Rahasia Amira bersama Dosen Killer

Rahasia Amira bersama Dosen Killer
Bab 21. Gerak cepat


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Axel sendiri, kain selimut tebal yang Ia gunakan sebagai wadah ternyata masih ada celah. Sehingga benda segitiga bermuda itu malah jatuh tercecer diatas lantai.


"Bisa gawat ini kalo Mama sama Papa sampai tahu." batin Axel khawatir, sejurus kemudian memikirkan cara untuk menyembunyikan benda itu.


"Grep." Secara cepat Axel menelangkupkan kedua tangannya untuk merangkul Anggoro bersama juga dengan Mila.


"Eh," seru Mila agak terkejut, tetapi diam menerima ketika tangan Axel merekat erat di bahunya. Mereka berjalan secara berhimpitan. Dalam hitungan detik mengayunkan kakinya hingga benda segitiga terlempar jauh ke dekat hiasan pot bunga. Walaupun masih terlihat, dengan cara itu mampu sedikit menyamarkan.


"Nah, kan udah beres!" batin Axel akhirnya berhasil menyingkirkan sesaat.


Mereka tiba dikamar. Amira mulai merapikan kembali ranjang tempat tidur, meskipun sudah tampak rapi.


"Makasih ya Sayang ... jadi ngrepotin kan?" ucap Mila melihat menantu jadi sibuk karena dirinya.


"Ah, enggaklah Ma ... Amira malah seneng kok!" balas Amira tulus. Ini bukan seberapa bahkan tak sebanding dengan kebaikan Mila padanya. Itulah isi hati Amira untuk sang Ibu mertuanya yang baik hati layaknya Ibu kandung sendiri.


"Loh, Axel kemana?" tanya Mila, melihat kesekeliling tetapi tak tampak batang hidung putranya ada disini.


Diluar Axel melarikan diri untuk menyelesaikan permasalahannya tadi.


"Ah, bener-bener deh ini benda pusaka! kayaknya hobi banget dipegang-pegang." sungut Axel kepada benda mati yang sedang menggantung ditangannya.


Suara obrolan Amira mencari keberadaannya terdengar jelas,


"Sial! udahlah kantongin aja dulu." guman Axel memasukkan benda itu kedalam saku celana.


Mila melihat Axel tengah berjongkok didepan pot bunga, sampai memajukan kepalanya agar matanya melihat benda apa yang sedang dicari oleh Axel.


"Kamu nyari apa disitu?" tanya Mila karena tak berhasil menemukan apapun diatas sana.


"Hehe tadi uang koin Axel jatuh Ma ... tapi udah gak ada." jelas Axel bohong seratus persen. Mana mungkin dirinya berani mengatakan kejadian yang sebenarnya,

__ADS_1


"Kalo jujur ya sama aja cari malu! mau ditaro mana ini muka." batin Axel, memaki hati kecilnya yang mendesak untuk berkata apa adanya.


"Oh, gitu ... gak usah dicari! nanti Mama ganti." kata Mila benar-benar percaya.


"Eh, gak usah Ma, gak papa udah ikhlasin aja." seru Axel menolak lantang, siapa yang mengira Mila akan benar-benar menanggapi ucapannya barusan.


Suara mulut kecil Amira terdengar, bahkan membentuk huruf o sebagai tanda rasa kantuk telah menyergap dua indra penglihatannya sekarang.


"Yaudah Sayang, Kita istirahat yuk! udah malem kan?" ajak Mila dengan senyuman syahdu.


Andai Dia tahu dalam hati menantunya, sedang bersusah hati karena malam ini harus satu kamar dengan putranya.


"Haduh, malah keceplosan nguap lagi." ketus Amira dalam hati, memang tak terlihat karena sengaja menyembunyikan dari Mila, untuk mengulur waktu. Supaya sang Ibu mertuanya tidak menaruh kecurigaan tentang hubungan kaku diantara Mereka berdua.


Amira penuh perhatian mengantarkan Ibu mertuanya kembali ke kamar.


"Udah Sayang sampai sini aja ... Kamu langsung ke kamar aja ya? Makasih loh udah mau nganterin." ucap Mila menahan kaki Amira dengan larangan darinya.


"Hah ... ini seriusan Aku harus tidur sama Pak Axel?" seru Amira masih ragu tentang kenyataan malam ini, tetapi matanya yang sepat enggan terbuka. Sisa tenaganya tinggal beberapa Watt saja sekarang.


Sebelum Amira kembali, ada yang sedang mengembalikan benda segitiga kedalam selimut.


"Beres! akhirnya benda pusaka kembali ke asalnya." ungkap Axel lega kemudian melihat kearah pintu kamarnya. Matanya menyelidik kemudian menghembuskan nafas panjang.


"Udah jelas, Amira gak bakalan masuk kalo gak disuruh." guman Axel beranjak, dan benar saja saat membuka pintu. Terlihat Amira sedang menyandarkan tubuhnya didinding dekat dengan pintu. Sibuk menggaruk pergelangan tangan yang dihinggapi nyamuk.


"Kamu, mau sampai kapan berdiri disitu?" tanya Axel, gerak pintu yang terbuka kedalam sehingga menyebabkan Amira tak tahu kedatangan sang suami.


Amira tersentak, menggaruk pipinya. Sekalipun tak gatal karena apapun.


"Pak, Saya tidur diluar aja deh." pinta Amira.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu mau kena ceramah sampai pagi? atau bikin Mama sedih lagi?" balas Axel ketus, kondisi lelah yang dirasakan tubuhnya seakan ingin beristirahat, namun Amira malah sulit untuk diajak bekerjasama. Sejujurnya Axel tak mau menambah masalah baru sekarang. Tetapi lihat saja Amira masih belum mau menggerakkan kakinya juga.


"Aku, juga gak mau tidur sama Kamu kalo gak kepepet ... tapi Kita kan gak boleh egois ... ada perasaan orang lain yang harus dijaga juga, udahlah terserah Kamu aja." ketus Axel terkesan acuh meninggalkan Amira diambang pintu. Meskipun terlihat tak perduli, diam-diam bola matanya melirik kebelakang. Melihat ada pergerakan tidak pada kaki Amira. Dan ternyata gertakan nya berhasil membujuk gadis muda itu, terdengar hentakan kaki yang memasuki kamar menyusul langkah kakinya.


"Tuh, kan emang bakat banget Gue jadi guru!" batin Axel puas membentuk senyuman simpul.


Setelah berhasil memasuki kamar Axel untuk pertama kalinya, betapa kagumnya Amira melihat kondisi kamar Axel sangat terlihat rapi. Banyaknya buku berjajar rapi didalam lemari besar. Serta semua barang yang masih pada tempatnya, juga cat kamar bernuansa putih elegan mengelilingi dinding kamar.


Hingga tatapan mata Amira terpaku pada pemandangan yang sedang dilakukan oleh suaminya dadakannya itu.


Axel menarik satu bantal dan guling, kemudian masih meraih selimut tebal juga.


"Kamu tidur aja disini! Saya tidur disofa." tukas Axel ternyata dirinya mengalah untuk Amira.


Sesaat Amira melihat ketempat sofa panjang didepan ranjang. Ada perasaan tak tega bila harus tahu Axel tidur ditempat sempit seperti itu. Dan membandingkan tempat tidur yang luas untuk ukurannya tubuhnya ini.


"Pak, tidur bareng aja." celetuk Amira tiba-tiba membuat mulut Axel ternganga.


"Kamu gak salah kan? coba ulang sekali lagi?" tanya Axel tak percaya ingin memastikan sekali lagi.


"Saya gak enak Pak ... masak Bapak tidur disana, terus Saya disini!" keluh Amira tak enak hati.


"Terus kenapa gak Kamu aja yang tidur di sofa?" balas Axel sengaja menggoda.


"Eh, ya gak mungkinlah Bapak nyuruh Saya tidur disana!" balas Amira percaya diri.


"Kenapa emangnya?" tanya Axel heran bagaimana bisa Amira berfikir seperti itu.


"Orang kemarin Bapak aja nyari Saya sampai nangis-nangis kok ... gak mungkin sekarang Bapak tega." jawab Amira polos tanpa tahu apa maksud ucapannya ini. Sehingga ada yang sedang merona atas praduganya barusan. Benar-benar kata-kata Amira membuat Axel mati kutu.


"Ah, gitu ya?" tanya Axel kehabisan pertanyaan karena ulah Amira, sebisa mungkin dirinya menyembunyikan salah tingkahnya dari padangan Amira sekarang. Tetapi gadis polos itu tetap tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Gila ini anak udah PD, pakai bener lagi." ketus Axel dalam hati, masih bimbang ingin memutuskan apa yang akan dilakukan mengenai tempat tidur malam ini.


__ADS_2