Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 41. Terlambat


__ADS_3

Betapa kecewanya Axel, ketika melihat sang pujaan hati sedang dalam keadaan terlelap. Bahkan Amira sedang memeluk erat guling sebagai teman.


Hembusan nafas panjang, akhirnya malam ini Axel menelan pil pahit berupa kekecewaan.


"Yah, malah udah tidur?" katanya.


Namun hanya sebatas itu saja, karena hari memang sudah larut bahkan beberapa jam lagi akan tiba fajar sebagai tanda pagi telah tiba.


"Selamat malam sayang." kecup Axel tepat dikening Amira. Jelas si gadis tetap diam saja karena dalam keadaan tak sadar.


Pasangan ini melewati malam yang panjang bersama. Axel tanpa ragu menelangkupkan pergelangan tangannya diatas pinggul Amira.


Tak butuh waktu lama, akhirnya sang Dosen juga terlelap.


*


Keesokan paginya.


Seharusnya Axel ataupun Amira harus sudah bangun karena jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Biasanya Mereka akan bersiap-siap berangkat dan sekarang malah masih dalam keadaan tidur sangat pulas.


"Kriingg." Suara alarm untuk kesekian kalinya akhirnya berbunyi lagi. Setelah mati tanpa disentuh seakan lelah bersuara membangunkan dua insan ini.


"Ya ampun!"


Spontan Amira terbangun, mematikan alarm dan tampak jelas waktu sedang berjalan.


"Mas, bangun! Kita kesiangan."


jelas Amira menggoyangkan badan Axel, dan suaminya juga terbangun.


"Astaga! yaudah Kamu siap-siap ya ... tapi gak mandi! ganti baju aja." kata Axel,


Buru-buru Amira keluar kamar, sebab pakaiannya masih ada dikamarnya yang dulu.


Setelah Amira pergi, Axel juga bergegas bersiap melepaskan baju tidur mengganti baju formal.


Biasanya persiapan sebelum pergi ke Kampus akan membutuhkan waktu satu setengah jam. Tapi sekarang Mereka cukup melakukannya dalam waktu lima menit saja.


Seperti melakukan perlombaan, Amira dan Axel keluar dari kamar dengan tampilan apa adanya tanpa bersolek ataupun memilih jenis model pakaian.


"Rambut Kamu kok udah kayak sinden aja." celetuk Axel melihat rambut Amira yang seperti konde seorang penyanyi Jawa.


"He, habisnya waktunya mepet Mas, gak sempet sisiran." jelas Amira mengusap Cepol rambutnya.


"Yaudah mendingan sekarang kita berangkat aja!" tukas Axel menggandeng tangan istrinya menuruni anak tangga.


Dengan senang hati Amira membalasnya. Mereka pun berangkat ke kampus bersama.

__ADS_1


*


Selang dua menit kemudian, Mereka tiba dihalaman. Ada yang sedang gusar melihat kesekeliling melalui jendela mobil.


"Kamu kenapa udah kayak maling aja sih?" keluh Axel.


"Ya habisnya Kamu sih Mas ... tadi kan Aku minta turun di halte ... malah dibawa kesini!" sungut Amira karena Axel tak mengindahkan permintaannya.


"Lah, gak papa dong! Kan Aku udah bilang gak usah khawatir, Aku gak masalah kok kalo orang-orang tahu." balas Axel lagi.


Sorot mata sungguh-sungguh yang nampak dari retina Axel memang terlihat. Tetapi tak tahu kenapa Amira masih saja ragu.


"Hem, yaudah deh ... tapi Aku keluar dulu ya Mas?" pinta Amira. Walaupun sebenarnya Axel kecewa dengan permintaan itu, namun segera menepis prasangka buruknya.


"Boleh, tapi cium dulu." pintanya tiba-tiba.


Amira tergelak, tetapi mulai memajukan bibirnya untuk mengecup pipi sang suami. Sayangnya Axel justru memutar wajahnya dan membuat bibir Mereka saling mengecup.


"Mas!" protes Amira manja, jujur saja ada perasaan malu dan salah tingkah yang Ia rasakan karena mencium lebih dulu.


"Terimakasih Sayang." jawab Axel seolah tak perduli dengan kemarahan Amira yang terdengar seperti rengekan itu.


Mereka berdua lupa kaca mobil Axel masih tembus pandang, ada seorang mahasiswi yang memergoki adegan mesra yang baru saja terjadi.


"Gila! ini Gue gak salah lihat kan?"


"Woah, ternyata diem-diem Amira jadi Ayam kampus! haha untung tadi keburu Gue foto." ujarnya mengusap layar ponsel dimana Amira sedang mencium Axel. Nama siswi itu adalah Ani.


Dari sisi lain, Reyno tengah berjalan santai memegangi tas ranselnya. Melihat sosok yang selalu dekat dengan Amira bahkan sering dirumorkan sebagai pasangan akan berpapasan dengan dirinya. Ani menyunggingkan senyuman licik dibibirnya.


"Pagi Reyno! Aku lihat kok sekarang Kamu sendirian terus?" tanya Ani untuk memancing perhatian Reyno.


Lirikan mata penuh tanda tanya, karena tiba-tiba didekati seseorang yang sebelumnya tidak pernah melakukan tegur sapa. Reyno hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Ani padanya.


Dan Dia pun terus berjalan.


"Ah, ternyata Amira sekarang lagi sibuk jadi Ayam kampus." ketus Ani saat Reyno melewati dirinya.


Mendengar nama Amira disebut bahkan ditutup dengan kata-kata kasar. Jelas membuat Reyno naik pitam.


"Coba Lo bilang sekali lagi! biar Gue sumpel itu mulut pakai ini!" ketus Reyno menunjukkan tangannya yang mengepal.


Merasa memiliki sebuah bukti nyata, tentu menjadikan Ani tidak merasa takut.


"Oh, ternyata pacarnya aja gak tahu kelakuannya ceweknya kayak gimana." balas Ani lebih berani.


Kemudian menunjukkan sebuah foto yang memperlihatkan adegan Amira sedang berciuman.


"Deg."

__ADS_1


Amarah dan sebelumnya memuncak untuk membela sang sahabat berubah menjadi api cemburu yang mulai mendidihkan isi kepala Reyno.


"Lah, kan diem juga Lo!" balas Ani menurunkan ponsel dari pandangan Reyno.


"Udah tahu kan sekarang? Gue turut prihatin deh." tukas Ani kemudian pergi meninggalkan Reyno disana.


*


Setelah menunggu Amira turun dari mobil lebih dulu, bahkan sekarang telah hilang dari pandangannya. Barulah Axel menuruni mobilnya.


Sang Dosen tak tahu hari ini akan ada petaka besar yang menimpa keluarga kecilnya.


Sebab Ani telah bersiap akan menyebarkan foto Amira, membawa ponselnya itu dengan tawa bahagia.


Tapi karena kurang hati-hati. Ani menabrak Doni yang datang dari lawan arah.


"Ah, maaf-maaf Pak."


"Gak papa, Saya juga minta maaf." kata Doni membantu Ani untuk mengambil ponsel anak didiknya itu.


Belum sempat Ani merebut lebih dulu, sayangnya tangan Doni lebih cepat darinya.


Alhasil Doni ingin mengembalikan ponsel milik Ani. Tanpa sengaja posisi layar yang menghadap keatas membuat layar tertekan.


"Taraaaa." Layaknya mendapatkan kejutan akhirnya Doni melihat foto intim itu.


Niat hati tadinya ingin mengembalikan, kini malah tertarik untuk merebut kembali.


"Bapak juga gak nyangka kan? cewek sepolos Amira ternyata Ayam kampus." celetuk Ani semakin membuat kepala Doni pening.


"He?"


"Astaga! ini Axel bego banget! ngapain kali ciuman di kampus? sebenernya Gue seneng sih akhirnya hubungan Mereka bisa deket, tapi kalo kayak gini sih bikin masalah baru."


"Ani, Kamu tahu gak ngambil foto tanpa izin itu bisa terancam UU ITE, jadi ...."


Doni menekan icon hapus.


"Loh, Pak kok dihapus?" tanya Ani.


Semua sudah terlambat karena Doni berhasil melenyapkan satu-satunya foto yang bisa menjadi bukti.


"Nah, sekarang Kamu balik lagi ke kelas." titah Doni mendorong tubuh Ani.


Kemudian pergi meninggalkan Ani yang sedang kesal karena ulah Doni menghapus foto hasil bidikannya.


"Ih, sial banget sih!" keluh Ani mencebik bibirnya.


"Lo, kenapa An? dijalan ngomong sendiri! mana marah-marah lagi!" sela Angel datang melihat teman satu kelasnya ada disini.

__ADS_1


"Kesel banget Gue sama Pak Doni, tadi Gue foto Amira lagi ciuman sama Pak Axel ... eh, malah dihapus."


"Eh, maaf lo kan saudaranya Amira?" sesal Ani spontan menutup mulutnya.


__ADS_2