasaan emosi.
"Kan waktu ulang tahun kemarin Aku udah jawab mau hidup sama Kamu selamanya, lupa ya?" jelas Amira.
"Plakk." Axel menepuk keras kelankang kakinya barulah mengingat janji manis Mereka dimalam itu.
"Eh, iya yah lupa Aku, Sayang ... tapi sekarang udah inget." katanya seraya mencubit gemas kedua pipi istrinya.
Mila pun serta merasakan kebahagiaan pula saat mendengarnya.
"Nah, gitu dong ... Mama mau pernikahan Kalian itu awet ... ya meksipun pernikahan tanpa hubungan tapi kan gak mungkin terlaksana kalo Tuhan tidak menghendaki to?"
Amira dan Axel mengangguk bersama.
"Yaudah makan siang yuk, udah jam 12." ajak Mila beranjak lebih dulu kemudian disusul oleh Axel dan Amira.
Makan bersama di suasana penuh suka cita. Bibir Mila sampai tak berhenti tersenyum saking bahagianya.
*
Disuatu tempat.
Eva dan Dargo sedang melakukan makan siang disebuah resto ternama.
"Ternyata Kamu kalo bersih sama pakai baju bagus ganteng juga ya?" puji Eva kepada Dargo.
"Masak sih?" Dargo memang tersipu. Namun lebih tertarik untuk melahap makanan yang enak dan mahal ini.
"Iyah, beneran! jadi mulai hari ini Aku bakalan kasih Kamu uang, terus Kamu harus cari tempat kost sama biaya Kamu makan yah!" pinta Eva tersenyum genit.
Sepertinya hatinya sudah menemukan kebahagiaan tersendiri. Menggantikan posisi Demien dengan Dargo.
"Iya, tapi apa Kamu yakin? ini pakai uang Suami Kamu kamu kan?" tanya Dargo untuk memastikan niatan Eva padanya.
Dan tersirat wajah Eva yang bengis.
"Yakin lah, bodo amat Aku udah dendam setengah mati sama Mas Demien ... sekarang Aku cuma mau porotin uang Dia aja!" ucapnya.
"Tapi Aku gak kaya loh, Kamu gak nyesel?" tanya Dargo lagi.
"Enggak dong! nanti Kita atur siasat cantik untuk terus porotin uang Mas Demien ... kalo perlu ambil sertifikat atau barang berharga buat modal Kita bikin usaha." kata Eva meyakinkan memegangi tangan Dargo.
"Cih! kesempatan bagus banget sih ini! dapet pacar kaya body oke! makan gratis, udahlah gas aja." batin Dargo dalam diamnya. Banyak keuntungan yang akan Ia dapatkan. Mana mungkin Dargo melewatkan kesempatan ini.
"Yaudah akyu ikut Kamu aja." katanya.
__ADS_1
*
Dikampus Ani bersiap untuk pulang. Tetapi ada satu hal yang sudah menunggu dirinya diluar kampus.
"Jadi, Kalian udah tahu kan target yang harus dikerjain?"
Angel bertanya kepada sekumpulan preman disebuah warung pinggir jalan.
"Siap Bos, yang ini kan?" jawab sang pentolan menunjuk foto gambar Ani.
"Yes! jadi terserah Lo mau apain itu cewek asal jangan sampai dibunuh ... karena Gue gak mau ikut campur." seru Angel tertawa jahat. Kemudian mengeluarkan amplop tebal berisikan uang.
"Makasih Bos, pokoknya beres!" kata sang Preman mencium aroma banyaknya uang.
Angel mengenakan kembali kacamata hitamnya kemudian pergi meninggalkan Mereka.
Kebetulan Ani sedang berjalan dari berlawanan arah. Namun masih sejajar dengan arah kaki Angel.
Hingga akhirnya Mereka bertemu.
"Selamat bersenang-senang Ani, jangan lupa di video." ucap Angel ketika melewati Ani.
Ani yang tidak mengerti tidak mau ambil pusing.
"Apaan sih gak jelas banget." ucapnya berlalu.
Dan setelah jauh melangkah Ani mulai melewati jalan trotoar. Gadis itu belum sadar jika diikuti.
"Kita tunggu sampai di gang ... biar aman ... lihat gak body nya? uh tipe Gue banget itu!"
"Bener Bos! udah dapet duit dapet daun muda lagi." timpal salah satu anak buahnya.
Terdapat tiga orang preman yang Angel bayar untuk membuat perhitungan kepada Ani.
Saat di lorong Kampus Angel tertawa lebar.
"Hahaha mampus! ini akibatnya kalo udah berani nolak Angel Morena!"
"Tunggu aja Ani, Gue bakalan bikin hidup Lo lebih berwarna." seringai Angel puas.
Umpatan serta harapan buruk yang Angel ucapkan sungguh sangat keras. Bahkan Doni yang sedang membuang hajat di kamar mandi saja mampu mendengarnya.
"Gawat! Ani lagi dalam bahaya?"
"Gak bisa dibiarin! Gue harus cari itu anak! sebelum terjadi sesuatu."
Doni bergegas untuk mencari, berjalan hati-hati dibelakang Angel. Ia tak mau keberadaannya diketahui.
Kemudian saat jarak Mereka menjauh. Doni langsung berlari.
"Udah mendingan Gue gak usah bawa mobil ... kan Ani biasanya emang jalan kaki."
Doni secepat mungkin mempercepat langkahnya. Namun berhenti didepan pintu gerbang.
__ADS_1
"Bentar, ah ya kanan." Doni sempat bimbang ingin memilih jalur yang mana. Namun akhirnya teringat dengan pilihan Ani beberapa waktu lalu.
*
"Kalian mau apa?" tanya Ani melihat wajah mesum dari Para preman itu.
"Tenang aja Neng manis ... jangan galak-galak dong! kita cuma mau hepy-hepy aja kok!"
"Minggir gak!" sentak Ani ingin menerabas, Namun tubuh kekar Mereka sulit untuk dilewati.
Justru kejadian itu malah dimanfaatkan untuk memegang bagian sensitif Ani.
"Dasar kampret! sini Lo maju!" kata Ani geram tak terima dilecehkan.
"Eh, malah nantangin! kita udah coba minta baik-baik ya? tapi Neng sendiri yang udah nantangin!" kata salah satu Preman bersiap untuk beraksi.
Ani memang sedang dikepung di dalam gang sempit. Tidak ada celah untuk kabur karena satu-satunya jalan sudah ditutup.
Mereka mulai menyerang Ani secara bersamaan. Tetapi Ani malah bersiap untuk berlari.
Saat jarak semakin dekat. Ani melayang pukulan dengan kakinya. Dengan cara mengayunkan dan memutar cepat.
Hingga,
"Bugh." Ani berhasil menyentuh wajah jelek Mereka. Menyebabkan linu dan rasa sakit yang luar biasa.
"Aduh Bos, sakit banget." keluhnya mengusap pipi dan bibir yang mengeluarkan darah.
"Apa lihat-lihat! sini maju ambil giliran Lo!" tantang Ani untuk ke-dua preman itu.
Siapa yang sangka Ani adalah seorang ahli bela diri. Gadis badas itu memang terbiasa berlatih bertarung setiap harinya.
Merasa harga dirinya diinjak oleh seorang wanita. Dua preman itu bersiap untuk menyerang bahkan mengeluarkan senjata tajam dari dalam sakunya.
"Bos tadi bilang Kita nggak boleh bunuh, tapi kalau buat mata buta atau putus tangannya nggak apa-apa kan?" kata sang pentolan.
"Iya Bos Kita bikin kapok aja ini cewek! enak aja harga diri kita udah hancur gara-gara Dia!" timpal anak buahnya.
Ani hanya tersenyum menantikan serangan yang akan mereka lakukan.
Saat kedua orang itu berlari ke arahnya, Ani justru berlari menyamping. Secepat mungkin Ani mengambil ancang-ancang. Menjadikan tembok sebagai tumpuan.
Kemudian menghentakkan kakinya sekencang mungkin.
"Brakk." Posisi mereka menjadi bertukar. Ani justru berada di pintu keluar dan Preman malah terkepung di dalam.
"Bugghh." Belum sempat menoleh Ani menendang keras kedua pantat preman itu secara bergantian hingga menyebabkan Mereka tersungkur mencium tanah.
"Rasain!" seringai Ani bergegas untuk pergi.
"Eh bilang sama bos lo itu, jangan suka nindas orang miskin! Gue emang miskin gak punya duit tapi Gue kerja pakai otak!" kata Ani berlalu. Meninggalkan Mereka.
Sedangkan dibalik tembok Doni tercengang takjub melihat pemandangan yang baru saja dipertontonkan Ani dengan kelebihan yang dimiliki.
__ADS_1