
Siapa yang mendengar pasti tergelitik, sikap polos Amira sungguh menjadi hiburan Axel untuk menyambut pagi.
"Kalian kenapa sih?" tanya Mila heran melihat sikap kebingungan Amira ditambah Axel malah tertawa sampai terbahak-bahak pula.
"Hehe, gak papa Ma ... biar Axel sama Amira aja yang tahu." jawab Axel dengan nada kekehan, bahkan tangannya memegangi perut sixpacknya karena terus bergetar.
Dan lihat saja ekspresi wajah kesal Amira, lirikan mata maut seakan siap menghujam Axel karena malah menertawai dirinya.
"Ih, mana Aku tahu maksudnya tempur kayak gitu." batin Amira dalam lirikan matanya itu.
Merasa gagal menilai mimik dari wajah putra dan menantunya, Mila tak ingin ambil pusing.
"Kalian masih pagi udah bikin Mama bingung aja sih, yaudahlah terserah itu hak Kalian mau gimana ...." jeda Mila menyerah halus.
"Ouh ya, Mama kesini mau ajak Amira ke pasar, mau gak Sayang?" tanya Mila melirik Amira menunggu jawaban darinya.
"Boleh Ma, tapi Amira mandi dulu ya?" balas Amira ingin memutar kakinya bergegas mandi.
"Eh, gak usah Sayang! mandinya nanti aja kalo habis dari pasar ... Mama juga belum mandi ko." larang Mila sengaja.
"Oh, gitu ya Ma? okedeh kalo gitu ... ayo Ma berangkat." ajak Amira setuju, merapikan rambut halusnya hanya dengan cara mengusap menggunakan jari tangannya. Sertae mengikatnya menjadi satu dengan ikat rambut yang selalu ada dipergelangan tangannya. Mila tersenyum sumringah dan Mereka berdua berjalan beriringan.
"Axel anterin ya Ma?" tawar Axel berteriak berlari sampai diambang pintu.
"Gak usah, Mama mau quality time sama mantu kesayangan Mama naik becak." tolak Mila hampir tiba dilantai dasar.
"Oke ... hati-hati." seru Axel dari lantai atas, dan kembali menutup pintu kamar.
Mila tersenyum bahagia akhirnya setelah pengungkapan permintaan maaf kemarin mampu membuat hubungan Mereka lebih dekat.
*
Tiba diluar rumah, Amira tanpa ragu bergelayut ditangan Mila menyusuri trotoar disepanjang jalan perumahan. Hingga tiba digerbang komplek untuk mencari Tukang becak.
"Bang, tolong anterin ke pasar ya?" pinta Mila dibantu Amira duduk menaiki kursi keras yang ada pada becak.
Mereka duduk bersebelahan tanpa adanya sekat melihat pemandangan. Ada sebagian orang sibuk berolahraga joging ataupun sekedar berjalan santai. Tukang ojek online membawa penumpang yang terlihat akan ketempat tujuan yang sama dengan Mereka berdua.
Kebahagiaan tiada tandingnya, ketika Amira teringat kenangan saat dulu pergi ke pasar bersama Rani. Tiba-tiba air matanya jatuh.
"Loh, Amira kenapa Sayang?" tanya Mila khawatir melihat air bening menetes dari mata menantunya.
__ADS_1
Amira tersenyum simpul, buru-buru mengusap air matanya.
"Gak papa Ma ... Amira nangis bukan karena sedih kok ...." jeda Amira lembut.
"Amira saking bahagianya aja ... akhirnya setelah sekian lama bisa naik becak lagi, pergi ke pasar ... hal yang selalu Amira rindu waktu Mama Rani masih ada." tukas Amira menjelaskan semuanya, tak mau membuat Mila salah paham.
"Ya ampun Sayangku ... sabar ya? sini Mama peluk." seru Mila langsung mendekap erat tubuh langsing menantunya, mencurahkan rasa sayangnya tulus apa adanya.
Amira membalasnya dengan mengusap lembut pergelangan tangan Mila meneruskan perjalanan Mereka yang sebentar lagi akan tiba di pasar.
*
Sayangnya di pasar yang sama. Ada Eva bersama Angel sibuk menggerutu. Mengibaskan sandal Mereka karena terkena air kotor dari jalanan pasar yang becek.
"Ih, jijik banget! Ma, kenapa kita gak belanja di supermarket aja sih?" protes Angel.
Eva juga tak kalah sibuk mengibas tangannya dari hewan kecil yang suka menghinggapi makanan, apalagi jika bukan si lalat.
"Mama sih kalo dikasih uang lebih maunya belanja di Supermarket Angel, tapi kan Papa cuma kasih uang pas ... mana Mbok Darmi malah pakai acara sakit segala lagi, terus Papa kok malah nyuruh Kita belanja!" sungut Eva.
"Masak Kita kalah sama pembantu sih Ma? terus kenapa Papa kalo sama Kita pelit banget?" kesal Angel, sia-sia memiliki uang banyak tapi tak bisa sesuka hati menghabiskan kertas berharga itu.
"Sabar dong Angel, nanti Kita bakalan rayu Papa Demien ... sebentar lagi Kamu kan mau ulang tahun, Papa Demien udah setuju bikin acara ultahnya kan?" kata Eva membuat wajah kesal Angel menjadi bahagia.
"Hehe, iya yah Ma ... ah, jadi gak sabar ...." jawabnya.
Hingga mata Mereka melihat sosok Amira sendirian sedang asik memilih cabai.
"Eh, Ma ... lihat deh! bukannya itu Amira?" seru Angel.
Eva langsung mencari, hingga bola matanya tertuju dengan sosok yang Ia cari. Dan tampaklah senyuman licik dari bibirnya.
"Ah, Dia masih pantes ya jadi anak miskin? Angel ayo Kita kerjain Amira!" ajak Eva bergegas menghampiri Amira. Kenapa pula dua orang ini selalu mencari masalah hanya untuk menganggu Amira. Sepertinya kebencian dihati Mereka belum juga hilang.
Kebetulan Mila berpisah untuk membeli kue basah disebuah kedai tak jauh dari posisi Amira sekarang. Sehingga menyebabkan Mereka ditempat yang berbeda.
"Saya minta cabai keriting setengah kilo sama cabai rawit nya setengah kilo juga ya Pak?" pinta Amira. Hingga dirinya terkejut melihat Eva dan Angel sedang mengepung dirinya disini.
"Eh, Mama, Angel? belanja juga?" tanya Amira basa-basi, walaupun perasaan langsung terasa tak enak melihat kehadiran Mereka berdua.
"Cih, lihat deh Ma! katanya nikah sama orang kaya tapi bajunya udah kayak gembel aja!" olok Angel padahal iri melihat Amira yang tidak menggunakan riasan makeup tetap terlihat cantik. Berbeda dengan dirinya susah payah berdandannya masih saja kalah mempesona.
__ADS_1
"Bener! terus kenapa harus belanja di pasar? bukan di Supermarket? ah, kan cuma anak pungut, lupa Mama!" imbuh Eva dengan ejekannya barusan.
Merasakan situasi rumit bercampur dengan ketegangan, Amira sama sekali tak ada niat untuk meladeni Mereka berdua. Menunggu sang penjual menyerahkan barang belanjaannya.
"Amira permisi dulu Ma." tukas Amira setelah penjual memberikan dua kantung plastik berisi cabai padanya, tak lupa Amira membayar hingga saat membuka dompet terlihat jelas banyaknya uang bewarna merah menyala dengan posisi terlipat berukuran sangat tebal. Seketika mata Eva dibuat hijau dan ingin merebutnya dari Amira.
"Set." Eva hendak merebut dompet Amira, tetapi dengan sigap Amira menghindar.
"Mama, ini gak sopan ya!" sentak Amira halus, walaupun Eva lebih pantas untuk dimaki secara kasar.
"Eh, berani kurang ajar ya Kamu!" balas Eva semakin mengamuk, padahal dirinya sendiri yang telah bersikap demikian.
Daripada membuang waktu percuma menanggapi Eva, Amira memutuskan untuk pergi saja. Ia berniat menghindar dengan terus berjalan melewati Eva dan Angel. Tetapi,
"Ah, sakit Ma." seru Amira ketika merasakan perih karena Eva menarik rambutnya secara kasar.
Dari arah sebrang senyuman Mila menghilang menjadi sorot mata menyala. Siapa yang akan terima melihat Eva menyakiti Amira. Mila melemparkan kue didalam plastik, dan berlari demi menyelamatkan sang menantu.
"EVA, STOP!" seru Mila murka melihat Amira disakiti, tanpa menunggu lama melepaskan tangan Eva menepisnya dengan kasar.
Dipeluknya Amira, mengusap kepala gadis itu untuk mengurangi kesakitan dari ulah sang Ibu Tiri. Tatapan menyelidik yang Mila lemparkan khusus untuk menyoroti wajah bengis Eva itu. Sekalipun tangannya terasa gatal ingin menggampar.
"Kamu, ngapain sakitin Amira! mau cari masalah sama Saya! berani Kamu!" sentak Mila sekalipun dengan cara halus tetap terdengar menakutkan. Siapa yang berani menggoda atau menantang istri pengusaha berlian, apalagi tertangkap dalam posisi salah.
Wajah Eva terlihat gelagapan, mana tahu Amira datang bersama Eva kemari.
"Ayo, Angel kita pergi dari sini!" ajak Eva berniat untuk melarikan diri, merasa tak mampu melawan.
"Eh, mau kemana Kalian! enak aja mau main kabur! minta maaf dulu!" sentak Mila membuat langkah kaki Eva terhenti.
"Kalo kalian gak minta maaf! Saya bakalan tempuh pakai jalur hukum! biar tahu rasa Kalian dipenjara!" ancam Mila untuk membuat Mereka jera dan bersedia meminta maaf kepada Amira.
"Aduh, gimana ini Ma?" tanya Angel panik melirik Eva disampingnya.
"Ih, ya gimana lagi ... Kita minta maaf lah." jawab Eva terpaksa sehingga memutuskan untuk membalikkan badannya lagi. Dengan kepala tertunduk dihampirinya Amira disana.
"Maaf." ucap Eva singkat padat dan jelas.
Mila tersenyum getir, sungguh merasa kurang puas dengan permintaan maaf yang Eva ucapkan.
"Apaan cuma kayak gitu doang! gak mau! Saya mau minta maaf yang bener, kalo perlu sujud didepan kaki Amira!" sentak Mila membuat Eva dan Angel terperangah.
__ADS_1