
Anggoro sejenak memang terdiam, kemudian tersenyum memijat pelipis dahinya yang berdenyut akibat ulah dari putranya sendiri.
"Kamu tahu nggak Axel naik helikopter pulang lagi ke Indonesia?" ucap Anggoro akhirnya memberitahu Mila juga.
"Apa? seriusan?" tanya Mila belum percaya.
"Bener-bener itu anak ya, padahal dia baru pisah sama istrinya berapa jam sih?" kesal Anggoro merasa amat kecewa.
"Papa jangan marah dong siapa tahu Axel punya alasan kan?" pinta Mila memohon.
"Sebenarnya kalah tender sekalipun itu nggak masalah bagi Papa ... tapi Papa agak kecewa aja sama tanggung jawab Axel, kenapa dia nggak pamit dulu sama Antonio?" jelas Anggoro tidak habis pikir dengan tindakan Axel sesuka hati seperti ini.
Alasan yang masuk akal bagi Mila sehingga wanita itu mengangguk setuju. Karena meninggalkan tanggung jawab adalah hal yang tidak baik jika terus dilakukan apalagi untuk seorang Pemimpin. Ditambah lagi pergi tanpa mengucapkan sebuah kata atau alasan. Tentunya akan meninggalkan kesan buruk terhadap sesama kolega.
"Ya udah mendingan Kita sidang aja nanti, Mama setuju kok asal ini buat kedisiplinan Axel sendiri." terang Mila tegas.
*
Setelah mereka menyaksikan cinta dramatis bak Romeo dan Juliet versi modern. Mereka duduk di sebuah kedai makanan. sejenak beristirahat mengatur nafas.
Kayaknya habis ini Lo bakal kena masalah deh Xel," ucap Doni tiba-tiba mengingatkan kejadian tadi.
Axel terdiam melirik ke arah Amira.
"Sayang kalau setelah ini Aku diusir dari rumah mewah nggak papa ya kita hidup miskin?" ucapnya.
__ADS_1
"Iya Mas nggak papa," sahut Amira sama sekali tidak ada masalah. Bagaimanapun kondisi Axel dia pasti akan tetap menerima dan menemani dirinya.
Terang saja Doni dan Ani tergelak, mereka hampir saja tersedak mendengarkan ungkapan hati Axel untuk Amira.
"Kalian lihat orang menderita kok kayaknya seneng banget deh." keluh Axel sadar melirik sinis kepada Ani dan Doni.
Tanpa mereka sadari, perbicangan ini sedang membuat Amira sadar. Sebab gara-gara dirinyalah Axel sampai terbang jauh hingga menimbulkan permasalahan besar karena telah meninggalkan tanggung jawab disana.
"Coba aja kalau Kamu nggak nikah sama Aku Mas, pasti hidupmu nggak akan kena masalah." terang Amira sedih meremas botol mineral dengan wajah tertunduk.
Barulah Mereka sadar dan itu mengundang rasa penyesalan dari Doni dan Ani.
"Tuh kan gara-gara Bapak Amira jadi sedih." seru seraya menyenggol siku tangan Doni.
Sebenarnya Axel ingin selalu untuk mengelak, atau mempertegas bahwa ini semua bukanlah salah Amira. Tetapi sayangnya nada ponselnya lebih dulu berbunyi.
"Mati deh Gue!" kata Axel setelah membaca nama kontak dilayar ponselnya.
Walaupun sempat ragu dan sudah tahu apa yang hendak terjadi, tetap saja Axel menggerakkan tangannya untuk menerima panggilan itu.
"Ha-Halo Pa?" sesaat Axel menyipitkan matanya, andai saja Anggoro langsung memberikan kata-kata kasar atau memaki dirinya saat ini juga.
Wajah tegang dari Ani Doni dan Amira sedang menunggu, mereka bahkan tidak sempat untuk berkedip.
"Oke Pak Axel sama Amira ke sana sekarang!"
__ADS_1
Axel menutup panggilan telepon kemudian menghela nafas panjang.
"Ayo Sayang sekarang kita ke Rumah Sakit! Papa sama Mama udah nungguin disana." ajak Axel dingin. Karena lebih baik dirinya dimarahi untuk melegakan hati daripada diberikan nada bicara tegas seperti ini.
Amira hanya mengangguk tanpa bertanya lebih banyak lagi,
"Pak Doni, Ani ... makasih ya udah bantuin Aku, sebenarnya Mbok Darmi juga berjasa banget, tapi Beliau udah harus balik karena takut ketahuan Mama Eva." sebelum pergi Amira mengucapkan kata pamit serta ungkapan rasa terima kasih kepada sosok yang berjasa menyelamatkan dirinya hari ini.
"Oke good luck ya Amira, tenang aja kalau lu miskin berarti status kita sama Besti!" terang Ani memberikan semangat dengan cara yang berbeda.
Tetapi berkat Gadis itu Amira mampu tersenyum meskipun hanya sedikit saja dengan menggambar pola simpul di bibirnya.
Kebetulan mereka berhenti di kedai pinggir jalan dari arah berlawanan terlihat taksi sedang melaju. Axel mengayunkan tangannya untuk memberhentikan kendaraan berwarna biru. Kemudian membukakan pintu untuk mempersilahkan Amira masuk lebih dulu.
Dari balik kaca Amira melambaikan tangannya dibalas Ani dengan senyuman mereka juga lambaian tangan yang sama.
*
Selang lima belas menit kemudian Anggoro mendengar suara langkah kaki seseorang membuka pintu.
"Pagi Pa ...." sapa Axel lirih tidak berani menatap wajah Anggoro karena sadar telah melakukan kesalahan.
"Jadi apa alasan Kamu? kenapa malah kabur dari meeting! apa Kamu tahu Axel gara-gara Kamu , Papa kehilangan proyek besar dengan nilai fantastis sebesar 100 triliun!" tegas Anggoro menjawab sapaan Axel langsung pada poin inti kekecewaannya.
Amira meremas kuat tangan Axel, nilai yang sangat banyak bagi gadis itu. Membuatnya langsung tertohok dengan kenyataan.
__ADS_1