
"Siapa yang mau cerai?" tanya Amira berani memyela. Gadis itu telah bertekad ingin memberikan perhitungan secara langsung. Jika dulu dia hanya mengalah dan pergi tetapi tidak untuk sekarang.
Elena yang tersentak melihat Amira sudah ada di sini malah tersenyum santai.
"Ya siapa lagi, nggak harus Aku kasih tahu Kamu juga udah tahu." balasnya.
Tentu saja Amira tersenyum getir benar-benar harus dengan cara apa membuat Elena berhenti agar tidak lagi mengganggu pernikahannya.
"Maaf Saya kan cuma Mahasiswa bukan Dosen, jadi wajar dong kalau Saya harus banyak belajar lagi ... lagian Saya juga santai sih nggak harus marah-marah, ya kan Sayang?" kata Amira menyebut Axel dengan sebutan manja didepan Elena.
Axel tergelak dan mengangguk sebagai pembelaan yang dilakukan untuk istrinya.
"Lagian Saya juga percaya diri sih itu bukan buat pernikahan Saya sama suami saya tercinta." ucap Amira mengibaskan rambutnya dan meninggalkan Elena disana.
"Karena Saya yakin Suami Saya nggak akan tergoda sama kecantikan Kamu!" seru Amira lagi sebelum melangkah jauh untuk pergi.
Kemudian Amira menarik tangan Ani berjalan bersama. Dia pergi dengan rasa percaya diri tanpa harus merasa khawatir.
Mulut Axel sampai ternganga karena rasa takjub melihat sikap badas yang dilakukan Istrinya. Sekaligus juga menjadi pemacu rasa cinta diantara Mereka karena diberikan kepercayaan tanpa harus bersikap protektif dan kekanak-kanakan.
__ADS_1
"Tuh, udah dijawab kan? Dah ya Aku mau pergi!" seru Axel melewati Elena begitu saja.
"Sialan! ini cewek makin kurang ajar aja! awas ya! lain kali Gue bakalan bikin lo nangis darah!" kecam Elena dengan dada bergemuruh menahan amarah. Hanya mampu mengepalkan tangannya kuat dan mengeraskan rahangnya.
Terdengar nada ponsel Amira tanda adanya pesan masuk.
"ILove U Sayang. Istriku terbaik deh pokoknya." isi pesan Axel membuat Amira tersenyum. Di kelas lain Axel mengirim pesan sebelum melakukan kegiatan. Mereka akhirnya kembali meneruskan kegiatan masing-masing. Ada yang sebagai Pengajar dan juga sebagai pelajar.
Tetapi ada yang mengganggu perhatian Amira, saat ingin memasuki kelas dirinya berpapasan dengan Angel. Biasanya adik tirinya itu akan membuat masalah Namun hari ini tidak demikian.
"Lihatin apa sih Lo?" tanya Ani menyenggol siku tangan Amira.
"Lah ngapain mikirin Dia? udah biarin aja! belajar yang bener biar pinter!" balas Ani membuat sadar dan kembali fokus melihat kearah papan tulis.
Seperti yang sudah dikira oleh Amira. Hari ini Angel memang mendapatkan masalah.
"Jahat banget sih Mama masak Aku cuma dikasih uang saku lima puluh ribu?" keluhnya.
"Sedangkan laki-laki itu malah dikasih lima ratus ribu?" imbuh Angel lagi dengan bibir mengerucut dan hati yang amat kesal.
__ADS_1
Sebelum berangkat Eva memberikan uang saku dengan nominal lima puluh ribu saja. Angel sempat melakukan protes, tetapi saya Mama sama sekali tidak berubah pikiran.
"Kita harus irit Angel Karena sekarang Mama harus bikin usaha dulu dan gak bisa boros, uangnya mau Mama pakai buat modal!" kata Eva pagi tadi.
Sebenarnya Angel bisa mengerti namun hatinya merasa iri ketika Dargo datang dan meminta sejumlah uang yang lebih banyak darinya. Namun Eva memberikannya uang itu tanpa ragu.
Air mata Angel menetes, hanya beberapa bulir saja keluar sebagai pereda sesak didalam dadanya.
*
Dirumah, hasil meminta secara paksa.
Eva sedang bersiap pergi dengan tampilan formal dan riasan tebal di wajahnya.
"Mas, Aku pergi dulu ya," katanya kepada Dargo.
"Oke hati-hati ya?" jawab Dargo mengantarkan Eva sampai ke pintu utama.
Hingga akhirnya Eva pergi menggunakan mobil meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
"Sip! sekarang waktunya beraksi!" seringai Dargo.